Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prahara
Tepuk tangan terdengar saat Elina menggunting pita cabang toko rotinya yang keempat. Ada rasa bangga sekaligus bahagia karena dengan di bukanya cabang toko roti yang keempat ini, Elina membuka lagi lahan pekerjaan bagi sepuluh orang pekerja.
Okan tak bisa datang hari ini karena masih ada kendala dengan proyeknya yang mengalami masalah beberapa waktu lalu. Okan bahkan harus terbang ke Batam bersama Zeki padahal Haikal masih dirawat di rumah sakit.
Saat para undangan sedang menikmati hidangan, Anita langsung mencolek Elina saat melihat siapa yang datang dengan buket bunga yang ada di tangannya.
"Selamat ya? Maaf aku terlambat datang. Ada pasien yang mengalami kecelakaan dan harus segera di operasi." Kata Arkan sambil menyerahkan buket bunga mawar berwarna putih. "Semoga tokonya semakin laris ya?"
"Terima kasih, Arkan. Mau minum kopi?" Tanya Elina sambil memeluk bunga itu di dadanya.
"Iya. Tentu saja. Dan kue coklat yang ada toping kacangnya di atas."
Elina tersenyum. "Ok pak dokter. Sebaiknya anda duduk dulu sementara aku menyiapkan kopi dan kuenya."
Arkan mengangguk sambil memandang sekeliling toko yang nampak ramai dengan pengunjung yang ada.
"Toko yang ini lebih besar dibandingkan dengan toko yang ketiga?" tanya Arkan saat Elina sudah menyajikan kopi dan kue untuknya.
"Iya. Karena rencananya dapur produksi akan dipindahkan ke sini. Sementara menunggu alat-alat produksi. Mungkin 2 minggu lagi akan tiba. Di sini dapurnya jauh lebih besar dari toko yang pertama.
"Tapi letak toko ini agak jauh dari rumahmu."
"Memang agak jauh dari rumahku yang sekarang namun lebih dekat dengan rumah baruku nanti. Rumah Anita dan Dewi juga tak jauh dari sini. Makanya kami sepakat kalau produksi kuenya akan dibuat di sini saja."
"Memangnya kamu akan segera pindah?"
Elina mengangguk. "Saat Haikal sudah keluar rumah sakit, kami akan melaksanakan doa untuk rumah baru. Kamu datang ya?"
"Ingin, sih. Tapi takut kalau Okan masih cemburu padaku."
"Mas Okan hanya salah mengerti saja, kok."
Arkan menyesap kopinya. "Bagaimana terapimu bersama dokter Kirana?"
"Sudah selesai. Dokter menyarankan agar aku dan mas Okan pergi bulan madu saat masa suburku datang. Indung telurku sudah membaik walaupun belum seratus persen. Aku diminta untuk hati-hati supaya jangan sampai keguguran lagi."
"Iya. Memang sebaiknya kalian pergi bulan madu untuk waktu yang agak lama." Arkan setuju walaupun hatinya bagaikan tergores sembilu. Ya Allah, ampunilah hambaMu ini. Entah mengapa, setiap kali aku memandang wajah Elina, menatap matanya yang cantik, hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang menggoda, rambutnya yang panjang terurai indah, sungguh membuat hatiku bergetar. Entah bagaimana aku harus lepas dari pesona Elina. Ini sangat menyiksaku. Namun aku juga tak bisa menjauh darinya. Aku ingin melindungi dan menjaganya.
"Arkan, ayo makan kuenya."
"Eh...ya." Arkan kembali dari lamunannya..Ia merasa sedih. Biarlah ia menyimpan semua perasaannya ini. Elina adalah sesuatu yang mustahil untuk diraihnya.
Dan sekali lagi, tanpa mereka sadari, ada yang diam-diam mengambil foto mereka. Saat Arkan datang membawa bunga, sampai mereka mengobrol dengan sangat akrab dan penuh tawa, semuanya difoto dengan sangat sempurna.
*********
Haikal akhirnya pulang. Elina ikut senang walaupun tak bisa memeluk anak itu karena tatapan tajam Larasati padanya.
Okan yang juga sudah kembali dari Batam, menyambut kepulangan putranya dengan sangat gembira. Ia sengaja tak masuk kantor karena ingin menghabiskan waktunya bersama Haikal.
"Mas, aku pergi dulu ya..." pamit Elina pada Okan. Suaminya itu sedang bermain dengan Haikal di taman belakang.
"Ya sayang. Hati-hati menyetirnya ya?" ujar Okan. Ia hanya menoleh sekilas ke arah Elina dan kembali asyik dengan Haikal. Tak ada lagi ciuman di dahi seperti biasa. Elina segera membalikan tubuhnya dan pergi dengan sedikit rasa kecewa. Ia berusaha memahami kalau Okan pasti senang karena Haikal akhirnya sembuh.
Sepanjang hari, Elina berusaha menghibur hatinya dengan bekerja tanpa berhenti. Tak ada telepon atau sms dari Okan yang mengingatkannya untuk makan atau istirahat. Jika ada waktu luang Elina selalu menghubungi Olivia untuk sekedar mencurahkan kegundahan hatinya.
Jam 5 sore, seperti biasa, Elina sudah berada di rumah untuk menyiapkan makan malam.
"Mas Okan kemana, bi?" Tanya Elina saat melihat rumah yang sepi.
"Tuan Okan, nyonya Larasati dan non Susi bersama den Haikal keluar setelah makan siang tadi. Katanya mereka mau belanja untuk ulang tahun pertama dari den Haikal. 3 hari lagi anak itu kan berulang tahun." Ujar Bi Ina.
Mengapa mas Okan tak memberitahukan kepadaku, ya?
Elina berusaha membuang pikiran negatif dari dirinya. Ia pun membantu bi Ina menyiapkan makan malam. Saat jam sholat magrib sudah tiba, Elina mandi dan menunaikan sholatnya. Sambil menunggu sholat ashar, ia memilih membaca ayat-ayat Alquran sambil menenangkan suasana hatinya yang sedang galau.
Zeki yang baru saja pulang, tersenyum mendengar lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Elina. Ia memilih duduk di depan pintu kamarnya agar suara Elina jelas di dengarnya. Ketika selesai, ia pun masuk ke kamarnya. Ada panggilan dari dalam hatinya untuk sholat. Zeki bersyukur karena kedatangannya ke Jakarta, kedekatannya dengan Elina telah banyak membawa perubahan dalam dirinya. Zeki jadi sering sholat walaupun belum bisa 5 waktu.
Selesai sholat, Zeki turun ke ruang makan. Di lihatnya Elina sedang makan sendiri.
"Kak Okan kemana?"
"Pergi belanja bersama ibu, Susi dan Haikal. Tadi aku telepon katanya sementara makan malam di restoran."
Zeki dapat melihat wajah Elina yang menyimpan luka. "Bolehkah aku menemani kakak ipar untuk makan?"
"Tentu saja. Aku dan bi Ina sudah masak cukup banyak. Sayang makanannya kalau dibuang."
"Aku akan makan sebanyak mungkin. Sisanya, bolehkah kau masukan ke dalam kotak makanan? Aku ingin membagikannya pada beberapa petugas kebersihan, penjaga pos keamanan yang masih terus bertugas sampai tengah malam."
Elina mengangguk. Zeki selalu punya banyak cara untuk mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik.
Selesai makan, Elina meminta bantuan bi Ina untuk membantunya memasukan makanan di dalam kotak. Ketika selesai, Zeki langsung pergi dengan memakai motor Okan.
Tak berapa lama selang kepergian Zeki, Okan dan yang lainnya pulang.
Haikal nampak tidur dalam gendongan Okan sementara sopir bersama dengan Susi membawa banyak barang belanjaan.
"Hai sayang......!" Sapa Okan pada Elina.
"Assalamualaikum, mas." Elina mendekati Okan dan mencium tangan suaminya.
"Waalaikumsalam." Okan menjawab salam Elina. Haikal nampak lelap dalam dekapan Okan.
"Okan, tidurkan saja Haikal di kamar. Dia pasti capek karena sepanjang hari ini digendong terus." ujar Larasati.
"Baik, bu." Okan menaiki tangga perlahan. Susi mengikuti langkah Okan.
Elina menekan semua rasa yang ada di hatinya. Saat semua sudah meninggalkan ruang tamu, ia pun melangkah menuju ke taman belakang.
Matanya menatap kolam ikan. Elina tiba-tiba rindu dengan ibunya. Potongan-potongan kenangan saat bersamanya ibunya kembali diingat Elina. Ibunya yang sangat lembut dan baik hati. Terngiang kembali apa yang dikatakan oleh ibunya. "Menikahlah dengan pria yang sungguh-sungguh mencintaimu. Jika cintanya tulus untukmu, dia pasti tak akan pernah menduakanmu. Jangan mau dipoligami Elina. Ibu tahu, kau tidak akan pernah siap berbagi."
Elina memeluk tubuhnya sendiri. Merasakan dinginnya malam yang mulai terasa. Ibu benar, aku tak sanggup di poligami. Semoga mas Okan tidak lupa dengan janjinya untuk menalak Susi.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Okan tiba-tiba saja sudah memeluk Elina dari belakang.
"Hanya mencari udara segar, mas." Elina membalikan tubuhnya. Menatap wajah Okan.
"Ayo masuk! Nanti kamu sakit."
Elina menurut. Ia mengikuti langkah Okan menuju ke kamar mereka.
"Mas, kapan kau akan menalak Susi?" Tanya Elina saat Okan sudah selesai mandi.
"Sayang, bolehkah kita menunggunya sampai Haikal selesai berhari ulang tahun. Aku ingin saat Haikal ulang tahun, semuanya baik-baik saja. Anakku itu baru saja sembuh dari demam berdarah. Makanya aku ingin merayakan ulang tahunnya dengan sangat meriah. Rencananya ulang tahun Haikal akan dilaksanakan di hotel milik temanku Jeronimo. Kamu juga harus hadir ya? Buat kue-kue yang enak. Nanti setelah itu aku akan bicara dengan Susi dan kita dapat pindah ke rumah yang baru." Okan membelai wajah Elina. "Aku mohon pengertianmu."
Elina hanya bisa mengangguk walaupun ia agak kesal. Bersabarlah Elina, untuk kebahagiaan.
********
Hari ulang tahun Haikal mengundang 200 anak yatim piatu, dan juga para tetangga dan anak-anak seluruh kariawan yang ada di perusahaan Okan.
Saat akan meniup lilin, Okan mengajak Elina untuk ikut naik ke panggung namun Elina menolaknya. Wajah Larasati langsung terlihat tak suka saat Okan mengajaknya.
"Kakak saja yang ke atas." Ujar Zeki karena ia dapat membaca roman tak suka dari wajah Larasati.
Acara berlangsung dengan sangat meriah. Ada badut dan tukang sulap yang sengaja di datangkan oleh Okan.
Haikal yang tidak tidur siang terlihat mulai bosan. Ia menangis dalam gendongan Susi. Okan yang sementara berbincang dengan ustad yang membaca doa, langsung permisi dan memeluk Haikal.
"Kenapa sayang?" Ada apa dengan anak Daddy?" Okan berusaha membujuknya.
"Haikal sepertinya mengantuk sayang. Kita bawa saja ke ruang tunggu. Di sana ada boxnya kan?"
Okan dan Elina masuk ke ruang tunggu. Saat ada di sana, Haikal mulai tenang karena dinginnya AC.
Elina langsung menggendong Haikal. Tak berapa lama anak itu tertidur.
"Letakan ke dalam boxnya saja." Kata Okan.
Elina membaringkan Haikal ke dalam box bayinya setelah Okan menurunkan salah satu sisinya.
Elina langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Haikal.
Ponsel Okan bergetar dalam saku celananya. Saat melihat siapa yang menelepon, Okan keluar dari ruang tunggu.
Elina duduk di samping box Haikal. Tak lupa ia menaikan satu sisi box yang diturunkan.
30 menit berlalu. Elina merasa ingin buang air kecil. Ia menelepon Okan tapi suaminya itu masih sibuk menerima telepon yang lain.
Ia mengirim pesan pada Okan.
Mas cepatlah, aku ingin buang air kecil.
Okan tak juga kembali dan Elina sudah tak tahan. Ia menghubungi Zeki tapi pria itu juga tak mengangkat teleponnya. Elina membuka pintu, mencoba mencari keberadaan Susi tapi tak ada.
Merasa tak tahan, Elina langsung mencari toilet. Toilet yang ada di samping ruang tunggu, penuh dengan antrian. Elina pun mencari toilet yang lain. Ia agak keluar dari ballroom tempat pelaksanaan ulang tahun Haikal. Setelah selesai, ia pun kembali. Namun apa yang dilihatnya membuat Elina menjerit ketakutan. Haikal sudah tak ada dalam box nya dan bayi itu sudah jatuh ke lantai dengan kepala yang berdarah.
Mendengar teriakan Elina, Okan dan yang lain berlari ke ruang tunggu. Posisi Elina yang sudah memeluk Haikal membuat Susi ikut menjerit melihat wajah pucat Haikal. Larasati langsung pingsan di tempatnya.
********
Haikal dinyatakan meninggal karena sebelum jatuh, kepalanya terbentur pada meja yang ada di dekat boxnya. Dari rekaman CCTV yang ada di ruangan itu, terlihat saat Elina keluar, Haikal bangun. Ia menangis sambil berdiri. Tangannya hendak meraih botol susunya yang ada di atas meja. Kaki Haikal yang berdiri di atas bantal membuat anak itu semakin dekat mengambil botolnya. Akhirnya anak itu keluar dan jatuh dari boxnya dengan kepala yang membentur ujung meja dan mengenai saraf penting di kepalanya. Itulah yang menyebabkan kematiannya.
Larasati langsung dilarikan ke rumah sakit setelah pemakaman Haikal selesai. Susi menangis terus sambil tak hentinya menuduh Elina yang menyebabkan kematian anaknya.
Elina sendiri merasa sangat menyesal. Hatinya hancur berkeping-keping saat dokter mengatakan kalau Haikal sudah meninggal. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri.
Okan juga sangat hancur atas kematian Haikal. Ia bahkan tak mau pulang dari tempat pemakaman walaupun hujan sudah turun dengan sangat derasnya.
"Makan dulu, Elina. Sejak kemarin kau belum makan. Jangan menyalahkan dirimu terus. Semua ini sudah takdir. Kita tak dapat melawan takdir Allah." Kata Anita. Di samping Anita ada Dewi yang dengan perutnya yang buncit, memegang piring berisi makanan.
"Aku sungguh menyesal." Elina menangis.
Anita memeluk Elina. "Sudahlah, Elina. Kuatkan hatimu."
"Ibu dan Susi akan semakin membenciku."
"Serahkan semuanya pada Allah. Hanya Allah yang sanggup menolongmu."
Elina menangis dalam pelukan sahabatnya. Hatinya semakin hancur.
********"
Seminggu sudah berlalu. Suasana di rumah selalu terlihat tegang setiap kali Susi dan Elina bertemu. Susi selalu menuduh Elina yang menyebabkan kematian Haikal. Elina sudah meminta maaf namun Susi tak menerimanya.
Okan masih terus kelihatan berdiam diri. Sejak kematian Haikal, ia selalu berada di kamar Susi. Ia tidur sambil memeluk baju-baju Haikal. Sampai akhirnya Larasati keluar dari rumah sakit dan ia mengusir Elina.
"Pergi kamu dari rumah ini...! Pergi...! Kamu dan ayah bejadmu itu adalah sumber malapetaka dalam kehidupan aku dan Okan. Pergi kataku...!" Larasati menarik rambut Elina dengan sangat kasar, membuat Elina yang saat itu sedang memasak menjadi terjatuh.
"Ibu....!" Okan yang baru pulang kantor segera menolong Elina dan membantu istrinya berdiri..
"Jangan keterlaluan, ibu. Kematian Haikal bukan karena Elina. Semuanya sudah takdir!" Kata Okan sambil mengusap kepala Elina. "Kamu nggak apa-apa sayang?"
"Iya, mas."
Larasati membuka tasnya. Ia melemparkan setumpuk foto-foto Elina dan Arkan bahkan ada beberapa foto Elina dan Zeki.
"Ceraikan Elina, Okan. Karena dia sudah selingkuh di belakangmu!"
Okan memungut foto-foto itu. Hatinya terbakar cemburu saat melihat foto-foto kedekatan antara Elina dan Arkan bahkan Elina dan Zeki.
"Ceraikan Elina, Okan. Kalau tidak, ibu akan membuangmu sebagai anak ibu dan sampai ibu mati, kau tak akan pernah melihat ibu lagi." ancam Larasati dengan mata yang bersinar marah. Dendam masa lalunya kini akan ia balaskan.
Elina menatap Okan. "Kau percaya hanya karena foto ini?" tanya Elina pelan namun sangat menusuk.
Suasana di dalam rumah itu menjadi tegang. Zeki yang datang bersama Okan pun terkejut saat mengetahui kalau selama ini ada yang mengawasi Elina.
********
Hei pembaca yang Budiman....
kisah kematian Haikal bukanlah seperti itu. Namun Elina yang asli tak ingin cara kematian Haikal dikupas dalam episode ini. Yang pasti, Haikal meninggal dalam suatu tragedi yang melibatkan Elina didalamnya.
Sebenarnya aku ingin kisah aslinya diceritakan saja, agar pembaca tahu kalau Elina sama sekali tak bersalah. Namun Elina tak mau menyudutkan Susi dan Larasati. Setelah memutar otak akhirnya aku buat kronologinya seperti itu dan Elina setuju.
Mana komentarnya????
karyanya memang keren²...
mas okan juga hebat otthornya juga hebat
Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️