Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjebak Bima
Jantung Citra berdetak kencang. Jika dalam kondisi normal, seandainya dia tidak bersama Bima, mungkin dia bisa santai menghadapinya. Namun, saat ini dirinya akan bertemu kembali dengan mantan suami dan keluarnya. dengan status sebagai calon istri Bima. Citra mengkhawatirkan respon negatif keluarga Bima terutama Arini kepadanya.
"Tenang, Cit. Inhale, exhale ..." Citra berusaha menenangkan diri, menatap langkah kakinya yang berjalan mengikuti Bima yang masih menggandeng erat tangannya, hingga suara tawa bahagia terdengar ketika mereka membuka pintu salah satu private room.
Citra hanya tertunduk karena saat ini semua pandangan mata orang yang ada di ruangan private room itu pasti terarah ke pintu.
"Ma, aku tadi ketemu Mas Bima di lift!" Laras mengumumkan kedatangan Bima yang tak terduga.
"Citra?"
"Dia?"
Namun, bukan Bima yang menyita perhatian Bayu dan Arini, tapi Citra yang berjalan beriringan dengan Bima, saling menggenggam, membuat mereka berdua tersentak kaget.
"Bima? Hmmm, kamu ada di sini?" Arini langsung bangkit dan menghampiri Bima. Sejak dulu Arini memang selalu berusaha mengambil hati Bima yang selalu bersikap dingin kepadanya. Tapi, matanya melirik sinis pada Citra, seolah menyiratkan kata-kata 'Apa-apaan kamu dekati Bima?'
Sementara wajah Bayu berubah menegang dengan rahang mengeras. Kehadiran Citra bersama Bima tiba-tiba saja mengusik hatinya.
"Saya bertemu Laras di lift. Dia bilang ada perayaan anniversary di sini. Kebetulan kami juga ada di gedung ini." Bima menoleh ke arah Citra ketika menyebut kata 'kami'. "Tidak ada salahnya bagi kami berdua mengucapkan Happy Anniversary untuk kalian berdua." Kini pandangan mata Bima berpindah pada Bayu dan Ria.
Bima melihat tatapan mata Bayu masih terfokus pada Citra, sementara Citra terlihat tak ingin bersitatap dengan mantan suaminya itu.
"Kamu ngapain bawa-bawa wanita itu kemari?" Kini Arini mendekati Laras dan berbisik, seolah menyalahkan Laras karena membawa Citra hadir di acara keluarga mereka.
"Lho, memangnya kenapa, Ma? Mas Bayu kakak aku, Mas Bima juga 'kan kakak aku. Mas Bima sama Mas Bayu sama-sama keluarga aku." Laras menjelaskan jika dia mempunyai ikatan darah, baik dengan Bayu maupun dengan Bima, sehingga ia menganggap mengundang Bima datang ke acara perayaan anniversary Bayu dan Ria adalah hal yang wajar.
"Tapi, nggak harus bawa wanita itu juga! Lagi pula, mau apa dia sama Bima?" Arini masih terheran dengan kehadiran Citra bersama Bima, setahunya Bima tak pernah dekat dengan wanita mana pun, apalagi dilihatnya Bima dan Citra bergandengan tangan.
"Ya Mama tanya sendiri saja sama Mas Bima ..." Laras melangkah menuju kursi yang tadi ia tinggalkan. Dia malas meladeni mamanya.
"Apa kedatangan kami mengganggu acara kalian?" tanya Bima melihat pandangan aneh beberapa keluarga tiri juga keluarga dari Ria.
"Oh, nggak, kok, Bima. Ayo silakan duduk! Laras, kamu pindah sini dekat Mama. Biar Mas Bima duduk di sana." Arini meminta Laras mengalah, karena satu kursi di sebelah Laras kosong dan dipakai untuk menaruh tas.
"Oke! Sini, Mbak, duduk di sini!" Laras tak menolak, justru menyuruh Citra menggantikan dia duduk di kursi yang ia tempati tadi.
Citra menatap Bima, mencoba mempengaruhi pria itu agar mereka tak usah bergabung dengan keluarga Arini. Namun, Bima justru menarik kursi dan mempersilakan Citra duduk.
"Duduklah dulu! Ada yang ingin saya sampaikan pada mereka," ujar Bima seolah memahami kegelisahan Citra.
Perlakukan romantis Bima pada Citra membuat Bayu makin terganggu. Dia tak mengira kalau mantan istrinya bisa sedekat itu dengan Bima, bahkan giginya mengerat karena merasa kesal melihat Citra bermesraan dengan Bima.
"Hmmm, kamu ada di gedung ini sedang apa, Bima?" Arini ingin tahu alasan Bima dan Citra bisa bersama.
"Kami habis ada acara." Kembali Bima mengusap punggung Citra, sepertinya sudah jadi kebiasaan bagi pria itu melakukan sentuhan fisik seperti tadi pada Citra.
"Oh ya, kebetulan semua kumpul di sini, saya ingin mengumumkan kalau saya dan Citra berencana untuk menikah." Bima sengaja menggunakan kesempatan itu untuk mengumumkan niatnya yang ingin mempersunting Citra pada keluarga tirinya.
Bayu dan Arini kembali terkaget mendengar ucapan Bima yang tak terduga tadi. Kedua mata Bayu langsung memicing memperhatikan Citra. Dia tak mengerti, apa yang menyebabkan Bima ingin menikahi Citra, padahal Citra dan Bima jarang berjumpa sebelumnya.
Sementara Citra langsung menarik nafas dalam-dalam dengan mata terpejam. Bisa ia bayangkan kagetnya Arini dan Bayu mengetahui dirinya akan dilamar Bima. Pasti mereka tidak akan mudah menerima kehadirannya kembali.
"Hmmm, apa kamu serius, Bima? Papamu pasti menginginkan kamu mendapatkan istri yang baik dan tepat untuk kemu." Arini sudah mulai memperlihatkan ketidaksetujuannya dengan rencana Bima.
"Dan saya sudah menemukannya sekarang ini," jawab Bima membalas penolakan Arini. "Saya ingin menikahi Citra, karena saya jatuh cinta padanya dan saya yakin Citra bisa membuat saya bahagia." Kata-kata Bima bagaikan api yang menyulut rasa kesal di hati Arini dan Bayu yang tak suka dengan hubungan mereka berdua.
"Ini sudah menjadi keputusan saya. Saya harap keluarga bisa menerima dan menghargai keputusan saya ini!" tegas Bima menyiratkan bahwa tidak ada yang bisa mencegahnya menikahi Citra.
"Aakkhh, aku seneng banget Mbak Citra jadi kakak iparku lagi." Laras menggoyangkan tubuhnya, menyambut antusias kebersamaan Citra dengan Bima. "Aaauuww!" Tak lama Laras meringis kesakitan, karena dia menerima cubitan dari mamanya.
"Kamu bisa diam, nggak!?" Arini mendelik memarahi Laras. Selain dia tak suka dengan Citra, dia juga tidak enak dengan besannya, karena Laras tak pernah seantusias itu terhadap Ria.
"Apaan, sih, Ma!?" Laras langsung memberengut kesal.
Ddrrtt ddrrtt
Terdengar getaran di ponsel Bima, membuat pria itu mengambil ponsel dari dompet ponselnya. Dia melihat nama anak buahnya yang menghubungi.
Keningnya mengerut, karena biasanya ada hal urgent yang ingin disampaikan, jika anak buahnya itu menghubungi malam-malam begini.
"Kamu tunggu sebentar, saya terima telepon dulu." Bima meminta izin Citra lalu bangkit dan menerima panggilan telepon dari anak buahnya.
Citra menggigit bibirnya, karena dengan Bima fokus menerima ponsel, Arini pasti akan memanfaatkan hal tersebut untuk menyerangnya.
"Apa kamu sengaja menjebak Bima!?" Benar saja yang dipikirkan Citra, Arini langsung melemparkan tuduhan yang tidak ia lakukan.
"Iiihh, Mama ini apaan, sih!? Memangnya untuk apa Mbak Citra menjebak Mas Bima? Yang ada Mbak Citra sama Mas Bima itu terjebak asmara!" Laras membela Citra.
Citra mencoba menegakkan kepalanya. Terlihat jelas kini semua pandangan terarah kepadanya dengan isi pikiran mereka masing-masing yang mungkin bertanya-tanya tentang dirinya.
Ada sebagian orang yang ia kenal, namun, ada sebagian lagi yang tidak ia kenal. Dia menduga jika mereka adalah keluarga dari pihak istri Bayu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Merasa tak nyaman jadi pusat perhatian dengan tatapan mata penuh selidik, Citra berpamitan hendak mengasingkan diri di toilet yang ada di luar ruang private room sambil menunggu Bima selesai telepon.
"Ummm, saya permisi ke toilet," pamit Citra seraya bangkit dan meninggalkan private room dengan terburu-buru.
Arini ingin bangkit dan menyusul Citra. Namun, Laras lebih dulu mencekal lengan sang mama agar tak beranjak dari ruangan itu. Tapi, Laras tak bisa mencegah kakaknya yang juga ikut bangkit hendak menyusul Citra.
"Kamu ke mana, Bayu?" Arini khawatir Bayu akan menemui Citra di toilet, Sayangnya, pertanyaan Arini tak digubris Bayu yang langsung melangkah pergi meninggalkan private room.
"Aduh ..." Arini merata tak enak hati pada menantu dan keluarga besannya. "Maaf, acaranya jadi sedikit terganggu," sesal Arini, menganggap kehadiran Citra sedikit mengacaukan perayaan anniversary Bayu dan Ria yang pertama.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
Untuk kisah Kirana, insya Allah lanjut besok ya. Makasih
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best