Cerita ini menceritakan tentang. Seorang lelaki yang selalu disuruh agar cepat mencari pendamping di umurnya yang hampir mengajak ke 29tahun.
Bagaimana kah kisah selanjutnya!
apakah dia bisa mencari seorang wanita idaman keluarganya?
Atau justru dia harus menerima perjodohan dari keluarganya?
Semakin aku sering bersamanya.
Maka semakin besar rasa cinta yang ku berikan kepadanya.
Semakin besar cintaku padanya.Maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kurasakan nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja.21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persatuan Kakak ipar dan Adik ipar.
"Asisten Ayan tolong bawa Tuan Adit..." ucap Zila yang memberi saran kepada Ayan.
"Aku akan menelpon polisi untuk wanita ini," ucap Zila melirik ke arah sekretaris Dinda.
"Ayolah cepat asisten Ayan!" ucap Zila kepada Ayan agar membawa Kakak iparnya pulang.
Asisten Ayan pun menyetujui ucapan Zila. Adit jangan di tanya lagi dia sudah kepanasan gara-gara perang**ng yang Dinda berikan padanya.Namun langkah Ayan terhenti terkala ada suara wanita menghentikannya.
"Tunggu Tuan Ayan," ucap wanita itu membuat Ayan membalikkan badannya yang sedang memegangi Adit.
"Kenapa Nona Zila, mengapa anda menghentikan kami, bukankah tadi anda bilang agar saya mengajak Tuan Adit pulang," ucap Ayan.
"Saya rasa ini sudah cukup Tuan Adit." ucap Zila sambil tersenyum miring.
Apa maksudnya sudah cukup. Batin Dinda.
Adit yang tangannya semula di bahu Ayan perlahan dia melepaskannya.
Ayan yang melihat hal itupun terkejut.
"Gimana Zil? Apa akting saya bagus?" tanya Adit dengan keadaan yang berbeda dari tadi.
Apa ini! Kenapa Tuan Adit tidak kenapa-napa. Bukankah tadi aku sudah memberikan peran*sang dalam minuman itu dan bukankah tadi dia meminum kopinya.Batin Dinda yang sudah ketakutan.
"Wah...Tuan Adit aku rasa Kim Bum kalah jika harus berakting dengan anda..." ucap Zila kepada Kakak iparnya.
Apa-apaan ini! Kenapa aku belum mengerti maksud dari Kakak ipar dan adik ipar ini. Batin Ayan yang tidak tahu apa maksud keduanya.
"Saya tahu pasti anda bertanya-tanya, mengapa saya tidak terpengaruh dengan obat yang anda masukan ke dalam kopi saya, iya kan sekertaris Dinda?" tanya Adit sambil mengelilingi sekertaris Dinda.
"Ceritakan lah Tuan Adit," ucap Zila.
"Saya rasa anda tidak sabar Zil!Mendengarkan cerita dari saya! Baiklah kalau begitu," ucap Adit.
Flashback off
Waktu Zila memepetkan tubuhnya ke tembok. Waktu itu Zila menggunakan untuk mengirim pesan kepada seseorang itu.
Drtd.... Drtd.... Bunyi pesan masuk dari ponsel Adit.
💬 Xxxxx nomor tidak dikenal.
Gege ini Zila adik ipar! Gege tolong jangan minum kopi yang dibuat sekretarisnya Gege Ya! tadi Zila tidak sengaja melihat dia mencampurkan sesuatu ke kopi itu seperti obat peran*san*
Adit yang membaca pesan itupun sedikit kaget.
Drtd... Drtd
💬Xxxxx nomor tidak dikenal.
Gege! Zila punya ide. Gimana kalau Gege pura-pura terangsan*."
💬 Me.
Caranya Zil.
💬Xxxxx nomor tidak dikenal.
Nanti kalau sekertaris Gege masuk ke ruangan dan memberi kopi itu buat Gege. Coba alihkan dia dengan sesuatu hal. Dan disitulah Gege harus bisa menumpahkan atau apapun itu yang membuat kopi itu sedikit berkurang.
Adit yang membaca pesan dari Zila itu membuatnya berpikir apa yang harus dia lakukan.
Baiklah akan aku ikuti cara main mu.Batin Adit sambil berputar-putar di kursi.
Tok... Tok....
"Masuk!" ucap Adit dari dalam.
"Permisi Tuan, ini kopi yang anda pesan." ucap Dinda.
"Taruhlah di sini," ucap Adit menepuk meja kerjanya.
"Baiklah Tuan," ucap Dinda.
"Oh ya Din, tolong ambilkan saya koran di meja dekat sofa," ucap Adit.
"Baiklah Tuan," ucap Dinda sambil berjalan kearah meja, untuk mengambilkan koran yang di maksud atasannya. Saat Dinda berjalan kearah sofa waktu itu digunakan Adit untuk menumpahkan kopinya di lantai.
Dinda yang membalikkan badannya, karena sudah mendapatkan koran untuk Adit. Dia tersenyum saat dia melihat kopi yang dia buatkan untuk atasannya itu sedikit berkurang.
Sekertaris bodo* . Apa kau kira aku meminumnya! It's so time. Batin Adit."
"Apa yang anda masukan ke kopi
saya?"tanya Adit yang sudah tidak nyaman lagi dengan kondisinya sekarang. Dinda dengan tidak tahu dirinya dia membuka kancing kemejanya.
"DINDA APA YANG KAU MASUKAN DALAM KOPI SAYA!" bentak Adit.
Sebelum Dinda mendekat kepada Adit. Pintu di dobrak paksa oleh asisten Ayan.
Brakkkk!.
Flashbackon.
"Gimana Din, apa anda terkejut?" tanya Adit yang sudah duduk di sofa sambil menumpang kan kakinya ke kaki satunya lagi.
"Sa-saya minta maaf Tuan," ucap Dinda yang sudah bersimpuh di kaki Adit.
"Maaf anda bilang, Hahahaha...." ucap Adit yang ketawa membuat semua yang ada di sana ngeri tapi tidak untuk Zila.
"Apa anda tahu! Obat itu bukan hanya untuk m*rangsan* tapi obat itu bisa membuat saya kehilangan nyawa saya, jika anda mengasih dosis tinggi! " bentak Adit sambil memegang dagu Dinda.
"Tu-Tuan ma-maafkan sa-ya," ucap Dinda yang terbata-bata, sambil mengeluarkan air mata karena cengkraman tangan Adit ke dagunya.
"Dinda, Dinda saya tidak akan memaafkan anda, atas dasar apa saya harus memaafkan anda, hah!" tanya Adit yang masih mencengkram dagu Dinda.Zila dan Ayan hanya melihat pertunjukan itu secara gratis.
"Sa-saya di su-ruh or-rang Tu-Tuan," ucap Dinda yang terbata-bata.
"Siapa yang menyuruhmu KATAKAN!" ucap Adit dengan raut wajah yang begitu menyeramkan menurut Dinda.
"Sa-saya ti-dak ta-hu Tu-Tuan," ucap Dinda.
"Omong kosong! Kenapa kau tidak tahu, hah!" ucap Adit yang ingin tahu siapa orang yang menyuruh sekertaris ini.
"Be-benar Tu-Tuan, ta-di malam ada or-ang ya-ng me-nele-pon saya, dia meng-ajak ker-ja sa-ma di-a bil-lang kal-au ker-ja sa-ma i-ni sa-saling meg-untu-ngkan," ucap Dinda yang tak bisa lancar bicara.
"Tuan Adit tolong periksa ponsel wanita ini, siapa tahu kita bisa mengetahui siapa orang yang mengajaknya kerja sama," ucap Zila.
"Mana ponsel kau berikan ke saya," icap Adit yang sudah melepaskan cengkraman tangannya yang ada di dagu Dinda.
Dinda pun memberikan ponselnya kepada Adit.
"Ini Tu-Tuan," ucap Dinda sambil memberikan ponselnya kepada Adit dan Adit menerimanya.
Dia pun mengecek panggilan terakhir dan untungnya belum dihapus Dinda.
"Gimana Tuan?" tanya Zila.
"Masih ada!" jawab Adit.
"Berikan kepada saya, saya akan meminta seseorang untuk mengetahui pemilik nomor itu!" ucap Zila berjalan kearah Adit.
"Ini Zil..." ucap Adit sambil memberikan ponsel milik Dinda.
Zila memfoto nomor yang ada di ponsel itu dan mengembalikan ke Adit. Kemudian dia menelpon seseorang
Panggilan tersambung!
"Halo Bang," ucap Zila.
"Iya Zil ada apa?" tanya orang itu.
"Tolong cari tahu siapa pemilik nomor yang sudah Zila kirimkan tadi Bang,"ucap Zila kepada pria yang dipanggil Abang.
" Baik Zil..."ucap pria yang dipanggil Abang oleh Zila.
Panggilan terputus!.
"Tunggu Tuan Adit, mungkin berapa menit lagi anda akan tahu siapa pemilik nomor itu," ucap Zila dan di jawab anggukan oleh Adit.
Saya rasa adik ipar sama Kakak ipar ini sangat kejam jika di satukan, tapi saya rasa Nona Zila sama Nona muda enggak ada bedanya jika masalah memberi pelajaran, lihat saja waktu itu bagaimana cara Nona muda menghajar Yohanes. Batin Ayan yang negeri.
Drtd...Drtd... Ponsel milik Zila berbunyi menunjukkan bahwa ada pesan masuk.
Zila pun melihat itu dan membaca pesan tersebut.
"YO-HA-NES ATMAJAYA,"ucap Zila membuat Adit dan Ayan saling menatap.
"Sudah ku duga Yan, dialah orang yang dibalik ini semua,"ucap Adit kepada Ayan.
" Saya rasa dia begitu bo*oh Tuan, karena yang nomor dia pakai bisa di deteksi."ucap Ayan.
"Permisi Tuan." ucap polisi yang tadi di panggil buat nangkap Dinda.
"Iya Pak." Ucap Ayan.
Setelah polisi itu membawa Dinda. Sekarang hanya ada Zila Adit dan Ayan yang tinggal di ruangan itu.
"Oh iya Tuan Adit, saya sampai lupa apa tujuan saya kemari, saya di suruh ngasih ini buat Tuan Adit," ucap Zila yang memberikan rantang kepada Adit.
"Dari siapa Zil?" tanya Adit kepada adik iparnya.
"Dari Ibu," jawab Zila.
"Sampaikan terima kasih, saya kepada Ibu," ucap Adit.
"Oke Siap!" ucap Zila.
"Oh ya Zil, ngomong-ngomong Zila kok bisa tahu nomor saya dari mana?" tanya Adit karena dia tidak pernah mengasih nomor teleponnya kepada Zila.
"Hehehehe, waktu itu Zila pinjam ponsel Ayah, enggak sengaja ada nama Tuan Adit, jadi saya salin ke ponsel milik Zila," jawaban dari Zila membuat Adit menggelengkan kepala.
TBC....
ceritanya bagus
walau tidak selurus jalan raya
terima kasih untuk author
yang sudah buat cerita nya bagus
dan agak dikit lain.
🙏🙏
sukses selalu buat authornya
Tuhan memberkati selalu🙏
salam kenal 🙏