Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 11
SATU TAHUN KEMUDIAN.
Hari itu terasa gila. Hari paling menyebalkan sepanjang hidup Rowena. Itu adalah hari terakhir sesi terapi wajib dari pengadilan bersama Dr. Darcel.
Rowena duduk di kursi empuk di seberang pria itu, memasang wajah cemberut seperti balita yang dipaksa mandi. Ia berpikir untuk tidak pergi. Mungkin ia akan tetap menempel di kursi itu dan menolak bangun.
Kalau ia tidak bergerak, apakah Darcel akan mencoba mengangkatnya?
Dan kalau pria itu menyentuhnya, Rowena akan memeluknya dan tidak akan melepasnya.
Sial.
Ia butuh rencana yang lebih cerdas.
Pandangan Rowena tertuju pada Darcel. Pria itu hanya duduk diam, memperhatikan kegelisahan dan wajah manyunnya tanpa berkata apa-apa. Mata ungunya fokus pada tangan Rowena yang saling menggenggam.
Mungkin ia bisa mengatakan sesuatu yang membuat Darcel panik. Seperti tiba-tiba berteriak bahwa ia akan bunuh diri.
Tapi itu terdengar bodoh.
Atau mengatakan bahwa ia akan membunuh orang lagi?
Atau... mengatakan saja bahwa ia mencintainya.
Tidak. Bodoh. Tidak bisa. Rowena bukan tipe orang yang mudah panik, tetapi dadanya kini terasa sesak. Ia tidak akan bertemu Darcel lagi, dan pikirannya langsung dipenuhi mimpi-mimpi gila. Ia membayangkan duduk di mobil pria itu, dipeluk, lehernya dicium, lalu ia mengatakan betapa menggoda Darcel dan betapa ia tidak ingin melewatkan sesi ini. Tanpa Darcel, ia bisa benar-benar gila.
“Aku punya kabar buruk, tapi aku harap kamu bisa menerimanya dengan tenang,” ujar Darcel akhirnya.
Rowena langsung mendongak. Matanya membesar, tangannya mencengkeram sandaran kursi seakan hendak merobek kainnya.
“Kita sudah saling mengenal selama setahun, dan selama itu...” Darcel mengembuskan napas panjang. Keningnya sedikit berkerut. Rowena ikut mengernyit. Apa maksudnya?
“Minggu lalu aku harus menyerahkan evaluasiku ke pengadilan.”
“Oh,” jawab Rowena asal sambil melirik ke sana kemari.
“Seharusnya aku menandatangani bahwa terapimu berhasil, tapi... aku tidak melakukannya.”
“Kamu tidak... melakukannya?” Rowena terdiam. “Maksudku... kamu tidak mengirim dokumennya?”
“Aku mengirimnya. Tapi aku tidak menyetujuinya. Bahkan aku meminta agar kamu melanjutkan terapi satu tahun lagi.”
Darcel menunggu reaksinya. Rowena berusaha sekuat tenaga menahan ledakan kecil yang hampir meletup dari dadanya.
“Satu tahun lagi terapi... dengan kamu?” tanyanya pelan.
“Ya,” jawab Darcel. “Aku tahu itu bukan hal yang ingin kamu dengar, tapi, Rowena...”
Ia mengulurkan tangannya di atas meja, telapaknya terbuka. Rowena melepaskan satu tangan dari sandaran kursi dan meletakkannya di atas tangan itu. Darcel menggenggamnya dengan sopan.
“Mhm.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Rowena. Jika lebih, ia akan berteriak kegirangan seperti orang kesurupan.
“Aku bukan mengatakan kamu tidak mengalami kemajuan. Aku pikir kamu akan jauh lebih baik jika aku ada di sini untukmu. Kita perlu terus bertemu,” ucap Darcel lembut. “Selama kamu membutuhkannya.”
“Satu tahun lagi,” ulang Rowena, ingin mendengar konfirmasi sekali lagi.
“Atau mungkin lebih,” kata Darcel. Ada kilatan kecil di matanya, sama sekali bukan kesedihan. Jujur saja, pria itu tampak senang. Sama seperti Rowena. Karena mereka bisa bersama lagi, lebih lama.
“Aku mengerti,” jawab Rowena datar, berusaha menutupi kebahagiaannya.
“Aku harap kamu tidak kecewa karena kita harus bersama... jauh lebih lama lagi.”
Darcel tersenyum aneh padanya.
“Aku akan berusaha untuk tidak sering bolos lagi,” balas Rowena sambil tersenyum lebar, senyum yang tak mampu ia tahan.
Darcel meremas tangannya lagi, dan Rowena membalasnya.
Jika senyum Darcel terlihat aneh, senyum Rowena pasti dua kali lebih absurd.
Sekarang, tidak ada jalan bagimu untuk kabur darinya, Dr. Darcel.