NovelToon NovelToon
Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Ku Balas Pengkhianatanmu Dengan Bismillah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.


Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...


Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Genta Mulai Goyah Kembali

   Hari putusan sela itu datang dengan langit mendung, tidak hujan, tidak pula terang, seperti meniru perasaan Zahra yang tenang namun berat..!

   Di ruang sidang, hakim membacakan putusan sela dengan suara datar namun tegas..

    Permohonan cerai Aulia Az-Zahra dinyatakan memenuhi unsur formil dan materiil, proses dilanjutkan ke tahap pembuktian..!

   Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak, hanya satu kenyataan: jalan ke depan kini resmi terbuka..!

   Zahra menutup mata sejenak, bukan lega melainkan penerimaan.

   Genta duduk kaku, kata-kata hakim seperti palu yang mengetuk kesadarannya satu per satu, ia menoleh ke arah Zahra berharap menemukan keraguan..

   Namun yang ia lihat hanyalah ketenangan yang tidak bisa ia sentuh lagi..

   Di luar pengadilan, beberapa wartawan lokal mencoba mendekat, Mbak Rima mengangkat tangan, menahan..

   “Tidak ada pernyataan hari ini,” ucapnya singkat.

   Zahra berjalan melewati mereka tanpa menoleh, bukan karena sombong melainkan karena ia tahu, klarifikasi tidak selalu diperlukan oleh orang seperti nya..!

***

   Di sisi lain kota, Bu Ratna menghadiri undangan pertemuan komunitas lama yang dulu selalu ia pimpin.

   Namun kali ini, kursi ketua telah terisi orang lain..!

   "Oh, Bu Ratna, kami kira ibu tidak datang" sapa seseorang dengan senyum canggung

   Bu Ratna tersenyum tipis.

“Saya masih anggota disini"

   “Ya, tentu… hanya saja, untuk sementara, kami ingin suasana lebih kondusif.” ucap seorang yang lainnya

   Kata kondusif terasa seperti pengusiran halus..

   Bu Ratna duduk di barisan belakang, tidak ada yang mendekat, tidak ada yang meminta pendapat, suara-suara di sekelilingnya terasa jauh..

   Ia pulang lebih awal, membawa tas yang terasa lebih berat dari biasanya, padahal isinya sama..

   Malam nya, Zahra memeriksa lemari pakaian nya dan ia menemukan gaun lama, gaun yang dulu ia pakai saat ulang tahun pernikahan pertama dengan Genta, kainnya masih lembut, warnanya masih indah.

   Kenangan menyerbu tanpa izin dan tanpa penolakan..!

   Ia duduk di tepi ranjang, memegang gaun itu lama, ada bagian dirinya yang rindu, bukan pada orangnya, melainkan pada rasa aman semu yang dulu ia kira cinta..

   Ponselnya bergetar, pesan dari Genta..!

("Kalau kamu mau berhenti sekarang, aku akan berjuang, aku janji")

    Zahra menatap layar itu lama, inilah godaan terakhir..

   Ia menutup mata, mengingat malam-malam sunyi, tekanan yang tak terlihat, harga diri yang tergerus perlahan..

   Ia membalas pelan lagi jujur..

("Mas, aku percaya kamu bisa berubah, tapi aku tidak mau menunggu perubahan dengan mengorbankan diriku lagi")

    Genta tidak membalas.

***

   keesokan harinya, Zahra memenuhi undangan makan siang dari Fadhil..

    Mereka bertemu di sebuah rumah makan sederhana dekat kantor, tidak mewah, tidak tersembunyi, tempat yang wajar untuk dua orang profesional berbincang santai..

    Tidak ada pembicaraan soal sidang, tidak ada pertanyaan tentang luka dan tidak ada nada kasihan..

   Mereka berbicara tentang pekerjaan, rencana audit lanjutan, dan hal-hal ringan yang tidak menuntut Zahra menjelaskan hidupnya..

   "Kamu kelihatan lebih ringan,” ucap Fadhil sambil menyesap minumannya.

    Zahra tersenyum kecil.

“Karena aku berhenti menarik beban yang bukan milikku.”

   Fadhil mengangguk, tidak menggali lebih jauh.

“Itu keputusan yang dewasa.”

    Zahra tersenyum lagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa tanpa rasa bersalah, tawanya pendek, tapi nyata.

   Mereka tidak saling menyentuh, tidak ada gestur berlebihan dan tidak ada kedekatan yang melampaui batas.

   Namun, dari seberang jalan, seseorang berdiri di balik mobil hitam.

   Bu Ratna.

   Kacamata hitam menutupi matanya, ponsel di tangannya terangkat, kamera aktif.

Klik.

Klik.

Klik.

   Sudut diatur, jarak dibuat seolah dekat, senyum Zahra diambil saat ia tertawa, Fadhil difoto saat sedikit condong ke depan..

   Tidak ada yang direkayasa secara fisik, yang direkayasa adalah makna!

   Bu Ratna menatap hasil foto di layar, bibirnya melengkung tipis.

   “Cukup,” gumamnya.

    Malam harinya, Genta duduk sendirian di kontrakan, lampu redup, ponselnya tergeletak di sampingnya..

    Getaran ponsel memecah sunyi, nama yang muncul membuat dadanya menegang..

   Mak Ratna..!

   Genta ragu sejenak, lalu membuka pesan itu, satu foto muncul, lalu dua, lalu lima..!

    Zahra, duduk berhadapan dengan seorang pria..!

    Genta menatap layar lama, matanya menyapu setiap detail, senyum Zahra, cara duduknya, wajah pria itu yang tampak tenang..

   Pesan berikutnya masuk..!

("Keputusan sidang belum selesai, tapi dia sudah terlihat bahagia dengan orang lain") isi pesan Bu Ratna

    Genta menelan ludah dan pesan lain menyusul..

    ("Mak tidak mau menuduh, tapi sebagai orang tua, Mak sedih melihat ini") lanjut pesan dari Bu Ratna

    Lalu satu lagi pesan masuk

("Pantas saja dia menolak rujuk sama kamu Genta")

    Tangan Genta bergetar, ia meletakkan ponsel, lalu mengambilnya lagi..

   Dadanya sesak, bukan karena bukti, tapi karena prasangka yang kembali tumbuh..

   "Jadi ini alasannya,” gumamnya pelan.

    Ia menatap foto itu sekali lagi.

“Keputusan sidang belum selesai, ternyata kamu sudah punya pengganti ku.” ucap Genta lagi

    Genta mengusap wajahnya, kepalanya dipenuhi suara-suara lama, suara ibunya, suara keraguan, suara rasa tidak percaya..

   “Benar sekali kata Mak Ratna, pantas saja ia tidak mau rujuk dengan ku" katanya lirih.

    Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, amarahnya tidak meledak, ia mengendap, lebih berbahaya..

    Ponselnya kembali bergetar.

    Pesan suara dari Bu Ratna..!

("Apa pun keputusanmu nanti, Mak selalu ada, tapi Mak tidak ingin kamu dibodohi lagi oleh wanita seperti Zahra")

    Genta memejamkan mata dan menarik nafas panjang..!

    Di sisi lain kota, Zahra pulang ke rumah dengan langkah ringan, ia tidak tahu bahwa tawanya siang tadi telah dipelintir menjadi senjata..

    Ia tidak tahu bahwa seseorang kembali mengatur narasi atas hidupnya..

   Malam nya, Zahra duduk di kamarnya, membuka laptop, menyelesaikan laporan yang tertunda, wajahnya tenang..

   Setelah selesai Zahra mengambil wudhu dan ia kembali bersujud dan berdoa..!

   "Bismillah,” ucapnya pelan namun mantap.

     "Jika mundur terasa nyaman, ingatkan saya ya Allah, bahwa saya pernah hampir hilang di sana.” ucapnya lagi dalam doa

   Dan di dalam diri Zahra, sesuatu yang aneh muncul,, sesuatu yang lama terkunci akhirnya terbuka, keberanian untuk tidak kembali,

meski pintu itu masih terbuka.

***

    Sementara itu, Genta duduk dalam gelap, menatap ponselnya, membiarkan rasa cemburu yang dipancing oleh ibunya sendiri mengambil alih pikirannya.

    Dan Bu Ratna, di rumah besarnya, memandangi layar ponsel dengan senyum puas..

    "Pelan-pelan, sekarang giliran hatinya yang aku aduk.” ucapnya dengan diri sendiri

   Dini yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi masuk ke kamarnya..!!

  "Nanti akan aku suruh Rena masuk lagi kedalam hatinya Genta" lanjut Bu Ratna sambil menyeringai

   Tiba-tiba ponsel Bu Ratna bergetar, ia menerima kabar lain, salah satu relasi bisnis lama memutus kerja sama secara sepihak, alasannya *menjaga citra baik perusahaan nya*

   Bu Ratna duduk lama, memandangi dinding kosong, ia mulai memahami, pengaruh yang dibangun dengan ketakutan akan runtuh oleh keheningan..!!

__Bersambung__

1
Anonymous
kayak bahasa AI
Queen_Fisya08: apanya kak ?

tolong di cerna lagi ya kak setiap tulisan saya di novel dan bedakan bahasa Ai atau karangan sendiri!
total 1 replies
Anonymous
dengan siapapun, kok oleh siapapun
Queen_Fisya08: kalau mau tulis pada siapapun! dengan siapapun dan oleh siapapun tergantung bahasa penulis nya ya kak.... maaf loh 🙏
total 1 replies
Anonymous
sebaiknya cepat dimasukkan ke rumah sakit hewan
Anonymous
akhirnya sidang yang berlarut larut berakhir juga
Anonymous
dan ternyata ego+cemburu mu menutup mata mu dan kembali ke ketek emak ya genta..
Anonymous
segera berakhir ya sidang nya
Queen_Fisya08: ya kak gak lama lagi dan Bu Ratna pun akan kena batunya 🙏
total 1 replies
Umi Asijah
lanjut
rian Away
SEMUA NYA AKAN BERHENTI KETIKA KAU MENGHILANG TUA BANGKA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!