Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Hilang
Xiao Xiao merasakan ketegangan yang memuncak di udara. Pemimpin preman itu tertawa meremehkan melihat sosok pria bercaping yang menghalangi jalannya. Ia tidak tahu bahwa pria di balik caping itu adalah "Iblis Perang" yang telah membantai ribuan musuh di perbatasan.
"Oho! Lihat pengawal kecil ini. Berani sekali kau bicara begitu di wilayahku?" Preman itu mengeluarkan pisau lipat dari pinggangnya. "Serahkan gadis itu dan kantong uangmu, atau kau akan pulang dengan tubuh tidak utuh!"
Zhi Chen baru saja akan menarik pedang pendek yang tersembunyi di balik jubahnya, namun tangan Xiao Xiao menahan lengannya. Xiao Xiao melangkah maju dengan tenang, sama sekali tidak tampak ketakutan.
"Tunggu sebentar," ujar Xiao Xiao dengan suara jernih. "Kalian bilang ini wilayah kalian? Berarti kalian tahu siapa yang mengontrol harga gandum di toko besar seberang jalan itu, bukan?"
Para preman itu tertegun sejenak. "Apa hubungannya denganmu, Nona?"
"Hubungannya adalah..." Xiao Xiao mengeluarkan sebuah koin emas—satu dari lima ribu koin ganti rugi kemarin—dan memutarnya di sela jari. "Aku sedang mencari mitra bisnis. Toko gandum itu milik pejabat daerah yang korup. Mereka menimbun makanan rakyat. Jika kalian hanya memeras orang lewat, kalian hanya akan dapat recehan. Tapi jika kalian membantuku membongkar lumbung itu, kalian bisa makan mewah selama setahun."
Mata para preman itu langsung hijau melihat koin emas murni tersebut. Namun, pemimpin mereka masih sangsi. "Kau pikir kami bodoh? Menyerang toko itu sama saja dengan menyerang pejabat kerajaan!"
"Siapa bilang menyerang?" Xiao Xiao menyeringai tipis. "Kita hanya akan melakukan 'inspeksi rakyat'. Pangeran—maksudku, pengawalku ini—punya bukti bahwa gandum di sana adalah gandum ilegal."
Zhi Chen menatap Xiao Xiao dengan dahi berkerut. Ia mengerti sekarang; Xiao Xiao ingin memicu kerusuhan massa untuk memaksa pejabat pro-Permaisuri keluar dari persembunyiannya.
"Jangan dengarkan omong kosongnya! Tangkap mereka!" teriak si pemimpin preman yang mulai kehilangan kesabaran.
Dua preman menerjang maju. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata awam, Zhi Chen mengayunkan kakinya, menendang lutut salah satu preman hingga terdengar bunyi krak yang mengerikan. Pria itu tersungkur sambil melolong kesakitan. Satu preman lagi mencoba menikam, namun Zhi Chen menangkap pergelangan tangannya, memutarnya, dan membanting tubuh besar itu ke tumpukan tong kayu hingga hancur.
Massa di pasar mulai berkerumun. Mereka melihat seorang pengawal hebat sedang menghajar preman pasar yang selama ini menindas mereka.
"Dengar semuanya!" Xiao Xiao berteriak dengan lantang, memanfaatkan momen tersebut. "Toko gandum ini menimbun jatah kalian! Mereka bilang gandum dari Barat hilang, padahal semuanya ada di dalam gudang belakang toko ini untuk dikirim ke meja makan para pejabat tinggi!"
Provokasi itu seperti api yang menyambar bensin. Rakyat yang sudah lapar dan menderita selama berbulan-bulan mulai berteriak marah.
"Buka gudangnya! Kami ingin makan!" seru salah seorang warga.
Pemilik toko gandum keluar dengan wajah pucat, memerintahkan penjaga pribadinya untuk menghalau massa. Namun, jumlah rakyat terlalu banyak. Zhi Chen memanfaatkan kekacauan itu untuk mendekati Xiao Xiao.
"Kau memulai kerusuhan besar, Xiao Xiao. Jika penjaga kota datang, kita bisa ikut ditangkap," bisik Zhi Chen di balik capingnya.
"Itulah rencananya," sahut Xiao Xiao. "Lihat ke sana."
Dari ujung jalan, terlihat sepasukan penjaga kota dengan seragam resmi berlari mendekat. Namun, yang mengejutkan adalah pemimpinnya—seorang perwira muda yang wajahnya tampak sangat mirip dengan salah satu menteri yang namanya tercatat dalam memorial korupsi semalam.
Xiao Xiao menarik Zhi Chen masuk ke dalam gang sempit untuk mengamati dari jauh. "Perwira itu adalah putra Menteri Keuangan. Dia datang bukan untuk menghentikan kerusuhan, tapi untuk mengamankan barang bukti sebelum rakyat menjarahnya."
Zhi Chen mencengkeram hulu pedangnya. "Aku bisa menghabisi mereka sekarang juga."
"Jangan sekarang," tahan Xiao Xiao. "Kita sudah punya fotonya—ah, maksudku, aku sudah mengingat wajah setiap orang yang terlibat di sini. Kita akan menggunakan Selir Agung yang ada di paviliunmu untuk mengonfirmasi bahwa perwira ini adalah kurir uang ilegal Permaisuri."
Setelah keadaan semakin kacau, Xiao Xiao dan Zhi Chen kembali ke kereta kuda mereka secara diam-diam. Di dalam kereta, Zhi Chen melepaskan capingnya. Keringat membasahi dahi dan lehernya yang penuh bekas luka.
"Kau benar-benar tidak takut mati," ujar Zhi Chen, menatap Xiao Xiao dengan intens. "Tadi kau hampir saja ditusuk jika aku tidak bergerak cepat."
"Aku tahu Anda tidak akan membiarkan 'investasi' Anda terluka, Pangeran," balas Xiao Xiao santai sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Zhi Chen tiba-tiba meraih tangan Xiao Xiao, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Berhentilah menyebut dirimu investasi. Kau adalah istriku, entah kau menyukainya atau tidak. Jangan pernah melakukan hal berbahaya seperti itu lagi tanpa perintahku."
Xiao Xiao tertegun melihat kilatan emosi di mata merah Zhi Chen. Bukan kemarahan, tapi sesuatu yang menyerupai rasa protektif. Xiao Xiao tersenyum tipis, tidak gentar sama sekali.
"Kalau begitu, pastikan Anda selalu berada di sampingku, Pangeran. Karena besok pagi, Permaisuri akan mencari siapa yang memicu kerusuhan di toko gandumnya, dan kita harus punya alibi yang sempurna."
Kereta kuda itu melaju kembali menuju istana, membawa dua orang yang kini mulai bergerak sebagai satu tim yang mematikan. Namun, saat mereka sampai di gerbang paviliun utama, Mao berlari menghampiri dengan wajah ketakutan.
"Nona! Pangeran! Selir Agung... dia menghilang dari kamar rahasia! Dan ada pesan berdarah di dinding!"
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️