Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar baik
Sepasang kaki itu tampak ragu-ragu untuk mengambil langkah. Entahlah, rasa penasaran nya begitu besar, tapi kakinya terpaku untuk itu.
"Wawawaa." Suara kecil itu menyadarkan sosok yang menggendongnya.
"Iya Rosa. Mau mencoba keluar?" Tanya bibi, tentu saja Rosa mengangguk antusias.
"Baiklah, kita coba ya." Rosa mengangguk riang.
"Ok!"
"Wohooo!" Bibi berinjak kaget saat tangannya menelusup ke dalam bongkahan putih yang tebal itu. Dingin, dan lembut. Itulah rasanya yang dirasakan oleh tangan bibi. Sedangkan Rosa? Bayi kecil itu sudah lepas dari pangkuan bibi dan bermain di hamparan putih itu.
"Babababa, woaaaa." Bibir kecilnya membentuk bulatan seiring tangannya menggenggam kecil salju lembut itu.
"Rosa suka?" Bibi memperhatikan Rosa bermain dengan hamparan putih itu. Rosa mencoba melangkah diantara tumpukan dingin itu. Tentunya, bibi mengawasi. Bibi mengajak Rosa bermain di halaman yang tak jauh dari rumah.
Tumbuhan ikut ditimbun hamparan salju. Bibi melihat Rosa tertawa lebar dengan apa yang ada disekitarnya. Rasa ingin tau serta hal yang baru dirasakan oleh Rosa membuatnya begitu senang.
"Jangan dimakan ya sayang." Tutur bibi memperhatikan wajah gembul itu.
"Nonono." Balas Rosa dengan senyuman lebar.
Alina yang sedang duduk santai melihat apa yang terjadi di halaman. Bagaimana Rosa, dengan kakinya melangkah dan mengambil salju dengan tangannya yang terbuka. Tak lupa dengan bibi yang mendampingi setiap langkahnya.
"Salju pertama ku.... Di sini." Ujar Alina.
****************
"Nona, jadi transportasi kita ...... Adalah perahu?" Tanya bibi.
"Iya bi. Tempat ini mendapatkan julukan venice of the north. Disini tidak ada jalan raya. Hanya kanal dengan perahu yang akan melintas. Jalan kaki juga bisa, bibi mau berkeliling?" Jelas Alina, bibi langsung menggelengkan kepalanya.
"Masih begitu dingin nona. Setelah salju nya pergi saja." Jelas bibi.
"Baiklah."
"Oh ya nona. Disini, nona ingin kerja apa? Apa tetap sebagai desainer?"
"Mungkin, tapi untuk yang utama. Mungkin.... Aku akan bekerja sebagaimana pemandu wisata." Jelas Alina. "Atau beternak kecil atau tukang kebun." Lanjut Alina dengan tawa kecil.
"Bibi senang melihat nona kembali tertawa." Sontak, tawa Alina memudar.
"Tetaplah tersenyum nona." Lanjut bibi dan perlahan pergi dari sana.
"Tersenyum ya?"
******************
"Rosa tidak sulit untuk beradaptasi nona. Rasanya cukup aneh. Bagaimana menurut nona?" Tanya bibi melihat Rosa yang tertidur.
"Adaptasi? Dengan salju?"
"Iya nona. Seperti seolah sudah terbiasa. Apa ibunya berasal dari negara dengan iklim seperti ini?"
"Maaf nona, bibi tidak bermaksud untuk....."
"Tidak apa bi. Bukankah aku harap memulai hidup baru. Lagipula, kalau diperhatikan wajahnya.... Ya, seperti orang Eropa." Jelas Alina.
Dia memperhatikan dengan lekat rupa kecil itu. Wajahnya memiliki hidung yang mancung, dengan alis tebal dan kulit yang kemerah-merahan. Rambutnya bewarna coklat, atau mungkin pirang? Pikir Alina memperhatikan Rosa.
"Kalau dipikir, Tuan Ed juga bukan pribumi nona."
"Ya, itu benar. Seharusnya aku menyadarinya." jelas Alina.
"Nona baik-baik saja?"
"Ya bibi, jangan khawatir." ujar Alina.
"Aku keluar dulu." Alina beranjak dari sana, bibi hanya memperhatikan. Dapat dia rasakan emosi Alina tidak lagi sama dengan Rosa. Termasuk tatapannya.
"Ya halo?" Ujar Alina saat panggilan terhubung.
" Ya, itu aku. Benarkah?"
"Ok, aku akan kesana! Terimakasih banyak! Terimakasih!" ujar Alina senang saat panggilan terputus.
"Ada kabar apa nona?" bibi datang dengan teh hangat.
"Aku mendapatkan pekerjaan bi. Setelah hampir tiga Minggu! Akhirnya! Ada panggilan!" seru Alina.
"Syukurlah, bibi turut senang nona."
"Ya, sebuah perusahaan...." Ujar Alina menatap ponselnya.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🙏🙏