Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Pagi itu, atmosfer di apartemen Arga dan Nabila terasa seperti sebuah ruang pengadilan yang sunyi. Setelah keributan di lobi kantor dan ancaman mutasi yang menggantung di udara, komunikasi di antara keduanya menjadi sangat terbatas.
Arga memilih tidur di sofa, sebuah keputusan yang diambilnya bukan karena diusir, melainkan karena ia merasa tidak layak untuk berbaring di samping wanita setulus Nabila sementara pikirannya terus dikotori oleh ancaman Siska.
Sekitar pukul sembilan pagi, saat Arga baru saja berangkat ke kantor dengan hati yang bimbang, bel pintu apartemen berbunyi. Nabila, yang sengaja mengambil cuti untuk menenangkan diri, membuka pintu. Seorang kurir ekspedisi khusus berdiri di sana, membawa sebuah kotak kayu hitam kecil dengan pita beludru merah.
"Kiriman untuk siapa?" tanya Nabila.
"Ini untuk Bapak Arga Mandala. Tapi Ibu sebagai istrinya bisa menerima," jawab kurir tersebut.
Nabila menerima kotak itu. Tidak ada kartu ucapan di bagian luar, namun kotak itu menebarkan aroma yang sangat ia kenal, aroma lily dan white musk. Aroma Siska.
Nabila membawa kotak itu ke meja makan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pitanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mewah merek Patek Philippe berbahan platinum yang berkilau di bawah lampu ruangan.
Jam itu harganya setara dengan satu unit apartemen menengah. Namun, bukan harganya yang membuat jantung Nabila seolah berhenti berdetak.
Ia membalikkan jam tangan itu. Di bagian belakang case platinum yang halus, terdapat ukiran laser yang sangat rapi - 'A & S - Our Time is Eternal'.
Nabila terduduk. Inisial itu bukan sekadar huruf. Itu adalah konfirmasi atas semua kecurigaannya. 'S' untuk Siska. 'A' untuk Arga. Dan kata 'Eternal' atau abadi menunjukkan bahwa ada sesuatu yang pernah terjalin jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan atasan dan bawahan.
Arga pulang sore itu dengan perasaan tidak enak. Ia telah memutuskan untuk menolak tawaran ke Singapura, apa pun risikonya. Ia masuk ke apartemen, berniat memeluk Nabila dan mengatakan bahwa ia lebih baik dikirim ke Papua daripada kehilangan kepercayaan istrinya.
Namun, pemandangan di ruang tamu membuatnya terpaku. Nabila sedang duduk di meja makan, menatap lurus ke arah jam tangan yang diletakkan di tengah meja.
"Mas, bisakah kau jelaskan apa arti 'A dan S' yang abadi ini?" suara Nabila terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru lebih menakutkan daripada teriakan.
Arga melangkah mendekat, melihat jam tangan itu, dan seketika ia merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar. Siska benar-benar melakukannya. Dia mengirimkan bukti fisik masa lalu mereka langsung ke jantung pertahanannya.
"Nabila, aku bisa jelaskan..."
"Berhenti, Arga!" Nabila berdiri, matanya yang berkaca-kaca kini menatap tajam. "Jangan katakan ini salah kirim. Jangan katakan ini inventaris kantor. Dan jangan katakan ini hanya imajinasiku. Jam tangan ini adalah replika dari jam tangan yang ada di foto wisuda yang wajah prianya dipotong itu, kan? Jam yang kau bilang hilang atau rusak?"
Arga menunduk. Tembok kebohongan yang ia bangun dengan susah payah selama ini, kini runtuh sepenuhnya. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
"Iya," bisik Arga. "Siska adalah masa laluku."
Nabila menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai jatuh. "Kapan, Arga? Dan sampai sejauh mana?"
"Sepuluh tahun lalu. Saat kita masih kuliah, sebelum aku mengenalmu. Kami berencana menikah. Kami berencana pergi ke London bersama," Arga mulai bercerita, suaranya parau oleh penyesalan. "Tapi dia mengkhianatiku. Dia memilih beasiswanya, dia membunuh... dia melakukan aborsi terhadap janin kami tanpa sepengetahuanku, lalu pergi meninggalkanku di bandara begitu saja."
Nabila menutup mulutnya dengan tangan, terkejut mendengar fakta tentang aborsi itu. Ia tidak menyangka luka Arga sedalam itu.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, Mas? Kenapa kau membiarkanku merasa gila dengan kecurigaanku sendiri selama berminggu-minggu?"
"Karena aku takut!" Arga berteriak pelan, kini air matanya ikut mengalir. "Aku takut jika kau tahu aku pernah mencintai wanita sekejam itu, kau akan menganggapku sama kotornya dengan dia. Aku takut kau akan meninggalkanku karena masa laluku yang kelam. Nabila, kau adalah cahaya hidupku. Aku hanya ingin melupakan semua itu!"
Nabila berjalan mendekati Arga. Ia tidak memeluknya, ia hanya berdiri di depannya. "Melupakan tidak sama dengan menghapus, Arga. Siska tidak akan pernah membiarkanmu lupa. Dan dengan berbohong, kau justru memberinya senjata untuk mengontrolmu."
"Aku bersumpah, Nabila. Sejak dia kembali sebagai istri Pak Roy, aku tidak pernah memiliki perasaan apa pun padanya kecuali rasa muak dan takut. Semua kedekatan itu dipaksakan olehnya. Sabotase file, parfum di jas, hingga ancaman Singapura... itu semua caranya untuk menarikku kembali."
Nabila mengambil jam tangan itu dan melemparkannya kembali ke dalam kotak. "Dia mengirimkan ini hari ini karena dia tahu aku akan menemukannya. Dia ingin aku meninggalkanmu agar kau tidak punya siapa-siapa lagi selain dia."
"Aku tidak akan pergi ke Singapura, Nabila. Aku akan mengundurkan diri besok pagi. Aku tidak peduli soal karier atau uang lagi," tegas Arga.
Namun, Nabila menggeleng. "Tidak. Jika kau mengundurkan diri sekarang, dia akan tetap memfitnahmu dengan data keuangan yang aku temukan kemarin. Dia akan membuatmu berakhir di penjara, dan aku harus membelamu sebagai pengacara dari balik jeruji besi. Itu yang dia inginkan."
Nabila menatap Arga dengan tatapan yang kembali tajam dan analitis. "Kita akan memainkan permainannya. Tapi dengan aturan kita."
Arga bingung dengan maksud Nabila. Di tengah kebingungan itu, ponsel Arga berdering. Siska.
Nabila memberi isyarat agar Arga mengangkatnya. "Gunakan speakerphone. Kali ini, jangan takut padanya."
Arga mengangkat telepon. "Ya, Siska?"
"Halo, Arga. Sudah terima kadonya? Aku harap kau memakainya sekarang. Itu adalah simbol bahwa waktu kita belum berakhir," suara Siska terdengar sangat puas, seolah ia sedang menyesap kemenangan.
"Jam tangan itu sudah di tempat sampah, Siska," jawab Arga tegas, sesuai instruksi mata Nabila.
Siska tertawa di seberang sana. "Oh, benarkah? Aku ragu Nabila akan semudah itu membuang barang seharga miliaran. Ngomong-ngomong, soal Singapura... aku sudah memesan presidential suite. Hanya ada satu ranjang besar, Arga. Aku yakin kau akan menyukainya lebih dari sofa apartemenmu yang sempit."
Nabila memberi isyarat pada Arga untuk melanjutkan sandiwara.
"Aku akan ikut ke Singapura," ucap Arga dengan suara yang dikuat-kuatkan. "Tapi jangan pernah ganggu istriku lagi."
"Keputusan yang sangat cerdas, Arga-ku. Sampai jumpa di bandara besok sore. Dan Nabila... jika kau mendengarkan, jangan menangis terlalu keras ya. Aku hanya meminjamnya sebentar untuk mengingatkannya pada 'rasa' yang asli."
Tut.
Sambungan diputus oleh Siska.
Arga menatap Nabila dengan panik. "Kenapa kau menyuruhku bilang iya? Aku tidak mau tidur dengan dia, Nabila!"
Nabila memegang wajah Arga dengan kedua tangannya. "Kau tidak akan tidur dengannya. Kau pergi ke Singapura untuk mengumpulkan bukti. Siska pasti akan sangat lengah saat merasa dia sudah memenangkanmu. Aku ingin kau merekam semua pembicaraannya, semua pengakuannya tentang sabotase proyek, dan semua ancamannya."
"Dan kau?" tanya Arga cemas.
"Aku akan tetap di sini, menyelesaikan berkas audit ilegalnya dengan informanku. Saat kau di Singapura, aku akan menemui Pak Roy dengan bukti yang lengkap. Kita akan menjatuhkannya tepat saat dia merasa berada di puncak," Nabila mengecup dahi Arga. "Ini bukan lagi soal kecemburuan, Arga. Ini adalah soal keadilan. Dia sudah merusak hidupmu sepuluh tahun lalu, jangan biarkan dia merusaknya lagi sekarang."
Arga melihat kekuatan di mata Nabila. Ia menyadari bahwa ia telah meremehkan ketangguhan istrinya. Di saat ia hampir menyerah pada kegelapan masa lalu, Nabila justru berdiri sebagai jenderal perang yang siap membantunya bertarung.
~
Malam itu, Arga mengemas pakaiannya ke dalam koper. Suasana di rumah tetap terasa sedih, namun ada tekad baru yang menyatukan mereka.
Nabila memasukkan sebuah alat perekam suara kecil berbentuk pulpen ke dalam saku jas Arga. "Gunakan ini saat dia mulai bicara soal sabotase kantor. Jangan biarkan dia menyentuhmu, Arga. Ingat, aku menunggumu di sini."
"Aku janji, Nabila. Aku akan kembali sebagai pria yang bebas dari bayangannya," ucap Arga.
Namun, di dalam hati kecilnya, Arga tetap merasa ketakutan. Ia tahu Siska memiliki seribu cara untuk menjebaknya. Perjalanan ke Singapura besok bukan sekadar perjalanan dinas, melainkan perjalanan ke tengah badai yang bisa saja menenggelamkan mereka berdua.
Sementara itu, di sebuah hotel mewah, Siska sedang mencoba beberapa gaun malam transparan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, memegang jam tangan platinum yang identik dengan yang ia kirim ke Arga.
"Waktu kita dimulai besok, Arga," bisik Siska dengan senyum obsesif. "Dan kali ini, tidak akan ada Nabila yang bisa menyelamatkanmu."
Arga dan Nabila saling berpelukan erat di ambang pintu, menyadari bahwa malam ini mungkin adalah malam terakhir mereka merasakan kedamaian sebelum perang besar di Singapura pecah.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰