Az Kim Alexandria nama gadis itu, wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam sikapnya yang dingin, membuat salah satu CEO miliarder terkenal di kota Seattle merasa terhantui oleh paras gadis itu.
Siapakah sebenarnya gadis itu?
Tanpa gadis itu ketahui ada seseorang yang ingin mengetahui rahasia apa yang dia sembunyikan.
Jangan lupa teman-teman readers beri Coment, like and Votenya yaaaa🙋😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke klinik dokter Norbert
Waktu menunjukkan tepat pukul 10 malam mereka bergegas ke klinik dokter Norbert, meskipun Andria demam dia betul-betul tidak ingin pergi ke dokter yang di sarankan oleh gadis bernama Jane. Mengapa Ronan mendengarnya? mengapa dia selalu bertemu dengan pria itu?
Setelah 20 menit perjalanan akhirnya mobil mereka berhenti di depan sebuah klinik yang cukup besar. "Ayo andria, kau bisa berjalan?" tanya Ronan. Andria memandang Ronan dengan wajah permusuhan. Dia membuka pintu mobil lalu berjalan menuju klinik.
"Demammu sangat tinggi andria." Seketika Ronan berada di sampingnya memegang kening andria. Otot-otot rahang Alec bergerak-gerak, menatap kedekatan Andria dengan Ronan, Jane berbalik menatap kakaknya.
"ukh, kakakku sungguh bodoh, jika kau begitu menginginkan Andria berada di sampingmu kau harus melakukan sesuatu. Perlu bantuanku?"
"Jangan melakukan apapun Jane." Gertaknya, "Aku hanya berusaha berbuat baik, jangan berpikir macam-macam." Jane memutar matanya, tahu jika kakak tersayangnya memiliki ego yang sangat tinggi, apalagi usia Andria terpaut jauh dengan Alec.
Mereka masuk ke klinik, Andria duduk di salah satu kursi tunggu, matanya menerawang memandang ruangan bernuansa putih dan biru, lalu tiba-tiba pandangannya jatuh di bibir Alec, sontak dia membuang wajahnya ke samping Andria masih memikirkan ciuman Alec tadi siang. Ugh, mengapa aku mengingat kenangan buruk itu.
Suasana di klinik tidak terlalu ramai, kini giliran andria, dia berhadapan langsung dengan dokter Norbert, tidak beberapa lama Ronan masuk ke klinik dan menemui dokter itu sementara Andria kembali ke ruang tunggu.
Hanya alec yang berada di ruangan itu, "Bagaimana dengan demammu?" tanyanya yang menatap andria yang duduk begitu jauh darinya.
"Bukan urusanmu, jangan memperdulikan aku." Kata Andria kettus.
Alec melengkungkan bibirnya, "Aku tidak tahu ciumanku dapat membuatmu demam seperti itu." Dengan terkekeh dan melihat Andria dengan pandangan mengejek.
Andria sangat kesal pada pria ini, "Menjauh dariku brengsek." Gertaknya, dia tidak mau menatap Alec yang masih memandanginya tanpa berbicara apa-apa lagi.
"Kau tinggal bersamanya?" tanya alec dengan pandangan aneh di wajahnya menatap Andria dengan wajah kesal.
"ya, aku tinggal dirumahnya."
"Kenapa? kenapa kau memilih tinggal di sana?" kata Alec yang bersedekap. Andria lalu memicingkan matanya. sekali lagi menatap alec dengan wajah permusuhan.
"Bukan urusanmu aku tinggal dimana." Andria memegang kepalanya, gara-gara pria ini kepalanya semakin bertambah sakit. Napas Andria memburu tubuhnya begitu panas, dia menyandarkan dirinya di kursi lalu mencoba menutup matanya.
Tangan yang hangat terasa lembut di keningnya, wangi maskulin yang dikenalnya sontak menyerbu hidungnya. Andria lalu tersadar, matanya begitu berat tetapi dia melihat Alec sedang memeriksa suhu tubuhnya, dia lalu bergumam. "Panas sekali."
Tiba-tiba tubuh Andria melayang begitu saja, wangi cologne itu masih berputar-putar dihidungnya. Dengan cekatan Alec membawa Andria di pelukannya tanpa sepengetahuan Ronan yang masih berkonsultasi dengan dokter Norbert, sedangkan jane pergi begitu saja ketika ponselnya berdering.
Peluh menetes dari kening Andria, "Kemana?" gumam Andria dengan suara yang serak, sebentar lagi dirinya akan jatuh pingsan karena demamnya tidak tertahankan lagi. Beberapa menit kemudian, Alec membawa Andria ke apartemennya lalu membaringkannya di tempat tidur.
Alec menggulung lengan bajunya dan segera mengambil kompres lalu meletakkannya di kening Andria, dia memegang pipinya, kemudian mengukur suhu tubuhnya dengan termometer. "39° C?" gumam Alec. Dia duduk di tepi tempat tidurnya, mengganti kompres di keningnya.
Gumaman Andria membuat alec memegang keningnya, bibirnya bergetar dan tangannya bersedekap, dengan cepat Alec meminumkan obat demam ke Andria, lalu menyelimutinya, tapi tubuh Andria masih bergetar.
Tanpa ragu Alec berbaring di samping Andria dan memeluknya, dia memandang andria lalu bergumam. "Cepatlah sembuh Andria, aku ingin mendengar teriakanmu ketika kau terbangun esok hari." Alec lalu terkekeh, tidak lama kemudian dia tertidur pulas dengan Andria yang berada di pelukannya.