NovelToon NovelToon
Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Perempuan Desa Yang Selalu Dihina

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Nur silawati

"Amelia kita sudah menikah, ingat perjanjian kita jika pernikahan ini hanya sementara. Aku menikahimu karena terpaksa.. jangan berharap banyak dari pernikahan ini. Aku pun tidak akan menyentuhnya."ucap Rudi.
Amelia gadis berasal dari desa kidul, bertemu dengan Rudi pria asal ibukota,ia seorang kontraktor yang sedang membangun jalanan di desa Amelia.
Amelia terpaksa menerima lamaran Rudi karena ingin melunasi hutang kedua orang tuanya.
Rudi terpaksa menikahi Amelia karena tunangannya Sarah hilang entah ke mana menjelang 1 minggu pernikahan mereka.
Sementara undangan sudah menyebar kemana-mana.
Untuk menutupi aib keluarga Rudi memilih Amelia untuk ia nikahi.
"Apapun persyaratannya aku terima yang terpenting uang yang kamu janjikan harus tepati..." jawab Amelia tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur silawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4. bertemu sutradara.

Setelah mertua dan iparnya pergi ke mall, Lia pun gegas pergi ke warnet untuk membuka flashdisk yang berisi kan naskah-naskah.

Sambil menggendong Arka ia pergi ke warnet dengan mengendarai sepeda motor tua milik sang mertua.

Hanya perlu waktu 5 menit, Lia sampai di warnet tersebut.

Bayi 9 bulan itu anteng dalam gendongan Lia,Arkan sangat pengertian ia tahu bukan ibunya yang mengasuh tapi orang lain.

Dengan cekatan Lia mengeluarkan flash disk dan memasangnya di komputer yang ada di warnet.

Ia membuka naskah dan membacanya sekaligus mengedit jika ada kata-kata yang salah dan kurang tepat.

Satu jam lamanya Lia revisi naskah-naskahnya,ada cerita horor dan rumah tangga. Setelah meyakini semua naskahnya rapih ia revisi Lia keluar dari KBU itu.

Arkan terlelap dalam gendongan Lia, setelah melakukan pembayaran pada penjaga warnet, selanjutnya Lia akan mencari tempat fotocopy untuk print naskah-naskah tersebut..

"Bang tempat fotocopy di sini mana ya?"tanya Lia pada penjaga warnet.

" Mbak mau foto copy?" Tanya si penjaga warnet.

"Bukan,tapi Saya mau print."jawab Lia sambil menepuk-nepuk pantat  Arkan supaya makin terlelap tidurnya.

"Di sini bisa kalau hanya print?" Ucap penjaga warnet.

" Alhamdulillah kalau bisa, boleh saya print bang?"penjaga warnet itu menggangguk.

"Silakan Mbak."Lia kembali masuk ke KBU memasang flashdisk-nya kembali, lalu ia membuka file yang berisikan naskahnya.

Lia mulai print semua naskah yang ia tulis. Setelah semuanya selesai di print. Lia melakukan transaksi pembayaran lagi pada penjaga warnet.

"Semuanya 100 lembar, satu lembar 500 perak total semuanya lima puluh ribu." Lia menyerahkan uang satu lembar berwarna merah pada penjaga warnet.

"Terima kasih ya Bang..!"ucap Lia, setelah memastikan semua naskahnya  sudah ada di dalam amplop. Lia pergi meninggalkan warnet.

"Sama-sama Mbak, hati-hati di jalan." Jawab penjaga warnet..Lia menggangguk sopan.

" Cantik sekali, sayang sudah punya anak." Gumam penjaga warnet itu, setelah Lia pergi..

"Kira-kira kalau aku ke bank, keburu tidak ya waktunya."gumam Lia dalam hati..Jam di tangannya telah menunjukkan angka 12.00, suara adzan Zuhur sudah berkumandang.

"Bismillah sajalah, mudah-mudahan waktunya cukup untuk membuka tabungan."uang pemberian Azizah akan ia gunakan untuk membuka tabungan di Bank rakyat Indonesia.. itupun sudah tidak cukup tiga ratus lagi, seratus ribu ia pakai di warnet.

Arkan terlelap dalam gendongan Lia.

"Terima kasih sudah bersahabat anak sholeh.."ucap Lia sambil mencium pucuk kepala Arkan.

Butuh waktu 15 menit berkendaraan, Lia dan Arkan sampai di Bank rakyat Indonesia setempat.

Setelah mengisi formulir Lia langsung diproses oleh customer service. Dan kebetulan Hari ini sepi tidak ada yang mengantri di depan customer service.

"Selamat siang Mbak, Saya mau buka tabungan  Simpedes yang uang mukanya seratus ribu." Ucap Lia sambil menyerahkan formulir dan ktp-nya.

"Ini KTP-nya Jawa Tengah ya mbak, di kota ini tinggal di mana?"tanya customer service.

"Ya Mbak saya baru 3 bulan tinggal di kota ini, ikut dengan suami. Bisa kan mba pakai KTP kampung untuk pembukaan rekening?"customer service menimbang lalu ia mengangguk.

"Bisa Mbak! Yang lima puluh ribu ada pembukaan rekening baru, tapi jenis Britama." Ucap customer service.

"Baiklah kalau begitu saya mau pilih Britama saja Mbak. Yang pembukaannya rp50.000."jawab Lia  malu-malu. 30 menit proses pembuatan rekening baru selesai.

Lia langsung mengganti nomor PIN atm-nya. Di mesin ATM yang ada di cabang Bank setempat.

Setelah semuanya selesai lia menarik nafas lega.ia bersyukur sekali urusannya hari ini dilancarkan oleh Yang maha kuasa.

Arkan masih terlelap dalam gendongannya. Tidak terganggu sama sekali oleh aktivitas Lia hari ini.

Setelah berkendaraan 30 menit Lia sampai di rumah sang mertua. Rumah masih dalam keadaan sepi seperti ia tinggalkan 2 jam yang lalu.

"Alhamdulillah kita sampai anak sholeh. Terima kasih kerjasamanya Arkan."Lia membaringkan  Arkan di tempat tidurnya.

Saking semangatnya ingin mendapatkan uang, lia sampai lupa dengan cacing di perutnya yang sudah demo dari tadi.

Setelah memastikan Arkan aman Lia keluar kamar untuk mengambil nasi yang tersisa.

Ia sudah menyembunyikan satu butir telur untuk lauknya.

Jika Lia tidak cerdik dirumah mertuanya,ia akan kelaparan terus.

Lia makan dengan sangat lahap dan cepat,ia sudah tidak sabar ingin memberitahu  Asti sahabatnya.jika ia sudah  print naskah-naskahnya dan ia pun sudah buka buku tabungan.

Lia kembali ke kamarnya ,Arkan masih tidur anak Itu sangat lelap sekali.

Kesehariannya  Arkan jarang tidur siang, Azizah sibuk dengan dunianya sehingga anaknya jarang sekali ia ajak bobok siang.

"Assalamualaikum Asti. Aku ingin memberitahumu, semua naskah sudah ku print dan aku pun sudah membuka buku tabungan."pesan terkirim.. centang dua tapi masih abu-abu, mungkin  Asti sedang sibuk bekerja.

Asti bekerja di rumah seorang sutradara dan produser film sebagai asisten rumah tangga.

Ponsel Lia berdering nama Asti tertera di layar kaca ponsel Android itu.

"Assalamualaikum Lia, kemarin aku sudah bicara dengan sutradara sekaligus bosku, prihal naskah mu. Bosku ingin kamu menceritakan alurnya dan genre dan tropinya apa? Sebaiknya kita ketemuan besok." Lia yang sudah mempersiapkan semuanya, menyanggupi permintaan bos Asti untuk bertemu besok.

"oke kita bertemu besok, di mana tempatnya. Rumah mertuaku dengan ibukota itu satu jam kurang lebih jika tidak macet.."Lia memberikan alamat rumah mertuanya yang ada di ujung aspal..

"Aku kabari lagi, bosku bisa bertemu mu di mana? Mudah-mudahan Ia mau menemui mu di sekitar rumah mertuamu." Lia harap-harap cemas menanti kabar dari Asti.

Satu jam berlalu, Asti menelepon kembali.

"Bosku ingin ketemu hari ini juga satu jam lagi Kami sampai di salah satu Mall kecil yang tidak jauh dari ujung aspal.." Lia kaget mendengar kabar dari Asti.

"Secepat itu  As? Bosmu ingin bertemu. Sabar sedikit aku siap-siap dulu, Aku sedang memberi makan keponakanku." Lia yang baru saja selesai menyuapi Arkan bubur.ia segera mengganti pakaian balita itu dengan yang lebih bersih, Arkan sudah bangun setengah jam yang lalu. Sebelumnya ia memandikan Arkan terlebih dahulu, jam sudah menunjukkan di angka 15. 00 Perasaan  lia campur aduk gelisah tidak menentu.Ia bimbang ingin menemui bos Asti karena waktu sudah sore, ia khawatir ibu mertua dan kakak iparnya pulang ia dan Arkan tidak ada di rumah.

Setelah menimbang dengan matang Lia mantap kan hatinya, serta melapaskan basmallah. Lia pergi ke Mall yang tidak jauh dari ujung aspal.

Hair ini ia dan Arkan wara-wiri dijalan.

"Kalau aku tahu akan ada pertemuan hari ini, di mall ini,dengan bos Asti. setelah dari pembukaan rekening tidak usah pulang dulu ke rumah." Batinnya dalam hati,  Bank rakyat Indonesia dengan mall  kecil tempat Lia dan  Asti bikin janji berdekatan..

Lia dan Arkan sudah sampai di mall tersebut.Lia sengaja menunggu di area permainan anak-anak.

"Liaaa..Amelia..!"teriak  Asti.

Kedua sahabat itu saling berpelukan melepaskan rindu, mereka memang sudah cukup lama tidak bertemu dua kali idul Fitri  Asti tidak pulang kampung.

"Aku kangen sekali lia." Saking asik melepaskan Rindu kedua sahabat itu, sampai melupakan sang sutradara kondang.

"Hemmm.." Lia dan Asti tersadar dari keasyikan mereka. Ternyata dunia bukan milik mereka berdua ada bosnya  Asti yang menunggu mereka..

"Lia kenalkan ini bosku, sekaligus sutradara dan produser film.. "ucap Asti.

Lia mengangguk sopan, dan mengulurkan tangannya pada pria tampan dan rupawan, dengan tampang cool itu.

"Perkenalkan nama saya Amelia lestari Pak."ucap Lia sopan.

"Reza..!" Jawab sutradara itu dengan nada dingin.

"Kamu penulis naskah?" kini mereka sudah duduk di sebuah cafe yang ada di mall tersebut.

"Iya Pak Saya suka menulis dan mengarang.. bapak lihat saja dulu karya saya." Lia menyodorkan naskahnya yang ada di dalam amplop coklat ke hadapan Reza.

Reza membuka amplop itu lalu mengeluarkan kertas HVS yang berisikan tulisan Amelia.

"Saya menulis genre rumah tangga, dan perselingkuhan. Tetapi ada mistisnya di dalam cerita ini pak.." jelas Lia, Reza hanya membaca deskripsi cerita yang ditulis oleh Amelia.

"Karyamu ini pernah kamu pasarkan di aplikasi online atau yang lain? Tanya Reza.

Lia menggelengkan kepala, ia belum pernah kerjasama dengan aplikasi manapun.

"Belum pernah Pak.. saya baru memulai menulis cerbung di sebuah aplikasi, tapi belum terealisasi."jawab Lia jujur.

Reza melihat deskripsi dan alurnya saja Reza sudah tertarik dengan naskah yang Amelia tulis.

"Naskah yang kamu tulis saya suka, dengan karakter perempuan tangguh dan cerdik.. jika naskah ini sudah saya bayar, berarti itu hak saya. Dan kamu tidak punya hak lagi untuk membuat cerita bersambung dengan alur seperti naskah ini."Lia  mengangguk tanda mengerti,ia tahu konsekuensi jika melanggar.

"Saya paham pak saya mengerti."Reza menggangguk.

"Ada berapa Kata naskahmu ini?"tanya Reza.

Amelia yang daya ingatnya sangat tajam, mengingat berapa jumlah kata yang ia tulis.

"Ada seratus ribu kata pak."jawab Lia tenang.

Reza menggangguk lalu ia menyimpan naskah tersebut di dalam tasnya.

"Saya bayar naskah ini 100 juta.. Saya minta nomor rekening atas nama kamu udah saya akan transfer sekarang juga."nafas Lia terhenti ia seperti sulit untuk bernafas, seumur hidup ia tidak pernah melihat angka 100 juta.

Hari ini rekening yang baru ia buka akan terisi seratus juta.

Allah jika sudah berkehendak tidak ada yang mustahil baginya.

Lia menatap Asti, sahabatnya itu tersenyum lembut dan mengangguk.

1
Sella Rahmantoni
selamat membaca buku baruku teman-teman semoga suka🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!