Dilamar di hari pernikahan temannya, disaksikan ribuan pasang mata. Anggun merasa dia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini kala itu. Namun sayangnya, siapa yang menyangka kalau rumah tangga mereka akan terancam oleh kedatangan orang ketika pilihan dari keluarga kandung yang tidak suka dengan kehadiran Anggun sebagai menantu keluarga mereka.
Akankah Anggun bisa tetap bertahan setelah badai besar itu datang? Bagaimana sikap Dion sang suami saat dihadapkan dengan kedatangan orang ketiga yang orang tua kandungnya pilihkan? Ikuti kisah mereka di sini yah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *30
Dengan rasa penasaran, Anggun langsung membuka pesan tersebut. Betapa kagetnya dia ketika pesan itu sudah dia buka. Matanya membulat dengan mulut yang tergangga. Air mata tidak bisa dia cegah untuk tidak jatuh.
Kaki Anggun yang gemetaran tidak kuat untuk menahan beban berat tubuhnya. Anggun langsung terjatuh, terduduk di atas lantai dengan isak tangis yang menggema.
Isak kan yang kuat tersebut di dengar oleh bi Ina yang sedang berada di dapur. Bi Ina yang kaget, langsung datang ke arah meja makan tempat di mana Anggun sedang berada.
"Non Anggun. Kenapa, Non? Apa yang terjadi sih, Non?" Bi Ina berucap sambil mendekati Anggun dengan perasaan iba nya.
Anggun tidak menjawab. Karena saat ini, dia tidak bisa berkata-kata selain menangis. Hatinya yang hancur, tidak bisa merasakan apapun selain rasa sakit. Dunia di sekeliling serasa runtuh seperti hatinya yang hancur tak tersisa.
"Non, katakan sesuatu pada bibi. Kenapa non Anggun bisa menangis seperti ini?"
Pertanyaan itu masih tidak mendapatkan jawaban. Karena sekarang, Anggun malah menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil masih menangis dengan suara isak kan yang cukup keras.
Saat bi Ina mencoba melihat ke arah lain, dia melihat ponsel Anggun yang ada di samping perempuan itu. Di sanalah, bi Ina tergerak untuk melihat sesuatu dari ponsel yang sudah tidak menyala lagi.
Mata si bibi langsung membulat dengan mulut ternganga.
"Ini ... tidak mungkin," ucap bi Ina lirih sambil berusaha mengumpulkan kewarasannya.
"Non ... bibi yakin kalau ini tidak mungkin. Non Anggun tolong tenang sekarang. Kita coba cek kebenaran dari foto ini dulu ya."
"Tuan muda tidak mungkin mengkhianati non Anggun. Tuan sangat menyayangi non Anggun kok, non."
"Semuanya sudah jelas, bik. Saat semua bukti sudah ada di depan mata, bibi masih saja mau membela, kak Dion. Aku tidak percaya kalau bibi juga bisa membela yang salah."
"Bukan gitu, non. Bibi .... "
"Bi Ina, Anggun. Ada apa ini?" tanya Dion yang tiba-tiba sudah ada di depan pembatas antara ruang dapur dengan ruangan yang lainnya.
Tentu saja Dion langsung jadi pusat perhatian oleh bi Ina. Sementara Anggun, dia yang sudah terlanjur merasakan kesakitan yang sangat besar, tidak ingin melihat wajah suaminya lagi.
"Tuan Dion. Tuan pulang?"
"Iya, aku pulang."
"Ini ada apa, bik? Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa Anggun? Ada apa?"
Bi Ina masih tidak tahu harus bicara apa. Dia memilih diam sambil mengalihkan pandangannya pada Anggun. Bi Ina tidak berniat menjadi penengah, karena ini adalah masalah pribadi kedua majikan. Baginya, sudah cukup selama ini dia ikut campur. Sekarang, dia ingin memberikan banyak ruang dan waktu untuk Dion dan Anggun supaya saling terbuka satu sama lain.
Dion paham dengan maksud dari bi Ina. Dia langsung berjalan semakin ke depan untuk menghampiri Anggun yang masih menangis dengan memeluk kedua lututnya.
"Gun."
"Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi lagi kamu sentuh dengan tanganmu yang kotor itu, Kak."
"Gun, ada apa ini? Tolong katakan padaku, apa yang membuat kamu tidak sudi untuk aku sentuh! Kamu istri aku. Tidak ada batasan diantara kita, bukan?"
"Aku sudah lama tidak menjadi istri kamu, kak. Aku sudah lama menjanda, tanpa ada suami di sampingku."
"Anggun!"
"Kamu masih tidak bisa menerima semua itu? Kamu terlalu naif, kak Dion. Semakin lama, aku semakin tidak ingin berada di dekat kamu. Aku jijik sama kamu."
Selesai berucap kata-kata itu, Anggun langsung ingin pergi meninggalkan Dion. Karena semakin banyak dia mengeluarkan kata-kata untuk bicara, maka semakin sakit dan semakin bertambah pula rasa emosi juga amarah dalam hatinya.
Tapi sayang, saat dia langsung bangun dari jatuhnya. Anggun tiba-tiba merasa pusing seketika. Pandangannya mendadak buram secara perlahan, lalu tak lama kemudian, dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
Anggun terjatuh karena kehilangan kesadaran. Dion yang melihat hal itu tidak akan membiarkan istrinya benar-benar jatuh ke bawah. Dia dengan sigap langsung menahan tubuh itu dengan cepat.
"Anggun!"
"Non Anggun."
Keduanya sama-sama panik. Dion berusaha terus memanggil Anggun dengan menggoyang-goyangkan tubuh istrinya dengan penuh rasa khawatir. Sementara bi Ina juga berusaha membangunkan Anggun dengan memegang tangan perempuan tersebut dengan lembut.
"Dia pingsan, tuan Dion. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
"Iya, bik. Tolong cepat, siapkan mobil sekarang juga."
"Iya, Tuan muda."
Tanpa banyak membuang waktu lagi, Dion langsung mengendong Anggun untuk dia bawa masuk ke dalam mobil. Selanjutnya, mereka segera menuju rumah sakit dengan Dion sebagai sopirnya.
"Tuhan ... semoga dia baik-baik saja." Dion berucap lirih sambil terus fokus pada jalan dengan sesekali melirik ke arah belakang.
"Apa yang terjadi sebenarnya, bi Ina? Kenapa Anggun tiba-tiba menangis ketika aku pulang tadi? Apa dia selalu seperti ini?"
"Ceritanya panjang, tuan muda. Saya akan ceritakan pada tuan muda setelah kita berada di rumah sakit nanti ya."
"Baiklah."
Sebenarnya, Dion tidak ingin menunggu. Hanya saja, dia juga tidak ingin memaksa bi Ina untuk mengatakan apa yang belum ingin orang tua itu katakan. Terpaksa, dia harus menunggu dengan menahan rasa penasarannya itu.
Kurang dari tiga puluh menit. Mobil yang Dion kendarai akhirnya tiba juga di rumah sakit. Dion yang cemas, langsung menggendong Anggun untuk dia bawa masuk ke dalam.
Berjalan dengan langkah besar yang lebih mirip berlari, Dion berteriak dengan keras untuk memanggil pihak rumah sakit agar segera menolong istrinya. Anggun pun di bawa ke ruang pemeriksaan secepat mungkin. Sementara Dion dan bi Ina di minta menunggu di ruang tunggu depan ruangan tersebut.
Dion menyadarkan punggungnya di kursi ruang tunggu dengan perasaan masih sangat cemas. Saat itu pula, dia ingat dengan apa yang bi Ina katakan. Dia langsung menagih janji si bibi untuk bercerita tentang apa yang terjadi.
"Katakan padaku sekarang juga, bik! Apa yang sidah terjadi dengan Anggun tadi pagi. Kenapa dia bisa menangis sesenggukan seperti itu?"
"Tuan muda, apa yang sudah tuan muda lakukan dengan perempuan itu? Saya sudah berjuang untuk memberikan semangat juga dukungan pada, non Anggun. Tapi sayangnya, tuan muda malah merusak kerja keras saya."
Mendengar ucapan itu, Dion yang tidak mengerti langsung melihat ke arah bi Ina dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Sayangnya, belum sempat Dion bertanya, apa maksud dari ucapan perempuan paruh baya tersebut, si bibi malah berucap lagi.
"Bibi peduli dengan hubungan kalian berdua, tuan muda. Karena bibi sudah menganggap tuan muda sebagai anak bibi. Maka dari itu, bibi mau membantu tuan muda. Dan ... bibi melihat seperti apa perjuangan non Anggun selama dia tuan muda tinggal sendiri. Kasihan dia, tuan muda."
padahal tadi emosiku
sudah mengebuh_gebuh
sangat halal untuk di binasakan...
bakalan aku buat acara syukuran
besar_besaran😤
bangunkan sisi gelap
dan tujukan taring mu
SIALANG....
bangun dan buat perhitungan
BINATAN...
anak yg kau kandun mati sia² karna kegoisan mertua gila mu itu
jangan di biarka lolos begitu saja
PENGECUT🤬🤬🤬
iiihhsss emosi kali...
1- minta pengertian istri mu
2-nikahi si lonton itu
3-berakting sebaik mungking selama beberapa bulang...
4-Lumpuh kan mereka seumur hidup
percayalah gk ada lagi yg berani mengamcam😃
tapi kasian
si anggun yg tersiksa secara fisik dan bating
*SU
SETANG IBLIS 😤😤😤