NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Jalan yang Tidak Mengizinkan Kembali

Gudang senjata BALLERINA MURDERER sunyi seperti makam.

Lampu-lampu putih menggantung rendah, memantulkan kilau dingin pada dinding baja dan rak-rak besi yang dipenuhi senjata. Setiap sudut ruangan seolah menyimpan rahasia yang tidak pernah ingin diceritakan. Bella Shofie berdiri di tengah ruangan itu, menatap perlengkapan yang akan menemaninya menuju Gunung Salak—tempat yang bahkan para pembunuh bayaran paling berani pun enggan sebut namanya.

Ia tidak memilih senjata secara acak.

Pistol pendek dengan peredam, ringkas dan presisi, tergenggam erat. Pisau tipis bermata ganda, ringan dan cepat, siap untuk setiap keadaan. Satu senjata jarak menengah, bukan untuk pamer, tetapi untuk situasi terburuk, bila segalanya tidak berjalan sesuai rencana.

Bella mengenakan pakaian hitam tanpa logo, tanpa kilau. Jaket tebal untuk menghadapi dingin pegunungan. Sepatu yang telah menemaninya bertahun-tahun—cukup lentur untuk bergerak, cukup kuat untuk bertahan dalam kondisi ekstrim. Ia mengamati peralatan itu dengan mata yang matang, bukan sebagai gadis yang takut, tetapi sebagai pemburu yang siap menanggung setiap konsekuensi.

Di meja kecil, peta Gunung Salak terbentang. Jalur-jalur tipis menandai rute rahasia. Titik-titik hitam tanpa nama menunggu untuk dipecahkan. Area yang bahkan satelit enggan membaca. Bella menutup peta itu, merasakan berat tanggung jawabnya, dan memasukkannya ke dalam tas.

Ia menarik napas panjang. Perjalanan ini bukan misi. Bukan kontrak. Bukan tentang uang. Ini tentang darah yang belum terbalas, tentang janji yang tak terucap, tentang sebuah keadilan yang hanya bisa ditebus dengan langkah berani.

Pintu gudang terbuka.

Madam Doss masuk tanpa suara, seperti bayangan yang bergerak sendiri. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Bella. Tidak ada senyum. Tidak ada emosi. Hanya ketenangan yang menakutkan.

“Kau akan pergi,” kata Madam Doss datar. Itu bukan pertanyaan. Itu perintah.

Bella mengangguk.

“Gunung Salak.”

Madam Doss berjalan mendekat, tangannya menyentuh meja senjata, berhenti di antara pisau dan pistol seolah menilai apakah Bella benar-benar siap.

“Gagashit bukan target,” katanya.

“Mereka adalah akhir.”

Bella tidak berpaling.

“Ayahku mati karena mereka.”

Madam Doss menatapnya lama.

“Dan banyak yang mati karena mencoba mendekati mereka.”

Bella akhirnya menoleh.

“Aku bukan banyak orang.”

Madam Doss menyipitkan mata.

“Kau pikir keberanian cukup?” tanyanya. “Kau pikir semua yang kau pelajari di sini cukup untuk melawan sesuatu yang bahkan dunia bawah tidak berani sentuh?”

“Tidak,” jawab Bella jujur. “Tapi aku tidak punya pilihan.”

Keheningan menggantung di udara.

Madam Doss menghela napas pelan, hampir tak terdengar.

“Kalau kau melangkah melewati gerbang ini,” katanya, “aku tidak akan bisa menarikmu kembali.”

“Aku tidak minta ditarik,” jawab Bella.

Madam Doss mengangguk kecil.

“Kalau begitu,” ucapnya, “kau harus membuktikan satu hal sebelum pergi.”

Bella mengerutkan kening.

“Membuktikan apa?”

Madam Doss berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Bahwa kau layak hidup cukup lama untuk sampai ke sana.”

Pintu tertutup.

Beberapa menit kemudian, Bella sudah berada di jalan utama. Mobil hitamnya melaju menembus malam yang dingin dan hening. Kota tertinggal di belakang. Lampu-lampu makin jarang. Jalanan panjang dan sunyi seolah mengantar siapa pun menuju keputusan terakhirnya.

Bella merasakan sesuatu. Bukan firasat, bukan ketakutan. Ini adalah perhitungan yang matang, insting yang diasah bertahun-tahun.

Spion menangkap cahaya lain. Satu mobil. Lalu dua. Kecepatan mereka sama, jarak mereka terukur. Bella tidak mempercepat laju. Ia hanya mengamati.

Ia berbelok ke jalan yang lebih sempit—dan mereka mengikutinya.

Ia tahu. Ini bukan serangan acak. Ini ujian.

Mobil pertama memotong dari depan. Mobil kedua menutup dari belakang. Bella mengerem dan memutar setir, berhenti di tengah jalan kosong yang diapit pepohonan gelap dan bayangan yang mengintai.

Pintu-pintu mobil terbuka.

Enam orang turun. Seragam hitam, senjata lengkap. Gerakan mereka rapi, terlatih, tanpa kata-kata.

Salah satu dari mereka maju selangkah. “Perintah Madam,” katanya singkat. “Bertahan.”

Bella membuka pintu mobil dan turun.

“Baik,” jawabnya tenang.

Serangan dimulai tanpa aba-aba. Peluru menghantam aspal di dekat kakinya. Bella bergerak cepat, berlindung di balik kap mobil. Ia tidak membalas dengan tembakan—ia menunggu jarak, mengamati celah, menilai kekuatan lawan.

Satu musuh mendekat terlalu cepat.

Bella keluar dari balik perlindungan, memutar tubuhnya, dan menghantam pergelangan tangan lawan dengan tendangan cepat. Senjata jatuh. Pisau Bella menyambar, tidak mematikan, hanya melumpuhkan.

Dua lainnya menyerang bersamaan. Bella melompat ke samping, memanfaatkan ruang sempit. Gerakannya seperti tarian—ringan, mengalir, namun setiap hentakan menyimpan niat.

Tinju bertemu tulang. Tendangan menyapu kaki. Putaran tubuh memberi tenaga pada setiap serangan. Namun jumlah mereka tetap menekan, menuntut lebih dari sekadar keterampilan.

Satu peluru menyentuh lengan Bella—goresan panas yang membuat darah mengalir perlahan. Ia meringis, namun tetap bergerak. Ia tidak berhenti. Tidak boleh.

Ia mengingat kata Madam Doss: bertahan.

Bella menjatuhkan satu lawan. Lalu satu lagi. Napasnya berat, ototnya menjerit, tapi ia tetap berdiri, tetap menggerakkan tubuhnya seperti mesin yang terlatih.

Musuh terakhir maju lebih tenang, lebih berhitung. Mereka bertarung tangan kosong. Pukulan bertemu pukulan. Bella terpental ke tanah, bangkit lagi. Balet menjadi panduan—langkah kecil, sudut tubuh, keseimbangan. Tinju menjadi bahasa.

Akhirnya, lawan itu jatuh berlutut.

Bella berdiri di tengah jalan. Dadanya naik turun. Darah menetes dari luka kecil di lengannya.

Senyap.

Dari balik kegelapan, Madam Doss muncul. Ia menatap Bella, dari kepala hingga kaki, menilai bukan hasil, melainkan cara.

“Kau terluka,” katanya.

“Tapi berdiri,” jawab Bella.

Madam Doss mengangguk.

“Dengar aku baik-baik,” ucapnya keras. “Gunung Salak bukan tempat untuk marah. Di sana, kemarahan membuatmu mati cepat.”

Bella menatapnya.

“Apa yang harus kubawa?”

Madam Doss mendekat, menurunkan suaranya.

“Disiplin,” katanya. “Kesabaran. Dan kesediaan untuk pergi… tanpa kembali.”

Bella terdiam sesaat. Lalu berkata, “Aku mengerti.”

Madam Doss memberi isyarat. Pasukannya mundur, masuk kembali ke mobil mereka.

Sebelum pergi, Madam Doss berhenti di depan Bella.

“Jika kau bertemu mereka,” katanya, “jangan cari keadilan.”

“Apa yang harus kucari?”

“Kebenaran,” jawabnya. “Karena hanya itu yang akan menentukan apakah kau masih manusia… atau sudah menjadi sesuatu yang lain.”

Mobil-mobil itu pergi, meninggalkan Bella sendirian di jalan gelap.

Bella kembali ke mobilnya. Menyalakan mesin, menarik napas dalam, dan melaju kembali—menuju pegunungan, menuju salju, menuju nama yang tidak disebut.

Gunung Salak menunggunya.

Dan Bella Shofie tahu, jalan ini tidak mengizinkan kembali—hanya maju, atau hilang.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!