Ia datang membawa cinta yang dipinjamkan dalam kehidupan Aira Maheswari.
cukup hangat untuk dipercaya, cukup palsu untuk menghancurkan.
Keluarga Aira runtuh, ekonomi hampir patah, dan jiwanya perlahan kehilangan arah.
Ketika dendam menunaikan tugasnya dan ia ditinggalkan di titik paling sunyi,
Hingga seorang lelaki yang mencintainya sejak bangku SMP akhirnya mengetuk pintu terakhir.
Ia datang bukan untuk melukai,
melainkan menyelamatkan.
Di antara dendam yang menyamar sebagai cinta
dan cinta yang setia menunggu dalam diam,
pintu mana yang akan Aira pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Awalnya Aira tidak menyebutnya kontrol.
Ia menyebutnya kebiasaan baru.
Langit mulai menjemput tanpa bertanya.
Menunggu di titik yang sama, pada jam yang sama.
Seolah hidup Aira punya jadwal tetap yang tak perlu didiskusikan.
“Kita langsung pulang, ya,” kata Langit suatu sore, ketika Aira baru keluar dari gedung kantor.
“Aku mau beli makan dulu,” jawab Aira.
Langit tersenyum. “Di rumah aja. Lebih bersih.”
Nada itu ringan.
Tidak memaksa.
Tapi Aira mendapati dirinya menurut.
Hari-hari berikutnya, kalimat itu berulang dengan variasi yang sama.
“Ngapain lama-lama di kantor?” “Kamu kelihatan capek.” “oh ya aku lupa kamu sekarang udah jadi asisten dari pria kasar itu” “seharusnya kamu mintak untuk tidak terlalu banyak kerjaan, itukan perusahaan ayah kamu.”
Dan entah kapan, Aira berhenti bertanya, entahlah Kenapa Aira harus izin?
Ia baru menyadarinya ketika suatu siang, Naya mengirim pesan:
Naya:
Ra, kita ngopi sebentar yuk. Aku kangen, semenjak libur semester kita udah enggak ketemu lagi
Aira menatap layar lama.
Jarum jam menunjukkan pukul empat.
Ia masih punya waktu.
Namun sebelum sempat membalas, Langit mengirim pesan hampir bersamaan.
Langit:
Aku tunggu di depan. Jangan lama.
Tidak ada pertanyaan.
Hanya pernyataan.
Jari Aira menggantung di atas layar.
Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang belum bernama.
Aira:
Maaf Nay. Aku nggak bisa hari ini.
Ia mematikan ponsel, merasa bersalah tanpa tahu pada siapa.
Kedekatan yang Dipaksa Jauh
Di kantor, ritme Aira berubah drastis.
Sebagai asisten Kartik, ia nyaris tak punya ruang untuk bernapas.
Jadwal rapat padat.
Dokumen tak ada habisnya.
Keputusan datang bertubi-tubi.
Dan Kartik…
tetap sama.
Dingin.
Jaraknya terukur.
Bahasanya efisien.
“Aira, siapkan semua data yang di butuhkan untuk rapat ” katanya suatu pagi.
“Baik, Pak.”
“Dua jam.”
Aira mengangguk dan langsung bekerja.
Namun menjelang batas waktu, sistem server mendadak bermasalah.
Data yang ia butuhkan tidak bisa diakses.
Aira berdiri di depan layar, panik tapi berusaha tenang.
Tangannya sedikit gemetar.
Tanpa ia sadari, Kartik berdiri di belakangnya.
“Kenapa?” tanyanya singkat.
“Server down,” jawab Aira cepat. “Saya
sedang cari backup.”
Kartik tidak memarahinya.
Tidak juga menyalahkan.
Ia hanya menarik kursi lain, duduk dengan jarak aman, lalu membuka laptopnya.
“Pakai akses saya,” katanya.
Aira terdiam sejenak.
Lalu menggeser kursinya sedikit.
Mereka bekerja berdampingan.
Tanpa saling menatap.
Tanpa sentuhan.
Hanya suara keyboard dan napas yang tertahan.
Di satu titik, Aira mengulurkan tangan untuk mengambil flashdisk di meja Kartik
dan hampir bersamaan, Kartik melakukan hal yang sama.
Jari mereka nyaris bersentuhan.
Kartik menarik tangannya lebih dulu. Cepat. Terlalu cepat.
“Maaf,” katanya datar.
“Tidak apa-apa,” jawab Aira, meski jantungnya berdetak tidak wajar.
Momen itu singkat.
Tapi cukup untuk membuat dada Aira hangat… lalu perih.
Karena kehangatan itu datang dari orang yang sengaja menjauh.
...####...
Malam itu, Aira pulang lebih larut dari biasanya.
Langit berdiri di depan rumah, bersandar di motornya.
“Kamu lembur lagi?” tanyanya.
“Iya,” jawab Aira. “Kerjaan banyak.”
Langit mengangguk. “Sama dia?”
Pertanyaan itu membuat Aira berhenti melangkah.
“Kenapa setiap hal selalu kamu kaitkan sama Kartik?”
Langit tersenyum kecil. “Aku cuma khawatir.”
Kata itu lagi.
Khawatir.
“Kamu berubah sejak jadi asistennya,” lanjut Langit. “Aku takut kamu dimanfaatkan.”
Aira menatapnya lama.
“Yang dimanfaatkan itu aku, atau kamu yang takut kehilangan kontrol?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Langit terdiam sesaat.
Lalu tertawa kecil. Terlalu tenang.
“Kamu capek,” katanya. “Besok kamu libur, ya. Jangan ke kantor.”
“Aku nggak bisa,” jawab Aira. “Ada rapat penting.”
Langit mendekat selangkah.
“Nggak bisa atau nggak mau?”
Aira merasakan sesuatu mengeras di dadanya.
...####...
Beberapa hari kemudian, perusahaan menghadapi krisis besar.
Investor utama menarik diri.
Proyek terancam batal.
Nama keluarga Aira kembali diseret-seret, karena ayah Aira adalah tahanan.
Rapat darurat berlangsung hingga larut malam.
Kartik berdiri di depan papan presentasi, suaranya tenang di tengah kekacauan.
“Kita susun ulang strategi,” katanya. “Aira, kamu ikut saya.”
Aira mengikuti Kartik ke ruang kecil di belakang.
Di ruangan itu, hanya ada mereka berdua.
Lampu redup.
Tumpukan kertas di meja.
“saya butuh kamu fokus,” kata Kartik, nadanya tetap profesional, tapi lebih rendah.
“Kamu sanggup?”
Aira mengangguk. “Saya sanggup.”
Jam demi jam mereka bekerja.
Menyusun ulang proposal.
Menghitung ulang risiko.
Di luar, hujan turun deras.
Sekitar pukul dua pagi, Aira berhenti mengetik.
Kepalanya pening.
Tangannya dingin.
Kartik menyadarinya.
“Kamu belum makan?” tanyanya.
Aira menggeleng.
Tanpa berkata apa-apa, Kartik membuka laci, mengeluarkan sebotol air dan biskuit.
“Ini saja,” katanya singkat.
Aira menerimanya.
Jari mereka bersentuhan sekilas.
Kali ini Kartik tidak langsung menarik tangannya.
Hanya diam satu detik lebih lama dari seharusnya.
Satu detik yang terasa terlalu banyak.
Aira menunduk.
“Terima kasih.”
Kartik mengangguk.
Mereka kembali bekerja, tapi udara di ruangan itu berubah.
Lebih berat.
Lebih hangat.
Sekitar pukul tiga, Aira tertidur di kursinya tanpa sadar.
Kartik menyadarinya ketika suara ketikan berhenti.
Ia menatap Aira lama.
Wajah yang lelah.
Bahunya sedikit gemetar karena dingin.
Kartik melepas jasnya, lalu, setelah ragu ia tetap
menyelimuti Aira dengan jas, ke bahu Aira.
Gerakannya hati-hati, seolah takut membangunkannya.
VO Kartik
Aira, aku masih di sini.
Tapi aku berdiri cukup jauh agar kamu tidak membenci ku, aku takut saat kamu benar-benar tau kalau saya memang mencintai mu, rasa benci mu semakin tinggi,.
Ia kembali duduk, menjaga jarak.
Namun pandangannya tak lepas.
Momen itu tidak dilihat siapa pun.
Tidak diketahui Aira.
Tapi cukup untuk membuat Kartik kembali menyadari
ia belum melupakan Aira.
Kesadaran yang Tak Bisa Ditolak
...###...
Pagi itu, Aira terbangun dengan jas Kartik di pundaknya.
Ia terkejut, lalu menoleh.
Kartik tertidur di duduk kursi, tapi tetap tegak, kemeja masih rapi.
Aira memandangnya lama.
Dingin.
Kaku.
Tapi ia memang sangat tampan.
Dan di saat itu, satu pikiran muncul—pelan tapi pasti:
Apakah benar Kartik mengatakan kalau dirinya adalah milik Kartik?
Kartik mulai membuka matanya ia terbangun, setelah cukup mengumpulkan nyawanya ia segera berdiri.
“Kita lanjut,” katanya singkat,
Aira mengangguk. Dan mulai bekerja
Di luar kantor, Langit sudah menunggu ia mulai kehilangan kesabaran.
“Kamu sekarang sibuk terus,” katanya.
“Dunia kamu cuma kerja dan dia.”
Aira menatapnya.
Entah kenapa ia tak merasa bersalah,
“Ini hidup aku,” katanya pelan.
"aku ini pacar kamu Aira, dan hidup kamu aku tidak ada artinya tanpa aku, kamu ingat itu" ujar langit membentak Aira
"Berbicara pelan sedikit langit, ini tempat umum, aku enggak mau jadi tempat perhentian" jawab Aira
Langit terdiam.
Dan di keheningan itu, Aira akhirnya sadar:
yang satu menjauh agar ia bebas,
yang lain mendekat agar ia terikat.
Ancaman itu tidak diucapkan dengan suara keras.
Justru karena nadanya tenang, ia terasa lebih berbahaya.
“Aku nggak mau ada orang ketiga dalam hidup kamu ” kata Langit, menatap Aira lurus.
“Kalau kamu masih mau dengar aku, berhenti terlalu dekat sama dia.”
Aira terdiam.
Udara sore itu terasa menekan.
Mobil-mobil berlalu lalang.
Orang-orang tertawa, berbicara, menjalani hidup mereka, sementara Aira berdiri di tempat, seperti sedang ditarik ke dua arah yang berlawanan.
“Aku cuma kerja, Langit,” katanya akhirnya.
“Aku nggak ngelakuin apa-apa yang salah.”
Langit menghembuskan napas berat.
“Kamu nggak sadar, ya?”
“Nggak ada yang sekadar kerja sampai lupa dunia di sekitarnya.”
Aira ingin membantah.
Ingin bilang ia hanya lelah.
Bahwa semua ini bukan tentang Kartik.
Tapi kalimat itu tidak pernah keluar.
Karena jauh di dalam dirinya, Aira tahu,
kelelahan ini bukan semata karena pekerjaan.
“Kalau kamu terus kayak gini,” lanjut Langit, suaranya menurun, “kita sudahi saja.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam.
Ancaman yang sudah lama menggantung, kini diucapkan.
Aira menatap Langit lama.
Wajah yang dulu membuatnya merasa aman.
Orang yang pernah duduk bersamanya di halte dekat kampus, berbagi mimpi kecil, janji-janji sederhana.
Kenangan itu muncul begitu saja.
Tawa Langit saat mulai dekat.
Cara ia menggenggam tangan Aira di tengah hujan.
Ucapan, “Aku bakal jagain kamu.”
Dadanya terasa perih.
“Aku cuma minta kamu nurut,” kata Langit,
lebih pelan.
“Kalau kamu masih sayang aku.”
Kalimat itu menutup semua ruang.
Aira menunduk.
Capek.
Terlalu capek untuk bertengkar.
Terlalu capek untuk menjelaskan perasaan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami sendiri.
“Kasih aku waktu,” katanya lirih.
Langit menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk singkat.
“Terserah. Tapi ingat, aku nggak nunggu lama.”
Ia pergi begitu saja.
Dan Aira berdiri sendiri, dengan dada yang sesak oleh pilihan yang terasa salah, apa pun keputusannya.
...####...
Beberapa hari setelah itu, Kartik dan Aira harus melakukan perjalanan singkat ke luar kota untuk menemui investor pengganti.
Perjalanan satu hari.
Berangkat pagi, pulang malam.
Keputusan itu datang mendadak.
Aira ragu bukan karena pekerjaannya, melainkan karena siapa yang akan ia habiskan menghabiskan waktu bersama Kartik, dan langit pasti tidak akan suka.
Mobil melaju dalam keheningan yang rapi.
Kartik duduk di belakang kemudi, fokus.
Aira di kursi penumpang, menatap jalan yang membentang panjang.
Tidak ada percakapan ringan.
Tidak ada basa-basi.
Hanya radio yang diputar pelan.
Namun di setiap lampu merah, Aira bisa merasakan kehadiran, Bukan dari tatapannya, karena Kartik hampir tidak pernah menoleh.
Melainkan dari cara ia selalu memastikan mobil berjalan halus.
Cara ia menurunkan kecepatan saat jalan berlubang.
Cara kecil yang menunjukkan perhatian tanpa kata.
Di satu titik, hujan turun deras.
Kartik memperlambat laju kendaraan.
“Kamu dingin?” tanyanya tiba-tiba.
Aira tersentak.
“Sedikit.”
Tanpa menoleh, Kartik menyalakan pemanas.
Gerakannya otomatis.
Seolah ia sudah hafal kebutuhan Aira sejak lama.
Dan entah kenapa, dada Aira terasa hangat oleh hal sesederhana itu.
Mereka tiba di lokasi menjelang siang.
Pertemuan berjalan tegang tapi lancar.
Namun ketika keluar dari gedung, Aira mendadak pusing.
Langkahnya goyah.
Kartik menangkap lengannya tepat waktu.
Sentuhan itu
nyata.
Kuat.
namun tak menyakitkan.
“Aira,” katanya, lebih pelan dari biasanya.
“Kamu kenapa?”
Aira menarik napas, mencoba berdiri tegak.
“Hanya kurang makan.”
Kartik tidak langsung melepasnya.
Tangannya masih di lengan Aira, jari-jarinya sedikit mengencang, seolah memastikan Aira benar-benar baik-baik saja.
“Duduk,” katanya singkat.
Ia membimbing Aira ke bangku di teras gedung.
Momen itu sederhana.
Tidak ada kata manis.
Tidak ada pengakuan.
Namun cara Kartik berjongkok di hadapannya, menyodorkan botol air dengan kedua tangan
membuat Aira menelan ludah.
“Minum,” katanya.
Nada perintah.
Tapi matanya… berbeda.
Ada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aira minum perlahan.
“Maaf,” kata Aira pelan.
“Kenapa minta maaf?” tanya Kartik.
“Aku merepotkan.”
Kartik terdiam beberapa detik.
Lalu berkata, “Kamu bukan beban.”
Kalimat itu pendek.
Namun menghantam lebih keras dari apa pun yang pernah Aira dengar hari itu.
Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.
Hanya mereka berdua.
Hanya jarak yang nyaris hilang.
Kartik berdiri lebih dulu, kembali menjaga batas.
“Kita pulang,” katanya.
Tapi sepanjang perjalanan pulang, Aira tahu
sesuatu di antara mereka ada dua orang asing yang tak mungkin bersama.
Malam itu, Aira duduk di kamarnya dalam gelap.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Langit.
Langit:
Kamu sudah mikir? Aku serius, Ra.
Aira memejamkan mata.
Ia benar-benar capek.
Capek merasa harus memilih.
Capek merasa harus menjelaskan.
Capek merasa cintanya selalu diukur dari kepatuhan.
Namun kenangan itu kembali lagi.
Awal yang hangat.
Tawa.
Janji.
“Aku masih sayang dia,” bisik Aira pada dirinya sendiri.
“Atau aku cuma takut kehilangan?”
Pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban.
Di sisi lain kota, Kartik berdiri di balkon apartemennya, menatap langit malam.
VO Kartik
Saya melihatmu perlahan terkunci, Aira.
Dan Saya tahu, bukan tugas saya untuk menarikmu keluar.
Tapi jika suatu hari kamu memilih berjalan sendiri…
saya ingin kamu tahu, pintu ini tidak pernah benar-benar tertutup.
Cinta yang satu membelenggu.
Cinta yang lain membiarkan pergi.
Dan Aira
berdiri di tengah-tengah, dengan hati yang hampir menyerah,
belum tahu bahwa badai yang sesungguhnya…
Mungkin baru akan datang.
Bersambung