NovelToon NovelToon
Anak Untuk Rayyan

Anak Untuk Rayyan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Nikahmuda / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.

Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.

Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.

Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Cek Kandungan

Rayyan sudah selesai bersiap dan sekarang tinggal menunggu Alana yang sedang mandi. Suara shower terdengar samar dari balik pintu kamar mandi. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk bertemu dokter kandungan hari ini.

Sambil menunggu, Rayyan bergerak ke meja belajar yang akhir-akhir ini berubah fungsi jadi meja serbaguna. Setengahnya masih berisi buku kuliah dan barang-barang miliknya, setengah lainnya dipenuhi banyak skincare, make up, dan barang-barang milik Alana. 

Dia mulai merapikan satu per satu barang yang berserakan, mengembalikan semua barang ke tempat semula. 

Saat tangannya menyingkirkan pouch make up, sesuatu di bawahnya menarik perhatian Rayyan. Sebuah planner dengan cover krem, tebal. Dia langsung ingat itu barang yang dikeluarkan dari koper Alana kemarin dan dia taruh asal di atas meja. Tapi baru kali ini dia benar-benar memperhatikannya.

Rayyan menoleh sekilas ke arah pintu kamar mandi. Suara shower masih mengalir, tanda Alana belum selesai mandi.

Rayyan tergerak untuk membuka planner itu. Diusapnya sedikit sampulnya, lalu dibuka dari halaman yang ditandai sticky note. 

Rayyan membeku.

Halaman planner itu penuh. Tidak ada satu kotak pun yang kosong. Tulisan tangan Alana memenuhi seluruh halaman, rapi namun padat hingga tidak menyisakan ruang.

Sekolah, les privat berbagai pelajaran, kelas bahasa, kelas debat, entrepreneur class, charity event, garden party, launching brand, les balet, les piano, les melukis, gym, renang, tenis, pilates, dan masih banyak lagi. Satu hari bisa diisi lima sampai tujuh kegiatan. 

Rayyan mengedipkan mata, berusaha memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Namun ketika dia membalik halaman berikutnya, kondisinya sama. Padat sekali. 

Bibir Rayyan terbuka sedikit. Napasnya tertahan.

Kemudian pandangannya turun ke catatan kecil dibawah jadwal mingguan yang menunjukkan bahwa waktu tidurnya setiap hari hanya 2-4 jam. Itupun terkadang hanya tidur dalam waktu perjalanan dari satu kegiatan ke kegiatan lain.

Wajah Rayyan yang tadinya terkejut, kini berubah menjadi lebih dalam. Semacam kebingungan, iba, dan keheranan yang bercampur menjadi satu. Rahangnya mengeras, namun matanya melembut.

Rayyan menoleh kembali ke pintu kamar mandi. 

Bagaimana bisa satu orang bisa melakukan kegiatan sebanyak itu setiap harinya? Dan dia selalu terlihat sempurna dan baik-baik saja di depan semua orang.

...***...

Rayyan dan Alana duduk berdampingan di ruang tunggu klinik kandungan. Ruangan itu bersih, tenang, dan beraroma lembut seperti lavender. Ketika nama Alana dipanggil, Rayyan berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya. 

Alana diam sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, kemudian menyambut uluran tangan Rayyan tanpa suara. 

Ketika masuk ke dalam ruangan, dokter perempuan paruh baya menyapa dengan ramah dan suara yang tenang.

“Selamat siang. Silakan duduk,” ucapnya.

Alana duduk perlahan. Rayyan duduk di sebelahnya, sedikit tegang.

Dokter membuka berkas rekam medis digital, kemudian menatap Alana.

“Jadi, ini kehamilan pertama ya? Usianya kurang lebih sepuluh minggu.”

Rayyan mengangguk pelan, meskipun jelas pertanyaan itu lebih ditujukan kepada Alana.

“Ya, Dok,” jawabnya mewakili.

Alana tetap diam, hanya menatap meja konsultasi. 

Dokter tersenyum tipis.

“Tidak apa-apa. Banyak ibu hamil trimester awal merasa tidak nyaman. Baik, kalau begitu kita lakukan pemeriksaan USG transabdominal. Ibu bisa tiduran di bed periksa.”

Rayyan berdiri dan membantu Alana berbaring. Tangan Rayyan tidak pernah lepas dari punggungnya, memastikan Alana bergerak tanpa kesulitan. Alana tetap diam dan patuh, ekspresinya datar namun matanya menampilkan sedikit kecemasan.

Ketika gel dingin dioleskan ke perut Alana, dia mengerjap kecil.

Rayyan meraih tangan Alana dan menggenggamnya lembut. 

Alana menoleh sebentar, lalu kembali menatap langit-langit. Dia menarik napas panjang berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Dokter mulai menggerakkan transduser perlahan.

Di layar, muncul bayangan hitam-putih yang bergerak perlahan. “Ini dia janinnya.”

Rayyan mencondongkan tubuh ke depan. Matanya membesar sedikit. “Ini… itu adek bayinya, kan, Dok?”

“Iya,” jawab dokter dengan nada lembut. “Usianya sesuai dengan perhitungan, sekitar sepuluh minggu.”

Denut kecil terlihat di layar. Dokter memperbesar gambarnya. “Nah, ini detak jantungnya.”

Rayyan menatap layar dengan wajah yang berubah halus antara kagum, takut, dan haru. Sedangkan Alana menatap layar dengan tatapan kosong, seolah masih mencoba memahami bahwa yang dilihatnya itu benar-benar ada di dalam dirinya.

Namun setelah beberapa lama, ekspresi dokter sedikit berubah. Tidak langsung serius, tetapi nada suaranya menjadi lebih perlahan.

“Detaknya ada. Namun… sedikit lebih lemah dari rata-rata untuk usia sepuluh minggu.”

Rayyan langsung menoleh ke dokter. “Lemah? Maksudnya bagaimana, Dok?”

Dokter menggerakkan transduser lagi, memastikan hasilnya. “Tidak berbahaya saat ini. Namun kondisi janin menunjukkan bahwa tubuh Ibu kemungkinan mengalami banyak tekanan. Stres yang tinggi atau kelelahan sehingga mempengaruhi kondisi janin.”

Rayyan menelan ludah. Matanya menatap Alana sekilas, lalu kembali ke dokter. “Jadi… apa yang harus dilakukan, Dok?”

Dokter tersenyum kecil, memberi ketenangan. “Memperbaiki pola tidur. Jangan melakukan kegiatan yang berat atau terlalu banyak dalam satu hari—”

“Maaf, Dok. Boleh diulangi lagi pelan-pelan? Saya mau catet.” Rayyan menyengir kecil.

Dokter memandang Rayyan dengan senyum hangat, memaklumi sikap Rayyan. Dokter itu menjelaskan kepada Rayyan apa saja hal yang harus dia lakukan untuk Alana, seperti jenis makanan, minuman, hal yang boleh dan tidak untuk dilakukan.

Rayyan mendengarkan dengan seksama. Kepalanya mengangguk-angguk sambil mencatat dengan cepat, tanpa melewatkan apapun.

“Yang paling penting adalah mengurangi stres. Ibu tidak boleh terlalu lelah, baik secara fisik maupun mental. Dan jangan biarkan Ibu merasa sendirian.”

Rayyan mengangguk pelan namun mantap. “Baik, Dok. Saya akan pastikan semua itu.”

...***...

Setelah selesai di rumah sakit, Rayyan dan Alana pulang. Motor melaju stabil di bawah matahari siang, sementara angin lembut menyentuh wajah Alana. Dia duduk tegak, kedua tangan bertaut rapi di depan.

Hingga tiba-tiba, dari sisi kiri jalan, Alana melihat seorang bapak-bapak sedang membuka kelapa muda, airnya dituang ke cup bening berisi es batu yang berkilat terkena matahari. 

Alana langsung menoleh. Tatapannya terpaku. Tubuhnya condong sedikit tanpa sadar. 

Bahkan ketika Rayyan sudah melewati penjual itu, Alana tetap menoleh ke belakang, mata tidak berkedip, hingga sosok penjual itu menghilang di balik tikungan.

Hening. 

Lalu, Alana menunduk perlahan, satu tangannya terangkat dan menyentuh perutnya. 

Setelah beberapa saat, Rayyan melirik spion untuk memastikan keadaan Alana. Alisnya segera terangkat melihat Alana menunduk sambil memegangi perut dengan bahu yang tampak menegang.

“Kenapa, Na?” serunya sedikit lebih keras untuk mengalahkan suara angin.

Tidak ada jawaban. 

Alana tidak bergerak, tidak menoleh. Hanya jemari yang menggenggam perut yang tampak semakin kaku.

Rayyan langsung menepikan motor ke bahu jalan. 

Begitu motor berhenti, Alana tampak menoleh kanan kiri dengan raut wajah bingung, seperti baru sadar mereka berhenti.

Rayyan melepas helm dan memandangnya penuh perhatian.

“Lo kenapa? Perut lo sakit?”

Alana menggeleng pelan.

“Terus kenapa?”

Alana masih diam. Bibirnya membuka sedikit, lalu menutup lagi. Pandangannya bergeser ke bawah, kemudian ke samping, lalu kembali pada Rayyan sebentar. Ada perasaan canggung, gengsi, dan malu yang membuat tatapannya gelisah meski wajahnya tetap datar.

Rayyan mencondongkan tubuh, suaranya melembut. “Nggak papa, Na. Ngomong aja.”

Alana menarik napas pelan. Wajahnya tetap menghadap Rayyan, tetapi matanya sedikit melirik ke arah jalan di belakang Rayyan.

“Mau es kelapa muda,” ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Rayyan mendekat sedikit, memastikan dia tidak salah dengar. “Es kelapa muda?”

Alana mengangguk sekali.

Rayyan menoleh kiri kanan, mencari penjual terdekat. 

“Itu ada penjual. Kita ke sana ya,” ucap Rayyan sambil menunjuk ke kanan jalan.

Alana langsung menggeleng. “Maunya yang tadi… dekat SPBU.”

Rayyan mengangkat alis sambil menunjuk penjual es kelapa muda. “Yang itu nggak mau?”

Alana menggeleng lagi, kali ini lebih halus.

Rayyan menghela napas kecil sambil tersenyum tipis. “Ya udah. Kita beli yang deket SPBU ya.”

Alana tidak menjawab, tetapi tatapannya sedikit melunak. 

Rayyan memutar balik motor. 

Butuh sekitar sepuluh menit untuk kembali ke penjual tadi. Begitu motor berhenti, Alana turun cepat, hampir meloncat, membuat refleks menahan tangannya. Kaget.

“Pelan-pelan, Na,” ucapnya yang tidak terdengar oleh Alana.

Alana sudah berdiri di depan penjual, wajahnya tetap datar namun ada binar kecil di matanya.

“Pak, es kelapa muda yang original. Esnya banyak ya,” ucap Alana cepat.

Penjual menatapnya. “Satu aja?”

Alana melirik Rayyan. Rayyan baru saja melepas helm dan berjalan mendekat. Melihat lirikan itu, dia mengangkat alis. “Kenapa?”

“Lo mau nggak?” tanya Alana, nadanya berusaha datar, tetapi terdengar gengsi dan gugup.

Rayyan tersenyum kecil melihat itu. “Boleh. Satu yang original.”

Alana kembali menoleh ke penjual. “Dua, Pak.” 

Tak lama, es kelapa muda itu siap. Alana menerimanya terlebih dahulu. Begitu menyeruput, bibirnya terangkat. Senyum tipis, hampir tidak terlihat, tetapi tulus.

Senyum itu tertangkap oleh mata Rayyan. Rayyan sedikit mengerutkan kening. “Lo ngidam, Na?”

Alana terdiam. Tatapannya turun ke cup berisi es kelapa itu. Raut wajahnya terlihat kaget dan sedikit bingung.

Rayyan mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya hangat. “Lain kali kalau mau sesuatu, bilang aja. Nggak usah malu. Nggak usah gengsi.”

...----------------...

1
Nadiaaa
kpn up lagi kak
Chillzilla: nanti kak🤗
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Nadiaaa
doubel up kk🤭
Chillzilla: yahhh udah aku set satu² kak😁
total 1 replies
Nadiaaa
semangat nulisnya kak 💪 lanjut terus sampe tamat💗
Chillzilla: makasih kak🤗🤗
total 1 replies
Nadiaaa
👍
Nadiaaa
kpn lanjut kak
Chillzilla: nanti sore kakk
total 1 replies
Nadiaaa
suka❤️‍🔥
Nadiaaa
lanjut
Nadiaaa
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!