Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbiasa?
"Bibi tau nona, hati kecil mu menghentikan tindakan yang mungkin akan disesali nantinya. Bibi sungguh berharap, luka nona perlahan akan membaik dan hilang sepenuhnya, meskipun bekas nya masih ada." Harap Bibi sambil memberikan kehangatan pada Rosa yang sudah kembali tenang.
Dengan mata bulatnya, Rosa menatap bibi yang menggendongnya dan memberikan rasa aman dan nyaman. "Wuaaa, babababa." Bibi tersenyum kecil melihat reaksi Rosa.
"Selamat datang kembali sayang Nenek. Ayo, kita tidur lagi."
Bayi kecil itu kembali tertidur pulas, bibi mengamati wajah Rosa yang terlelap dengan napas teratur. "Beberapa waktu kita bersama, nenek baru sadar bahwa kau memiliki tanda lahir yang bagus." Di lengan kecil kanan itu terdapat bentuk bulatan kecil di sana.
Saat suasana sudah tenang serta rasa kantuk yang belum menyerang. Bibi memutuskan membereskan pakaian Rosa yang basah.
"Hmmmmm, hmmmmm." Sambil bersenandung, bibi merapikan dan memilah pakaian rosa. Hingga dia melihat koper yang diberikan kepadanya ketika Rosa datang. "Ah ya, aku bisa mengeluarkan baju dari sini agar kopernya bisa disimpan." Bibi membuka koper itu dan terlihat beberapa baju untuk Rosa disana, ketika sibuk menata ia melihat sebuah kotak beludru bewarna biru gelap.
"Apa ini?"
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Waktu tampaknya semakin berjalan, bayi mungil itu sekarang sudah bisa berjalan mengambil beberapa barang yang membuat bibi senang. "Oh lihat, bunga mawar ku sudah tumbuh sekarang." Bibi memberikan pelukan untuk Rosa yang membuat wajah itu tersenyum senang.
"Astaga....." Alina yang membawa barang miliknya terjatuh karena beberapa mainan Alina yang tercecer. Bibirnya ingin bicara panjang lebar, tapi..... "Kau....." Alina menahan emosinya melihat wajah yang tak berdosa itu apalagi tersenyum seolah menyapa dirinya.
"Bibi!" panggil Alina sambil menghindari mainan yang berserakan.
"Rosa, ayo sama nenek. Maaf Nona, apa ada yg rusak?" Tanya bibi hati-hati melihat ekspresi dari sang nona.
"Tidak, lain kali lebih perhatikan bi. Dia membuat ku selalu dalam masalah! Aku sedang terburu-buru dan dia.... Sudahlah! Aku pergi dulu." Alina memungut barang miliknya yang terjatuh dan segera bergegas.
"Daddaddaa." Alina berhenti, dia berbalik saat mendengar anak itu mengatakan sesuatu padanya. Wajah Rosa dengan bibir yang tersenyum dan menggerak-gerakkan tangannya pada Alina.
"Daddaddaa."
"Rosa bilang sampai jumpa lagi nona." jelas bibi.
"Tidak perlu!" Ujar Alina yang kembali melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan Rosa.
"Dadadaada." Bibir bibi ikut melengkung saat melihat Rosa yang masih menggerak-gerakkan tangannya dan menatap Rosa hingga menghilang dari pandangan.
"Sudah pergi, kesayangan nenek. Ayo, kita lanjutkan main nya." Ujar nenek membawa Rosa kembali masuk.
"Wah, si kecil..... Cantiknya!"
"Kenapa bi?" Tanya Asep saat Rosa dijauhkan dari nya.
"Mulutmu itu bau rokok! Jangan dekat-dekat dengan Rosa."
"Aku sudah selesai kok bi."
"Ya tetap saja. Sudah, bukankah mau pergi ke pasar sama si inem? Nona Alina nanti mau makan malam di rumah. Harus beli persediaan makanan cepat." Jelas bibi.
"Iya bi. Ini mau jalan juga. Ya kan Rosa? Aduh cantiknya.... Mau sama om?" Tapi Rosa tertawa lebar dengan suara khas nya.
"Bi, non Alina tadi tidak marah kan?" Tanya Asep penasaran.
"Ya gitu..... Ndak marah, tapi bibir dan wajah nona Alina kayak biasa. Tapi Ndak sampai meledak kayak biasanya. Mungkin mau buru-buru juga."
"Tapi kalau menurutku nggak gitu bi. Mungkin, non Alina mulai terbiasa dengan Rosa. Tapi masih gengsi." Jelas Asep.
"Sudahlah! Cepat pergi! Ayo kembali kerja!"
*********************
"Apa saja kerja kalian hah! Menemukan satu bayi saja tidak becus! Cari terus!" Meja serta barang-barang mahal yang bertugas menghiasi ruangan itu menjadi sasaran kemarahan pria bermanik tajam itu.
"Maaf tuan, tapi bayi itu seolah ditelan bumi."
"Diam! Temukan segera! Atau kau yang akan ditemukan dalam bentuk mayat!"
"Baik tuan." Pria itu segera pergi sebelum menjadi samsak tinju.
"Aku akan menemukan nya. Dimana pun kau berada." Manik seperti silet itu menatap pigura di depannya.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.