seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERSAMA ARIS
Harapan untuk bebas itu hancur hanya dalam hitungan detik. Tepat saat pintu baja itu terbuka sedikit dan Kayla hendak melompat keluar, sebuah tangan besar berbaju taktis hitam muncul dari balik kegelapan lorong dan menghantam dadanya hingga ia terpental kembali ke tengah ruangan.
Di sisi lain kaca, Aris juga dikepung oleh tiga pria berpakaian serupa. Aris mencoba melawan dengan sisa tenaganya, namun sebuah hantaman gagah senjata ke tengkuknya membuat pria itu tersungkur.
"ARIS! TIDAK!" jerit Kayla.
Pria bertopeng itu masuk ke dalam ruangan Kayla dengan langkah yang sangat tenang, seolah semua kekacauan ini hanyalah bagian dari skenario yang sudah ia tulis. Ia mengeluarkan sebuah alat semprot kecil. Kayla mencoba bangkit, namun gas dingin yang menyemprot wajahnya langsung membuat paru-parunya mati rasa. Dunia berputar, dan sekali lagi, kegelapan merenggutnya.
Ruang Eksekusi Akhir
Ketika Kayla terbangun, ia merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia berada di sebuah ruangan luas yang berbau amis darah dan logam berkarat—sebuah ruang eksekusi medis yang mengerikan.
Kayla menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia dibaringkan di atas sebuah branker besi dingin. Kedua tangannya direntangkan ke samping dan diikat dengan sabuk kulit tebal pada pinggiran branker, begitu pula dengan kedua pergelangan kakinya. Rantai pendek yang tadinya mengikatnya kini digantikan oleh fiksasi permanen yang membuat ototnya terasa kaku.
"Tolong! Siapapun, lepaskan aku! Aris! Aris, kamu di mana?!" teriak Kayla dengan suara pecah.
Pandangannya kemudian jatuh pada branker di sebelahnya. Di sana, Aris juga terbaring dalam kondisi yang sama, terikat kuat dan belum sadarkan diri sepenuhnya.
Tiba-tiba, sebuah suara statis yang keras memenuhi ruangan. Dinding beton di depan mereka bergeser, menyingkap sebuah layar monitor raksasa yang sebelumnya tidak ada di sana. Layar itu menyala dengan cahaya putih yang menyilaukan, menampilkan rekaman-rekaman penyiksaan subjek-subjek sebelumnya—orang-orang yang disebut Aris sebagai "Subjek Satu sampai Delapan". Kayla melihat pemandangan mengerikan di layar itu; orang-orang yang kehilangan akal, menangis darah, hingga tubuh yang tak bernyawa lagi.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kaki itu bergema. Pria bertopeng itu muncul dari kegelapan sudut ruangan. Ia tidak membawa senjata, melainkan sebuah nampan perak berisi peralatan bedah yang berkilau tajam di bawah lampu operasi.
Pria itu berjalan mendekat, berdiri tepat di tengah-tengah antara branker Kayla dan Aris. Ia tidak mengeluarkan suara, namun auranya begitu mematikan. Pria itu perlahan mengambil sebuah pisau bedah kecil (scalpel) dari nampannya.
"JANGAN! Jangan sentuh dia! Ambil aku saja! Tolong lepaskan dia!" teriak Kayla histeris, tubuhnya meronta hingga branker besi itu berderit keras.
Pria bertopeng itu berhenti sejenak. Ia memiringkan kepalanya, menatap Kayla dengan lubang mata topengnya yang gelap. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengarahkan ujung pisau bedah itu ke arah leher Aris yang masih setengah sadar.
Aris mulai mengerang, matanya terbuka sedikit dan ia melihat pisau itu tepat di depan tenggorokannya. Ia menatap Kayla dengan tatapan perpisahan yang menghancurkan hati.
"KAYLA... LARIII..." bisik Aris lemah, meski ia tahu tidak ada jalan untuk lari.
Kayla menjerit sekuat tenaga hingga urat-urat di lehernya menonjol. "TIDAAAKKK! BERHENTI! GUE MOHON, BERHENTI!"
Pria bertopeng itu kemudian menunjuk ke arah monitor besar. Layar itu tiba-tiba berganti menampilkan hitung mundur: 00:60.
Lewat gerakan tangan yang dingin, pria itu mengisyaratkan bahwa dalam satu menit, salah satu dari mereka harus mati agar yang lain bisa hidup. Ia meletakkan pisau itu di atas dada Aris, lalu beralih menatap Kayla, menanti keputusan gila apa yang akan diambil oleh gadis itu di tengah histerianya.
Suasananya benar-benar di ujung tanduk.
Pria bertopeng itu tidak memedulikan teriakan histeris Kayla. Dengan gerakan yang sangat presisi, seolah-olah ia sedang melukis di atas kanvas, ia menekan ujung pisau bedah yang tajam itu ke kulit dada Aris.
Srett...
Kulit putih Aris terbelah perlahan, menyisakan garis merah yang panjang. Darah segar mulai merembes keluar, membasahi kemeja putih Aris yang sudah compang-camping. Aris mengerang tertahan, tubuhnya mengejang di atas branker saat logam dingin itu mengoyak jaringan kulitnya.
"TIDAAAKKK! STOP! GUE MOHON, CUKUP!" jerit Kayla. Suaranya pecah, napasnya tersengal-sengal hingga ia merasa paru-parunya seperti terbakar.
Melihat darah Aris mengalir, mental Kayla benar-benar hancur. Ia menangis sejadi-jadinya, air mata dan keringat membasahi wajahnya yang pucat. Ia merasa sangat tidak berdaya menyaksikan satu-satunya orang yang peduli padanya disiksa tepat di depan matanya sendiri.
Setelah menyayat dada Aris, pria misterius itu meletakkan pisau bedahnya kembali ke nampan dengan suara denting logam yang dingin. Ia berbalik perlahan, langkah kakinya mendekati branker Kayla. Bayangan pria itu jatuh menutupi tubuh Kayla yang sedang gemetar hebat.
Pria itu mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya yang tertutup topeng hitam ke wajah Kayla. Kayla bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari sosok itu. Ketakutan yang teramat sangat, dikombinasikan dengan trauma melihat penyiksaan Aris dan sisa efek obat bius sebelumnya, membuat sistem saraf Kayla mencapai titik puncaknya.
Pandangan Kayla mulai berputar. Cahaya lampu operasi di atasnya meredup, suara detak jantungnya sendiri terdengar semakin menjauh, hingga akhirnya dunianya menjadi gelap total. Kayla pingsan di atas branker dalam keadaan tangan dan kaki terikat.
Ruang Isolasi: Kebersamaan yang Menyakitkan
Beberapa jam kemudian, kesadaran Kayla kembali secara perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau antiseptik yang tajam dan dinginnya lantai semen. Namun, ada yang berbeda. Ia tidak lagi berada di branker medis yang mengerikan itu.
Saat ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia telah dikembalikan ke ruangannya yang pertama—ruangan dengan foto raksasa yang sudah robek-robek itu. Namun, kejutan sebenarnya ada di hadapannya.
Di sudut ruangan, tergeletak seorang pria dengan kondisi mengenaskan. Aris.
Pria itu juga dikembalikan ke sana, namun kondisinya jauh lebih buruk. Kemejanya terbuka, memperlihatkan perban kasar yang menutupi luka sayatan di dadanya yang masih merembeskan darah. Kaki Aris dirantai ke dinding yang sama dengan Kayla, namun dengan rantai yang lebih pendek, membuatnya hanya bisa duduk bersandar di sudut ruangan.
"Aris..." bisik Kayla dengan suara yang hampir hilang. Ia merangkak mendekat sejauh rantainya mengizinkan.
Aris membuka matanya yang bengkak perlahan. Ia meringis menahan sakit di dadanya. "Kayla... kau... kau tidak apa-apa?"
Kayla hanya bisa menggeleng sambil terisak. "Kenapa dia bawa kamu ke sini? Kenapa kita disatukan lagi?"
Aris menatap ke arah kamera pengintai di sudut langit-langit dengan tatapan penuh kebencian. "Dia tidak lagi memisahkan kita, Kayla. Dia ingin kita saling melihat penderitaan satu sama lain setiap detik. Dia ingin menjadikan kita penonton bagi kehancuran kita sendiri."
Di atas meja kecil di tengah ruangan, kini tersedia sebuah kotak P3K sederhana dan dua piring makanan yang tampak mewah namun berbau anyir yang sama seperti sebelumnya.
Pesan yang ingin disampaikan pria bertopeng itu sangat jelas: Sekarang, kalian harus merawat satu sama lain untuk tetap hidup, hanya agar aku bisa menyiksa kalian lebih lama lagi.
Kayla menatap tangan Aris yang gemetar dan luka di dadanya yang mulai membasahi perban.