NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Perbedaan Jenderal

"Lord Minto, Gubernur Jenderal Inggris di India." Kang Guru Harjo mengetuk meja. "Raffles tidak bertanggung jawab langsung ke Raja Inggris di London. Dia melapor ke atasannya di India. Jadi secara struktur, dia cuma wakil dari Gubernur Jenderal Inggris yang ada di India."

Arjo memandang foto Raffles lagi. "Jadi dia bukan bos tertinggi?"

"Bukan. Masih terlalu muda meski dia sangat pintar.”

"Lalu," Arjo membalik-balik tumpukan foto, "kalau Raffles orang Inggris, kenapa dia bisa berkuasa di Jawa? Bukankah Jawa milik Belanda? Namanya saja Hindia Belanda."

"Pertanyaan bagus." Kang Guru Harjo tampak sedikit terkejut, tidak menyangka Arjo tampak tertarik dengan pelajaran ini. "Itu karena Belanda sedang... sibuk dijajah."

Arjo mengangkat wajah, alis tebalnya berkerut dalam. "Belanda dijajah?"

"Oleh Prancis." Kang Guru Harjo mengangguk. "Awal tahun 1800-an, Napoleon Bonaparte menaklukkan hampir seluruh Eropa. Termasuk Belanda. Jadi selama beberapa tahun, Belanda bukan negara merdeka, mereka jadi wilayah bawahan Prancis."

‘Penjajah dijajah.’ Arjo menyeringai dalam hati. ‘Rasakan.’

"Nah, sekarang perhatikan foto ini." Kang Guru Harjo menarik satu foto dari tumpukan, wajah pria keras dengan seragam militer penuh medali. "Herman Willem Daendels. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat Belanda dikuasai Prancis. Dia menjabat Tahun 1808 sampai 1811."

Arjo memandang foto itu. "Yang membangun Jalan Raya Pos?"

"Tepat. Dari Anyer sampai Panarukan. Ribuan pekerja mati dalam pembangunan itu." Kang Guru Harjo mengetuk foto dengan jari. "Tapi yang menarik, Daendels ini orang Belanda. Lahir di Belanda. Tapi dia dikirim ke Jawa atas perintah Napoleon."

"Jadi... dia bekerja untuk Prancis?"

"Secara teknis, ya. Karena Belanda saat itu sudah dikuasai Prancis, maka Gubernur Jenderal Belanda pun melayani kepentingan Prancis." Kang Guru Harjo mengedikkan bahu. "Itulah kenapa beberapa sejarawan menyebut masa Daendels sebagai 'penjajahan Prancis'—meski yang memerintah tetap orang Belanda."

Arjo mengerutkan dahi, berusaha mencerna. "Jadi Belanda menjajah kita, tapi Belanda dijajah Prancis, jadi sebenarnya Prancis yang menjajah kita lewat Belanda?"

"Kurang lebih begitu."

"Pusing." Arjo menggaruk kepalanya. "Seperti cacing dalam perut ular yang ada dalam perut elang."

Kang Guru Harjo menatapnya datar. "Perumpamaanmu... unik."

"Terima kasih, Guru."

"Itu bukan pujian."

Arjo nyengir.

"Lanjutkan." Kang Guru Harjo menunjuk foto Daendels lagi. "Ada satu hal lagi yang perlu kau pahami. Kata 'Jenderal' dalam 'Gubernur Jenderal'—itu bukan pangkat militer."

"Bukan?"

"Bukan. 'Jenderal' di sini artinya 'umum' atau 'menyeluruh'. Gubernur Jenderal berarti gubernur yang mengurusi wilayah secara menyeluruh."

Arjo mengangguk pelan. "Jadi kalau ada orang sipil jadi Gubernur Jenderal, dia bukan jenderal militer?"

"Tepat. Banyak Gubernur Jenderal yang tidak punya latar belakang militer sama sekali." Kang Guru Harjo menunjuk foto Daendels. "Tapi yang ini berbeda. Daendels memang punya pangkat militer Jenderal—bahkan Marsekal. Jadi dia memegang dua hal sekaligus: pangkat militer jenderal, dan jabatan sipil Gubernur Jenderal."

"Pantas galak." Arjo memandang wajah keras Daendels di foto. "Mukanya saja sudah seperti mau memecut orang."

"Dia memang suka memecut orang. Dijuluki 'Gubernur Jenderal Guntur' karena suaranya menggelegar dan tangannya cepat menampar."

Arjo bergidik. "Lebih seram dari Nyi Seger."

"Jangan sampai Nyi Seger dengar kau bicara begitu. Dia akan sangat tersinggung disamakan dengan Daendels."

"Tidak akan, Guru. Saya masih sayang burung saya."

Kang Guru Harjo hampir tersenyum, melirik ke arah pondok yang ditempati Nyi Seger.

"Ayo kembali ke pelajaran, ingat  urutannya." Sang guru mengangkat jari.

"Belanda menjajah kita sejak VOC. Kemudian VOC bangkrut, pemerintah Belanda mengambil alih. Lalu Prancis menjajah Belanda. Raja Belanda yang mengungsi ke Inggris mengeluarkan Surat-Surat Kew yang memerintahkan wilayah jajahan Belanda diserahkan kepada Inggris untuk mencegah jatuh ke tangan Prancis. Lalu Pasukan Inggris di bawah komando Raffles yang lebih kuat dan terorganisir, mampu mengalahkan pasukan yang dipimpin Jan Willem Jansen di Jawa. Raffles memimpin sebentar. Lalu Inggris mengembalikan Jawa ke Belanda setelah perang di Eropa selesai."

Arjo menghitung dalam kepalanya. "Jadi kita tidak dijajah Belanda terus-menerus? Ada jeda Prancis dan Inggris?"

"Tepat."

"Tapi tetap saja dijajah."

"Tetap saja dijajah." Kang Guru Harjo mengangguk dengan wajah muram. "Hanya berganti tuan. Rakyat Jawa tetap yang menanggung bebannya."

Hening sejenak.

Arjo memandang deretan foto di tangannya. Wajah-wajah Eropa yang silih berganti memerintah tanah yang bukan milik mereka.

"Guru."

"Hm?"

"Kalau Raffles ini orang Inggris…," Arjo mengangkat foto sang Letnan Gubernur, "...kenapa kita harus menghafalkan dia? Bukankah yang berkuasa sekarang Belanda?"

"Karena—" Kang Guru Harjo mengambil foto itu dari tangan Arjo, memandangnya sejenak, "orang-orang Belanda dan ningrat tinggi masih sering membicarakan Raffles. Sebagian membencinya. Tapi sebagian... diam-diam mengaguminya."

"Mengagumi?" Arjo menatap bingung.

"Raffles menghapus kerja paksa dan memperkenalkan sistem sewa tanah (landrente system) yang bertujuan menghapus sistem feodal sebelumnya dan meminimalisir peran penguasa lokal yang sering bersekutu dengan Belanda dalam pengelolaan tanah dan petani. Di bawah sistem ini, petani dianggap sebagai pemilik tanah dan harus membayar sewa (pajak) kepada pemerintah kolonial, dengan harapan dapat mendorong kebebasan dan kemakmuran.”

Kang Guru Harjo meletakkan foto itu kembali ke tumpukan. “Dia menulis buku tentang sejarah Jawa yang sampai sekarang masih jadi rujukan. Lima tahun memerintah, banyak hal yang dia lakukan dulu tapi dampaknya terasa sampai sekarang."

Arjo terdiam.

‘Orang Eropa yang menulis sejarah kita dan masih jadi rujukan setelah 100 tahun lebih. Ironis.’

"Jadi kalau ada pejabat Belanda yang menyebut nama Raffles—" Kang Guru Harjo melanjutkan, "kau harus tahu siapa dia. Apakah yang membicarakan sedang memuji atau mencela. Apakah kau harus ikut memuji atau ikut mencela. Sesuaikan dengan siapa yang mengajakmu bicara."

"Jadi aku harus bermuka dua?" Mata Arjo membulat.

"Kau harus menjadi cermin." Kang Guru Harjo menatapnya tajam. "Cermin memantulkan apa yang ada di depannya. Kalau yang bicara padamu seorang nasionalis Belanda yang membenci Inggris, kau ikut membenci. Kalau yang bicara seorang cendekiawan yang mengagumi Raffles, kau ikut mengagumi."

"Dan tidak boleh punya pendapat sendiri?" Arjo menghela napas panjang.

"Boleh." Kang Guru Harjo mengetuk dadanya sendiri. "Di sini. Di dalam hati. Tapi tidak di mulut."

Arjo terdiam.

‘Jadi begini rasanya jadi bayangan. Tidak boleh punya wujud sendiri. Hanya memantulkan apa yang orang lain ingin lihat.’

Arjo berhenti di satu foto yang paling tua di tumpukan itu. Kertas fotonya lebih kusam, gambarnya bukan foto sungguhan melainkan lukisan hitam putih yang dicetak ulang. Seorang pria Eropa dengan topi lebar berhias bulu, janggut panjang, dan pakaian kuno yang tampak kaku.

Jan Pieterszoon Coen. Gubernur Jenderal VOC. 1619-1623, 1627-1629.

"Guru."

"Hm?"

1
Kustri
kiro" kelingan ro rupamu ra Jo🤔
deg" sir ya Jo, kui persembahan nggo bupati yo
Rahayu Wilujeng
sugeng dahar siang ndoro bupati🙏
Ricis
akhirnya ketemu lagi ya Jo, jangan konyol lagi ya Jo 😀
Teh Qurrotha
apakah Agnes kenal sama wajah Arjo yang sekarang, waktu penyerangan dkereta Arjo blm di make over
SENJA
nah itu makanya jangan terbawa emosi terus jo 😶
SENJA
kamu bakal di cap antek pki ada bukti atau ngga 🤭 makanya jangan kritis terang2an lah tahun 1920-30 an mah 🤭
SENJA
dan tan malaka dan pimpinan lain sebenernya ga setuju 🤭 ini aksi massa bukan massa aksi 😶
SENJA
tidak sesederhana yang terlihat 😶
SENJA
yah memang itu tugasmu kan 🤔 mau gimana? kejam tapi yah itu🤭
SENJA
sekarang udah telat jo 🤭
Muchamad Ikbal
muaaanteeep tenaan....🥳
ᵖᵓ➳⃟✿- 𝘀𝘆𝘂 ˢʸ֟ᵘ
Semua berawal dari tatapan lalu remashhhh an Arjo😭😭😭
Kenzo_Isnan.
waaahhh lha iki jo jo . .
Kenzo_Isnan.: tak melu ngamini wis pokok'e 😆
total 2 replies
Kenzo_Isnan.
malah adu nasib kalian bertiga to ya 😅
Kenzo_Isnan.
tedjo+arjo sama" gendeng 🤣🤣🤣
Kenzo_Isnan.
semangat jd bayangan kakak mu sendiri arjo . .
kira" bsk kalau udah tau soedarsono ini kakak'y dr ayah yg sama kira" gmn ya reaksi arjo
Muhammad Arifin
Iki Paleng jodohmu Jo 🤪🤪
Kenzo_Isnan.
kasian kamu arjo tp yakinlah sesudah hujan pasti ada pelangi yg menanti mu di dpn sana
Muhammad Arifin
arjo welas asih....pantes Soedarsono suka...
Wiya Tun: betul,selalu ingat teman²nya
total 1 replies
Rahayu Wilujeng
wah..... harusnya pelajarannya lebih lengkap lagi, termasuk memberi respon pada semua istrinya, kan pasti beda2 responnya😄
Wiya Tun: mboten nopo² ndoro,Kula seneng, maturnuwun 🙏👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!