Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~
" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~
Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpisah
Pesta kelulusan malam itu berjalan seperti seharusnya..ramai, penuh tawa, dan sorak bangga. Lampu-lampu menghias halaman sekolah, musik berdentum, dan nama Hamka disebut dengan tepuk tangan yang panjang.
Namun ada satu hal yang terasa ganjil.
Naura tak datang.
Hamka berdiri di antara teman-temannya, mengenakan jas rapi yang bahkan ia sempat berharap akan dikomentari gadis itu. Matanya berulang kali menyapu kerumunan—refleks lama yang tak bisa ia kendalikan.
Kosong.
Dulu, setiap momen kelulusannya tak pernah lepas dari kehadiran tetangga berisik itu.
Sejak SD, SMP—Naura selalu ada.
Mulut mereka mungkin saling melempar umpatan kecil, saling ejek tanpa henti. Tapi entah kenapa, di hari penting seperti ini, Naura selalu muncul… membawa satu kado.
Seperti saat kelulusan SD.
Naura memberinya topi baseball hitam—karena Hamka memang suka memakainya, bahkan ke acara yang seharusnya formal. Gadis itu bilangnya sambil nyengir, “Biar kelihatan keren dikit, Ka.”
Lalu saat kelulusan SMP.
Naura memberinya jam mini yang bisa disetel alarm. Alasannya sederhana, nyaris ketus.
“Buat orang yang susah bangun tidur. Sama kayak gue.”
Hamka tersenyum tipis mengingatnya.
Jam itu masih ada.
Disimpan rapi di meja belajarnya.
Masih berfungsi. Masih berbunyi tiap pagi—seolah Naura masih menjalankan tugas kecilnya membangunkannya dari jarak dekat.
Begitu juga topi baseball itu.
Masih ia simpan.
Tak pernah ia buang.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Hamka melewati kelulusannya tanpa kehadiran Naura.
Tak ada suara cerewet yang mengejek jasnya.
Tak ada kado kecil dengan alasan sepele tapi penuh perhatian.
Tak ada satu orang yang selalu hadir… bahkan saat ia tak pernah memintanya.
Hamka meneguk minumannya pelan. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.
Ia baru benar-benar mengerti satu hal malam itu,
kehilangan tak selalu datang dengan perpisahan besar.
Kadang, ia datang diam-diam…
dalam bentuk satu kursi kosong
di antara keramaian.
Hamka tak tahu, di saat ia merasa kehilangan, Naura justru sedang sibuk berkemas.
Seperti ucapan ayahnya satu bulan lalu,mereka akan pindah dan menetap di kota lain. Awalnya Naura menolak keras. Terlalu banyak kenangan yang ia tinggalkan di tempat itu, terlalu banyak alasan untuk tetap bertahan. Salah satunya… Hamka.
Namun perlahan, hubungan yang tak pernah benar-benar diberi nama itu justru semakin melukainya. Setiap salah paham, setiap jarak, terasa seperti sayatan kecil yang terus berulang. Dan Naura lelah.
Akhirnya, ia memilih mengalah.
Mengikuti ayahnya.
Pergi.
Tanpa banyak kata, sebelum pembagian rapor, Naura diam-diam telah mengurus kepindahannya. Tak ada pamit. Tak ada penjelasan. Ia ingin pergi tanpa meninggalkan celah untuk ragu...karena ia tahu, jika Hamka sampai mengetahuinya, hatinya bisa kembali goyah.
Sementara Hamka masih berdiri di tempat yang sama,
Naura telah lebih dulu melangkah menjauh.
“Kapan kalian berangkat?” tanya Babe Ramli akhirnya, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Besok pagi, Beh,” jawab Naura sambil menahan haru yang menggenang di matanya.
Babe Ramli terdiam sejenak. Ia tahu..Hamka belum pulang. Anak itu masih ikut acara berkemah untuk perpisahan bersama teman-temannya.
“Nggak nunggu Hamka balik?” tanyanya lagi, meski ia sudah bisa menebak jawabannya.
Naura menggeleng pelan. “Nggak bisa, Beh. Ayah udah pesen tiket.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ada banyak hal yang ia pendam di baliknya.
“Nanti… Nanaw kirim pesan aja ke Hamka,” lanjutnya lirih.
Babe Ramli menarik napas panjang. Ia paham, ada perpisahan yang memang harus dilakukan tanpa tatap muka,bukan karena tak ada rasa, tapi karena rasa itu sudah semakin meluap .
Esok paginya, Naura sudah siap bersama ayahnya. Ia tak membawa banyak barang hanya baju-baju seperlunya. Di tempat tinggal barunya nanti, semua perabotan sudah tersedia. Tak ada alasan untuk membawa terlalu banyak hal… kecuali kenangan, yang tak mungkin ditinggalkan.
Naura menatap sendu rumah yang sejak kecil ia tempati. Setiap sudutnya menyimpan potongan hidupnya..tawa, tangis, dan cerita yang tumbuh bersamanya. Untunglah ayahnya tak menjual rumah itu. Setidaknya, ia masih punya tempat untuk pulang… jika rindu itu kelak tak tertahankan.
Dengan langkah perlahan, Naura berbalik. Ia menghampiri Babe Ramli dan Bu Tika yang sejak tadi menunggunya di depan rumah.
“Jaga diri kamu di sana ya,” ucap Bu Tika dengan suara bergetar, air mata mengalir di pipinya. “Kalau libur sekolah, jangan lupa datang lagi ke sini.”
Naura mengangguk sambil tersenyum tipis, menahan haru yang nyaris tumpah. Ia tahu, meninggalkan rumah saja sudah berat, apalagi meninggalkan orang-orang yang telah ia anggap keluarga.
Mobil pun mulai melaju, perlahan meninggalkan halaman rumah itu. Naura masih menoleh ke belakang, seolah takut kehilangan satu detail pun dari pemandangan terakhirnya.
Dari balik kaca, ia melihat Bu Tika dan Babe Ramli masih berdiri di sana,tak bergerak, tak berpaling. Tangan Bu Tika terangkat, melambai dengan senyum yang dipaksakan, sementara Babe Ramli hanya mengangguk pelan, matanya mengikuti mobil hingga menjauh.
Naura menelan ludah, dadanya terasa sesak.
Perpisahan itu ternyata tak selesai saat kaki melangkah pergi,
ia justru terasa semakin nyata saat jarak mulai tercipta.