Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOSIS KEADILAN
Auditorium Rumah Sakit yang megah seketika berubah menjadi zona perang psikologis.
Di bawah sorotan lampu panggung yang mulai berkedip liar akibat peretasan Lukas, wajah-wajah elit medis dunia memucat melihat rekaman pembantaian kru kapal MV Asteria yang terpampang di layar raksasa.
Suasana hening yang mencekam pecah oleh teriakan kepanikan para undangan yang berebut mencari jalan keluar, namun pintu-pintu otomatis telah dikunci secara elektronik oleh Lukas dari jarak jauh.
Alana berdiri tegak di tengah panggung, jubah putihnya berkibar pelan seolah tertiup angin yang tak kasat mata.
Di hadapannya, Victor—sang mentor yang kini menjadi pengkhianat—meringkuk di kursi roda, matanya yang tua dan berair menatap Alana dengan campuran rasa takut dan penyesalan yang mendalam.
"Aura... kau tidak mengerti... mereka akan membunuhku jika aku tidak membantu..." Victor meratap, suaranya parau tertelan kegaduhan.
"Kematian adalah takdir yang kau coba curi, Victor. Dan sebagai gantinya, kau memberikan nyawa kawan-kawanku," suara Alana terdengar seperti denting logam yang dingin.
Ia mengangkat ampul kecil berisi cairan bening di tangan kanannya. "Aku tidak datang untuk membunuhmu. Aku datang untuk memberikan apa yang kau inginkan: penyempurnaan. Tapi keadilan selalu menuntut harga."
"Lepaskan dia, Dokter!" teriak Kael. Komandan Ouroboros itu bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi.
Ia melompati deretan kursi barisan depan, tangan kanannya mencabut sebuah pisau taktis berbahan polimer yang tidak terdeteksi oleh pemindai logam.
Kael tidak melepaskan tembakan karena dia tahu auditorium itu penuh dengan jurnalis yang masih bertahan dengan kamera menyala.
Kematian Victor di tangan Ouroboros secara publik akan menjadi bencana bagi citra Alfred Mahendra.
Alana bereaksi seketika. Sejak sinkronisasi DNA-nya sempurna, persepsi waktunya terasa melambat.
Ia bisa melihat otot-otot di leher Kael yang menegang sebelum pria itu meluncurkan serangannya.
Alana berputar, menghindari tebasan pisau Kael hanya dalam jarak beberapa milimeter.
Dengan gerakan yang mengalir seperti air, ia menggunakan momentum lawan untuk menghantamkan sikunya ke rusuk Kael.
BUK!
Kael terhuyung, namun dia adalah mesin pembunuh yang terlatih.
Dia segera memulihkan posisinya dan meluncurkan serangkaian serangan kombinasi yang brutal.
Pertarungan itu menjadi tontonan yang mengerikan bagi mereka yang tersisa di ruangan—pertukaran pukulan yang begitu cepat hingga mata telanjang sulit mengikutinya.
"Paman Arlan! Kael punya unit cadangan di pintu belakang!" suara Lukas bergema di earpiece Arlan.
Arlan, yang bersembunyi di balkon atas, segera mengarahkan senapan runduknya ke arah pintu samping panggung.
Tiga orang berseragam keamanan rumah sakit mencoba merangsek masuk dengan senjata berperedam.
Puff! Puff! Puff!
Arlan melepaskan tiga tembakan presisi. Ketiga penyusup itu tumbang sebelum sempat mengarahkan laras senjata mereka ke arah Alana.
"Alana, kau punya waktu tiga menit sebelum polisi Prancis atau pasukan elit Ouroboros menjebol barikade Lukas!" teriak Arlan.
Alana kembali fokus pada Kael. Kael mencoba menikam perut Alana, namun Alana menangkap pergelangan tangan pria itu.
Untuk sesaat, mereka terkunci dalam adu kekuatan. Mata abu-abu baja Alana bertemu dengan mata perak Kael.
"Kau hanyalah sebuah eksperimen yang gagal, Kael," bisik Alana.
Ia menggunakan kemampuan sensoriknya untuk mendeteksi titik lemah pada baju zirah taktis yang dipakai Kael.
Dengan satu hentakan kuat, ia menendang lutut Kael hingga terdengar suara retakan tulang yang mengerikan.
Kael mengerang kesakitan dan jatuh bertumpu pada satu lutut. Alana tidak mau membuang waktu.
Ia berbalik menuju Victor yang sedang berusaha merangkak keluar dari kursi rodanya.
"Victor, dengarkan aku!" Alana mencengkeram bahu Victor. "Ouroboros menyuntikkan substrat Teratai yang tidak stabil ke dalam sumsum tulang belakangmu.
Itulah sebabnya kau sekarat. Mereka tidak ingin menyembuhkanmu, mereka ingin melihat bagaimana sel-selmu bereaksi terhadap kegagalan!"
Victor terisak. "Aku tahu... aku bisa merasakannya... setiap detik adalah neraka."
"Aku butuh data enkripsi terakhir yang kau simpan di dalam implan otakmu," Alana mengangkat ampul itu.
"Cairan ini adalah penetralisir sekaligus penstabil. Ini akan memberimu waktu satu jam tanpa rasa sakit untuk memberikan data itu padaku, sebelum sistem tubuhmu berhenti sepenuhnya. Pilihanmu: mati sekarang dalam penderitaan, atau mati sebagai manusia yang melakukan satu hal benar terakhir."
Victor menatap ampul itu, lalu menatap Alana. "Lakukan."
Alana menyuntikkan cairan itu langsung ke pembuluh darah leher Victor. Seketika, getaran di tubuh pria tua itu berhenti.
Napasnya menjadi tenang. Matanya yang tadinya keruh kembali bersinar dengan kecerdasan yang selama ini terpendam oleh rasa sakit.
"Lukas! Sambungkan terminal biometrikmu ke implan Victor!" perintah Alana.
Lukas bekerja dengan kecepatan gila. "Masuk! Mengunduh data Proyek Teratai 2.0... astaga, Mummy! Ini bukan cuma soal obat. Ini adalah peta lokasi fasilitas produksi massal mereka di seluruh dunia! Mereka punya pabrik di bawah tanah Alpen, di gurun Sahara, dan..."
"Fokus, Lukas! Ambil semuanya!" seru Alana.
Kael, yang masih berjuang untuk berdiri dengan kaki yang patah, menarik sebuah detonator kecil dari sakunya. "Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang bisa!"
"TIDAK!" Arlan berteriak dari atas. Ia melepaskan tembakan ke arah tangan Kael, namun Kael sudah lebih dulu menekan tombolnya.
Bukan ledakan yang terjadi, melainkan sistem pemadam api laboratorium yang terhubung ke auditorium menyemprotkan gas saraf berwarna kuning.
Ouroboros bersedia membantai semua orang di ruangan itu demi memutus aliran data.
"Semuanya, tiarap!" perintah Alana. Ia merobek kain dari jubahnya, membasahinya dengan cairan penetral dari ampul kedua, dan menutup hidung Victor.
Dalam kabut kuning yang mematikan, Alana merasakan tubuhnya bereaksi.
Paru-parunya menyaring gas tersebut secara otomatis berkat sinkronisasi DNA Teratai. Ia merasa tak tersentuh.
Ia melihat Kael yang mulai terbatuk-batuk darah karena masker gasnya tidak mampu menahan konsentrasi gas saraf tersebut.
"Data selesai diunduh, Mummy! Seratus persen!" teriak Lukas melalui saluran komunikasi yang mulai terganggu statis.
Alana menatap Victor. Pria tua itu tersenyum lemah. "Aura... maafkan aku. Jangan biarkan kakekmu... menyesal..."
Kepala Victor terkulai. Dia telah pergi, namun kali ini dengan wajah yang tenang. Alana segera mengambil keping memori kecil yang keluar dari terminal kursi roda Victor dan menyimpannya di tempat yang aman.
"Arlan, evakuasi!" Alana berteriak.
Arlan meluncur turun menggunakan tali rappel dari balkon. Ia mendarat di samping Alana, menariknya menjauh dari kabut kuning yang semakin tebal.
"Kita harus pergi lewat lubang ventilasi atas! Tim khusus Prancis sudah di luar!"
Mereka berlari melintasi panggung, melewati Kael yang kini tak berdaya di lantai. Alana sempat berhenti sejenak, menatap musuhnya.
Ia bisa saja mengakhiri hidup Kael saat itu juga, namun ia memilih membiarkannya tetap hidup untuk menyaksikan kehancuran organisasinya sendiri.
"Beritahu Alfred," kata Alana kepada Kael yang terkapar. "Bahwa hantu-hantu yang ia coba kubur sekarang sedang datang untuk menjemputnya."
Arlan dan Alana memanjat naik ke langit-langit auditorium tepat saat pintu utama diledakkan oleh pasukan elit GIGN Prancis.
Di bawah sana, ruangan itu dipenuhi oleh tentara bertopeng gas, jurnalis yang pingsan, dan mayat seorang pengkhianat yang akhirnya menebus kesalahannya.
Mereka berhasil keluar melalui atap rumah sakit, di mana sebuah helikopter tanpa tanda pengenal telah menunggu—dikendalikan oleh salah satu loyalis The Sovereign yang baru saja dihubungi Meera.
Saat helikopter itu terbang menjauhi cakrawala Paris yang berkabut, Alana menatap tablet di tangannya yang berisi data rahasia Ouroboros.
Perang ini bukan lagi tentang pelarian. Sekarang, dia memiliki daftar target. Dia memiliki lokasi jantung musuh.
"Mummy," Lukas memeluk ibunya, wajahnya masih pucat karena ketegangan. "Kita berhasil."
Alana membelai rambut putranya, matanya tetap menatap tajam ke depan. "Ini baru awal, Lukas. Sekarang, kita yang akan memburu mereka."
Arlan duduk di samping mereka, membersihkan darah dari wajahnya. "Tujuan selanjutnya?"
"Alpen," sahut Alana dingin. "Kita akan menghancurkan pabrik mereka sebelum satu pun tentara super mereka sempat dilahirkan."
Malam di Paris berakhir dengan suara baling-baling helikopter yang membelah udara dingin.
"Dosis Keadilan" telah diberikan, namun racun konspirasi Ouroboros masih menyebar luas.