Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Sudah pukul 2 dini hari Arra masih terjaga dan matanya bergerak melihat layar yang menampilkan sederet tulisan serta gambar pendukung.
Raut wajahnya tetap biasa saja. Tak ada senyuman saat membaca komik kesukaannya.
"Hemm kebelet mau pipis." Arra beranjak masuk ke toilet.
Saat keluar matanya langsung tertuju pada benda yang tergantung di dinding. "Jam 2:30 A.M. Duh aku masih belum ngantuk, mau nyemil tapi males turun ke bawah." ucap Arra menggetok kepalanya ringan.
"Minum air aja deh mumpung masih ada sisa." Lanjut Arra lagi, naik ke atas ranjang. Melanjutkan aktivitasnya begadang membaca komik kesukaannya.
Ting...
Saat hendak mengalihkan apl yang ia buka, sebuah notifikasi pesan masuk dan Arra tau siapa orang itu.
"Your Enemeny, dasar crush ngeselin. Kamu ganggu aku," raung Arra kesal dan segera ia membuka pesan itu cepat.
"Tidur sayang. Jangan begadang terus nanti kamu sakit. Ingat sebentar lagi kamu ujian. Tunggu Abang beberapa tahun lagi ya. Ily Arranya Rafa," tulis Rafa.
Malam sepi dilalui Arra dengan susana hati yang campur aduk. Meskipun ia masih bocah yang akan beranjak remaja, namun dengan perlakuan manis seperti ini pun ia akan tetap salting.
"Bang Rafa siluman." rutuk Arra memukul-mukuli bantal. Meskipun pesan itu jarang ia balas, dan lebih membalas dengan bersikap dingin. Namun hati Arra berbanding terbalik. Ia begitu suka dan sangat mendamba! Perhatian Rafael seperti dulu saat ia masih bocah.
***
Bu Ayu menatap dengan haru rumah kecil yang baru saja dibeli Tita dengan uang tabungannya.
Harusnya Bu Ayu masih bekerja di rumah Silvana, namun karena Tita sudah memiliki usaha kecil dan mampu membiayai hidup keduanya. Ia pun meminta ibunya untuk berhenti bekerja dan lebih membiarkan wanita paruh baya itu bersantai di masa tuanya.
"Rumahnya kecil. Maaf Tita cuma mampu kasih ibu ini sekarang," seru Tita mengajak ibunya masuk.
Kedua wanita itu meneliti seisi rumah. Meski kecil namun mampu menampung mereka berdua. "Seharusnya ibu yang ngasih ini ke kamu, Ta. Terima kasih sudah berusaha dan berusaha untuk membahagiakan ibu. Meskipun ibu tahu kamu yang paling menderita, maafin ibu ya belum bisa ngasih yang terbaik untuk kamu," balas Ayu mengecup kening Tita sayang.
Anak dan ibu saling berpelukan. Menuangkan segera rasa yang pernah diderita hingga mampu berdiri sendiri seperti sekarang.
"Kita mulai ini semua bersama-sama bu. Tita mau ibu bahagia, lebih dari bahagia yang Tita rasa," ucapnya dengan tangis yang ikut turun dengan suara haru yang mereka rasakan saat ini.
***
Duduk di tengah kerumunan teman sekelasnya yang sedang menunggu guru les datang mengajar tak membuat Arra menjadi sosok yang bersahabat.
Gadis itu nyatanya malah asik dengan buku yang ia coret dan gambar.
"Kalau sampai di hari kelulusan aku, bang Rafa gak hadir. Detik itu juga aku akan lupain abang," gumamnya masih asik mencoret-coret buku.
Nauli teman sebangku Arra, sedikit bingung dengan ucapan gadis itu tadi. "Kamu ngomongin apa Ra, tadi kamu ungkit abang-abangnya," tanyanya penasaran.
"Gak ada bahas apa-apa." sahut Arra cepat.
Nauli hendak meladeni lebih, namun keduluan dengan seruan salam ibu Fathia yang melangkah masuk.
***
Halo semua..
Terima kasih atas dukungan kalian dengan membaca, like, dan komen karya ini..