Season satu : Polisi Sang Penakluk Hati
Season dua : Antara Aku Kamu dan Dia
Season ke tiga : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU.
Berkisah tantang rumitnya perjalanan sebuah rasa yang di sebut cinta.
Angga jatuh cinta kepada Cia.
Cia yang justru jatuh cinta kepada Arfi
Dan Arfi yang masih menharapkan Sisi sang mantan Istri.
Kejutan kian menjadi, saat Cia tahu ia mencintai mantan suami sahabatnya sendiri.
***
Follow IG aku yak : @shanty_fadillah123
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Sikap Alvian
*Selamat Membaca*
Tanpa rasa takut sedikit pun, Nino berdiri dan menantang Alvian untuk menembaknya, pria itu tidak takut jika Alvian menghabisi nyawanya.
"Aaaaah.....!
BUG BAG BUG........
Berkali-kali Alvian meninju serta menendang tubuh Nino, bahkan Nino pun membalas pukulan yang Alvian daratkan padanya, sehingga terjadi perkelahian hebat di antara dua orang pria tersebut.
"Mampus kau....!" teriak Alvian keras saat berkali-kali menendang kaki Nino hingga tak bisa berdiri.
"Berheti!"
Nino merebut pistol yang sejak tadi berada di tangan Alvian, lalu secepat kilat Nino mengarahkan pistol tersebut ke wajah suami dari mantan kekasihnya.
Ck...
"Sial,"
Nino berdecak kesal, karena ternyata pistol yang kini berada di tangannya tidak memiliki peluru, sehingga ia gagal melesatkan senjata tersebut ke arah Alvian.
"Buahahhahaha... lagi-lagi, kau tertipu," ejek Alvian tanpa ragu, seraya menghantamkan sebuah tinjuan tepat ke dada Nino.
"Aaagggrrhh...!"
Nino meringis ke sakitan, hantaman dan tinjuan serta pukulan, yang Alvian daratkan, membuatnya tak berdaya, bahkan lebam memenuhi sekujur tubuhnya.
"Kau tau... jangan satu penjahat sepertimu, sepuluh orang saja bisa mati di tanganku, jika aku mau," tambah Alvian yang membuat Nino bergidik ngeri.
"Kau polisi, atau bos Mafia, kenapa kau tak memiliki rasa iba sedikit pun," ucap Nino seraya meringis kesakitan.
"Apa kau bilang? Kasih, padamu? Oh.. tentu saja, tidak akan pernah terjadi, karena kau sendiri tak punya hati, menjebloskan seorang wanita ke dalam penjara, hingga Airin menahan dinginya lantai jeruji besi selama berbulan-bulan. Melihat rasa sakitnya, aku berjanji pada diriku sendiri, akan membuat menderita, orang-orang yang telah membuat sakit batinya. Paham.. lalu, untuk apa aku kasihan padamu?!" emosi Alvian berapi-api, membuat Nino diam dan tak mampu berucap lagi.
Ck.
Dengan cepat, Alvian meraih benda tajam, yang tadi di bawa oleh Nino untuk menghabisi nyawanya. Secepat kilat, Alvian pun mengarahkan pisau tersebut ke perut Nino.
DAN.........
"Al, berhenti! Jangan lakukan itu! Kau bisa masuk ke dalam penjara!" teriak Toni yang hadir bersama beberapa rekan polisi sepontan menghentikan aksi Alvian untuk membunuh Nino.
"Huuuh,"
"Kau,"
Toni memandangi Alvian dari bawah sampai ke atas, ia terkejut karena sahabatnya itu bisa berdiri tegap.
"Aaah, jangan sok kaget begitu.. urusi dulu, si bad ji ngan, itu dulu! Nanti aku jelaskan padamu," titah Alvian hingga Toni menggeleng pelan.
Pihak polisi pun segera mengamankan, Nino dan membawa pria itu ke rumah sakit terlebih dahulu, sebab saat ini Nino hampir tak sadarkan diri.
"Jaga baik-baik, bila perlu jangan di tinggalkan sendirian, nanti dia keluar lagi Bahaya....!"
"Siap komandan, kami akan melaksanakan tugas dengan baik," tegas beberapa polisi yang akan membawa Nino.
"Jangan siap... siap, aja! Tu, buktinya dia keluar," tambah Alvian.
Toni menautkan kedua alisnya saat memperhatikan gaya bicara Alvian yang sedikit berbeda.
"Udah, kamu di sini aja! Ga usah ikut mereka dulu, ada yang perlu aku bicarakan"
"Apa?"
"Ya duduk dulu!"
Alvian mengajak Toni duduk di sebuah kursi, untuk menceritkan hal, kenapa ia berpura-pura lumpuh.
"Lalu, apa orang tuamu juga tidak tahu, jika kau sudah tidak lumpuh lagi?"
Alvian menggeleng dan Toni menggigit bibirnya sendiri. Penjelasan Alvian membuat Toni berdecak heran.
"Hmm.. Lalu, kapan kau akan ke kantor? Kata papaku, perusahanmu itu kini tengah berkembang pesat, tehnik yang kau arahkan ke papa, benar-benar luar biasa hasilnya,"
"Hemmmm, iyakah?"
"Iya,"
"Baik, aku akan sesegera mungkin ke sana, tapi usahakan, perushaan Wijaya Bratayuda, harus bertekuk lutut dengan kita,"
"Selangkah lagi, karena dalam beberapa hari ini, perusahan yang kau sebut itu, meminjam uang ke persusahaan kita, dengan jumlah besar,"
"Bagus, bila perlu kasih terus, sampai mereka tak sanggup untuk membayarnya!"
"Iya, akan ku katakan pada papaku nanti,"
"Aku sudah tidak sabar, membuat keluarga sombong itu, jatuh miskin,"
Begitulah Alvian, ketika ia sudah dendam, pasti akan membalas dengan melakukan apapun.
"Dan yang membuatku bangga, papaku bisa menarik beberapa perusahaan besar, untuk bekerjasama dengan kita," jelas Toni pula.
"Aku tak salah, memilih papamu untuk menjalankan perusahaanku,"
Toni tersenyum, karena bagaimana pun, karena Alvianlah ekonomi keluarganya menjadi lebih baik. Sebab sebelumnya Tonilah yang menjadi tulang punggung keluarga. Papanya hanya stay di rumah saja untuk mengurus sang mama yang sakit parah.
"Bagaimana keadaan mamamu?"
"Saat ini, mamaku sudah lebih baik Al, oprasi berjalan lancar, dan mama bisa hidup normal seperti orang lain, semua ini karena kebaikanmu... kau membiayai oprasi mamaku, hingga beliau bisa sembuh. Kini uangku bisa ku tabung, mama sudah sembuh, dan papaku menghidupi keluarga kami, dari bekeja di kantormu," jelas Toni dengan tatapan tulus.
"Ahh kau ini, semua ini wajar ku berikan padamu, karena dulu kau pernah menyelamatkan nyawaku, saat aku tenggelam dan hampir masuk ke dasar laut.."
Keduanya pun tertawa bersama, menceritakan hal yang membuat keduanya terikat layaknya saudara, bahkan Alvian melupakan bahwa beberapa menit yang lalu, ia merasakan emosi yang menggebu-gebu.
"Aku permisi, karena harus bertugas. Lain waktu kita bertemu lagi,"
"Aaaah siap, tapi jaga rahasiaku serapat mungkin!"
"Oke...,"
Toni melangkah pergi meniggalkan rumah Alvian dengan membawa rahasia yang sahabatnya itu sembunyikan. Bukan hanya Toni yang di minta Alvian untuk tetap diam saja, tapi ada kedua satpam rumahnya juga.
"Awas kalau sampai kalian buka suara! Akan ku patahkan kaki kalian, satu persatu! ancam Alvian tanpa ragu, hingga membuat kedua satpam rumahnya bergidik ngeri.
***
Pagi menyapa dengan sinar sang fajar yang mulai tampak dari ufuk timur. Alvian masih tertidur pulas, seolah tak terjadi apapun tadi malam di rumahnya, sementara Airin bangun dan segera beranjak ke dapur, membantu Tania untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Rin, kepala mama sedikit berat, entah mengapa rasanya mama masih ingin tertidur lagi," jujur Tania pada menantunya.
"Sama, mah, aku juga... bahkan mataku rasanya benar-benar lengket dan sulit untuk di buka," jelas Airin pula.
Keduanya saling menatap, seakan ada yang tidak beres dengan mereka. Karena Reyhan yang biasanya bangun sangat pagi pun, kini masih terlelap di tempat tidur.
"Hemmm, mama tahu... sebaiknya kita cek CCTV rumah, apa yang terjadi tadi malam, karena mama rasa ada yang mencurigakan,"
"Aku setujuh mah. Tapi sebaiknya kita masak dulu, karena keburu siang,"
"Biar si bibi yang memasak semua masakan pagi ini,"
"Baiklah...,"
Airin pun mengikuti langkah Tania untuk menuju ke ruang khusus dimana terletak layar CCTV di dalamnya. Namun saat akan masuk ke dalam sana, Reyhan terbangun lalu memanggil istrinya.
"Kau saja cek dulu, Rin! Mama mau siapkan semua perlengkapan kerja papamu," titah Tania kemudian kepada menantunya.
Airin mengangguk setujuh. Tania masuk ke dalam kamarnya, sementara Airin masuk ke dalam ruangan dimana layar CCTV terletak.
Daaaaann..........
JANGAN LUPA BAHAGIA BUAT SEMUA
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu