NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:329.4k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemasan Warga Desa

Jenara langsung berbalik, matanya menatap Seran seolah ingin memastikan kata-kata itu bukan bualan semata.

“Kau yakin aku boleh ikut?” tanya Jenara masih ragu.

"Iya. Aku yang akan menjaga anak-anak di rumah.”

Jawaban itu membuat dada Jenara sedikit mengendur, meski masih ada sisa perasaan kecewa yang mengganjal.

“Kalau begitu, aku akan memberitahu Pak Kepala Desa."

Jenara menggeser tubuhnya ke sudut pembaringan, membelakangi Seran. Dengan suara setengah mengantuk, ia menambahkan, “Kalau nanti aku mendesakmu lagi, bangunkan saja aku."

Tanpa menunggu jawaban, Jenara memejamkan mata. Awalnya semua terasa nyaman, sampai gelap di balik kelopak mata Jenara berubah menjadi merah menyala.

Api. Ada api yang sangat besar.

Jenara berdiri di tengah kobaran panas yang mencekik. Lidah-lidah api menjulang tinggi, berputar mengelilinginya seperti dinding neraka.

Di tengah lingkaran itu, ia duduk di sebuah kursi yang tinggi dan kokoh, mirip singgasana seorang ratu. Tangannya gemetar di sandaran kursi, napasnya tersengal.

Panas itu terasa sangat nyata.

Jantung Jenara berdegup liar saat ingatan lama menghantamnya. Kilatan cahaya putih, suara ledakan, disusul panas yang melahap segalanya di laboratorium. Momen ketika hidupnya di dunia berakhir, dan takdirnya terlempar ke dalam kisah ini.

Jenara berusaha untuk bergerak, tetapi kakinya terasa seberat batu. Api semakin mendekat, merambat ke kaki singgasana, menjilat udara di sekelilingnya. Asap tebal membuat dada Jenara sesak. Ketakutan merayap, menekan, dan menghancurkan sisa keberaniannya.

“Tolong!” jeritnya, putus asa. “Tolong aku!”

Di tengah lautan api itu, sesosok bayangan tiba-tiba muncul. Seorang pria berjalan perlahan, seakan kobaran api tak mampu menyentuhnya. Wajahnya tegas, langkahnya mantap. Mata Jenara membelalak ketika mengenali sosok itu.

Seran.

“Seran, tolong!” teriak Jenara hampir putus asa.

Pria itu mendekat, lalu tanpa ragu mengangkat tubuh Jenara dari singgasana yang hampir terbakar. Panas masih mengepung mereka, tetapi ketika lengan Seran melingkar di tubuhnya, rasa takut Jenara sedikit mereda.

Jenara gemetar hebat. Ia memeluk erat leher Seran, sementara pria itu menggendongnya melewati kobaran api. Namun tiba-tiba, semua memudar digantikan oleh suara bariton yang memanggil namanya.

“Jenara, bangun.”

Jenara tersentak. Ketika matanya terbuka lebar, di sekitarnya hanya ada cahaya remang dari lampu minyak.

Tidak ada api. Tidak ada singgasana. Yang ada hanyalah wajah Seran di sampingnya.

Ketika kesadarannya berangsur pulih, Jenara baru menyadari posisi tubuhnya. Tangannya melingkar di leher Seran, seakan meminta perlindungan dari sesuatu yang tak kasatmata.

“Tenanglah, Jenara. Kau berteriak minta tolong dalam tidurmu," tutur Seran dengan sorot mata cemas.

Panas langsung menjalar ke wajah Jenara. Buru-buru, ia melepas pelukannya dan menarik tubuhnya sedikit menjauh.

"Maaf… aku mengganggumu lagi. Aku bermimpi buruk."

Rasa malu dan canggung bercampur jadi satu dalam diri Jenara. Namun, di luar dugaan Seran justru bergerak mendekat. Lengan pria itu melingkari tubuh Jenara, menariknya masuk ke dalam pelukan yang hangat.

Pikiran Jenara mendadak kosong. Terlebih, ia bisa merasakan detak jantung Seran yang stabil di dekat telinganya.

“Tidurlah lagi, aku menjagamu," kata Seran lembut.

Perlahan, ketegangan di tubuh Jenara mengendur. Ketakutan dari mimpi tadi pudar dalam kehangatan pelukan sang suami. Entah mengapa Jenara merasa aman dalam perlindungan seorang pria yang misterius seperti Seran.

***

Keesokan pagi, Jenara terbangun dengan perasaan segar. Ia menggerakkan tubuhnya pelan-pelan dan baru menyadari satu hal: sisi pembaringan di sebelahnya sudah kosong.

Jenara bangkit setengah duduk. Tatapannya menyapu sudut kamar, lalu berhenti pada secarik daun lontar tipis yang dilipat di samping pembaringan.

Jenara meraihnya dan membaca pelan. Tulisan tangan itu cukup rapi, tetapi tak ada penjelasan tambahan. Kalimatnya singkat, lugas, dan datar, khas Seran.

[Aku pergi mengajak anak-anak ke pasar, sekalian membeli makanan.]

Sudut bibir Jenara terangkat tipis. Ia meletakkan kembali daun lontar itu, lalu melangkah keluar kamar.

Ini waktunya berkunjung ke Rumah Wiji.

Jenara menarik napas dalam-dalam. Tanpa menunda lagi, ia mengambil keranjang gendong anyaman dan melangkah ke kebun belakang. Karena belum ada warga yang lewat, Jenara memutuskan untuk membuka Ruang Wiji di sana.

Begitu pintu hijau muncul di antara pepohonan, Jenara melangkah ke dalam. Kesejukan Ruang Wiji langsung menyelimuti tubuhnya saat ia berjalan menuju barisan rak-rak kayu.

Di beberapa rak, Jenara melihat ada telur bebek mentah, tepung sagu yang dibungkus kain tipis, daun bawang, serta sebuah wadah kecil berisi biji selasih.

Jenara mengernyit bingung. “Apa gunanya semua ini?"

Meski belum sepenuhnya mengerti, Jenara yakin Ruang Wiji tak pernah memberi sesuatu tanpa alasan. Maka, ia pun mengambil semuanya hati-hati dan memasukkannya ke dalam keranjang.

Setelahnya, Jenara melangkah menuju lahan pertanian. Dengan takjub, ia menyaksikan lidah buaya yang kemarin baru berupa tunas kini sudah tumbuh subur. Daunnya tebal, hijau pekat, dengan daging bening yang terlihat padat.

Di sampingnya, temu putih menjulang rendah di balik tanah gembur. Jamur tiram, bayam, wortel, dan ubi ungu pun masih ada di tempatnya, tampak sehat dan terawat.

Jenara berlutut di depan lidah buaya terlebih dahulu. Menggunakan pisau kecilnya, ia memotong pangkal daun secara miring agar tanaman tetap bisa tumbuh kembali.

Selanjutnya, ia beralih ke temu putih. Jenara menggali tanah di sekeliling batang dengan jari-jarinya hingga rimpang pucat itu terlihat. Dengan gerakan hati-hati, ia mengangkat rimpang tanpa merusak akarnya. Lalu, Jenara menutup kembali tanahnya agar tanaman itu bisa tumbuh.

“Cukup untuk hari ini,” bisiknya puas.

Setelah semua selesai, Jenara mengusap antingnya dan Ruang Wiji pun lenyap.

Tanpa berlama-lama, ia meninggalkan kebun dan masuk ke dapur. Rencananya jelas: hari ini, Jenara ingin membuat racikan gel lidah buaya dan temu putih untuk memudarkan tanda lahir di pipinya.

Namun, saat melihat sisa lidah buaya yang masih banyak, sebuah ide lain muncul.

“Aku akan membuat minuman lidah buaya selasih untuk diberikan kepada Kepala Desa. Seran dan anak-anak juga pasti menyukainya," putus Jenara.

Dengan semangat baru, ia mulai mengambil batang lidah buaya. Jenara memotong duri-duri di sisi kanan dan kiri, lalu membelah kulit lidah buaya secara memanjang. Lapisan luar itu terkelupas perlahan, memperlihatkan daging bening yang licin berkilau.

Getah kekuningan yang pahit segera ia bilas di bawah air mengalir. Jenara mencuci potongan itu berkali-kali, menggosoknya lembut agar lendirnya hilang. Setelah bersih, daging lidah buaya dipotong dadu kecil-kecil, kemudian direndam dalam air garam untuk menghilangkan rasa pahit.

Langkah selanjutnya, Jenara menyiapkan periuk tanah liat untuk memasak lidah buaya dengan gula aren dan daun pandan.

Setelah rebusan lidah buaya matang dan berangsur dingin, biji selasih dicampurkan ke dalamnya. Jenara mencicipinya sedikit menggunakan sendok kayu. Ada sensasi manis, dingin dan segar yang langsung menenangkan tenggorokan.

Puas dengan rasa minuman buatannya, Jenara menuangnya ke dua kendi tanah liat. Satu kendi ia isi penuh untuk Kepala Desa dan istrinya. Satu lagi untuk Seran dan anak-anak.

Sebelum pergi, Jenara mengambil selembar daun lontar kering dan sebatang arang kecil. Dengan tulisan rapi, ia menorehkan pesan untuk Seran.

[Aku pergi sebentar ke rumah Kepala Desa. Ada minuman segar untukmu dan anak-anak.]

Tanpa menunda lagi, Jenara mengangkat kendi untuk Kepala Desa dan menyampirkannya dalam keranjang anyaman kecil. Ia berjalan menyusuri jalan desa yang ramai oleh suara ayam dan anak-anak bermain. Sesekali, Jenara bertegur sapa dengan beberapa warga yang lewat.

Namun, semakin dekat dengan rumah Kepala Desa, suasana terasa lebih ramai. Dari kejauhan, Jenara melihat banyak warga berkerumun di depan halaman rumah Kepala Desa. Wajah mereka tampak cemas.

“Ada apa ini?” gumam Jenara penasaran.

1
SENJA
licik lu 🤮
SENJA
lu banyak minta nya
Ulufi Dewi
malam yang keossss ini
Andrea
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Eva Nietha✌🏻
Sangat2 suka karya mu keren thor bikin nagih
Wahyuningsih
yaah akhirnya tamat jga.... dtnggu crita brunya thor hrs lebih bagus dri yg ini 💪💪💪💪💪💪💪 thor dlm berkarya
@Mita🥰
akhirnya happy ending semuanya 😍😍😍
@Mita🥰
Lido nanti jadi koki istana terus si sita atau siapa itu cewek gendut di panggil 🫣
itin
cerita yang bagus
Hary Nengsih
d tunggu karya baru tour
Miaaaoowww😸
ahhhhh love sekebooonnnn😘😘😘
Ita Xiaomi
Keren ceritanya. Jenara tetap giat bekerja dan berusaha meski memiliki ruang dimensi. Setelah menjd Permaisuri pun ia tetap ramah dan baik hati. Memiliki keluarga yg saling menyayangi. Tq Kk ceritanya. Semangat berkarya. Berkah&sukses selalu.
Dewiendahsetiowati
aroma2 mau tamat nih
Ita Xiaomi
Giri dan Gatra msh di desa.
gina altira
Secara tidak langsung RAJENDRA melindungi keponakannya sendiri. 😥
Septi Wijaya
akhirnya.... calon putra mahkota sdh tumbuh dlm rahim jenara😍

to, bagaimana dgn triplets?
Ita Xiaomi
Ndak bs diselamatkan oleh ruang Wiji ya Pangeran Rajendra? 😢
Ita Xiaomi
Sedihnya 😭😭😭
Dandelion
next ka
Dandelion
cie cie cie 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!