Kesedihan kadang membuat kita lupa dan menjadi gelap susah membedakan mana yang salah dan benar hingga menimbulkan kemarahan yang menyebabnya sulit tuk menyengarkan penjelasan hingga akhirnya penyesalan pun datang dan membuat kita menjadi Sadar namun semua sudah terlambat, Waktu yang dulu sudah berputar tidak mungkin bisa kembali lagi.
Ikuti kelanjutan Kisah Nadia Dan Kasih yang berjuang menjaga ibunya membalas budinya dulu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30.
Sampainya mereka tepat di depan warung makan, Pria tersebut masuk dan menesan tiga piring makanan, sambil ssebelumnya melihat-lihat dulu menu lauknya hari ini.
"Permisi bu! saya mau pesen nasi tiga piring makan disini ya!" panggil Pri yang belum tahu siapa namanya.
"Ohh iya silakan mas, mau pesan apa?" tanya si penjual menghampiri.
"Hmm... ini aja deh lauknya! ayam goreng sama telor dadarnya terus jangan lupa di kasih sambal yang satu, yang dua jangan," jawab Pria yang di panggil mas oleh penjual.
"Ohh iya, Mas sebentar terus minumnya apa?" tanya penjual lagi.
"Minumnya teh manis hanggat aja deh," jawabnya singgat dan duduk menunggu.
Ridwan dan Kasih masih diam mematung tak mengerti harus berbuat apa mereka saling pandang, sedangkan Kasih masih sambil mengandeng tangan Ridwan semakin erat ketakutan, Pria tadi melihat ke arah kedua anak malang itu yang baru saja berhasil kabur dari tangan sang penculik kelas kakap.
"Kalian mau berdiri begitu saja sampai kapan? tidak mau duduk?" tanya Pria misterius itu.
"Om kami mau pergi, bolehkah kami meninggalkan tempat ini? dan terima kasih banyak karena om sudah mau menolong kami untuk berhasil kabur dari lampu merah dengan aman?" tanya Ridwan sedikit agak khawatir.
"Saya tidak melarang kalian untuk pergi, tapi setidaknya makan dulu setelah itu bolehlah kalian pergi kalo emang kalian merasa kalo saya ini orang jahat, tapi saya yakin kalo kalian tetap bersama saya kalian akan aman," jawab Pria itu santai.
Kasih memandang ke kaca etalase warung begitu banyak lauk enak terpajang disana sekilas ia tetingat akan masakan ibu yang sederhana tapi begitu enak karena di masak dengan rasa penuh cinta. Seketika itu juga perut Kasih yang selama satu tahun ini cuma mendapatkan satu kali makan dalam sehari membuat cacing yang ada di dalamnya nyanyi minta di isi.
Ridwan memperhatikan sikap Kasih ia tahu Kasih lapar karena memang belum makan seharus tadi dapet jatah makan siang jika mereka tidak kabur, Ridwan juga merasakan hal yang sama yaitu lapar, jadi mereka pun makan dulu sambil bertanya nanti.
"Memang Om, ini siapa? kenapa mau menolong kami yang bahkan tidak om kenal?" tanya Ridwan.
Si pria tidak langsung menjawab ia sibuk memainkan haprnya seakan sedang berkomunikasi dengan rekannya lewat hape itu, saat si Pria mau menjawab pertanyaan Ridwan tapi terhenti karena pesanan mereka sudah datang.
"Ini mas silakan nasi dan minumnya, kalo butuh apw-apa lagi silakan panggil saya," kata penjual meletakkan pesanan di atas meja.
"Ohh iya bu terima kasih," uncap pria menerima makanannya. "Ayo di makan dulu nasinya nanti saya baru jawab pertanyaan kamu, saya yakin kalian belum makan kan?!" perintah pria itu.
Kasih memandang Ridwan dalam hatinya seakan penuh tanya "Boleh kah aku memakan ini aku lapar?" , isyarat mata Kasih dapat terbaca oleh Ridwan dengan anggukan ia menjawabnya lalu Kasih pun tanpa menunggu lama lagi segera menyantap semua makanan itu hingga habis tak tersisa.
Sang pria yang melihat kedua anak malang ini makan dengan begitu lahapnya seakan baru bertemu nasi setelah sekian lamanya membuat ia tersenyum penuh haru, tak butuh waktu lama untuk Ridwan dan Kasih menghabiskan makanannya karena memang mereka sanggat lapar sekali.
"Kalo mau nambah silakan tinggal bilang, gak usah takut saya yang akan membayar semuanya," suara pria itu menawarkan.
"Kasih kamu masih mau makan lagi atau tidak?" tanya Ridwan setelah mendengar uncapan pria tadi.
Kasih diam tak langsung menjawab ia malu ingin bilang masih mau makan tapi ia urungkan, mulut mungkin bisa berbohong tapi mata tidak bisa Ridwan membaca matabta Kasih dan mengerti kalo Kasih masih mau tambah.
"Om tadi bilang kalo kami boleh tambah lagi kan kalo kurang, kami sanggat lapar om belum makan dari tadi jadi apa bener kalo kami boleh nambah lagi?!" tanya Ridwan memastikan uncapan pria itu.
"Silakan pesan apa yang mau kalian makan, makanlah yang banyak ini hari kebebasan kalian, patut untuk di rayakan," jawab pria.
Kasih dan Ridwan pun makan lagi di pesanan keduanya, saat perut mereka sudah terasa kenyang mereka berhentin kini waktunya menghabiskan minumnya teh manis hanggat, yang sudah setahun Kasih tidak merasakannya seakan lupa gimana rasa nikmatnya teh msnis ini.
"Sudah makannya tidak mau tambah lagi?" tanya pria yang juga sudah menyelesaikan makannya.
"Sudah om, terima kasih kami uncapkan atas kebaikan om yang sudah menolong kami lari dari lampu merah, dan sekarang mengajak kami makan sampai terasa kenyang," jawab Ridwan.
"Iya sama-sama itu sudah menjadi tugas saya untuk melindungin anak-anak yang sedang dalam bahaya seperti kalian ini," kata pria.
Perkataan pria menimbulkan sejuta tanya dalam hati Ridwan yang berlomba minta untuk di tanyakan, untuk mendapatkan penjelasan maksudnya tapi satu hal yang kini Ridwan yakin pria ini pasti orang baik.
"Tugas om! maksudnya gimana? tadi juga om belum jawab bertanyaan saya kan! sebenarnya om ini siapa? kenapa mau menolong kami padahal tidak saling kenal?" tanya Ridwan lagi menaggih jawaban.
"Iya kenalin nama saya Arya pratama, seorang agen rahasia yang sedang di tugaskan untuk menyelidikin tentang kasus penculikan anak, dan memperkejakannya, saya pernah dengar dan dapat laporan kalo di lampu merah itu adalah tempat para penjahat itu beroperasi, tapi sudah tiga bulan ini saya selidiki tidak ada tanda-tanda itu," jawab Arya yang ternyata adalah seorang mata-mata yang membantu polisi.
"Oh jadi om, sedang menyelidikin para penjahat itu, berarti om ini orang baik," suara Kasih menyelah padahal dari tadj diam.
"Ehh gadis kecil ini ternyata bisa bicara, tadi saya pikir dua bisu soalnya diam saja hanya bicara lewat bahasa mata," Arya terkejut mendengar suara Kasih.
Kasih tertunduk malu, semenjak ia terpisah dari Nadia karena di sebabkan kecerobohannya yang bicara dengan orang yang membuat ia betakhir seperti itu, sejak saat itu membuat ia menjadi trauma dengan orang asing dan tidak akan bicara sebelum yakin kalo orang tersebut baik, hanya Ridwan yang kini sanggat memahami Kasih.
"Maaf om Kasih trauma dengan orang asing, jadi saat ia melihat orang yang tak di kenal ia akan menjadi diam dan bergetar karena takut, dan sudah setahun juga kami di sekap dan di paksa untuk menjadi pengemis mencari uang," kata Ridwan menjekaskan.
Arya mencoba menerka maksud uncapan Ridwan yang memang sebenanya Arya belum begitu mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka sehingga mereka menjadu seperti ini, karena sedari tadi Arya hanya mengira kalo mereka cuma anak yatim piatu yang memang menjadi pengemis dan mereka sedang menghindar dari orang jahat yang berusaha menculiknya, jadi Arya memang belum tahu jika mereka korban penculikan.
MAAF JIKA TULISANNYA BLEPOTAN KARENA BARU PEMULA JADI MINTA PENGERTIANNYA
simpen==> simpan
bagus