NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romantis / Time Travel / Mantan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CEGIL (Cewek Gila)

"Ya Tuhan, dia semakin dekat," bisik Raisa, jantungnya berdebar tak karuan.

Laki-laki yang selama ini menghiasi mimpi-mimpinya kini berdiri di hadapannya, nyata dan mempesona.

Raisa terpaku, tak mampu mengalihkan pandang dari sosok Digta Mahesa.

Tawa Digta menggema, riang dan menawan, membuat Raisa semakin terpesona.

"Jangan pingsan sekarang, Raisa," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengendalikan diri.

Digta tampak asyik bercanda dengan teman-temannya, sementara Raisa hanya bisa terpaku, tubuhnya membeku, lidahnya kelu. Jantungnya berpacu semakin cepat.

Whuss...

Hembusan angin seolah mengiringi langkah Digta, membawa serta aroma tubuhnya yang khas dan sangat Raisa kenal.

Jantung Raisa semakin berdebar kencang, dan dalam sekejap, Digta sudah melintas melewatinya hanya berjarak sejengkal dari bahunya.

"Apa aku akan diam saja?" gumam Raisa dalam hati, masih terpaku di tempatnya.

"Tapi aku tak bisa bergerak," lanjutnya, berperang dengan diri sendiri.

"Bagaimana kalau ini kesempatan terakhirku?" Pikiran itu tiba-tiba menghantam benaknya, membuatnya semakin panik.

"Mungkin saja ini adalah kesempatan terakhirku," bisiknya.

"Tidak! Aku harus melakukan sesuatu!" tekadnya membara.

Tak... tak... tak...

Suara sepatu flats-nya terdengar berirama di tengah hiruk pikuk kampus. Tak butuh waktu lama, Raisa sudah semakin dekat dengan Digta.

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan keberanian.

Tiba-tiba saja,

"Digta!"

Suara lantangnya memecah keheningan.

Sontak, Digta dan keempat temannya menoleh ke arah Raisa.

"Eh..."

Matanya menelisik Raisa, mencoba mengenali gadis yang memanggil namanya.

Tuk... tuk... tuk...

Tanpa membuang waktu, Raisa berlari kecil menghampiri Digta.

Napasnya terasa berat, begitu pula langkah kakinya. Di hadapannya, Digta tampak bingung melihat seorang gadis berlari ke arahnya.

Dalam hitungan detik, gadis itu sudah mendekap tubuhnya erat.

Bruk...

Deg...

Digta terhentak, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Eugh..."

Digta terkejut bukan main. Jantungnya berdebar kencang, bagaimana tidak, seorang gadis tiba-tiba memeluknya erat.

"Huuf, ada apa ini?" ucap Digta gelagapan, kedua tangannya sedikit terangkat, tak tahu harus berbuat apa.

"Aku senang bisa melihatmu lagi," bisik Raisa pelan, bersandar nyaman di dada Digta.

Hiks... hiks...

Isakan tangis Raisa membuat Digta semakin bingung.

"Heuh, kamu siapa?" tanya Digta masih gagap.

Teman-teman Digta pun melongo tak kalah syok. Mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.

"Woooh," seru salah seorang teman Digta.

"Waah Digta, nggak nyangka..." celetuk yang lain, menyeringai menggoda.

"Ngik... ngik... ngik..."

Teman-temannya mulai tertawa cekikikan.

"Eeh, lepas!" ucap Digta, butiran keringat mulai tampak di keningnya. Ia panik bukan main. Saat itu, anak-anak teknik elektro baru saja keluar kelas, dan ia tidak bisa membayangkan betapa terkenalnya ia nanti di jurusannya.

"Tolong lepasin aku," ucap Digta lagi, semakin panik, kali ini dengan nada memohon.

"Sebentar," sahut Raisa, masih mendekap Digta dengan nyaman.

"Kita diliatin orang-orang," ucap Digta lagi, mencoba menyadarkan Raisa.

"Heuh..." Raisa mengangkat wajahnya, melihat sorot mata Digta yang tamapak heran sekaligus jengkel.

"Ma... Maaf," Raisa segera melepaskan dekapannya.

Raisa mulai memperhatikan sekelilingnya. dia merasa malu, wajahnya bersemu merah.

"Ini terlalu nyata," ucap Raisa dalam hati.

"Ini kampus, woy!" celetuk seseorang yang melintas, suaranya terdengar cukup nyaring, membuat mental Raisa semakin jatuh.

Raisa menatap Digta dengan canggung, mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana.

Namun, yang ia dapat hanya tatapan dingin.

"Kamu pacarnya Digta?" tanya salah satu teman Digta. Raisa menoleh ke arahnya, kebingungan harus menjawab apa.

"Duh, aku harus jawab apa," gumam Raisa dalam hati.

"Bukan! Sumpah, aku nggak kenal!" Potong Digta mencoba menjelaskan.

"Waah, parah, nggak diakuin," ucap temannya lagi, sambil menatap Raisa dengan tatapan menggoda.

Raisa hanya nyengir, kemudian menatap Digta.

"Heuh..." Digta terkejut melihat reaksi Raisa.

Dan teman-temanya semakin salah paham melihat reaksi Raisa.

Tanpa banyak kata Digta langsung bergegas pergi dari tempat itu.

"Eh.." Raisa menyadari hal itu, kemudian berlari kecil mengejar Digta.

Saat itu, Digta hendak pergi ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya.

"Mimpi apa aku semalam," gerutu Digta. Tak lama kemudian, ia menyadari Raisa mengikutinya.

Kesabaran Digta mulai habis. Ia benar-benar merasa jengkel dengan Raisa. Digta berbalik dan menghampiri Raisa.

"Maaf, kamu siapa ya?" tanya Digta sedikit ketus.

Raisa sedikit mundur, ketakutan melihat raut wajah Digta yang tampak menyeramkan.

"Ngapain kamu ngikutin aku?" sambung Digta lagi, masih dengan nada jengkel.

"Eung, ma... maaf," ucap Raisa gagap, masih berjalan mundur teratur.

"Gimana, gimana?" Digta yang sangat kesal kini berjalan mendekat ke arah Raisa lebih cepat.

"Ma... ma... maaf, aku nggak..." suara Raisa terdengar bergetar, ia benar-benar ketakutan sekarang.

"Maaf, cuman maaf!" Digta semakin mendekat.

"Aku bisa jelasin," kata Raisa semakin terdesak.

"Udah meluk orang sembarangan, bikin geger sejurusan!" Digta mulai meninggikan nada bicaranya. Sekarang, jarak mereka sangat dekat. Mereka saling berhadap-hadapan.

"Eugh..."

Bhuk...

Raisa sudah tak bisa mundur. Ia kini bersandar di sebuah pohon besar. Punggung Raisa beradu dengan batang pohon itu.

Raisa bisa melihat kemarahan dari sorot mata Digta.

"Ma... maaf, aku minta maaf," ucap Raisa masih dengan nada suara bergetar, ia menutup wajahnya saking takutnya.

Digta mengepalkan tangannya, kemudian menepelkannya di pohon di samping kepala Raisa. Wajah mereka berhadap-hadapan begitu dekat.

Raisa tampak panik, wajahnya bersemu merah.

Digta menarik napas dalam-dalam, kemudian menatap Raisa lagi.

"Kamu pake narkoba ya?" tanya Digta dengan nada serius. Ia mulai menatap Raisa penuh curiga.

"Eugh, nggak!" Raisa menggeleng dengan cepat.

"Kamu tau nama aku dari mana?" tanya Digta masih penasaran. "Kamu penguntit?" tanya Digta lagi.

"Eh, kalau soal itu..." Raisa lagi-lagi bingung. "Mimpi, dari mimpi," jawabnya akhirnya.

"Heuh," Digta sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia tak pernah membayangkan akan bertemu dengan gadis aneh dan segila ini.

Satu persatu teman Digta mulai berdatangan ke tempat itu. Posisi mereka semakin membuat teman-teman Digta salah paham.

"Whoooh..."

"Jangan berantem, selesaikan di kosan!" celetuk Tommy yang baru saja tiba.

Digta menoleh ke arah Tommy, sedikit menujukan wajah ketus. Melihat tampang Digta malah membuat Tommy semakin menjadi-jadi menggoda Digta.

"Ya elah Digta, diam-diam kura-kura dalam perahu," celetuk Tommy.

"Apaan tuh?" sahut teman-temannya hampir bersamaan.

"Pura-pura cupu, ternyata suhu!"

"Wkwkwkwkwk," teman-temannya tertawa bersamaan.

Raisa tampak salah tingkah, sesekali ia menatap Digta seolah meminta perlindungan dari keisengan teman-teman Digta.

"Kenalin dong ceweknya!"

"Eh, aku... bububu..." ucap Raisa gagap sambil menundukan wajahnya, sesekali menatap Digta.

"Ikut aku!" ucap Digta seraya menarik tangan Raisa.

"Heuh..." Raisa tampak terkejut. Raisa pun pasrah saja membiarkan Digta menarik tangannya.

"Duuh, serasa dunia milik berdua," celetuk Tommy.

Digta segera naik ke atas sepeda motornya. "Ayo naik," ucap Digta sambil menujukan gestur supaya Raisa bergegas naik.

"Eugh, iya," Raisa kemudian cepat-cepat duduk di jok belakang.

"Cie... cie...." teman-teman Digta mulai heboh.

Digta tak menghiraukan teman-temannya. Ia langsung melesat meninggalkan tempat itu.

"Huuh...." Digta sedikit merasa lega bisa terbebas dari situasi itu.

Setelah dirasa jauh dari kampusnya, Digta menghentikan sepeda motornya.

"Turun!" ucap Digta tegas, namun Raisa hanya diam saja, ia masih terhanyut dengan lamunannya sendiri.

"Mbak, turun mbak," ucap Digta lagi, kali ini dengan nada suara agak keras.

"Eugh, iya," Raisa segera turun dan berdiri persis di samping Digta.

"Soal yang tadi itu..." ucap Raisa sedikit gugup. "Aku bisa jelasin," kata Raisa lagi.

Awalnya, Digta ingin segera pergi, namun ia tak tega melihat Raisa. Ia khawatir menurunkan gadis secantik Raisa di tengah jalan, padahal kota kecil seperti Bandung, tidak akan membuat Raisa tersesat.

"Ayo naik, aku antar pulang," ucap Digta lagi, nada suaranya terdengar lebih ramah sekarang.

"Eugh..." Raisa tampak kaget.

"Ayo!" Raisa sedikit mesem mendengar ucapan Digta. Kemudian, ia segera naik.

"Pulang kemana?" tanya Digta.

Raisa tak langsung menjawab. "Kamu sudah makan siang?" tanya Raisa, masih usaha mendekati Digta, kali ini giliran Digta yang bingung.

"Heuh..."

'Aneh banget ni cewek,' ungkap Digta dalam hati.

Digta tak menjawab, ia menghidupkan sepeda motornya dan melaju meninggalkan tempat itu.

"Belum, kenapa emangnya?" kata Digta balik bertanya.

"Aku udah bikin kamu malu," ucap Raisa agak sungkan.

"Baru sadar," sahut Digta pelan.

"Maaf," ucap Raisa, dia merasa sangat malu.

"Aku udah maafin, jangan kaya gitu lagi," sahut Digta membuat Raisa tersenyum tipis.

"Aku mau traktir kamu, anggap aja sebagai permintaan maaf," ungkap Raisa dengan ragu-ragu.

"Gitu ya," Digta tampak berfikir. "Lain kali aja ya, sekarang kita ke kosan aku aja dulu," ucap Digta membuat Raisa sedikit kaget.

"Heuh, ke kosan?"

Digta sedikit panik, dia tidak mau Raisa berpikir yang tidak-tidak. "Emm, ambil helm, takut kena tilang," jawab Digta kikuk, cepat menjelaskan maksudnya.

"Ooh," sahut Raisa pelan.

"Pulang kemana?" tanya Digta lagi.

"Lengkong Besar," sahut Raisa singkat.

"Untung, masih deket," celetuk Digta.

Raisa tak menyangka kalau akhirnya dia akan diantar pulang oleh Digta. Di sepanjang jalan itu, ia hanya tersenyum.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!