Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Wajah yang Kembali
Vicky membuka laptopnya sambil menyender malas di kursi kerja. Kemeja setengah terbuka, kopi dingin di sampingnya.
“Oke,” gumamnya santai, jari-jarinya menari di keyboard. “Ballroom. Jam tujuh tiga puluh. Kamera tiga.”
Di layar, kerumunan tamu pesta pernikahan bergerak rapi. Seragam, jas, kebaya. Lampu kristal memantul di lantai marmer.
Di sisi lain kota, Gayus sudah menautkan koneksi dari ruang kerjanya. Monitor ganda menyala. Wajahnya serius seperti sedang mengamati grafik saham.
Asep muncul terakhir. Suaranya langsung pecah di sambungan.
“Buset, rame banget. Ini pesta apa apel gabungan?”
“Fokus, Sep,” kata Vicky ringan. “Tuh. Frame kiri. Mundurin dikit.”
Layar berhenti.
Seorang bocah kecil berlari. Tidak hati-hati. Tidak takut.
Lalu—
tabrakan.
Tubuh kecil itu menghantam paha seorang pria berseragam.
Waktu seperti melambat.
Asep mendekat ke layar. “Lah….”
Gayus menyipitkan mata. Tidak berkata apa-apa.
Vicky tidak langsung bercanda. Untuk pertama kalinya, suaranya turun satu oktaf.
“Pause.”
Wajah bocah itu tertangkap jelas.
Mata. Alis. Bentuk hidung. Garis rahang yang belum tegas,tapi arahnya.
Asep berdiri. “Anj*ng… itu—”
“Mirip,” potong Vicky pelan. “Bukan mirip. Itu versi mini.”
Gayus menarik napas panjang. “Kalau kita bicara probabilitas genetik,” katanya akhirnya, nada datar tapi berat, “kemiripan wajah spesifik seperti ini… kecil kemungkinannya kebetulan.”
Asep menoleh ke kamera lain. “Lihat senyumnya. Itu senyum Raska kecil. Gue inget. Demi Tuhan.”
Vicky menggeser timeline. “Lanjut.”
Bocah itu bicara. Mulutnya bergerak cepat. Lugu. Lalu berlari pergi.
“Stop. Zoom.”
Gambar diperbesar.
Asep bersiul pelan. “Gila… cakep banget.”
Seorang perempuan muda menghampiri bocah itu. Gaun sederhana, rambut disanggul rapi. Garis wajahnya lembut. Tenang. Dewasa.
Di belakangnya, seorang wanita paruh baya ikut mendekat. Sikapnya tegas. Protektif.
“Sep,” kata Vicky pelan. “Lo ngerasa nggak?”
“Iya,” sahut Asep cepat. “Mirip Elvara.”
Gayus mengernyit. “Secara fisiognomi wajah—”
“Gue tahu Elvara dulu gendut,” potong Vicky. “Tapi enam tahun, Yus. Enam tahun bisa ngubah banyak hal.”
Asep mengangguk cepat. “Beneran mirip banget. Aura-nya juga. Lo inget 'kan cara dia berdiri?”
Gayus terdiam lama. Lalu berkata pelan, hampir seperti bicara ke diri sendiri.
“Kalau ini benar… maka ada satu variabel besar yang selama ini tidak kita masukkan.”
“Apa?” tanya Asep.
Gayus menatap layar. “Raska bukan cuma kehilangan. Dia ditinggalkan… dengan alasan.”
Hening.
Vicky menghela napas pelan. Tangannya berhenti di mouse.
“Gue kirim ke Raska.”
File terkirim.
Tak lama kemudian, sambungan ke Raska aktif. Tidak ada sapaan panjang.
“Hasilnya?” suara Raska dingin. Terlatih.
Vicky tidak bercanda. “Lo harus lihat sendiri.”
Layar ponsel itu menyala di tangan Raska.
Rekaman bergerak. Sudut ballroom. Anak kecil berlari,menabraknya, lalu pergi.
Raska menatap tanpa berkedip.
Lalu frame bergeser.
Seorang wanita paruh baya masuk ke layar.
Raska membeku.
Bukan karena rautnya ramah. Bukan karena rambutnya yang mulai memutih. Melainkan karena ia mengenali wajah itu dalam satu detik.
Elda.
Perempuan yang pernah memukulnya dengan sapu. Melempar panci ke arahnya. Yang nyaris menyiramnya dengan air bekas pel lantai sambil berteriak menyuruhnya pergi.
Wajah itu tidak berubah. Lebih tua, ya. Lebih tenang. Tapi tidak mungkin salah.
“Ibu…” gumam Raska nyaris tanpa suara.
Di telinganya, sambungan telepon masih terbuka.
“Apa?” suara Asep langsung naik. “Lo lihat sesuatu?”
Rekaman terus berjalan.
Ia melihat Elda mendekati seorang wanita muda sedang berbicara dengan seorang bocah.
Raska menahan napas.
Ramping. Bahunya tegak. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya hanya terlihat sekilas, jauh, tidak terlalu jelas, tapi cukup.
Cukup untuk membuat dada Raska seperti dihantam dari dalam.
“Vara…” suaranya jatuh begitu saja. Bukan panggilan. Lebih seperti pengakuan.
Di ujung sana, Asep terdiam.
“Lo yakin itu Vara, Ras?” tanyanya akhirnya, tidak seberisik biasanya.
Raska tidak langsung menjawab. Matanya tetap terpaku pada layar, pada cara perempuan itu menunduk ke arah bocah kecil itu, pada gestur yang terlalu dikenalnya.
“Wanita paruh baya itu,” katanya akhirnya, suaranya serak, “ibu mertuaku.”
Sunyi.
Detik berlalu.
“Kalau gitu…” Vicky berbicara pelan untuk pertama kalinya tanpa nyentil, “…fix. Itu Vara.”
Gayus menarik napas panjang di sambungan lain. Suaranya masuk dengan nada khasnya, tenang, analitis, tapi kali ini terdengar lebih berat.
“Probabilitas kemiripan anak dan ayah, ditambah keterkaitan figur pengasuh yang valid secara historis,” katanya pelan. “Secara statistik… ini bukan kebetulan, Ras.”
Raska menutup mata.
Bukan karena ragu, melainkan karena dadanya terasa terlalu penuh untuk ditampung sendirian.
Enam tahun.
Enam tahun hidupnya berjalan dengan satu nama yang tak pernah benar-benar pergi. Dan malam ini, hidup itu menatapnya kembali.
Raska menarik napas panjang.
Bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk memastikan bahwa yang ia lihat barusan bukan ilusi yang lahir dari lelah.
Saat kelopak matanya terangkat kembali, tatapannya telah berubah.
Fokus. Tegas.
Seperti detik sebelum sebuah operasi dimulai.
“Temukan mereka,” katanya datar, nyaris tanpa emosi.
“Pakai semua koneksi yang kalian punya. Secepatnya.”
Raska tahu: jalur militer berarti alarm, pencatatan, dan wilayah yang bukan lagi miliknya.Karena itu ia memilih jalur lain, jalur sunyi yang tidak tercatat, dikelola oleh orang-orang yang hanya setia padanya.
Di ujung sana, Asep refleks bersuara lebih dulu.
“Anjir… Ras, ini bukan nyari supplier cabe, ya,” celetuknya, setengah panik setengah bersemangat. “Ini nyari… hidup lo sendiri.”
“Aku tahu,” potong Raska singkat.
Vicky menyeringai tipis, tapi kali ini tanpa nada main-main.
“Kalau itu benar Vara, berarti dia nggak lari sejauh yang lo kira. Dia cuma… sembunyi lebih rapi.”
Gayus baru bicara setelah beberapa detik. Suaranya paling tenang, seperti biasa.
“Secara probabilitas,” ujarnya pelan, “kemunculan mereka di acara keluarga Prakoso bukan kebetulan. Itu titik aman. Proteksi sosial tinggi. Artinya… mereka sudah siap terlihat.”
Raska tidak langsung menjawab.
Matanya kembali tertuju pada layar ponsel. Frame yang membeku di wajah itu.
Wajah yang dulu meninggalkannya dalam kemarahan. Wajah yang kini muncul kembali bersama seorang anak… dengan matanya.
“Kalau dia sudah berani muncul,” kata Raska akhirnya, suaranya rendah tapi mengandung tekanan yang membuat ketiga sahabatnya diam, “berarti waktunya hampir habis.”
“Untuk apa?” tanya Asep pelan, tidak lagi bercanda.
Raska menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya tidak sepenuhnya baja.
“Untukku terus pura-pura nggak tahu,” katanya. “Dan untuk dia terus pura-pura nggak kenal aku.”
Hening menelan sambungan.
Lalu Vicky berkata singkat, kali ini tanpa nyentil, tanpa humor:
“Kerjain.”
Sambungan terputus.
Raska duduk diam di tepi ranjang hotel. Sepatunya belum dilepas.
Tangannya kembali naik ke dada, menggenggam dua cincin yang dingin di telapak.
Enam tahun.
Dan ternyata, takdir tidak pernah benar-benar menjauh. Ia hanya menunggu, siapa yang berhenti lari.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang takdir tidak mengejar. Ia hanya menunggu siapa yang berhenti lari.”...
...“Untukku terus pura-pura nggak tahu. Dan untuk dia terus pura-pura nggak kenal aku.”...
...“Medan perang tidak pernah membuatku takut. Tapi kebenaran… iya.”...
...“Itu bukan kemiripan. Itu pengakuan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
......🌸❤️🌸......
.
To be continued
Jovi abaikan Raska - tetap bicara tentang yang dialami Raska ketika Elvara melahirkan.
Raska menyuruh Jovi berhenti bicara. Jovi mana mau berhenti 😁.
Elvara kaget kan mendengarnya. Segitunya lho suamimu itu Vara.
Benar Adrian, seperti itu.
Jovi semakin menjadi ha haaaa....
Jadi ingat Bianto - tak ada celah untuk menggagalkan pernikahan Raska dengan Elvara.
Bisa jadi berhadapan dengan Prakosa - orang yang menjaga keselamatan Elvara dan keluarganya.
Raska dan Jovi mendapat pujian dari Prakoso.
Raska berterima kasih pada Jovi.
Adrian berterima kasih pada Raska dan Jovi. Raska tak menjabat tangan Adrian ??
Elvara berterima kasih pada Jovi. Jovi malah melenceng menjawabnya - kena tegur Raska .
Malah nambah bicara map hitam nih Jovi /Facepalm/. Raska menstop Jovi yang banyak bicara. tapi Jovi masih ingin bicara sama Elvara /Facepalm/
😄😄😄😄😄😄😄
Kerja bagus Elvara, kerja bagus Adrian - kedua dokter ini bisa ajah bergerak melawan tanpa suara.
Jovi dan Raska langsung bergerak cepat - habisi musuh tak bersisa.
Naluri bawah sadar seorang anak terkoneksi atas apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Rava bisa tidur tenang ketika di tempat yang berbeda, kedua orang tuanya sudah aman.