Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
"Aku akan menanyakannya sekali lagi, kamu yakin? Jika kamu ingin aku berhenti sekarang, maka aku akan berhenti."Ujar Damian kembali memastikan, dia sudah sangat sesak tapi dia mati matian menahannya, karna bagaimana pun dia adalah pria jantan yang masih bisa menahan dirinya.
"Jangan bertanya lagi, tuan. Keputusan saya sudah bulat."Jawab Bintang tanpa ragu.
"Sebaiknya kamu tidak menyesal karna hal ini."Ucap Damian, setelah mengatakan itu Damian kembali melanjutkan permainannya. Kali tidak ada keraguan atau bahkan niat untuk menghentikannya di tengah jalan.
Dengan penuh keyakinan, Damian mulai menjelajahi seluruh bagian tubuh Bintang dan meraba setiap lekuk tubuh gadis itu dengan penuh hasrat.
"Tuan.."Ujar Bintang, dia merasakan perasaan yang sangat aneh. Hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, ada rasa geli dan juga nikmat di saat yang bersamaan membuat bagian bawahnya mulai menggelitik tanpa henti.
Melihat Bintang yang masih tegang, Damian pun tak menghentikan gerakannya. Dia melakukan gerakan gerakan itu dengan lembut, tujuannya agar Bintang merasa rileks dan tidak terlalu tegang saat mereka melakukan penyatuan.
"Kenapaa?"Tanya Damian dengan nada yang berat, menahan hasratnya.
"Geli sekali."Ujar Bintang, rasanya tak tertahankan dia ingin segera di raba dan segera di puaskan.
"Kalau begitu aku akan mulai."Ujar pria itu, dia menanggalkan seluruh pakaian Bintang yang sudah tidak beraturan lalu kemudian beralih kepada bajunya yang masih terpasang dengan lengkap.
Bintang memejamkan matanya saat Damian membuka bajunya, dia menutupi dadanya dengan tangan kiri sementara bagian sensitifnya dengan tangan kanan. Lalu tak lupa dia juga membuang mukanya saat melihat Damian yang tanpa sehelai benang pun, sesuatu yang besar terlihat menggelantung di pangkal pahanya.
"Kenapa kamu menutupinya?"Tanya Damian penasaran.
"Saya... malu."Ujar Bintang dengan semburat merah yang memancar di kedua bagian pipinya.
"Singkirkan tanganmu, biarkan aku melihatnya."Ujar Damian dengan nada yang sedikit memaksa.
Tak berani menolak, perlahan lahan Bintang pun mengiyakan apa yang di katakan oleh Damian. Pertama dia menarik tangan kirinya kemudian tangan kanannya, semetara wajahnya masih terbuang ke sebelah kanan.
Damian diam sesaat ketika melihat tubuh Bintang, selama ini dia sudah melihat banyak tubuh tubuh wanita dari yang asia hingga eropa, dari yang kecil hingga yang besar dan Bintang masuk ke dalam kategori sedang terlebih kulitnya yang sangat putih membuat Damian semakin bergairah saat melihatnya.
"Aku akan mulai."Ujar Damian, Bintang menganggukkan kepalanya mengiyakan apa yang di katakan oleh Damian saat itu.
Dengan sedikit paksaan, Damian membuka kedua kaki Bintang yang semula masih bersatu. Raut merah di wajah Bintang semakin merona, terlebih saat Damian mulai memposisikan dirinya di antara kedua kakinya sementara kedua tangannya ada di samping tubuh Bintang.
"Ini akan sakit, katakan saja jika kamu tidak tahan. Aku akan pelan."Ujar Damian memberikan peringatan, sama halnya dengan Bintang yang gugup dia juga merasakan hal yang sama karna ini adalah pertama kalinya dia meniduri seorang per*wan karna selama ini dia selalu main bersama dengann wanita wanita yang sudah berpengalaman.
Bintang tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Akh."Pekik Bintang saat ujung belalai Damian mengenai liangnya, pria itu sedikit memaksa membuat rasa sakit itu terasa semakin nyata.
"Jangan menahannya, biarkan aku masuk."Ujar Damian, dia mencium kening Bintang mencoba untuk memudarkan kerutan di dahi gadis itu.
"Bagaimana caranya? Saya tidak tahu."Ujar Bintang yang memang tidak tahu bagaimana cara mainnya.
Damian menghembuskan nafasnya pelan, dia tahu hal ini tidak bisa dia jelaskan secara materi. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk kembali mengecup bibir Bintang dengan tujuan agar dia bisa mengalihkan perhatian Bintang.
"Ahh."Lenguh Keduanya saat penyatuan itu akhirnya terjadi, Damian melirik ke arah bawah dan mendapati banyaknya darah yang keluar dari milik Bintang bahkan mengenai ke belalainya dan juga seprei yang ada di bawahnya.
"Sakit?"Tanya Damian. Ada perasaan bangga di dalam dirinya dan rasa senang yang tidak bisa dia lukiskan. Dia tahu seharusnya dia tidak merasakan ini, tapi tetap saja dia merasa sangat bahagia karna dia adalah yang pertama menjamah gadis ini.
"Sedikit."Balas Bintang, rasa sakit itu benar benar nyata bahkan tanpa sadar kuku kuku jarinya sudah menancap di punggung Damian.
Rasa sakit, perih dan nikmat menyerbunya di saat yang bersamaan, ada rasa panas yang menyertainya. Tidak, dia rasa sakit ini benar benar tak tertahankan membuat Bintang harus menahan nafasnya untuk beberapa saat.
"Tahan, ini akan sakit pada awalnya tapi setelah itu kamu akan menikmatinya."Ujar Damian, perlahan tapi pasti dia mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur memberikan ritme yang sesuai dan pelan sesuai dengan kebutuhan Bintang yang masih baru.
"Masih sakit?"Tanya Damian memastikan.
Bintang mengangguk.
Lima menit dia habiskan untuk menahan sakit dari gerakan Damian, tapi perlahan lahan setelah lima menit itu dia pelan pelan mulai merasakan nikmat yang tak bisa dia lukiskan.
Ini aneh, rasanya ada ribuan kupu kupu yang berdesakan ingin keluar dari perutnya.
"Sekarang?"Tanya Damian sekali lagi.
"Sudah tidak."Balas Bintang.
Mendengar jawaban itu, Damian pun menyeringai dia mulai menaikkan ritmenya dan menghantam Bintang dengan ritme yang jauh lebih cepat membuat Bintang nampak menggeleng gelengkan kepalanya di bawah sana.
"Bagaimana?"Tanya Damian memastikan.
"Rasanya, aneh dan enak."Jawab Bintang jujur, dia benar benar merasakan hal yang ambigu itu saat ini.
"Kalau begitu aku akan membuat kamu merasakan hal yang lebih enak lagi."Ujar Damian, dia menarik belalainya dalam sekali tarikan kemudian membalikkan posisi Bintang. Memberikan arahan agar gadis itu menungg*ng di hadapannya.
Setelah merasakan posisi gadis itu pas, Damian pun kembali beraksi. Dia menghentak Bintang tanpa ampun membuat gadis itu menjerit tak karuan.
Satu jam, dua jam hingga di jam ketiga akhirnya mereka memutuskan benar benar berhenti. Di akhiri dengan lenguhan panjang yang menandakan jika permainan itu benar benar berakhir.
"Ahh."Lenguh keduanya terdengar nyaring di ruangan kedap itu.
Kamar yang semula rapi kini berubah menjadi sangat berantakan dengan baju keduanya yang berserakan dimana mana.
"Perih?"Tanya Damian penasaran.
"Iya."Balas Bintang. Dia sedikit meringis karna rasa sakit yang di rasakannya di pangkal pahanya.
"Kalau begitu kamu tidur di sini, aku akan tidur di luar."Ujar Damian, dia memang bisa meniduri Bintang tapi rasanya dia mengkhianati Lidya jika dia melakukan itu dengan sengaja. Sebelumnya mereka memang sudah pernah tidur di ranjang yang sama, tapi hal itu di lakukan karna terpaksa atas desakan Wicaksono tapi sekarang tidak, jadi meskipun lelah Damian memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di luar kamar.
"Tidak apa apa, tuan?"Tanya Bintang tak enak hati.
"Sekali ini saja, besok nggak lagi."Jawab Damian, setelah mengatakan itu dia benar benar meninggalkan Bintang sendirian di kamar itu.