Cintanya, harga dirinya, dan ketulusannya, telah ia berikan pada pria itu, dan bahkan sampai rela tidak menginginkan, James Sebastian, tunangan yang di jodohkan Ibunya kepadanya.
Tapi, apa yang ia dapat? Eleanor Benjamin, di tinggalkan pria itu, Richard Marvin, saat mereka akan melangsungkan pernikahan, demi wanita lain!
Hingga sebuah mobil menabraknya, dan ia meregang nyawa, Richard tidak memperdulikannya!
Eleanor berharap, seandainya ada kesempatan kedua untuknya! ia akan mendengarkan Ibunya. Dan membalikkan keadaan! membalas apa yang ia rasakan pada Ricard.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11.
Akhirnya mereka pun saling diam, sampai James membawa Eleanor sampai ke kediaman orang tua Eleanor. Dan menurunkan koper Eleanor tanpa berniat untuk mampir ke rumah Eleanor.
"Tunggu! mampirlah sebentar!" dengan cepat Eleanor menahan James.
Eleanor reflek memegang tangan James, yang hendak kembali membuka pintu mobil. Ia ingin menebus sikap kasarnya pada James.
Ia dapat merasakan perasaan tidak senang James, karena sebelumnya ia menolak James. Tapi beberapa hari kemudian, dengan tenangnya ia mau menerima James.
Eleanor memperlihatkan senyuman ramahnya memandang James. Ia harus mendekatkan diri pada James, memperlihatkan sikap lemah lembut pada pria itu.
Ia harus menyingkirkan pikiran negatif dalam pikiran James, menilai tentang dirinya, yang telah ia buat tidak baik dalam pandangan James.
Ia melihat James melirik tangannya, yang memegang tangan James. Ia pun semakin terang-terangan memegang tangan James.
Ia percaya pada Ibunya dalam memilih jodoh untuknya. Ia yakin Ibunya telah mengetahui pria seperti apa James, sehingga Ibunya tanpa ragu menjodohkan James padanya.
"Aku sudah terlalu kasar padamu sebelumnya, waktu itu aku tidak berpikir saat bicara, setelah ku renungkan akan sikapku padamu, akhirnya aku menyadari betapa aku tidak sopan padamu!"
"Apakah benar apa yang kamu katakan? atau hanya aktingmu saja? bukankah kamu sangat mencintai lelaki itu, sampai bicara kasar padaku??" nada dingin James terdengar canggung.
"Tidak! itu tidak benar! dia pria brengsek! dia telah menipu ku!" Eleanor semakin erat memegang tangan James.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, James menarik koper Eleanor masuk ke dalam rumah Eleanor. James membiarkan tangannya di pegang Eleanor, tanpa menepis tangan Eleanor.
Eleanor tersenyum mengikuti langkah James, ia tahu sisi lain dari James sepertinya menjaga harga dirinya sebagai pria, karena ia tolak dengan kasar.
Sepertinya James membentengi diri dengan sikap acuh tak acuh padanya, untuk menunjukkan bahwa perasaannya tidak dapat di permainkan.
Jemari Eleanor semakin erat menggenggam tangan James, dan membuat senyuman Eleanor semakin merekah. Eleanor merasakan jemari James membalas genggaman tangannya.
Mereka masuk ke dalam rumah, tempat tinggal keluarga Eleanor. Sebuah villa bergaya minimalis berlantai tiga, dengan pekarangan yang tertata dengan rapi.
Mereka di sambut oleh kepala Pelayan, yang biasa mereka panggil Butler, bersama tiga Pelayan lainnya. Dan Ibunya yang baru saja turun dari lantai dua.
Eleanor seketika terharu begitu ia melihat Ibunya. Ia dapat kembali bertemu dengan Ibunya, yang ia pikir tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ibunya.
Lima tahun tinggal di kota kelahiran Ricard, dan mati tertabrak mobil. Ia sempat berpikir tidak punya harapan lagi untuk bertemu kembali dengan orang tuanya.
Siapa sangka ia kembali lagi, saat ia belum mati tertabrak mobil. Dan ia pun dapat kembali bertemu dengan orang tuanya.
"Mama... !" Eleanor menangis sembari berlari ke arah Ibunya, lalu memeluk Ibunya dengan erat.
Ibu Eleanor tersenyum bahagia menyambut Eleanor, dan membalas pelukan Eleanor dengan erat. Ia juga sangat merindukan putrinya tersebut.
Karena perasaan cinta Eleanor, begitu dalam pada pria yang di sukai Eleanor, terpaksa Ibu Eleanor, Olivia Natasha, merelakan putrinya tinggal di kota lelaki tersebut.
Penantian Olivia yang penuh sabar, akhirnya membuat Eleanor kembali dengan sendirinya. Dan ia sangat senang mendengar dari Eleanor sendiri, kalau ia akhirnya putus dari lelaki itu.
"Bagaimana perjalanan mu? apakah kamu sangat lelah? kamu terlihat sedikit kurusan, nak!" kata Olivia memperhatikan keadaan tubuh Eleanor, setelah ia melepas pelukan mereka.
"Aku merasa bersalah beberapa hari ini, jadi kurang istirahat, dan tidak nafsu makan!" jawab Eleanor sembari melirik James.
Eleanor sengaja mengatakannya untuk memberitahu James, kalau ia serius dengan apa yang ia katakan tadi pada James.
"Setelah ini kamu harus banyak istirahat, soal pernikahan kalian, bagaimana kalau tiga hari lagi baru di adakan, oke?" Olivia mengelus bahu Eleanor dengan lembut, "Apakah anda setuju, nak James?" tanya Olivia menoleh memandang James.
"Bagaimana baiknya saja, apa yang menurut anda terbaik, Bi!" jawab James menjawab apa yang diusulkan Olivia.
Bi? Eleanor menoleh memandang James, kenapa dia memanggil Mama dengan panggilan 'Bibi'? pikir Eleanor sedikit bingung.
Olivia menyadari raut wajah bingung Eleanor melirik James. Ia menepuk lembut bahu Eleanor, lalu ia pun menjelaskan kenapa James memanggilnya dengan panggilan Bibi.
"James sepupu jauh mu dari pihak Mama, dia putra sepupu laki-laki Mama yang sudah meninggal!"
Oh! akhirnya Eleanor pun mengerti, kenapa ia di jodohkan Ibunya kepada James Sebastian. Ibunya memang telah mengenal baik siapa James.
Bersambung.....
yg ayahnya juga sama
masa menelepon tuan rumah padahal anaknya yg berulah