Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pengkhianatan di Balik Layar
Setelah insiden gerbang yang menegangkan, suasana sekolah bukannya mereda, malah terasa seperti bom waktu yang siap meledak. Arazka tidak bisa membiarkan siapa pun mengusik ketenangannya—terutama jika itu melibatkan keselamatan Maura.
🕵️ Investigasi Dingin Rangga
Di markas ALVEGAR yang tertutup rapat, Rangga duduk di depan deretan monitor. Sebagai otak di balik keamanan dan data, dia telah berhasil meretas percakapan rahasia dari salah satu ponsel anggota Black Roses yang tertinggal saat mereka kabur.
"Ketua, gue dapet sesuatu," ujar Rangga tanpa menoleh.
Arazka berdiri di belakangnya, melipat tangan di dada. Matanya tajam menatap layar. "Siapa?"
"Bukan orang luar. Pembayaran dilakukan via transfer anonim, tapi IP Address pengirimnya berasal dari jaringan WiFi perpustakaan sekolah kita pada jam istirahat kedua kemarin," jelas Rangga.
Arazka menyipitkan mata. "Siapa yang ada di perpustakaan jam segitu?"
"Gue udah cek CCTV," sahut Asean yang baru masuk membawa daftar absen. "Cuma ada beberapa orang. Dan salah satunya adalah orang yang paling nggak kita duga."
💔 Tikaman dari Belakang
Maura sedang berada di ruang OSIS, membereskan berkas-berkas yang sempat berantakan. Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Arazka masuk dengan wajah yang lebih gelap dari biasanya, diikuti oleh anggota ALVEGAR lainnya.
"Maura, panggil Siska ke sini," perintah Arazka dingin.
Maura mengerutkan kening. Siska adalah sekretaris OSIS sekaligus teman dekat Maura yang selama ini paling vokal mendukung program kerja The Queens. "Siska? Ada apa? Dia lagi di kantin, katanya mau beliin kita minum."
"Dia gak bakal balik ke sini buat bawa minum, Maura. Dia balik buat liat loe hancur," ketus Fanila yang juga ikut masuk dengan wajah geram.
Tak lama kemudian, Siska masuk dengan wajah pucat. Dia terkejut melihat seluruh inti ALVEGAR berkumpul di sana. "Eh, ada apa nih? Kok rame banget?"
Arazka melangkah maju, menjatuhkan sebuah foto hasil cetakan percakapan WhatsApp ke atas meja. "Loe mau jelasin ini, atau gue yang jelasin ke pihak kepolisian?"
Siska gemetar hebat saat melihat bukti transfer dan pesannya kepada Vanya (pemimpin Black Roses). Maura membaca pesan itu dengan tangan gemetar.
"Bikin dia cacat atau seenggaknya bikin wajahnya rusak. Gue benci liat dia sok berkuasa di sekolah ini cuma karena deket sama Arazka."
Maura menatap Siska dengan pandangan tak percaya. "Sis... kenapa? Gue pikir kita temen."
"Temen?!" Siska meledak, air matanya tumpah karena emosi dan ketakutan. "Loe selalu jadi pusat perhatian, Maura! Loe pinter, loe cantik, dan sekarang loe dapet Arazka! Gue yang udah lama suka sama Arazka bahkan nggak pernah diliat sama dia! Loe itu cuma benalu yang manfaatin ALVEGAR!"
🛡️ Keadilan ala Arazka
Suasana ruangan menjadi sangat dingin. Arazka melangkah mendekati Siska, membuat gadis itu menciut.
"Loe salah satu poinnya," bisik Arazka, suaranya terdengar seperti es yang retak. "Gue nggak pernah liat loe bukan karena Maura. Gue nggak pernah liat loe karena loe nggak ada apa-apanya dibanding dia. Maura punya keberanian yang nggak bakal pernah loe miliki."
Arazka menoleh ke arah Rangga. "Urus administrasinya. Gue mau dia keluar dari sekolah ini sebelum matahari terbenam."
"Arazka, tapi—" Maura mencoba menyela, hatinya masih terlalu lembut untuk melihat temannya hancur total.
"Gak ada tapi-tapi, Maura," potong Arazka tegas. "Siapa pun yang main api sama loe, harus siap kebakar."
Siska dibawa keluar oleh pihak keamanan sekolah dengan isak tangis yang memilukan. Ruangan itu kembali hening.
🌙 Antara Kontrak dan Rasa
Malamnya, Arazka mengantar Maura pulang dengan mobilnya. Maura hanya diam menatap jendela, masih merasa sesak karena pengkhianatan Siska.
"Masih mikirin dia?" tanya Arazka pelan sambil menyetir.
"Gue cuma nggak nyangka orang terdekat bisa sejahat itu," jawab Maura lirih.
Arazka menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Maura. Dia mematikan mesin, lalu berbalik menatap Maura.
"Di dunia ini, yang bisa loe percaya cuma diri loe sendiri... dan gue," ujar Arazka.
Maura menatap mata elang itu. "Loe? Kita kan cuma punya perjanjian kontrak, Arazka. Setelah tiga bulan, kita balik jadi musuh, kan?"
Arazka tidak menjawab. Dia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Maura dengan ibu jarinya, menghapus sisa kesedihan yang masih nampak di wajah gadis itu.
"Kontrak itu bisa diperpanjang, Maura. Atau mungkin... kita bakar aja kertasnya dan mulai sesuatu yang beneran?"
Jantung Maura berdegup kencang. "Maksud loe?"
Arazka mendekatkan wajahnya, hembusan napasnya terasa di kulit Maura. "Gue gak pernah se-protektif ini sama orang lain. Loe pikir ini masih bagian dari akting?"
Sebelum Maura bisa menjawab, ponsel Arazka berdering. Pesan masuk dari Miko di grup ALVEGAR:
"KETUA! Gawat! Foto loe meluk Maura tadi sore viral lagi, tapi kali ini ada yang nambahin narasi kalau Maura sengaja bikin skenario penyerangan buat cari perhatian! Kita harus gerak cepat!"
Arazka mendengus kesal. "Drama ini nggak ada abisnya."
Maura tersenyum tipis, merasa sedikit lebih kuat. "Ya udah, mari kita selesaikan bareng. Sebagai partner."
Arazka menyeringai. "Gue suka kata itu. Partner."
TO BE CONTINUED