NovelToon NovelToon
Babat Negeri Leluhur

Babat Negeri Leluhur

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Contest / Budidaya dan Peningkatan / Perperangan / Dan budidaya abadi / Dikelilingi wanita cantik / Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:5.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ebez

Cerita pengabdian untuk negeri tercinta
Kisah perjalanan hidup Panji Watugunung sang Pendekar Pedang Naga Api membaktikan diri untuk negeri tercinta yang berada diambang kehancuran karna perebutan kekuasaan antara putra putra raja

Di balik perjalanan hidup, ada kisah cinta yang melibatkan Dewi Anggarawati putri Kadipaten Seloageng dan dua adik seperguruannya

Kepada siapakah cinta Panji Watugunung akan berlabuh?? Bagaimana perjalanan nya sebagai pendekar muda jagoan dunia persilatan?

Simak kisah selengkapnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengungsi dari Kahuripan

"Enak saja menuduh kami rampok! "

teriak Sekar Mayang geram

"Kami hanya pengelana yang kebetulan lewat,

Kalau kalian bukan penjahat, tunjukkan batang hidung kalian"

Kresekkk kresekkk..

Beberapa saat kemudian bermunculan beberapa bayangan berjalan mendekati Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang.

Setelah dekat, terlihat 3 orang wanita, 2 laki laki muda, 3 orang lelaki paruh baya dan seorang kakek berambut hitam panjang bercampur putih dengan sebuah pedang menggantung di pinggang nya.

"Maafkan aku nisanak,

aku hanya bersikap waspada.

Hutan ini dulu terkenal sarang perampok" ujar kakek tua itu

"Perkenalkan, aku Sarwana. Pengawal perjalanan Juragan Karsa", ujar kakek tua sambil menunjuk seorang pria paruh baya yang berpakaian sutra

Kalau boleh tau, siapa nama nisanak berdua?"

"Aku Sekar Mayang, dan ini kakak seperguruan ku Ratna Pitaloka", ujar Sekar Mayang sambil melompat turun dari kudanya

"Nisanak berdua mau kemana?"

"Kami mau ke Gelang-gelang" jawab Sekar Mayang

"Kebetulan kita searah. Mari nisanak kita beristirahat bersama"

Ratna Pitaloka lalu menatap Sekar Mayang yang mengangguk lantas menuntun kuda kuda mereka, dan menambatkan pada pohon kecil

Mereka kemudian duduk melingkar di depan api unggun.

Juragan Karsa kemudian meminta salah seorang wanita di rombongannya untuk menyiapkan makanan bekal perjalanan dan menghidangkan nya.

"Terimakasih juragan, tidak usah repot-repot", ujar Sekar Mayang

"Ah tidak apa-apa nisanak, kita kan searah, sudah sewajarnya kita saling membantu", tukas

Juragan Karsa.

Selesai bersantap, Ki Sarwana mendekati Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang

"Nisanak berdua ini dari mana, dan ada tujuan apa ke Gelang-gelang?

Maaf kalau aku lancang" ujar Ki Sarwana hati hati, melihat dandanan dua wanita itu jelas sekali kalau mereka pendekar. Apalagi tadi saat di serang di kegelapan, mereka dengan mudah menghindari.

"Kami dari Padepokan Padas Putih Ki, kami ada tujuan penting melaksanakan tugas dari guru kami", jawab Ratna Pitaloka tanpa menjelaskan tujuan mereka ke Gelang-gelang..

"Kalau rombongan Ki Sarwana ada tujuan apa ke Gelang-gelang??"

Mendengar nama Padepokan Padas Putih, Ki Sarwana terkejut. Padepokan itu terkenal dengan muridnya yang menjadi jagoan dunia persilatan. Wajah kakek tua itu lega.

Huhhhhh

Ki Sarwana menghela nafas panjang

"Kami dari Kahuripan nisanak, kalau lebih jelasnya biar Juragan Karsa yang menjelaskan"

Juragan Karsa kemudian berkata,

"Aku adalah seorang pedagang di Kahuripan nisanak. Kami disana hidup makmur. Namun setelah ibukota pindah ke Dahanapura hidup kami menjadi sulit. Tapi kami masih bertahan di Kahuripan.

Setelah ada berita pemecahan kerajaan, dan Kahuripan menjadi ibukota kerajaan lagi kami sangat gembira.

Terbayang kehidupan lama kami kembali lagi. Tapi semua itu hanya angan-angan kosong belaka.

Setelah penguasa baru di Kahuripan datang, kehidupan kami sangat sulit. Pajak tinggi dan keamanan yang ketat, mempersulit kami untuk bekerja"

Juragan Karsa kemudian menghela nafas panjang sambil menerawang jauh, lalu melanjutkan kata-katanya.

"Akhirnya kami tidak tahan, setiap saat kami di peras oleh prajurit yang mengatasnamakan penguasa. Kami memutuskan untuk pergi dari Kahuripan. Kami mendengar dari pedagang yang melintas, kehidupan di Dahanapura sangat makmur, apalagi di wilayah Gelang-gelang.

Akhirnya kami menjual semua harta kami yang ada sebagai bekal perjalanan menuju Gelang-gelang. Tapi ada orang yang melaporkan kami. Mereka bilang kami pengkhianat. Lantas kami bersembunyi sambil bergerak di malam hari menghindari prajurit Kahuripan yang terus memburu kami, sampai akhirnya kami sampai di hutan ini.

Begitulah cerita kami nisanak", ujar juragan Karsa menutup cerita perjalanan nya.

Ratna Pitaloka manggut-manggut sementara Sekar Mayang memandang kearah juragan Karsa sambil mengunyah makanan

"Jadi tujuan kisanak sekalian ke Gelang-gelang, ingin mencari penghidupan disana?" tanya Sekar Mayang.

"Benar nisanak, kami tidak mau tinggal di Kahuripan lagi.." jawab Juragan Karsa yakin.

"Bagaimana kalau nisanak berdua mengawal rombongan kami? Seperti nya nisanak berdua memiliki kemampuan beladiri"

Sekar Mayang menoleh ke arah Ratna Pitaloka

"Jangan khawatir, saya akan memberikan upah begitu sampai di Gelang-gelang" sambung juragan Karsa"

"Bagaimana Kangmbok? Sekar ikut kata Kangmbok Pitaloka" , Sekar memandang Ratna Pitaloka meminta jawaban.

Ratna Pitaloka termenung sejenak

"Baiklah, toh tidak ada ruginya. Semakin banyak teman, semakin baik"

Juragan Karsa dan Ki Sarwana tersenyum lega mendengar jawaban Ratna Pitaloka.

Malam itu mereka beristirahat dengan tenang di hutan kecil sampai pagi menjelang.

Pagi tiba

Ratna Pitaloka terbangun saat matahari belum muncul di ufuk timur.

Sekar Mayang masih asyik tidur memeluk buntalan kain nya.

Sementara rombongan Juragan Karsa sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

"Mayang, bangun!"

"Ah masih pagi Kangmbok, Mayang masih ngantuk", jawab Sekar Mayang tanpa membuka matanya

"Dasar kebo, bangun...

Tuh rombongan sudah mau berangkat"

Sekar Mayang seketika membuka matanya,

buru-buru bangkit dan mengucek mata.

Lalu mengambil kantor kulit berisi air, mencuci muka nya..

"Kenapa Kangmbok Pitaloka tidak dari tadi membangunkan aku?", protes Sekar Mayang.

"Aku sudah bolak balik membangunkan kamu, tapi kamu tidur seperti kebo", jawab Ratna Pitaloka sambil merapikan baju dan buntalan kain miliknya..

Hehehehe

Sekar Mayang cengengesan. Dia juga sadar kalau tidur sulit di bangunkan.

Mereka berdua lalu menaruh buntalan kain diatas kuda mereka. Sementara rombongan Juragan Karsa, mulai masuk ke kereta kuda.

Hanya Ki Sarwana dan seorang lelaki paruh baya yang naik kuda di depan, sementara Ratna Pitaloka dan Sekar Mayang di belakang kereta kuda.

Rombongan itu melaju di jalan yang membelah hutan menuju Pakuwon Bandar.

Sesampainya di Pakuwon Bandar, rombongan terus bergerak melintasi jalanan. Diujung jalan, mereka berhenti di sebuah rumah makan.

Mereka masuk ke sana, mengisi perut dan membeli perbekalan. Usai makan, mereka bergegas melanjutkan perjalanan.

Gapura Pakuwon Bandar sudah tidak terlihat, menghilang saat mereka masuk di tikungan bukit menuju ke Gelang-gelang.

"Ki Sarwana, berapa lama lagi kita sampai di Gelang-gelang?", tanya Sekar Mayang.

Ki Sarwana terdiam sejenak seperti menghitung sesuatu.

"Kalau cuaca sedang bagus dan tidak ada gangguan, 3 hari lagi kita sampai di Gelang-gelang.

Kita tidak usah masuk ke Dahanapura, kita lewat daerah Kunjang saja supaya lebih cepat"

Kalau masuk ke ibukota, kita harus melewati penjagaan berlapis nisanak, itu akan menghambat perjalanan" ,jelas Ki Sarwana.

Sekar Mayang hanya manggut-manggut saja sementara Ratna Pitaloka diam tidak berkata apa-apa. Pikiran nya hanya terpaku pada Watugunung yang mungkin sudah ada di Gelang-gelang.

**

Sudah hampir sepekan Panji Watugunung tinggal di keputran. Sebagai calon mantu Adipati Seloageng, dia benar benar di manjakan oleh semu abdi dalem kadipaten Seloageng.

Raut muka nya yang tampan, benar benar menjadi pembicaraan tersendiri di kalangan masyarakat kota Kadipaten Seloageng.

Dewi Anggarawati juga tidak pernah lepas dari sisi nya, membuat semua orang iri akan mereka.

Siang itu mereka berjalan jalan di pasar dekat Alun alun kota. 4 pengawal mengikuti langkah mereka. Watugunung sebenarnya melarang mereka tapi tak tega melihat para pengawal itu memohon untuk diperkenankan mengikuti sebab para pengawal kadipaten itu diancam oleh Adipati Seloageng. Kalau sampai ada apa apa dengan calon mantu nya, mereka akan di penggal.

Semua orang yang berpapasan dengan Watugunung dan Dewi Anggarawati melirik iri dengan mereka.

"Gusti Putri benar benar beruntung ya?

Calon suami nya ganteng gak ketulungan"

"Iya, benar benar bikin iri...."

"Mereka pasangan yang serasi, yang laki tampan yang perempuan cantik"

"Ahh aku juga mau punya suami seperti itu,

aku bersedia jadi selirnya.."

Berbagai ucapan iri mengalir dari mulut mulut gadis gadis yang berpapasan dengan Watugunung dan Dewi Anggarawati.

Anggarawati menekuk wajahnya mendengar ucapan ucapan itu, hatinya panas bukan main, sementara Panji Watugunung cuek saja.

"Pengawal, kita kembali ke istana Kadipaten!"

Dewi Anggarawati segera menarik tangan Watugunung menjauhi pasar dan bergegas menuju keputran.

4 pengawal mengikuti langkah mereka.

"Ada apa Dinda? Kenapa cemberut begitu", ujar Watugunung sesampainya di keputran

"Kakang kalau keluar jangan senyum senyum kenapa? Ingat kakang itu sudah punya calon istri, jaga perasaan calon istri Kakang.

Jangan pamer kegantengan di muka umum bisa tidak? Sudah punya calon istri yang cantik masih aja tebar pesona kesana kemari, dasar tidak punya perasaan", cerocos Dewi Anggarawati ketus

"Kalian juga, harusnya kalian tidak boleh membiarkan perempuan perempuan gatal itu mendekati calon suami ku. Apa kalian mau aku laporkan kepada Ayahanda Adipati kalau kalian lalai menjalankan tugas? Apa kalian mau di penggal kepala kalian ha? ", omel Dewi Anggarawati menunjuk pada pengawal kadipaten yang menyertai mereka

Panji Watugunung dan 4 pengawal melongo mendengar omelan Dewi Anggarawati

'Ini perempuan kenapa sih?'

batin Panji Watugunung

Baru mau membuka mulut, cerocos Dewi Anggarawati kembali terdengar

"Kakang Wugunung jadi lelaki jangan sok kegantengan deh. Ingat kang, calon istri setia menemani. Mentang-mentang ganteng seenaknya saja sama calon istri"

Muka Dewi Anggarawati benar-benar kusut

"Pokoknya kalau sampai ada yang berani mendekati calon suami ku, ku pastikan kalian segera di hukum oleh Ayahanda Adipati. Kalian mengerti tidak?"

Ke empat pengawal pucat mendengar kata hukuman.

Dalam hati mereka berpikir.

'Gusti putri kesambet setan pasar sepertinya'

.

.

.

.

.

.

.

.

*bersambung*

1
Anah Suhana
harusnya nanti lagi pedang pusaka tulang iblis bilaberhadapan lagi harus bisa diambil agar tidak meresahkan dunia persilatan dan dibawa ke perguruan padas putih atau klau tidak disimpan oleh panji sendiri..
Daniel Setyahadi
Emg sepak bola pake tendangan bebas tor 🤣
Taufan Sule Muskita
Panji Kebanyakan bini jadi oon
Taufan Sule Muskita
Luar biasa katro ini cerita, poligami terus ceritanya sangat tidak bermutu
Taufan Sule Muskita
Ini cerita kok makin aneh2 aja ya
Taufan Sule Muskita
Idih katro amat ya jadi perempuan
Taufan Sule Muskita
Lawan gerombolan serigala pake pedang biasa ini lawan Matel pake pedang pusaka katro amat😂👎😂
Gd Jaya Official
sdh brpa meme ne
Hadi Ghorib
👍👍👍
Hadi Ghorib
seraaaaaaang....
Hadi Ghorib
hdehh saapaa lagi yg minta Di nikahin
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 😍
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 💪
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 🙏👍👍💪😍
Hadi Ghorib
ayo Baca ulang 🙏👍👍💪😍😄
Hadi Ghorib
ayu Baca ulang, 💪💪
Hadi Ghorib
mantap pertarungan gaib dimulai
Hadi Ghorib
seru Benar Benar seruuhh 👍👍
Hadi Ghorib
gumbreg gumbreeeg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!