Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 : Jadwal Konsultasi
Di tengah lorong yang hening, bunyi kenop pintu yang bergerak membuat ketiganya spontan menoleh. Pintu kamar jenazah berderit perlahan, dan dari dalam muncul sosok Victoria. Wajahnya tampak biasa saja, bahkan sedikit bingung ketika mendapati dirinya diperhatikan begitu intens oleh Rico, Olivia, dan Katerina.
“K-Kenapa kalian menatapku begitu…” suaranya lirih, ada kegugupan yang samar, seolah ia tak mengerti kenapa dirinya mendadak jadi pusat perhatian.
Namun berbeda dari sebelumnya, ekspresinya kini lebih ringan, tak lagi sesuram ketika ia memasuki ruangan tadi. Hal itu membuat ketiganya saling bertukar pandang singkat, lalu tersenyum samar. Perubahan sikap Victoria seakan menjadi jawaban kecil atas kekhawatiran mereka beberapa menit lalu.
“Tidak… aku hanya kaget pintu itu terbuka begitu saja,” Rico tersenyum tipis, nada suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kupikir mayat di dalam hidup dan mencoba kabur.”
Ucapan itu membuat Olivia mendengus kecil, sementara Katerina menggeleng. Victoria justru menanggapi dengan polos, senyumnya tipis namun jawabannya terdengar ganjil, “Tidak… mereka masih mati.”
Kalimat itu membuat Olivia sempat menahan napas sebelum akhirnya mendekat, meraih lengan Victoria dan memeluknya. “Ahhh Victoria, sudah selesai? Kau benar-benar memberinya pita?” tanyanya cepat, mencoba mengalihkan suasana.
“Sudah,” jawab Victoria sambil mengangguk, senyumnya hangat seperti biasa.
“Kalau begitu ayo kembali ke IGD. Nanti para senior mencarimu,” Katerina menambahkan, ikut menggenggam tangan Victoria.
Rico hanya berdiri mematung, matanya menatap ketiganya yang sibuk sendiri, hingga akhirnya melihat mereka berjalan pergi dengan langkah ringan. Ia menunduk pelan, seolah memberi salam singkat, ia menatap punggung Victoria yang kian jauh di lorong sepi itu.
—
Ketika mereka tiba kembali di IGD, suasana sudah jauh lebih tenang. Lampu ruangan berpendar lembut, jam dinding menunjukkan pukul 23:33. Hanya terdengar bunyi langkah beberapa perawat yang lewat dan desiran mesin pendingin ruangan.
“Sepertinya tidak akan ada pasien lagi malam ini,” Olivia berkomentar, melangkah lebih dulu sambil melongok sekeliling.
“Baguslah kalau memang begitu,” Katerina menimpali, suaranya agak kesal. “Kau bicara seperti berharap ada pasien yang datang.”
Victoria mengikuti langkah mereka dengan diam. Katerina lalu menarik tangannya dan mengarahkannya ke kursi tunggu, tempat yang sering mereka jadikan tempat beristirahat saat tidak ada pasien mendadak. Ketiganya duduk berdampingan, mencoba melepas penat dari hari yang panjang.
Namun sebelum suasana benar-benar tenang, pintu masuk kembali berderit. Seorang ibu paruh baya masuk tergesa dengan menggandeng anak perempuannya. Wajah anak itu pucat, matanya sayu, tubuhnya tampak lemas dalam dekapan sang ibu. Mereka berjalan lurus ke arah pusat administrasi.
Pemandangan itu membuat Victoria membeku. Matanya mengikuti setiap langkah mereka, ekspresinya berubah serius. “Malam-malam begini… apa yang sakit?” gumamnya, alisnya berkerut.
Katerina menoleh ke arahnya, menyilangkan tangan sambil menyandarkan punggung ke kursi. “Biasanya pasien yang datang jam segini bukan kasus darurat. Kebanyakan dari bagian konsultasi.”
“Konsultasi?” Victoria mengulang, suaranya pelan, penuh rasa ingin tahu.
“Iya,” Katerina mengangguk. “Jadwal dokter psikolog memang selalu tengah malam. Mereka bisa menerima lima sampai sepuluh pasien tiap malam.”
“Wah… banyak juga,” Olivia menyambung, matanya membulat, nadanya setengah kagum.
“Makanya, jangan heran kalau gaji dokter spesialis di bagian itu sangat besar,” Katerina menambahkan dengan nada serius.
Namun Victoria tidak menanggapi. Tatapannya terpaku pada sosok ibu dan anak perempuan itu yang kini menghilang di balik pintu ruang konsultasi. Suara pintu tertutup pelan menggema, seolah menegaskan batas yang tak bisa ditembus siapapun selain mereka yang masuk.
Senyum tipis di wajah Victoria pudar. Ada sesuatu dalam sorot matanya campuran rasa penasaran, ragu, sekaligus perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.
“Dokter baru lagi ya..”