Entah suatu kemalangan atau permainan takdir untuk Faranisha Gayatri, menjelang hitungan jam pelaksanaan akad nikah dengan sang kekasih yang telah menjalin kasih selama 3 tahun dengannya, pihak mempelai pria malah membatalkan pernikahan tanpa alasan. Sebagai gantinya, hadirlah sesosok pria yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria.
Ialah Naufal Kenan, sosok pria yang sangat sensasional. Seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam dengan segudang prestasi dan pencapaian. Berparas tampan, kaya raya nan dermawan. Dan ternyata, ialah sosok pria yang menjadi cinta pertama Fara. Cinta yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam diam tanpa dapat tersampaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Rencana Fara 2
"Kamu kenapa, Ken?" tanya Gabela pada Kenan. Seperti kemarin, saat ini mereka hanya makan siang berdua saja di sofa santai ruang kerja, tanpa Fara yang makan siang bersama Nabila lagi di kantin rumah sakit. Namun sejak tadi Gabela perhatikan, Kenan tak fokus dengan makanannya. Kerap kali pria itu terlihat melamun.
"Eh?" Kenan tersadar dari lamunannya "Tidak, aku tidak kenapa-napa." jawabnya berbohong senatural mungkin.
Gabela akui bahwa Kenan adalah orang yang sangat lihai menyembunyikan perasaannya. Namun dirinya juga bukanlah orang yang mudah dibohongi "Benarkah begitu?"
"Hm." Kenan tersenyum tipis tak bergeming.
"Ayolah, Ken! Aku dan kamu bukan hanya sehari dua hari saling mengenal. Selama 9 tahun, apa kamu pikir aku tak mengetahui apapun tentang kepribadianmu?"
"Hmm? Benarkah? Kalau begitu coba kamu sebutkan apa saja yang kamu tahu tentang kepribadianku!" Kenan tak termakan perkataan Gabela yang mencoba memancingnya untuk berkata jujur. Bukannya ia tidak mau jujur, hanya saja tentang apa yang menjadi masalahnya kali ini adalah masalah yang bersifat pribadi yang tak bisa ia ungkapkan pada siapapun, termasuk Gabela.
"Hufh..." Gabela m*ndesah berat, ia tahu Kenan bukanlah lawan bicara yang mudah "Sudahlah, kalau kamu tak mau katakan, aku tak akan memaksa. Hanya saja sebagai sahabat, aku harap bisa membantumu saat kamu sedang dalam masalah. Tapi, bagaimana aku bisa membantu jika masalahnya saja aku tak tahu?" ucapnya, lain di mulut lain di hati. Penuturannya terkesan menyerah, namun intonasi dan ekspresinya malah memelas mencoba menarik simpati Kenan.
Sayangnya, yang coba Gabela kelabui adalah Kenan. Kenan tetap tak bergeming sedikitpun, ia malah tersenyum semakin lebar balik mengelabui gadis itu. "Terima kasih, kamu memang sahabat yang sangat baik. Tapi sungguh, aku tak sedang kenapa-napa."
Gabela balas tersenyum paksa, ia benar-benar telah kehabisan akal untuk memaksa Kenan berkata jujur "Ya, sama-sama."
'Maaf Gaby, bukan aku tak mau jujur. Tapi untuk masalah yang satu ini tak bisa ku ceritakan padamu, bahkan kepada mertuaku sekalipun. Karena ini adalah masalah rumah tanggaku.' Kenan membatin sedikit merasa bersalah karena tidak berkata jujur pada Gabela. Ya, sejak tadi yang menjadi bahan lamunannya adalah masalah rumah tangganya. Tepatnya, ia sedang dilema mendapati sikap Fara yang sedikit berbeda akhir-akhir ini. Jadi, tak mungkin ia menceritakan masalah tersebut pada siapapun, bahkan pada Farzan, mertuanya.
###
Sementara di kantin rumah sakit...
"Gimana, Nab? Lo punya ide, gak?" tanya Fara pada Nabila.
"Hmm..." Nabila terdiam berpikir sejenak "Gimana kalo dinner bareng?"
Fara gagal paham dan sontak menatap tajam sahabatnya itu "Tiap malam, gue sama Kak Kenan dinner bareng mulu, kali. Lo ada-ada aja, kalo ngasih ide tuh yang bener. Masa iya, gue make baju kurang bahan gitu di tempat umum? Boro-boro berhasil, yang ada Kak Kenan bakal maki gue abis-abisan. Dasar sahabat gak ada akhlak!"
Ptakk...
Awww...
Fara meringis menahan perih di dahinya yang baru saja menerima sentilan maut dari Nabila.
"Enak aja ngatain gue gak ada akhlak. Mangkanya, kalo orang ngomong tuh, dengerin dan cerna baik-baik, jangan asal pahami aja." Nabila bersungut-sungut kesal "Maksud gue dinner bareng tuh, lo sama big bos dinner berdua aja di tempat tertutup, bukan di restoran seperti biasa."
Sembari mengusap-usap dahinya yang sedikit bengkak, Fara cengengesan mengabaikan rasa perih yang masih tertinggal "Hehe... Maaf, maaf. Lagian sih lo, kalo ngejelasin ya, yang tuntas dong. Kalo setengah-setengah gitu kan, jadinya gue auto gagal paham gini."
"Ups..." Nabila spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan sembari menahan senyum "Maaf, maaf, kan setau gue, lo orang pinter. Gue kira, lo bakal langsung paham." ucapnya balik meminta maaf, namun berkelit tak ingin disalahkan.
"Humps..." Fara mendengus kesal, namun tak berniat melanjutkan perdebatan tak berfaedah itu "Terus, gimana? Gue mesti ngajak dinner Kak Kenan di mana?"
"Hotel, boleh." jawab Nabila asal sesuai yang terlintas di benaknya.
"Ho-hotel?" pupil mata Fara melebar "Gak, gak, terlalu terang-terangan. Kalo di hotel, tujuan gue pasti bakal langsung ketebak sama Kak Kenan."
"Hadeh, ck, ck..." Nabila sebenarnya ingin mengatai nyali Fara yang sangat kecil, tapi ia malas berdebat "Ya udah, di apartemen aja."
"Nah, good answer. Dari tadi kek, napa juga mesti nyaranin hotel segala?"
Nabila memutar kedua bola matanya malas "Lo nya aja yang lelet mikir."
"Hehe..." Fara menyengir "Terus, gimana cara gue ngajakin Kek Kenan nya? Kan lo tau, Kak Kenan selalu ngajak gue makan di luar."
Sumpah demi apapun, Nabila benar-benar jengah dengan keleletan Fara. Fara yang ia kenal cerdas selama ini, hilang entah kemana. Namun tak ayal ia menjawab "Ya ampun, Far! Gitu aja lo gak bisa mikirin. Nanti pas pulang kerja, lo alasan aja tiba-tiba mules. Jadi, makanannya kalian bungkus buat makan di apartemen. Gitu kan, beres!"
Puk puk puk...
"Ck, ck, ck... Lo emang the best lah." Fara bertepuk tangan seraya berdecak kagum memuji sang sahabat, berharap dengan tepukan serta pujian itu mampu menepis kekesalan Nabila terhadap dirinya.
Dan berhasil. Dengan bangganya Nabila menegakkan duduknya sambil bersidekap dada dan tersenyum selebar mungkin "Nabila, gitu loh."
"Ya, ya, ya, Nabila emang the best." puji Fara lagi sembari menahan senyum.
>>>
Tak terasa waktu berlalu, malam pun tiba. Kenan dan Fara sudah berada di dalam mobil, siap menempuh perjalanan pulang.
"Ehem..." Fara berdehem memecah keheningan saat mobil yang mereka tumpangi baru saja keluar dari pekarangan NK Hospital "K-Kak Ken!" panggilnya ragu-ragu pada Kenan yang duduk di sampingnya.
Kenan menoleh, balas menatap Fara "Iya?"
"Perutku mules." Fara berupaya memasang wajah sememelas mungkin sambil memegangi perutnya sendiri.
"Hah?" Kenan auto panik "Pak, putar balik ke rumah sakit!" perintahnya tegas pada sang supir.
Entah sigap atau kebetulan, sang supir yang mendapati persimpangan, langsung memutar haluan seperti yang diperintahkan Kenan.
Fara tercengang linglung sejenak. Ia sungguh tak menyangka reaksi Kenan akan seperti ini. Dan lagi si supir omes, alias otak mesum, betapa hebatnya makhluk itu, seakan bisa memprediksi masa depan, padahal hanya kebetulan, pikir Fara sangat yakin. "Eh, eh... Pak, putar balik lagi___"
"Loh, Sayang, kok malah putar balik lagi?" potong Kenan sebelum Fara menyelesaikan ucapannya.
"Aku baik-baik aja kok, Kak. Gak perlu ampe periksa ke rumah sakit." jawab Fara mencoba bersikap senatural mungkin.
Kenan menggeleng tegas "Gak, pokoknya kamu harus periksa ke rumah sakit. Gimana kalo sakit mu parah?"
Fara meringis mencoba mencari alasan yang tepat "Aku yakin, aku baik-baik aja kok, Kak. Sebenarnya,,,"
"Sebenarnya apa?" desak Kenan karena Fara menggantung ucapannya.
"Sebenarnya, perut Fara mules karena pingin buang air besar." jawab Fara cicit hampir tak terdengar sembari menunduk, menghindari tatapan Kenan.
"Hadeh..." sontak Kenan menepuk jidatnya sendiri "Astaga, Far! Kakak kira karena apa, ternyata..." ia tak sanggup melanjutkan ucapannya dan malah beralih pada sang supir "Pak, putar balik lagi."
Kali ini sang supir tidak bisa bertindak sok keren lagi, persimpangan masih agak jauh di depan. Sementara Fara, gadis itu hanya terus menunduk sembari menggigit bibir bawahnya menahan malu akibat sandiwaranya sendiri.
"Jadi, kita makan malam di apartemen aja, ya. Biar Kakak yang masak."
Fara yang memang sejak tadi sudah merasa bersalah karena membohongi Kenan, kian merasa bersalah setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan suaminya itu. Namun mau bagaimana lagi, ia tidak bisa mundur setelah sejauh ini. "Maaf ya, Kak. Fara malah ngerepotin Kakak." ucapnya penuh penyesalan sembari terus menunduk.
Kenan mengusap-usap gemas puncak kepala Fara "Kamu gak perlu sungkan sama Kakak, sayang. Kakak kan suamimu, udah sewajarnya Kakak merhatiin kamu." ucapnya lembut.
Wush...
Suara Kenan begitu syahdu terdengar di telinga Fara, membuat sanubari gadis itu menghangat. Ditambah usapan lembut Kenan di puncak kepalanya, Fara benar-benar terbuai merasakan kasih sayang yang sangat besar dari suaminya. Tanpa sadar buliran bening, lolos dari pelupuk mata Fara. Itu air mata sukacita.
"Terima kasih, Kak." hanya itu yang mampu Fara ucapkan setulus hati.
ini kog ketus...
batal
pernikahan barat
why
apa sdh selesai ceritanya 😊