Dilarang plagiat, tambal sulam, atau sejenisnya. Jangan mengambil hak orang lain demi keuntungan sendiri. Ingat Azab.
~~~~~~
Neta adalah seorang wartawan majalah bisnis. Dia diminta mewawancarai seorang pengusaha yang bisnisnya sedang naik daun.
Dathan Fabrizio adalah pria yang harus diwawancarainya. Seorang pemilik perusahaan manufaktur yang menjual perabotan rumah tangga bernama IZIO. Toko IZIO sudah tersebar di seluruh dunia. Hal itu menjadi daya tarik kantor Neta untuk mengulik siapa dibalik suksesnya toko perabot rumah tangga terbesar itu.
Sayangnya, tidak semudah itu Neta bertemu dengan duda anak satu itu. Hingga akhirnya, dia membuat strategi menggunakan anak Dathan sebagai jembatan bertemu dengan pria itu.
Perjalanan wawancaranya mengantarkan Neta pada pesona sang duda. Namun, cinta tak seindah bayangan Neta. Perjuangan mendapatkan sang duda lebih berat dibanding mendapatkan wawancara dengan sang duda.
~~~
Instagram Myafa16
Jadwal update 18.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon myafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Gelandangan
Untuk saat ini Dathan akan membuat Neta menyesal karena sudah membohonginya. Bermain-main dengannya tanpa pikir panjang dampaknya.
“Aku yakin sekali jika dia akan menunggu aku menghubunginya.” Dathan tersenyum. Dia tidak sabar menyiksa Neta. “Tapi, membayangkan tidak menghubunginya, sepertinya aku yang tidak akan tahan.” Dathan mendengus kesal. Dia takut permainan ini justru berbalik padanya.
“Aku harus kuat.” Dathan menguatkan dirinya sendiri. Sejujurnya ini berat untuknya, tetapi dia harus bisa.
“Papa.” Suara Loveta terdengar. Gadis kecil itu tampak menghampiri sang papa.
Dathan yang sedang asyik dengan pikirannya langsung mengalihkan pandangan pada sang anak. Dia melihat sang anak yang berjalan ke arahannya. “Ke sini, Cinta.” Dia merentangkan tangannya meminta sang anak untuk masuk ke dalam pelukannya.
Loveta segera masuk ke dalam pelukan Dathan. Duduk menghadap ke arah tubuh Dathan. Dia yang masih setengah mengantuk menyandarkan kepalanya di tubuh sang papa.
“Aunty Neta di mana, Pa?” Sambil matanya terpejam, Loveta bertanya pada sang papa.
“Aunty Neta sedang ada urusan. Jadi dia pulang.” Dathan membelai lembut rambut sang putri. Sesekali mendaratkan kecupan di rambut sang anak.
“Lalu bungkus kadonya?” Loveta mengajukan pertanyaan pada sang papa. Matanya sedikit terbuka sambil menatap sang papa yang jauh lebih tinggi.
Sejenak Dathan merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dirinya lupa. Bukankah dia tadi meminta Neta untuk membungkus kado saat mengajaknya ke rumah. Jika begini ceritanya, yang ada nanti dia bisa menghubungi Neta lebih awal. Tidak membiarkan Neta merasakan berlama-lama tersiksa. Dathan menyesali hal itu. Dia masih bimbang. Akan menghubungi Neta lebih awal atau tidak. Atau dia bisa meminta tolong orang lain membungkus saja. Ach ... Dathan pusing memikirkan itu.
“Acara Leo masih minggu sore. Kita masih punya waktu.” Dathan menenangkan anaknya.
“Apa mama akan temani Lolo?” Bola mata indah yang dihiasi bulu mata lentik milik Loveta menatap ke arah sang papa.
“Papa akan tanyakan nanti.” Dathan tersenyum. Mantan istrinya itu memang belum mengabari untuk ikut atau tidak. Padahal dia sudah mengabari jika Loveta ada acara di hari minggu. Namun, mantan istrinya itu belum menjawab bisa atau tidak. Besok pagi barulah dia tahu. Karena biasanya dia datang ke rumah untuk mengunjungi anaknya.
Loveta mengangguk saja. Loveta pun kembali bersandar di tubuh sang papa lagi. Dathan pun membelai lembut rambut sang anak. Memastikan anaknya mendapatkan kenyamanan.
...****************...
Neta mengusap wajahnya kasar ketika berada di taksi. Dia benar-benar berada di dalam dilema karena kini dia kehilangan kesempatan wawancara.
“Kenapa waktu itu aku tidak jujur saja?” Neta sedikit menyesali keputusannya. “Tapi, jika aku jujur dari awal, pastinya aku sudah diusir sejak lama.” Neta merasa akan sama saja mengatakan sekarang atau dulu.
Di dalam taksi, dia terus menyesali apa yang dilakukannya. Namun, dia sejak awal sudah sadar jika keputusannya untuk berkata bohong pada Dathan pasti ada konsekuensinya.
Mobil sampai di kos miliknya. Neta segera turun setelah membayar taksi yang ditumpanginya.
Sambil berjalan ke dalam kosannya, Neta memutuskan untuk menghubungi Maria. Dia butuh temannya itu waktu ini. Dengan segera dia mengambil ponselnya di dalam tasnya.
“Cepatlah pulang aku butuh kamu.” Neta menangis, tetapi tanpa air mata.
“Kamu kenapa?” Maria di seberang sana bertanya.
“Sudahlah cepatlah pulang.” Neta yang sampai di kamarnya langsung membuka pintu kamarnya.
“Aku sudah pulang.” Maria tiba-tiba keluar dari kamarnya dengan wajah polosnya.
Neta terkejut melihat temannya itu. Dia pikir jam seperti ini dia masih di kantor, tetapi justru berada di rumah.
“Kamu sudah pulang?” tanya Neta menatap sang teman.
“Sudah, perutku sakit.”
“Ha ....” Neta langsung memeluk Maria. Menangis di pelukan temannya itu. Air matanya tidak benar-benar keluar.
“Ada apa?” Maria pensaran sekali tiba-tiba temannya menangis.
“Sepertinya aku bakal jadi calon gelandangan.” Sambil isakan buaya, dia mengatakan itu untuk ungkapan hatinya.
“Astaga, apa pendaftaran calon gelandangan sudah dibuka?” Dengan polosnya Maria menggoda temannya.
“Uwahaaaa ....” Neta semakin kencang menangis.
“Diamlah! Kamu bisa diusir dari kosan ini dan benar-benar menjadi gelandangan jika menangis sekecang itu.” Maria menepuk bahu Neta.
Neta menjauhkan tubuhnya. Dia mencebikkan bibirnya. Merasa sedih dengan ucapan temannya itu.
“Ayo masuk dan ceritakan padaku.” Maria menarik tubuh Neta. Membawanya masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Neta dan Maria duduk bersama. Maria sudah siap mendengarkan cerita Neta.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Maria begitu penasaran sekali.
“Jadi Pak Dathan tadi bertanya, aku mau apa karena sudah membantu anaknya. Aku jawab aku mau wawancara.” Neta menceritakan sambil kembali menangis.
“Lalu?” Maria menatap Neta dengan saksama.
“Dia marah dan mengusirku. Ahhhhaaaa ....” Neta semakin kencang menangis. Sambil kembali memeluk Maria.
“Wah ... sepertinya kamu benar-benar akan jadi calon gelandangan.” Maria mengangguk-anggukkan kepalanya di bahu Neta. Membayangkan jika temannya harus kehilangan pekerjaannya.
Neta semakin menangis kencang. Temannya benar-benar teman laknat. Bukan menenangkannya, tapi justru membuatnya semakin kencang menangis.
tapi ini dr awal sampe akhir aku suka banget ceritanya. bagus banget 🥰🥰🥰