NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYATUAN DUA HATI.

Lampu-lampu di kantor A-Games Surabaya masih berpijar terang saat jarum jam menyentuh angka empat sore. Adam mengusap wajahnya yang kusam, menyesap sisa kopi dingin yang sudah kehilangan aromanya. Selama hampir dua puluh empat jam, jemarinya tidak berhenti menari di atas papan ketik untuk merapikan sistem keamanan gim terbaru mereka sebelum ia benar-benar bisa lepas dari urusan Surabaya.

"Semua sudah sinkron, Bos. Anda bisa pulang sekarang," ujar Rian sambil meletakkan map terakhir di meja.

Adam mengangguk, menyambar kunci mobilnya tanpa banyak bicara. Ia memacu kendaraannya menembus kemacetan, lalu menempuh perjalanan udara menuju Jakarta dengan sisa tenaga yang ada. Pukul delapan malam, ia melangkah masuk ke rumah besar keluarga Syaputra. Suara denting sendok dan piring dari ruang makan menyambut kehadirannya.

"Adam, kau sudah pulang? Ayo makan dulu, Nak," ajak Asnita saat melihat menantunya muncul dengan kemeja yang sudah kusut di bagian siku.

Adam memaksakan sebuah senyum tipis, meski kelopak matanya terasa seberat timah. "Maaf, Ma. Adam langsung ke kamar saja. Ingin mandi, rasanya badan sudah lengket sekali."

Asnita memperhatikan langkah gontai Adam dengan tatapan prihatin. Ia menyenggol lengan Aurel yang duduk di sampingnya. "Adel, buatkan wedang jahe panas. Suamimu itu sudah pucat sekali. Bawa ke kamar, jangan sampai dia jatuh sakit."

Aurel mengangguk patuh. Di dapur, ia meracik jahe, serai, dan sedikit madu dengan perasaan yang berdebar. Aroma rempah yang menenangkan itu menguap bersama uap panas. Dengan nampan di tangan, ia melangkah menuju kamar lantai atas.

Saat Aurel mendorong pintu, ia tidak menemukan Adam di kamar mandi. Suaminya itu justru sudah terkapar di atas ranjang dengan posisi miring. Adam masih mengenakan kaus oblong putih, dan yang membuat Aurel cemas adalah rambut suaminya yang masih basah kuyup, membasahi bantal.

"Adam, bangun. Minum dulu ini," bisik Aurel sambil meletakkan nampan di meja nakas.

Adam hanya mengerang pendek tanpa membuka mata. Deru napasnya terdengar berat, tanda kelelahan yang luar biasa. Aurel menghela napas, ia mengambil handuk kering dan duduk di tepi ranjang. Dengan gerakan perlahan, ia mulai mengusap rambut hitam Adam yang tebal dengan sangat lembut.

"Nanti kau masuk angin kalau tidur dengan rambut basah begini, Adam," gumam Aurel pelan.

Setelah rambut itu mengering, Aurel tidak beranjak. Ia meletakkan handuknya, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di samping Adam. Ada dorongan kuat di hatinya untuk memberikan kenyamanan yang nyata. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Adam, memeluk suaminya dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung kokoh itu dan menghirup aroma maskulin yang bercampur sisa air mandi.

"Jangan menggoda aku, Kak Adel," suara Adam terdengar lirih, serak karena kantuk, namun matanya tetap terpejam. "Aku sedang terlalu lelah untuk menahan sesuatu yang belum bisa aku gapai. Jangan buat aku kehilangan kendali diri."

Aurel tertegun sejenak. Ia mempererat pelukannya, menempelkan dada ke punggung Adam seolah ingin membagikan detak jantungnya sendiri. "Mengapa harus ditahan, Adam? Bukankah aku milikmu? Bukankah kau suamiku?"

Mata Adam seketika terbuka lebar. Kantuk yang tadi menggelayuti syarafnya seolah menguap terbakar oleh pengakuan itu. Ia membalikkan tubuh dengan cepat, menatap langsung ke dalam manik mata Aurel yang kini berkilau oleh cahaya lampu tidur yang temaram. Jarak wajah mereka hanya hitungan sentimeter.

"Apa itu artinya aku boleh? Benar-benar boleh?" Adam bertanya dengan isyarat mata yang dalam, suaranya kini lebih rendah, berat, dan penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Aurel meremang indah.

Aurel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, memberikan izin yang selama ini ditunggu-tunggu oleh suaminya dengan penuh kesabaran. Tanpa membuang waktu, Adam mengangkat tubuh Aurel ke tengah tempat tidur dengan satu gerakan mantap, memposisikan dirinya tepat di hadapan wanita yang dicintainya itu.

Meskipun gairah mulai menyelimuti ruangan, Adam berhenti sejenak. Ia memegang kedua sisi wajah Aurel, menatapnya dengan ketulusan yang luar biasa. Jemarinya mengusap lembut pipi Aurel yang memerah.

"Apa benar sudah boleh, Adel? Aku tidak ingin kau melakukannya karena kasihan padaku. Aku ingin kau melakukan ini karena kau benar-benar menginginkanku sebagai lelakimu," Adam memastikan sekali lagi.

"Aku milikmu, Adam. Selamanya milikmu. Aku siap," jawab Aurel mantap, tangannya terangkat untuk membelai rahang tegas Adam.

Adam mengembuskan napas lega yang panjang. Sebelum melangkah lebih jauh, ia menundukkan kepala dan membisikkan doa dengan khusyuk di dekat telinga Aurel, memohon keberkahan untuk penyatuan mereka. Setelah itu, ia mendaratkan kecupan lembut yang sangat lama di dahi Aurel.

"Ini milikku," ucap Adam lirih, suaranya bergetar karena emosi.

Ia turun ke ujung hidung Aurel, mengecupnya singkat dengan penuh kasih. "Ini milikku."

Terakhir, ia menatap bibir Aurel "Ini juga milikku" ucapnya sebelum menyatukan tautan mereka. Lalu ia menyatukan bibirnya dengan bibir Aurel, kedalam kemesraan yang penuh rasa syukur. Malam itu, dinding keraguan soal usia dan masa lalu benar-benar runtuh, lebur menjadi satu dalam kehangatan yang sakral. Mereka menyatu dalam harmoni yang tenang, mengubah kamar yang tadinya penuh canggung menjadi oase cinta yang paling nyata.

Beberapa waktu berlalu, suasana kamar kini dipenuhi ketenangan. Adam masih enggan melepaskan pelukannya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Aurel, memposisikan dirinya dengan manja layaknya anak kecil yang menemukan tempat teraman di dunia. Tangannya melingkar posesif di pinggang istrinya, tidak membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.

"Kau sangat manja malam ini, Adam. Di mana CEO yang dingin dan tegas itu?" goda Aurel sambil mengelus rambut hitam Adam yang kini sudah benar-benar kering.

"CEO itu sedang cuti," sahut Adam dengan nada kekanakan yang menggemaskan, wajahnya semakin terbenam di ceruk leher Aurel. "Aku sudah bekerja mati-matian di Surabaya hanya agar bisa secepat ini pulang dan melakukan ini bersamamu. Jangan protes."

Aurel tertawa renyah, ia mencium puncak kepala Adam. "Terima kasih sudah menjagaku dengan sangat sabar selama ini, Adam. Terima kasih sudah menungguku sampai aku siap."

Adam mendongak sedikit, mencuri satu kecupan singkat di bibir Aurel. "Menunggumu adalah hal termudah yang pernah kulakukan, karena tujuannya adalah kamu."

Badai yang Kembali Datang

Kemesraan yang begitu indah itu tiba-tiba terinterupsi oleh getaran keras ponsel Adam di atas meja nakas. Adam mengerang protes, tangannya semakin erat memeluk Aurel seolah tidak ingin diganggu oleh siapapun di dunia ini. Namun, panggilan itu terus berulang hingga lima kali, memecah kesunyian malam.

"Angkatlah, Adam. Siapa tahu ada masalah mendesak di kantor," ujar Aurel lembut sembari mendorong bahu Adam pelan.

Adam meraih ponselnya dengan malas. Begitu ia melihat nomor yang tertera adalah nomor asing yang tidak dikenal, keningnya berkerut tajam. Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. Suara di seberang sana terdengar kasar dan penuh intimidasi, diiringi suara rintihan yang sangat dikenal Adam.

"Adam Ashraf? Jika kau ingin melihat adik iparmu yang sombong ini tetap hidup, datanglah ke pabrik semen tua di pinggiran kota sekarang juga. Ansel ada di tangan kami. Jangan coba-coba memanggil polisi!"

Wajah Adam yang tadinya penuh ketenangan dan manja, seketika berubah menjadi tegang dan keras. Ia segera terduduk di tempat tidur, otot-otot lengannya mengencang seketika.

"Siapa ini?" tanya Adam dingin, auranya berubah menjadi sosok pelindung dalam sekejap.

"Teman lama Denis Subandi. Datang sendiri, atau kau akan menerima jenazah Ansel sebagai hadiah pagi," klik. Sambungan terputus.

Aurel menatap suaminya dengan wajah cemas. "Ada apa, Adam? Wajahmu berubah sekali."

"Ansel diculik anak buah Denis," jawab Adam sambil mulai menyambar pakaiannya dengan gerakan cepat dan efisien. "Mereka menjadikannya umpan untuk menjebakku. Kau tetap di sini, Adel. Kunci pintu dan jangan keluar sampai aku kembali. Aku harus menyelamatkan adikmu."

Malam yang baru saja dipenuhi kasih sayang itu kini kembali berubah menjadi medan pertempuran. Adam melangkah keluar kamar dengan tatapan mata yang tajam, meninggalkan kehangatan demi tanggung jawab sebagai lelaki di keluarga itu.

1
sry rahayu
🥹
sry rahayu
kasian Arumi
sry rahayu
😄
sry rahayu
syukurlah
sry rahayu
good luck adam
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wah nih mulut belom pernah makan sambel setan level neraka ya..... enak sekali ngomong nya
sry rahayu
selalu nunggu up nya thor
Trie Vanny
Selalu hadir untuk mendukung karya kakakku ini👍👍👍🤭
Ramanda.: Terimakasih Adikku 😍😍. Aku selalu padamu muachh.😘😘
total 1 replies
sry rahayu
semangat 💪
Irni Yusnita
semua cerita yg kau buat selalu bagus dan menarik 👍 lanjut Thor 👍
Wandi Fajar Ekoprasetyo
Weh singkat sekali langsung terkuak kasus yg udh lama.......Hem..... kira² ada balas dendam apa lagi nih dr keluarga Denis
Wandi Fajar Ekoprasetyo
semangat kak othor.....d tunggu up nya
Wandi Fajar Ekoprasetyo
mulai goyah pertahan Aurel
Wandi Fajar Ekoprasetyo
wajah tenang penuh dendam
Ai Sri Kurniatu Kurnia
hadir
Lia siti marlia
hadir thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!