NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. JEJAK YANG TIDAK TERLUPAKAN

Setelah insiden ancaman terhadap Ridwan, Mira merasa semakin terdorong untuk mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat tentang kejahatan yang dilakukan oleh Ratna dan Rio. Sebagai staf hukum perusahaan yang telah bekerja di sana selama lima tahun, dia memiliki akses ke berbagai dokumen penting yang mungkin tidak bisa dijangkau oleh orang lain. Dengan izin dari tim pengacara keluarga Wijaya dan dukungan penuh dari Ridwan serta Siti, dia mulai menyelidiki setiap sudut perusahaan yang mungkin menyimpan bukti manipulasi keuangan yang dilakukan oleh kedua pelaku utama tersebut.

Pada hari berikutnya, Mira datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Dia menggunakan hak aksesnya sebagai staf hukum untuk masuk ke dalam bagian sistem database perusahaan yang terbatas—bagian yang menyimpan riwayat transaksi keuangan selama lima tahun terakhir. Setelah beberapa saat mencari dengan cermat, dia menemukan sebuah folder tersembunyi dengan nama kode “PROYEK Z” yang tidak terdaftar dalam daftar folder resmi perusahaan.

Dengan hati-hati dan penuh dengan ketegangan, Mira membuka folder tersebut menggunakan kata sandi yang dia dapatkan setelah mengamati pola kerja Ratna selama bertahun-tahun. Di dalamnya terdapat berbagai macam dokumen yang menunjukkan bahwa Ratna dan Rio telah melakukan manipulasi keuangan skala besar selama bertahun-tahun. Ada laporan keuangan palsu yang dibuat untuk diberikan kepada pihak berwenang dan pemegang saham, serta catatan rinci tentang bagaimana mereka mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadi yang terdaftar atas nama perusahaan kanak-kanak yang mereka kelola.

“Satu juta rupiah dialihkan ke PT. Cemerlang Abadi pada bulan Januari 2023—perusahaan yang tidak memiliki aktivitas bisnis yang jelas,” bisik Mira dengan suara yang penuh dengan kemarahan, sambil mencatat setiap detail ke dalam buku catatan elektronik yang dia bawa. “Dua juta lima ratus ribu rupiah dialihkan ke PT. Sejahtera Makmur pada bulan Maret 2023—perusahaan yang terdaftar atas nama adik ipar Ratna. Bahkan dana CSR yang seharusnya digunakan untuk membantu masyarakat kurang mampu juga dialihkan ke rekening pribadi mereka dengan dalih proyek yang tidak pernah berjalan.”

Selain itu, Mira menemukan bukti bahwa Ratna dan Rio telah memanipulasi laporan laba rugi perusahaan dengan cara menurunkan pendapatan yang sebenarnya dan meningkatkan biaya yang tidak perlu. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan keuntungan yang sebenarnya diperoleh perusahaan dan untuk menghindari pembayaran pajak yang seharusnya dibayarkan kepada negara. Ada juga dokumen yang menunjukkan bahwa mereka telah memberikan suap kepada beberapa pejabat pemerintah untuk mendapatkan izin usaha yang tidak sesuai dengan peraturan dan untuk menghindari pemeriksaan yang menyeluruh terhadap perusahaan.

Pada saat yang sama, Mira mendengar suara langkah kaki yang datang dari arah pintu departemen hukum. Dia segera menutup folder tersembunyi dan membuka laporan hukum biasa yang telah dia siapkan sebelumnya. Ketika pintu terbuka, ternyata adalah Hendra—Kepala Bagian Keuangan yang juga telah merasa curiga dengan praktik keuangan yang tidak wajar di perusahaan.

“Mira, apa yang kamu lakukan di sini pada jam yang masih sangat pagi?” tanya Hendra dengan suara yang ramah namun penuh dengan rasa ingin tahu.

Mira mengangkat kepalanya dan tersenyum sopan. “Saya sedang memeriksa beberapa dokumen hukum terkait dengan kontrak perusahaan yang akan berakhir tahun ini, Pak,” jawabnya dengan suara yang tenang dan percaya diri. “Ada beberapa klausa yang perlu saya teliti dengan seksama agar tidak terjadi kesalahan yang bisa merugikan perusahaan.”

Hendra mendekat ke mejanya dan melihat layar komputer dengan seksama. Namun alih-alih menemukan sesuatu yang mencurigakan, dia hanya melihat laporan hukum yang sah dan mulai berbicara dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Aku tahu bahwa kamu telah membantu Ridwan Wijaya dalam kasus ini, Mira,” ujarnya dengan suara yang rendah agar tidak terdengar oleh orang lain. “Aku juga sudah lama merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar dengan cara Ratna dan Rio mengelola keuangan perusahaan. Aku punya beberapa dokumen tambahan yang bisa membantu kasus kalian.”

Mira merasa hati-nya berdebar kencang mendengar kata-kata tersebut. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan bukti tambahan dari seseorang yang berada di dalam departemen keuangan dan mengetahui secara langsung praktik yang dilakukan oleh Ratna dan Rio. “Saya akan sangat berterima kasih jika Anda bersedia membantu kami, Pak,” katanya dengan suara yang penuh dengan harapan. “Semua bukti yang kami kumpulkan akan digunakan untuk mengembalikan perusahaan ke tangan yang benar dan memastikan bahwa keadilan diberikan kepada orang yang berhak.”

Hendra mengangguk dengan tegas, kemudian mengambil sebuah flashdisk kecil dari dalam kantong jasnya dan memberikannya kepada Mira. “Di dalamnya terdapat data tentang transaksi keuangan yang tidak tercatat dalam buku besar perusahaan selama tiga tahun terakhir,” katanya dengan suara yang jelas. “Ada juga bukti bahwa mereka telah menjual hak kekayaan intelektual produk perusahaan kepada perusahaan asing tanpa sepengetahuan dewan komisaris dan tanpa mendapatkan izin resmi dari pemerintah.”

Setelah Hendra pergi ke ruangannya sendiri, Mira segera menyalin semua data dari flashdisk tersebut ke dalam perangkatnya sendiri. Dia kemudian menghubungi Ridwan dan Siti untuk memberitahu mereka tentang temuan baru ini. “Kita sekarang memiliki bukti yang sangat kuat tentang manipulasi keuangan skala besar, suap, dan pelanggaran hukum terkait hak kekayaan intelektual,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan tekad saat bertemu dengan mereka di kantin perusahaan yang sepi.

Siti melihat data yang ditampilkan oleh Mira dengan ekspresi yang penuh dengan kagum. “Ini adalah tambahan yang sangat berharga bagi kasus kita,” katanya dengan suara yang jelas. “Dengan bukti ini, kita bisa menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mencuri aset perusahaan, tapi juga telah melakukan kejahatan ekonomi yang bisa mengakibatkan kerugian besar bagi negara dan masyarakat.”

Ridwan mengangguk dengan setuju, sambil melihat setiap detail data yang ada di layar ponsel Mira. “Ibu saya selalu mengatakan bahwa keuangan perusahaan harus dikelola dengan transparansi dan akuntabilitas yang tinggi,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan dan tekad. “Mereka telah menghancurkan prinsip-prinsip dasar yang dia tetapkan dan mengeksploitasi perusahaan untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.”

Selama beberapa hari berikutnya, Mira bekerja sama dengan Siti untuk mengklasifikasikan dan menyusun semua bukti manipulasi keuangan yang telah ditemukan. Mereka menemukan bahwa total kerugian yang ditimbulkan oleh tindakan Ratna dan Rio mencapai puluhan milyar rupiah, termasuk dana yang dialihkan untuk keperluan pribadi, suap yang diberikan kepada pejabat pemerintah, dan kerugian yang disebabkan oleh penjualan hak kekayaan intelektual dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar sebenarnya.

Selain itu, Mira juga berhasil mendapatkan kesaksian dari beberapa karyawan lama di departemen hukum dan keuangan yang telah menyaksikan langsung praktik tidak wajar yang dilakukan oleh Ratna dan Rio. Salah satu karyawan bernama Lina yang telah bekerja di departemen hukum selama enam tahun mengatakan bahwa dia pernah diminta oleh Ratna untuk membuat dokumen hukum palsu yang menyatakan bahwa perubahan kepemilikan perusahaan telah disetujui oleh semua ahli waris.

“Saya merasa sangat tidak nyaman ketika diminta untuk melakukan hal tersebut,” ujar Lina saat memberikan kesaksian kepada tim pengacara. “Tapi saya tidak berani menolak karena takut akan dipecat dan kehilangan mata pencaharian saya. Saya sangat senang bahwa akhirnya kebenaran akan terungkap dan orang-orang yang bersalah akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.”

Setelah semua bukti terkumpul dan disusun dengan rapi, Mira bersama dengan tim pengacara menyerahkan semua dokumen tersebut kepada pihak berwenang. Kepala Kepolisian Resor Kota Bandung yang menangani kasus ini menyatakan bahwa bukti yang diberikan sangat komprehensif dan akan mempercepat proses penyelidikan serta penuntutan hukum terhadap pelaku.

“Dengan bukti manipulasi keuangan yang sangat kuat ini,” ujar kepala kepolisian dalam konferensi pers yang diadakan beberapa hari kemudian, “kita akan dapat mengajukan tuduhan tambahan terhadap Budi, Ratna, dan Rio Santoso selain tuduhan pembunuhan dan pencurian aset yang telah diajukan sebelumnya. Kita berkomitmen untuk memberikan keadilan yang adil dan menyeluruh dalam kasus ini.”

Setelah konferensi pers selesai, Ridwan menghadapkan Mira dengan ekspresi yang penuh dengan rasa syukur. “Tanpa bantuanmu yang luar biasa, kita tidak akan bisa mendapatkan bukti yang sekuat ini,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Kamu telah menunjukkan keberanian dan integritas yang luar biasa dengan memilih untuk berdiri di pihak kebenaran meskipun kamu bekerja di dalam perusahaan yang dikelola oleh mereka.”

Mira tersenyum lembut, mengangguk dengan rasa hormat kepada Ridwan. “Bu Dewi telah melakukan banyak hal baik bagi saya dan banyak orang lain,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk membayar budi baiknya dan memastikan bahwa perusahaan yang dia bangun akan kembali menjadi perusahaan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat.”

Pada malam hari yang sama, Mira menerima surat elektronik dari salah satu pengacara terkemuka di Indonesia yang ingin membantu menangani kasus ini secara pro bono. Pengacara tersebut menyatakan bahwa dia telah mengikuti perkembangan kasus PT. Dewi Santoso dengan ketat dan merasa terpanggil untuk membantu Ridwan dan keluarga Wijaya dalam perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan.

Dengan dukungan yang semakin besar dari berbagai pihak dan bukti yang semakin kuat yang mereka miliki, Ridwan, Mira, dan Siti merasa bahwa mereka semakin dekat untuk mencapai tujuan mereka—memberikan keadilan bagi Dewi Wijaya dan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik keluarga Wijaya. Meskipun mereka tahu bahwa proses hukum yang akan datang masih panjang dan penuh dengan tantangan, mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa kebenaran akhirnya akan menang dan perusahaan akan kembali ke jalur yang benar sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan oleh pendirinya yang tercinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!