Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mulya POV
Gadis itu mampu menggetarkan hatiku yang telah lama beku. Gadis itu mampu, menghidupkan kembali hati, yang telah lama mati. Ia juga mampu, membuat irama di setiap detak jantungku.
Jadi, ketika aku bertemu dengan gadis itu. Tidak mungkin untuk aku melepaskannya. Apalagi, untuk aku menyakiti gadis itu. Aku tidak bisa, sangat amat tidak bisa untuk melukainya walau sedikit saja.
Hati dingin ini, tidak bisa dingin pada gadis itu. Hati mati ini, hanya bisa hidup ketika bertemu dengan gadis itu.
Aku berniat untuk menjaga gadis itu, walau apapun yang ada di belakangnya, aku tidak perduli sama sekali.
Apapun latar belakangnya, tidak akan menjadi pengaruh buat hati dan hidup yang aku miliki.
Siapapun yang akan aku hadapai nanti, aku tidak akan takut Alina. Aku siap jadi pohon yang bisa membuat kamu berteduh, jika matahari mulai memancarkan hawa panas padamu.
"Permisi bos, orang yang anda panggil sudah ada di sini," kata anak buahku.
"Aku akan menemuinya," ucapku sambil bangun dari duduk, lalu menuju ruang kerjaku.
Seorang laki-laki berjas merah, tersenyum manis saat melihat aku yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Hai teman, lama tidak bertemu ya. Kamu semakin tampan saja," kata laki-laki itu sambil memeluk erat tubuhku.
"Kamu bisa aja, silahkan duduk."
Aku melepaskan pelukan hangat walau sesaat itu. Lalu dia dan aku duduk di sofa yang sama.
"Bagaimana kabar kamu sekarang, Roy?"
"Seperti yang kamu lihat, aku sangat amat baik," ucap Roy.
"Mau apa kamu minta aku datang kesini? Pasti ada sesuatu yang sangat rahasia bukan?"
"Kamu tahu aja kalau ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."
"Siapa yang tidak kenal dirimu Mulya, aku ini adalah sahabat kamu, aku tahu siapa kamu. Jika tidak ada yang penting, maka kamu tidak akan ingat padaku."
"Jangan banyak bicara Roy, jika kamu masih ingin bekerja di bawah kuasa aku, maka baik-baiklah menjaga mulutmu. Karna jika tidak, aku akan kirimkan kamu ke padang pasir yang punya suhu panas itu."
"Oh tidak perlu, aku masih siap bekerja dengan mu lahir batin. Jadi jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Karna aku tidak suka apa yang kamu pikirkan."
"Baiklah, langsung saja katakan apa yang membuat kamu begitu tega membangunkan aku dari tidur panjangku," kata Roy lagi.
"Aku ingin kamu menyelidiki, bagaimana kehidupan istri pertama bos Herman selama di luar negeri. Aku ingin tahu, apa saja yang ia lakukan pada anaknya."
"Gila! Itu hal yang paling sulit tahu gak!" kata Roy terlihat sangat kaget.
"Aku tahu itu tidak mudah, tapi setidaknya, kamu harus usaha dulu, baru nyerah."
"Kamu tahukan, bagaimana ceritanya semua orang yang kakak kamu kirimkan sebelumnya. Tidak ada yang berhasil menguak tentang kehidupan istri pertama bos Herman. Wanita itu sangat pandai menutupi kehidupannya saat di luar negeri," kata Roy dengan nada putus asanya.
"Buat apa kamu sekolah tinggi-tinggi Roy, jika kamu tidak bisa mencari tahu apa yang aku inginkan. Buat apa aku simpan kamu sebagai mata-mata terbaik, dan orang paling handal yang aku miliki? Kalau pada akhirnya, kamu tidak berguna juga."
"Atau mungkin, kamu sudah bosan bekerja denganku, dan kamu ingin pindah dari negara ini. Oh ya, padang pasir selalu setia menunggu kedatangan kamu selama ini," kataku lagi.
Roy memasang wajah kesalnya, saat mendengarkan kata yang aku ucapkan barusan. Kata yang mengandung pemaksaan yang sangat jelas.
"Ya sudah, aku akan mencobanya dengan sekuat tenaga. Tapi kamu jangan terlalu berharap padaku."
"Jangan kembali jika kamu tidak mendapatkan petunjuk yang aku mahu," ucapku dengan nada penuh ancaman.
"Gila kamu! Teman macam apa kamu ini!" kata Roy tidak terima.
"Terserah, jika kamu tidak berhasil, maka siap-siap, aku akan kirimkan kamu ke padang pasir untuk tinggal bersama unta-unta di sana."
Aku pun tersenyum dengan wajah penuh kemenagan. Sedangkan Roy, ia terliha kesal dengan semua ancaman yang aku lontarkan.
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe