Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Emosi MJ
Keesokan harinya Sisil dan Joe langsung menculik MJ untuk ditagih janjinya, beruntung ada jam pelajaran kosong hingga ada jeda waktu 1 jam untuk buka sesi curhat.
" Lo baik-baik aja kan Je? Semalam nggak ada kepikiran buat nenggak bayg*n kan?" tanya Joe khawatir
" Alhamdulillah gue selamat Jo, walau sempat emosi karena adu chat sama si kampret, tapi gue nggak punya niat buat kearah sana"
" Bagus itu Je, berarti lo masih waras 100%" ujar Sisil
" Oke gaess, berhubung pikiran gue udah rada enteng, saatnya gue bercerita. Fokus sama pemaparan gue karena nggak akan diulang, sesi tanya jawab ada diakhir" ujar MJ
" Siap Je!"
Dengan penuh ketenangan jiwa, gadis itu bercerita dari awal pernikahan dadakan ayahnya , hingga akhirnya ia tau jika saudara tirinya adalah Damar. Sisil dan Joe jelas terkejut, shock, sempat sesak nafas ringan dan puyeng kleyengan mendengar plot twist dalam kehidupan Mentari Jingga.
" Dari sekian banyak janda yang beterbangan, kenapa harus emaknya si kampret sih? Sumpah gue ngga nyangka sama sekali, Je" ujar Joshua
" Tunggu tunggu... Sejak kapan emaknya si Kampret jadi janda? Waktu kenaikan kelas kemarin, gue masih lihat bapak dan emaknya kompak datang ke sekolah buat ambil rapor. Emang selama pacaran sama lo, dia nggak cerita apa-apa?" selidik Sisil
MJ menggeleng cepat,
" Gue sama dia putus udah 4 bulan lebih loh. Ya mana gue tau kehidupan keluarganya dia, Sil. Lagian si Kampret jarang cerita keluarganya selama kita masih pacaran, bodohnya lagi gue nggak kepo. Ini buat pelajaran bersama, besok kalau gue punya pacar harus lebih kepo lagi supaya nggak kudet" ujar MJ
" Halah itu nggak penting Sil, mungkin orangtua si Kampret cerai karena bapaknya punya simpanan. Kan kita ketahui bersama kalau bapaknya itu punya jabatan di BUMN, kasusnya nggak jauh-jauh dari korupsi atau kesandung ani-ani " ujar Joshua
" Bener apa kata si Joe, gue rasa masalahnya itu" ujar MJ
" Oke lupain itu, kita fokus aja sama masa sekarang" ujar Joe "Gimana hubungan lo kedepannya, Je? Walaupun kalian beda rumah, pasti akan bertemu sebagai keluarga sesekali. Apalagi kalian seandainya mak tiri lo hamil dan punya anak, gue rasa dia masih sangat produktif karena masih muda"
" Ya nggak gimana-gimana, lo pikir gue harus sungkem sama dia sambil manggil Kakanda gitu?"
" Ya nggak juga Je, jangan rendahkan harga diri lo buat cowok nggak berkualitas kayak dia" ujar Sisil
" Gue akan masa bodo aja sama kehadiran mereka, anggap aja ayah lagi pergi merantau dan pulang sesekali aja buat gue duit jajan. Tujuan gue tetap ada di rumah itu cuma buat mempertahankan satu-satunya harta almarhum ibu. Jangan sampai Mbak Nia dan anaknya merampas hak gue dan A Rama"
" Bagus Je! Lo harus mempertahankan kedaulatan rumah itu dari tangan calon begal itu" ujar Joe sambil mengepalkan tangannya ke atas
" Buseng dah! Gue berasa lagi nonton film penjajahan ini mah " ujar Sisil
Setelah bercerita dengan kedua sahabatnya, perasaan hati MJ jadi lega karena mendapatkan dukungan. Kini ia bisa minta tolong sama Sisil dan Joe kalau sedang berada dalam situasi darurat, toh mereka sudah tau keadaannya.
******
Seminggu berlalu dengan cepat, MJ tak pernah berpapasan lagi dengan mantan kekasihnya di sekolah. Entah dia sedang menghindar atau bagaimana, tapi menurut Joshua, Damar tidak lagi latihan basket di sekolah. Dia mengajak serta tim-nya untuk menyewa lapangan basket ketimbang main di sekolah.
Sejak saat itu juga Mbak Nia tidak pernah membawakan makan untuk MJ lagi, mungkin dia trauma karena rantang warna warni miliknya belum dikembalikan sama Bang Aep.
" Tariii... Mentari....Jeee...Jeje! EmmJeee!" panggil Bu Nawang saat MJ mau buka pagar rumahnya
MJ menoleh ke sumber suara, terlihat Bu Nawang membawa wadah stainless tiga susun ditangannya.
" Ada apa Nyonya Barbara? Suaramu terdengar nyaring sekali kayak terompet tahun baruan" tanya MJ
" Ngeledek ae cah wedok" ujar Bu Nawang membuat MJ tertawa cekikikan "Ini makanan buat kamu Je, ibu masak banyak sekalian buat arisan tadi. Itu didalamnya sudah ada nasinya, jadi kamu tinggal makan aja ya"
" Ini masakan ibu kan? Bukan masalah si onooohhh?"
" Ya jelas itu masakan ibu, dari packaging-nya aja eksklusif nggak pake rantang plastik warna-warni"
" Oke oke makasih ya Bu"
" Yaudah sana masuk, mandi terus makan ya Je"
" Siap Bu"
Kadang MJ suka pusing sama kehadiran Bu Nawang yang kepo maksimal, tapi entah kenapa ia nyaman di perlakukan seperti itu. Setidaknya Bu Nawang adalah orang yang tulus mencintainya seperti ibu sendiri, MJ juga suka mengenang masakan ibu lewat makanan yang sering diberikan Bu Nawang padanya.
" Ini makanan Bu Nawang enak banget sih, mirip sama masakan ibu " ujar MJ yang menikmati makan sore seorang diri
Sayup-sayup ia mendengar suara motor ayah diluar, mungkin dia mau setor muka karena waktunya kasih jatah mingguan untuk Mentari. Gadis itu tak terpengaruh, ia melanjutkan makannya sebelum pembicaraan penuh emosional jika berkenaan dengan uang.
" Kamu makan apa neng?" tanya Pak Abdul yang datang dengan istri barunya
MJ menoleh sekilas, rasanya makanan yang ada di mulutnya terasa hambar tiba-tiba saat wanita itu menginjakkan kaki dirumah ini.
" Ini ayah bawakan masakan Bu Nia loh, masih hangat neng" ujar Pak Abdul menaruh rantang yang udah nggak warna warni lagi
" Telat Yah, aku udah selesai makan" ujar MJ
" Itu masakan dari Bu Nawang?"
" Iya" jawabnya ketus
Pak Abdul menghela nafas berat sambil menatap istrinya,
" Neng, lain kali jangan kamu terima ya pemberian Bu Nawang. Ayah nggak enak neng, kesannya ayah telantarin kamu. Ayah kan sudah bilang, buat makan akan diantarkan sama Bu Nia. Ya memang seminggu ini Bu Nia nggak masakin kamu, itu karena ibu sedang sakit"
" Masa aku harus tolak pemberian Bu Nawang? Nggak enak lah Yah "
" Kenapa nggak enak? Kamu aja sering tolak masakan ibu Nia tanpa perasaan, harusnya kamu bisa nolak pemberian Bu Nawang dong neng " ujar Pak Abdul
MJ menatap tajam kearah ibu tirinya seolah bilang "awas ya lo! gue tungguin di kebon singkong!"
" Oh jadi istri baru ayah ngadu macam-macam? "
" Enggak gitu neng, demi Allah ibu nggak ngadu apapun sama ayahmu " ujar Mbak Nia membela diri
" Jangan panggil aku neng! Kita nggak sedekat itu!"
" Mentari! sejak kapan kamu jadi tidak sopan begini? tolong hargai istri ayah" Pak Abdul mulai dengan nada tinggi menanjak
" Sejak kalian berdua berbuat hal tidak senonoh dirumah ini! Apa yang mau aku hargai dari kalian berdua? Haruskah aku contoh perbuatan m3sum kalian hingga di gerebek warga?"
Plak!
Sebuah tamparan kali pertama berhasil mendarat di pipinya yang mulus. Ayah menatap tangannya yang gemetaran karena ia sadar jika tak seharusnya melakukan itu pada putri bungsunya.
MJ memegangi pipi yang perih dan sakit, namun hatinya jauh lebih sakit dari sekedar fisik. Air mata jatuh tanpa permisi hingga menimbulkan luka yang dalam, entah luka itu bisa terobati atau akan dibiarkan menganga selamanya.
" Astaghfirullah Kang, kenapa akang tampar Mentari?" Bu Nia tentu kaget dengan apa yang dilakukan suaminya
" Ya Allah" ucap Pak Abdul baru tersadar " Neng, ayah minta maaf atas kekhilafan tadi. Ayah terbawa emosi tadi, demi Allah ayah tak berniat melakukan itu neng"
MJ mundur satu langkah sementara wajah Pak Abdul diwarnai penuh sesal. Ia mendekati anaknya namun Mentari menatap dengan marah dan kecewa.
" Maaf neng, ayah tidak sengaja. Ayah hanya ingin kamu berdamai dengan ibu Nia sebagai istri ayah, kita bisa memulai hidup berdampingan dengan damai, neng"
" Belum ada sebulan aja dia udah cuci pikiran ayah, apa nanti lama-lama ayah akan menyiksaku sampai aku sujud patuh sama istri ayah ini?"
" Tidak seperti itu neng, dengarkan ayah dulu....."
" Tidak seperti itu bagaimana maksudnya? Ayah sadar nggak, kalau sekarang ayah ogah-ogahan kasih aku uang jajan dan kebutuhan rumah? Bahkan untuk bayar tagihan listrik aja aku harus ngemis sama aki ketimbang diputus orang PLN.
Uang jajanku lebih banyak di pasok sama A Rama, padahal dia sendiri masih menjadi tanggung jawab ayah. Gaji ayah itu cukup untuk membiayai dua orang anak kandung, tapi akan kurang kalau dipakai untuk membiayai dua orang asing yang baru saja numpang hidup sama ayah.
Selama sebulan ini aku diam Yah, aku mau sejauh mana ayah bertanggung jawab terhadap aku dan A Rama. Baru soal kewajiban basic saja ayah sudah tidak adil, rasanya aku sanksi kalau ayah akan menguliahkan aku dengan biaya yang lebih besar lagi. Jangan-jangan aku harus mengalah demi anak sambung ayah yang sok kagantengan itu"
" Cukup Mentari! Kamu boleh hina ibu sepuasnya, tapi jangan bawa-bawa anakku dalam masalah ini. Dia tidak salah sama sekali" ujar Mbak Nia buka suara
" Lalu aku yang salah atas perbuatan menjijikan kalian, hah? Aku yang harus dikorbankan atas pernikahan yang tak pernah aku harapkan? Mbak pikir dengan mengirim rantang setiap hari akan mengikis kesalahan kalian? hah?
Aku ini anak ayah, aku masih kewajiban ayah, bukan si Damar yang jelas-jelas anak orang lain. Kalau ayah tidak adil denganku, jangan salahkan aku kalau aku menjual rumah ini dan pindah ke Solo sama A Rama"
" Cukup Tari! Jangan buat ayah semakin pusing, selain menafkahi kalian berdua, ayah juga wajib memberikan nafkah untuk istri ayah ini. Gaji ayah tidak seberapa neng, ayah bukan manager yang gajian besar-besar. Tolong mengertilah jika ayah juga sedang kesulitan mengatur uang bulanan" ujar Pak Abdul
" Semua tidak akan terasa sulit kalau ayah tidak menikah dengan janda gatel itu" ujar MJ seraya pergi meninggalkan mereka berdua
Bu Nia hanya bisa menangis karena ia berada dalam posisi serba salah. Pun demikian dengan Pak Abdul yang diam-diam menitikkan air matanya karena kesedihan.
" Rasanya pernikahan kita bayak mudaratnya Kang, mari kita akhiri saja sebelum semuanya jadi tambah luka " ujar Nia dengan suasana bergetar
" Tidak dek, pernikahan bukan untuk dipermainkan begitu saja. Ini adalah ujian dalam rumah tangga kita, tolong bertahanlah di sisiku. Mentari hanya butuh adaptasi dengan semuanya, tolong ya dek " pinta Pak Abdul
" Entahlah Kang"
mungkin di platform ini saya bisa menulis dengan tema yang beda dari sebelah.
Jadi para reader sekalian, kalau mau cerita happy dan ringan bisa mampir di tetangga ya.😍