NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Tabib Jenius

Reinkarnasi Tabib Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Fantasi Timur / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.

Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 RTJ

Lin Xi tetap mematung, hanya matanya yang bergerak menyapu sosok pria bertopeng perak di ambang pintu. Udara di Paviliun Tamu mendadak berubah menjadi padat, penuh dengan aura membunuh yang terselubung namun sangat tajam. Pria itu tidak membawa pedang di tangannya, namun posisi kakinya menunjukkan ia bisa mematahkan leher seseorang dalam sekejap mata.

"Siapa 'seseorang' yang kau maksud?" tanya Lin Xi, suaranya tetap rendah dan berat, menjaga wibawa Tabib Mo. "Aku adalah tamu Jenderal Lin. Membawa tamu tanpa izin tuan rumah adalah tindakan yang tidak bijaksana."

Pria bertopeng itu mendengus kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Jenderal Lin hanyalah seekor anjing yang menjaga gerbang luar. Pemilik rumah yang sebenarnya sedang menunggumu. Jangan membuatku menggunakan kekerasan, Tabib Mo."

Lin Xi melirik kotak obatnya di meja. Di dalamnya, selain jarum perak, terdapat bubuk pembius instan yang bisa ia ledakkan dalam hitungan detik. Namun, kehadiran pasukan elit Kaisar—Garda Bayangan—di kediaman Lin Tian adalah informasi yang tidak ada dalam laporan Satu. Jika ia melawan sekarang, seluruh rencana sabotase perjamuan bisa hancur berantakan.

"Baiklah. Biarkan aku mengambil kotak obatku," ucap Lin Xi tenang. Ia melangkah perlahan, memasukkan kotak itu ke dalam lengan bajunya yang lebar, lalu mengikuti pria itu menembus kegelapan malam.

Mereka tidak berjalan menuju bangunan utama, melainkan menyusuri jalan setapak rahasia yang tersembunyi di balik taman labirin. Di ujung jalan itu terdapat sebuah paviliun terapung yang dikelilingi oleh kolam teratai hitam. Di sana, seorang pria duduk membelakangi mereka, menatap bulan yang terpantul di permukaan air.

Pria itu mengenakan jubah sutra berwarna ungu gelap yang disulam dengan benang emas membentuk motif naga empat cakar—lambang seorang Pangeran.

"Hamba membawa Tabib Mo, Yang Mulia," lapor sang pengawal sambil berlutut satu kaki.

Pria itu berbalik perlahan. Wajahnya sangat tampan, dengan garis rahang yang tegas namun memiliki sorot mata yang melankolis dan penuh rahasia. Ia adalah Pangeran Ketiga, Long Chen, pria yang dikenal sebagai 'Pangeran Sakit-sakitan' yang jarang mencampuri urusan istana.

"Tabib Mo dari Pegunungan Salju," suara Long Chen lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. "Aku melihat caramu mengobati selir Lin Tian tadi siang. Teknik jarummu... bukan berasal dari sekte medis mana pun yang kukenal. Siapa kau sebenarnya?"

Lin Xi merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Pangeran ini jauh lebih jeli daripada Jenderal Lin yang kasar. "Hamba hanyalah pengembara yang mencari pengetahuan medis, Yang Mulia. Teknik hamba adalah hasil dari bertahun-tahun hidup di pengasingan salju."

Long Chen terkekeh, lalu tiba-tiba terbatuk keras hingga bahunya bergetar. Ia menyeka bibirnya dengan sapu tangan putih yang segera dihiasi noda darah segar.

"Pengembara? Jika kau hanya pengembara, kau tidak akan menyebarkan racun 'Bunga Malam' pada pakaian Nyonya Wei hanya agar kau punya alasan untuk masuk ke sini, bukan?"

Deg. Dunia seolah berhenti berputar bagi Lin Xi. Rahasianya terbongkar bahkan sebelum ia memulai langkah pertamanya.

"Yang Mulia berbicara tentang hal yang tidak hamba pahami," balas Lin Xi, tangannya sudah bersiap merogoh bubuk racun di lengan bajunya.

"Jangan repot-repot," Long Chen menatapnya dengan senyum tipis yang mematikan. "Garda Bayanganku sudah mengawasi orang-orangmu di Pasar Lumpur sejak kau membeli mereka. Sepuluh prajurit buangan yang kini memiliki energi Qi yang aneh... kau sedang membangun pasukan kecil, Lin Xi."

Mendengar nama aslinya disebut, Lin Xi tidak lagi bersandiwara. Ia menegakkan punggungnya, auranya berubah dari tabib yang tenang menjadi pembunuh yang dingin. "Jika Yang Mulia sudah tahu segalanya, kenapa hamba masih bernapas di sini? Kenapa tidak menyerahkan hamba pada Lin Tian?"

Long Chen berdiri, meskipun langkahnya sedikit goyah. Ia berjalan mendekati Lin Xi hingga mereka hanya berjarak satu langkah. "Karena kita memiliki musuh yang sama. Lin Tian bukan hanya pengkhianat bagi keluargamu, tapi dia adalah duri bagi kekaisaran ini. Dia bekerja sama dengan musuh dari Utara untuk menjatuhkan ayahandaku."

Ia mengulurkan tangannya yang pucat. "Bantulah aku menyembuhkan racun di tubuhku—racun yang diberikan oleh Lin Tian sepuluh tahun lalu—dan aku akan memberimu kepala Lin Tian di atas nampan perak saat perjamuan nanti."

Lin Xi menatap tangan itu dengan ragu. "Bagaimana hamba bisa percaya pada seorang Pangeran yang bisa membunuh hamba kapan saja?"

"Kau tidak punya pilihan lain, bukan? Tanpa bantuanku, kau tidak akan pernah bisa menembus penjagaan batin kediaman ini. Lin Tian memiliki 'Empat Penjaga Iblis' yang kultivasinya jauh di atas sepuluh orangmu," jelas Long Chen.

Lin Xi terdiam sejenak, menimbang setiap kata. Ia tahu ia sedang bermain dengan api, namun Pangeran ini adalah sekutu yang paling kuat yang bisa ia dapatkan.

"Biarkan hamba memeriksa denyut nadi Anda," ucap Lin Xi akhirnya.

Ia meletakkan tiga jarinya di pergelangan tangan Long Chen. Seketika, ia terkejut. Di dalam tubuh Pangeran ini, terdapat kekacauan energi yang luar biasa. Racun 'Es Tulang' telah membeku di pembuluh darahnya, menghambat aliran Qi dan merusak organ-organnya secara perlahan.

"Siapa pun yang memberikan racun ini ingin Anda mati dengan sangat perlahan dan menyakitkan," gumam Lin Xi. "Kakek Bai, apa kau bisa membantuku?"

Di dalam ruang dimensinya, Kakek Bai tampak serius untuk pertama kalinya. "Anak ini masih hidup hanya karena ia memiliki teknik pernapasan tingkat tinggi. Racun itu sudah menyatu dengan sumsumnya. Kau butuh 'Jarum Emas Pencair Es' dan satu botol penuh 'Sari Pembersih Tulang' tingkat murni."

Lin Xi menatap Long Chen. "Hamba bisa menyembuhkan Anda, tapi harganya sangat mahal. Hamba butuh kebebasan penuh untuk bergerak di kediaman ini, dan hamba ingin Yang Mulia menarik mundur Garda Bayangan agar tidak mengganggu operasional orang-orang hamba."

"Kesepakatan tercapai," jawab Long Chen tanpa ragu.

Malam itu juga, Lin Xi memulai sesi pengobatan pertamanya untuk Long Chen. Ia menggunakan jarum-jarum peraknya untuk membuka jalur energi yang tersumbat, sementara Long Chen mengerang menahan rasa perih yang seolah merobek kulitnya.

Di sela-sela pengobatan, Long Chen bercerita tentang kebusukan Lin Tian—bagaimana Jenderal itu memalsukan bukti pengkhianatan keluarga Lin Xi agar bisa menguasai wilayah perbatasan dan jalur perdagangan obat-obatan terlarang.

"Tiga hari lagi, saat bulan mencapai puncaknya," bisik Long Chen dengan wajah bersimbah keringat, "Lin Tian akan menyerahkan segel militer kepada utusan dari Utara di tengah perjamuan. Itulah saat di mana ia akan secara resmi menjadi pengkhianat negara."

Lin Xi mengencangkan cengkeramannya pada jarum perak. "Hamba tidak akan membiarkan segel itu berpindah tangan. Hamba akan memastikan tangannya terputus sebelum ia bisa menyentuh utusan itu."

Setelah pengobatan selesai, Lin Xi kembali ke Paviliun Tamu dengan pengawalan rahasia dari Garda Bayangan. Namun, saat ia masuk ke kamarnya, ia menyadari ada sesuatu yang salah. Wangi dupa di ruangannya berbeda.

Seseorang telah masuk dan menggeledah barang-barangnya.

Ia segera memeriksa kotak obat cadangannya di bawah tempat tidur. Benar saja, surat laporan dari Satu yang ia simpan di celah tersembunyi telah hilang.

"Sial!" umpat Lin Xi pelan.

Tiba-tiba, suara tawa yang familiar terdengar dari sudut gelap ruangan.

"Kau selalu ceroboh dalam hal-hal kecil, Kakak Kedua," ucap seorang gadis muda yang melangkah keluar dari bayangan. Ia mengenakan pakaian sutra merah yang mewah, wajahnya yang cantik kini dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.

Itu adalah Lin Mei, adik tiri Lin Xi, putri dari selir yang kini menjadi nyonya besar di kediaman Lin.

"Lin Mei... kau masih hidup?" Lin Xi menatapnya dengan dingin.

"Aku hidup untuk melihatmu mati kembali, Lin Xi," Lin Mei mengangkat surat laporan itu di tangannya. "Aku tidak menyangka 'Tabib Mo' yang agung ternyata adalah mayat hidup yang merangkak keluar dari jurang. Apa yang akan terjadi jika Ayah tahu Tabib kesayangannya sedang merencanakan pemberontakan?"

Lin Xi tersenyum, sebuah senyum yang membuat Lin Mei bergidik. "Kau pikir kau bisa keluar dari kamar ini hidup-hidup setelah mengetahui rahasiaku?"

Cliffhanger: Lin Mei hendak berteriak memanggil penjaga, namun suaranya mendadak hilang. Ia memegangi lehernya, matanya membelalak ketakutan saat melihat Lin Xi memutar sebatang jarum perak tipis di tangannya. Di luar, suara langkah kaki puluhan prajurit Jenderal Lin terdengar mendekati Paviliun Tamu, dipimpin oleh Jenderal Lin Tian sendiri yang tampak memegang pedang terhunus.

"Tabib Mo! Buka pintunya! Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu!" teriakan Lin Tian menggelegar, mengguncang dinding paviliun.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
MomSaa: Siap kak🤗
total 1 replies
Amazing Grace
Lo gue anjay🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!