Airell Miranda baru saja menerima kenyataan bahwa ia telah menjadi selingkuhan sang kekasih bernama Bram Smith yang telah dipcarinya selama hampir 3 tahun. Istri Bram yang datang ke apartemen Airell bersama seorang pria yang Airell tidak tau siapa. Perempuan yang mengaku sebagai istri dari Bram memberi peringatan berupa ancaman dan pelajaran untuk tidak lagi mendekati suaminya, Bram.
Berita Airell yang merebut suami orang kini sudah tersebar di rumah sakit tempat di mana Airell bekerja sebagai seorang psikiater. Tidak hanya itu, Airell dipecat dari pekerjaannya dan nama Airell dikasih tinta hitam agar rumah sakit, biro ataupun perusahaan tidak menerima Airell sebagai pekerja. Selain Airell kehilangan pekerjaannya, Airel juga dijauhi dan ditinggalkan teman-temannya.
Kemalangan Airell masih berlanjut saat Airell tiba-tiba diculik oleh orang suruhan pria yang datang ke apartemennya bersama istri Bram yang Airell baru tau nama pria tersebut adalah Max Alexanders Wu. Max memperkosa Airell yang saat itu masih suci dan memberikan ancaman untuk tidak lagi mendekati Bram suami dari adiknya.
Airell menatap penuh dendam kepada pria yang merenggut kesuciannya. Namun, Airell tidak bisa melakukan apa-apa. Hingga akhirnya setelah kejadian itu Airell memutuskan untuk pindah keluar negeri.
Bagaimana perjuangan Airell setelah menghadapi kemalangan-kemalangan yang menimpa dirinya. Yuk, ikuti novel ini!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunar Sirius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Hospital
Airell yang melihat kondisi sudah tidak terkendali setelah ada insiden tembakan tersebut dengan segera melepas ikatan tali yang mengikat tangan Noel. Dengan tangan gemetar ia memeluk Queeny dan Noel yang berada didekatnya.
Tak lama kemudian Diego muncul dengan bernafas lega saat melihat Airell, Noel, dan Queeny baik-baik saja. Lalu mata Diego melirik ke sekeliling pasukan yang mengitari mereka untuk segera membawa Airell, Noel dan Queeny ke tempat aman.
Komandan dari pasukan tersebut segera membantu Airell, Noel dan Queeny namun teriakan penolakan Queeny yang membuat telinga sakit hingga menghentikan aksi dirinya dengan pasukan, “tidak. Queeny mau bersama daddy.” Rengeknya hingga membuat Diego menghela nafasnya kemudian berjalan ke arah Queeny yang menangis.
“Sayang, kamu bersama momma Airell dan kakak Noel terlebih dahulu. Daddy mau membantu uncle Max ya.” Ucap Diego dengan memeluk putrinya yang terisak karena ketakutan tidak lupa juga tangannya mengelus rambut Queeny yang berantakan.
“Ta-tapi Queeny ingin ikut sama daddy.” Ucap Queeny dengan isakannya.
“Iya, Queeny ikut daddy tapi Queeny harus pulang dulu ke rumah ya. Mommy sudah menunggu Queeny nanti Queeny menyusul bersama mommy, momma Airell dan kakak Noel.” Queeny yang mendengar kata mommy menganggukkan kepalanya karena sekarang ia sangat merindukan mommynya.
“Bagus, anak daddy yang pintar dan cantik.” Ucap Diego lalu beralih ke arah Airell yang sedang mencium pucuk kepala Noel dengan sayang sedangkan Noel hanya diam saja sedari tadi.
“Airell kamu tolong jaga Queeny untukku, aku akan segera mengurus semua ini. Nanti datanglah bersama dengan Disha dan Steffy. Tenang saja Max pasti akan baik-baik saja jangan khawatirkan dia, sudah biasa ia mengalami seperti ini.” Setelah mengatakan itu Diego melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah mobil di mana Max sudah berada di dalam sana dengan tidak berdaya.
Airell, Noel, dan Queeny juga mengikuti Diego dari belakang tapi dengan menggunakan mobil yang berbeda. “Di sini Nyonya.” Ucap sang komandan pasukan tersebut mengarahkan Airell sambil menggendong Queeny dan menggenggam tangan Noel.
Sesampainya di mansion Airell, Noel dan Queeny disambut oleh Disha dengan air matanya dan tatapan lega dari Steffy melihat keponakannya dan wanita pujaan kakaknya baik-baik saja. Walaupun di masa lalu mereka mempunyai hubungan yang buruk dan menjadi penyebab Airell seperti ini karena dirinya namun Steffy sudah mengakui bahwa itu adalah salahnya. Jadi, ia harus menyatukan kakaknya dengan Airell. Tapi, sikap Steffy masih angkuh dan sombong jika sedang berada di depan Airell karena ia merasa gengsi dan tidak menyukai Airell yang jual mahal terhadap kakakanya itu.
“Bersihkan kalian terlebih dahulu nanti kita akan segera ke rumah sakit.” Perintah Steffy meninggalkan dua wanita dewasa dan dua anak kecil di halaman rumah. Langkah kaki Steffy terhenti dan melihat ke arah keponakannya yang sejak tadi diam, “Noel ayo ikut aunty kita bersihkan tubuhmu biarkan momma bersih-bersih dan bersiap.” Ajak Steffy sambil mengambil tangan Noel.
“Tidak usah biarkan aku saja.” Ucap Airell dengan dingin.
“Airell aku tidak ingin mendengar bantahan dalam situasi seperti ini kamu harus segera membersihkan tubuhmu yang penuh dengan kuman itu.” Ucap Steffy dengan pedas lalu menggendong Noel yang masih terdiam dengan tatapan kosongnya.
Saat Airell hendak mencegah Disha memegang tangan Airell sambil menggelengkan kepalanya untuk tidak menyusul Steffy dan Noel yang sudah berjalan jauh masuk ke dalam rumah. “Jangan khawatir dia sudah berubah dan tumbuh menjadi wanita yang dewasa.” Ucap Disha menenangkan Airell, “sebaiknya kamu segera bersihkan dirimu agar kita segera ke rumah sakit.”
Airell hanya diam namun ia mengikuti langkah kaki Disha di belakang yang sedang berjalan sambil menggendong Queeny yang memeluknya dengan erat. “Mommy Queeny takut.” Ungkap Queeny
“Iya sayang, Queeny sekarang akan baik-baik saja kan ada daddy dan uncle Max yang akan selalu menjaga Queeny.” Ucap Disha dengan mata berkaca-kaca.
“Uncle Max tadi terluka dan terjatuh di tanah mommy.” Airell yang mendengarnya menegang dan terdiam.
“Uncle Max sedang berakting sayang untuk mengelabui uncle yang menculik Queeny dan kak Noel.” Hibur Disha
Di dalam kamar di mana Steffy dan Noel berada, Steffy menurunkan Noel dalam gendongannya dan mendudukkan Noel di atas kasur. “Noel sayang, kenapa diam hmmm?” Tanya Steffy dengan lembut, mata Noel melihat ke arah Steffy yang sedang menatap dirinya dengan lembut dan penuh tanda tanya namun Noel hanya diam saja.
Steffy tau bahwa Noel sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa dirinya dengan Queeny tadi terlebih lagi ia pasti melihat sesuatu yang membuatnya terdiam. “Dadda pasti akan baik-baik saja. Tidak akan semudah itu membuat dadda Noel jatuh sakit hmm. Sebaiknya kita harus bersiap-siap ya, aunty mandiin ya.” Ucap Steffy yang berusaha menenangkan Noel, tangan lentiknya membuka baju Noel dengan telaten dan membawa Noel ke bak mandi setelah sebelumnya ia meminta kepada pelayan untuk menghangatkan air di bak mandi.
“Keponakan aunty sangat tampan dan wangi sekarang ayo kita keluar menemui momma." Ajak Steffy sambil menggendong Noel seperti koala.
Tok tok tok
Airell mendengar suara pintu kamar di ketuk segera membukakan pintu tersebut dan nampaklah Steffy di sana yang menggendong Noel. Dengan angkuhnya Steffy masuk tanpa permisi dari sang pengguna kamar dan duduk di atas sofa dengan Noel yang masih diam dalam gendongan Steffy.
“Sini biar aku saja.” Ucap Airell
“Tidak usah sebaiknya kamu segera bersiap-siap.” Tolak Steffy dengan datar, “jangan membantah.” Ingat Steffy.
Airell yang malas berdebat dengan Steffy memandang datar ke arah Steffy namun sebuah suara kecil dan lirih menghentikan aksi tatap menatap mereka, “daddy Adam.” Panggil Noel lirih.
“Sayang, kamu merindukan daddy Adam?” Tanya Airell dengan lembut. Airell sangat memahami bahwa disaat Noel lagi sedih atau dimarahi oleh dirinya maka pelarian Noel adalah daddy Adam. Noel menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia sangat membutuhkan daddy Adam sekarang.
“Iya, nanti momma telepon daddy Adam dan suruh ke sini untuk menjemput kita ya. Tapi kita harus segera ke rumah sakit dulu.” Ucap Airell membuat Steffy mendelik tajam ke arah Airell yang mengatakan bahwa mereka akan dijemput. Sudah sejauh ini perjalanan dan rencana yang mereka lalui wanita di depannya ini dengan mudahnya mengatakan bahwa ingin kembali walaupun secara tidak langsung Steffy tidak akan membiarkan ini terjadi. Sedangkan Airell terlihat tidak peduli dengan tatapan tajam Steffy yang mengarah kepadanya.
“Bagaimana keadaannya dok?” Tanya Diego setelah melihat dokter keluar dari dalam ruang di mana Max berada.
“Luka tembakan yang dialami Tuan Muda cukup parah karena berhasil mengenai jantungnya beruntungnya peluru itu tidak terlalu dalam sehingga kondisi Tuan Muda masih bisa diselamatkan.” Jelas dokter yang menangani Max, Diego yang mendengarnya bernafas dengan lega.
“Tuan muda nanti akan dipindahkan ke dalam ruang perawatan, saat ini Tuan Muda masih dalam obat bius jadi memerlukan hampir 5 jam untuk membuatnya sadar. Saat Sadar nanti segera hubungi kami melalui tombol di samping tempat tidur Tuan Muda. Saya permisi Tuan Diego.” Jelas dokter tersebut dan berjalan pergi setelah
menjelaskan kepada Diego asisten sekaligus tangan kanan dari Max Alexanders Wu pria yang ditanganinya.
Diego segera mengurus ruang VVIP untuk 3 kamar karena sebentar lagi pasti akan ada istri dan anaknya, beserta Noel, Airell, dan Steffy yang tentunya akan menginap di sini bersama. Diego tidak mau mengambil risiko mengingat kejadian sebelumnya yang membuat Max sampai terluka cukup parah untuk meninggalkan ketiga wanita dewasa dan dua anak kecil ke dalam mansion mereka karena itu akan sangat berbahaya walaupun mereka mempunyai pasukan yang khusus untuk menjaganya. Terlebih lagi tadi Airell terluka jadi Diego tidak mau kena amukan Max ketika ia sadar karena tidak bisa menjaga Airell.
Untuk Noel dan Queeny mereka harus menjalankan pemeriksaan psikologis karena pasti penculikan yang terjadi membuat psikologis sepasang anak kecil itu terganggu. Karena tidak semua luka bisa terlihat. Seringkali hal yang tidak disadari menjadi pemicu untuk kemudian hari jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.
*Bersambung*