Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Terakhir
Esok adalah hari terakhir Agil di Jakarta. Sebuah perpisahan yang akan menjadi awal dari penderitaan panjang bagi Laila, dan awal dari transformasi gelap bagi Agil.
Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi bisu perpisahan yang terasa seperti eksekusi mati bagi Laila. Agil memeluknya erat di depan gerbang keberangkatan internasional. Baskoro berdiri beberapa langkah di belakang mereka, mengenakan kacamata hitam, tampak seperti pelindung keluarga yang sempurna di mata orang awam.
Suara mesin jet yang menderu di kejauhan, menandai akhir dari perlindungan terakhir Laila. Agil telah pergi. Di terminal keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta, Laila berdiri mematung menatap papan pengumuman jadwal penerbangan, sementara tangannya digenggam erat oleh Baskoro. Genggaman itu bukan sebuah bentuk penghiburan, melainkan sebuah klaim kepemilikan.
"Sudahlah, Laila. Menangis tidak akan memperpendek jarak Jakarta dan London," bisik Baskoro dengan nada yang teramat halus, namun dingin. "Agil sedang menjemput takdirnya. Dan kau... kau harus menjalani takdirmu di sini."
Begitu mereka tiba kembali di mansion, suasana langsung berubah. Rina, sang ibu mertua, entah bagaimana tiba-tiba "diberi hadiah" tiket liburan ke Swiss selama satu bulan oleh Baskoro. Kepergian Rina yang terburu-buru sore itu, memastikan bahwa tidak akan ada saksi mata wanita— di dalam rumah besar tersebut.
Laila kini sendirian bersama Baskoro dan para pelayan yang telah disumpah untuk tutup mulut.
Minggu pertama, neraka itu dimulai dengan penyitaan ruang gerak. Pada hari ketiga setelah kepergian Agil, Baskoro memasuki kamar Laila tanpa mengetuk pintu.
"Berikan ponselmu," perintah Baskoro.
"Kenapa, Pa? Saya harus memberi kabar pada Mas Agil," protes Laila, mencoba menyembunyikan ponsel di balik bantalnya.
Baskoro berjalan mendekat, gerakannya lambat namun penuh ancaman. "Aku sudah menyediakan ponsel khusus untukmu. Di dalamnya hanya ada nomor Agil, nomorku, dan nomor dokter keluarga. Aku tidak ingin kau terganggu oleh berita-berita luar yang tidak penting. Fokuslah pada kesehatanmu... dan fokuslah padaku."
Laila terpaksa menyerahkan ponsel pribadinya. Sejak saat itu, setiap percakapan teleponnya dengan Agil selalu dilakukan di bawah pengawasan sistem penyadap. Laila tidak bisa mengatakan "Tolong aku" atau "Papa jahat". Ia hanya bisa bicara tentang cuaca, makan siang, dan kerinduan yang palsu di depan alat perekam Baskoro.
Setiap malam, Baskoro akan duduk di perpustakaan dan memanggil Laila untuk "membacakan buku" atau sekadar menemaninya minum wine. Di sana, Baskoro mulai melakukan pelecehan mental yang sistematis. Ia akan menceritakan betapa Agil sebenarnya tidak cukup baik untuk Laila, atau bagaimana Agil di London mungkin sedang dikelilingi wanita-wanita cantik yang lebih berkelas.
Memasuki bulan kedua, Baskoro mulai lebih agresif. Ia tidak lagi hanya menyentuh bahu atau tangan. Suatu malam, saat hujan deras mengguyur Jakarta, Baskoro masuk ke kamar Laila saat wanita itu sedang tertidur lelap.
Laila terbangun karena merasakan beban di sisi ranjangnya. Ia menjerit kecil saat melihat siluet Baskoro duduk di sana, hanya mengenakan jubah tidur sutra.
"Pa! Apa yang Papa lakukan di sini?!" Laila bangkit, merapatkan selimutnya ke dada.
"Aku hanya ingin memastikan menantuku tidak kedinginan," jawab Baskoro sambil mengelus pipi Laila dengan punggung tangannya. "Kau tahu, Laila... Agil baru saja mengirim laporan penjualannya hari ini. Dia sangat sukses. Tapi sukses itu bisa hilang dalam sekejap jika aku menarik tanda tanganku di dewan direksi."
Laila gemetar. "Apa maumu, Pa? Uang? Aku akan kembalikan semua kalung dan perhiasan itu."
Baskoro tertawa, sebuah tawa kering yang menggema di kamar yang sunyi. "Uang bukan masalah bagiku. Aku ingin kesetiaanmu. Aku ingin kau berhenti menatapku dengan kebencian. Jika kau bisa memberiku sedikit kasih sayang, aku akan memastikan ayahmu di desa mendapatkan rumah baru, dan Agil akan pulang sebagai pahlawan."
Malam itu, Baskoro memaksa Laila untuk memijat punggungnya selama berjam-jam. Sebuah tindakan yang terlihat sepele, namun bagi Laila, itu adalah penghinaan harga diri yang paling dalam. Ia merasa seperti pelayan, atau lebih buruk lagi, selir yang dipersiapkan untuk tuannya.
Malam di mansion Menteng tidak pernah lagi terasa sunyi bagi Laila; malam selalu terasa mengancam. Sejak Agil berangkat, setiap bunyi langkah kaki di koridor lantai dua setelah jam sepuluh malam adalah melodi horor yang membuat jantungnya berdegup kencang. Laila seringkali mengunci pintu kamarnya dari dalam, namun ia tahu itu sia-sia. Baskoro memegang kunci duplikat untuk setiap jengkal ruangan di rumah ini.
Bulan pertama adalah fase "Penaklukan Perlahan". Baskoro tidak langsung menggunakan kekerasan fisik yang kasar. Ia menggunakan metode yang jauh lebih kejam: penghancuran martabat.
Setiap sore, sebelum makan malam, Baskoro memiliki kebiasaan baru. Ia akan duduk di kursi goyang di balkon kamarnya yang berhadapan langsung dengan pintu kamar mandi Laila. Ia memerintahkan Laila untuk meninggalkan pintu kamar mandi sedikit terbuka saat sedang membersihkan diri. Ini ritual mandi yang menghinakan.
"Aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan hal konyol, Laila. Kau tampak depresi," dalih Baskoro dengan suara baritonnya yang tenang.
Laila harus mandi dengan perasaan diawasi. Meskipun ia bersembunyi di balik tirai shower yang buram, ia bisa merasakan tatapan Baskoro menembus celah pintu. Rasa malu itu membakar kulitnya lebih panas daripada air mandi. Ia merasa seperti binatang di kebun binatang, kehilangan privasi paling mendasarnya sebagai manusia.
Pernah suatu kali Laila mencoba mengunci pintu, namun malam harinya Baskoro mengirimkan foto ayahnya di desa yang sedang duduk di depan teras rumah, dengan dua pria berbadan tegap berdiri di latar belakang.
"Ayahmu terlihat sehat hari ini, Laila. Akan sangat disayangkan jika besok dia harus pindah ke sel tahanan karena kasus sengketa tanah yang 'tiba-tiba' muncul kembali," ucap Baskoro saat makan malam.
Laila hanya bisa menunduk, air matanya jatuh ke dalam sup yang ia santap. Sejak saat itu, pintu tidak pernah dikunci lagi.
Baskoro juga mulai melakukan "gaslighting" yang hebat. Ia sering memanggil Laila ke perpustakaan untuk sekadar menyisir rambutnya atau memotong kuku kakinya. Tindakan-tindakan domestik yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri kepada suami, dipaksakan kepada Laila sebagai bentuk "bakti" menantu.
"Lihatlah dirimu, Laila. Kau begitu cantik, tapi suamimu membiarkanmu layu di sini demi mengejar angka-angka di London. Apakah itu cinta?" bisik Baskoro saat jemari gemetar Laila memegang gunting kuku.
"Mas Agil bekerja untuk masa depan kami, Pa," jawab Laila lirih.
Baskoro tertawa, tangan kasarnya merayap ke dagu Laila, memaksa wanita itu menatap matanya. "Masa depanmu ada di tanganku, bukan di tangan anak ingusan itu. Agil hanyalah seorang pangeran yang aku pinjamkan mahkota. Tanpa aku, dia bukan siapa-siapa. Dan kau... kau adalah bunga yang dia tinggalkan di tanah gersang. Akulah yang menyirammu, Laila. Akulah yang menjagamu."