Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Zayn dan Zoey membantu papanya
Darrel merasa senang karena ada orang yang mau membeli kopinya. Dia berharap ini menjadi awal yang baik.
Setelah bapak tua itu, beberapa orang mulai tertarik untuk membeli kopi Darrel. Ada yang membeli kopi hitam, kopi susu, dan ada juga yang membeli es. Zoey yang melihat sang ayah kerepotan mengajak Zayn untuk menyudahi permainannya.
"Zayn, kita udahan ya, mainnya," kata Zoey. "Kita bantu Papa aja, yuk!" ajaknya pada Zayn.
"Ayo...!" Kedua bocil itupun menghampiri sang ayah.
"Papa, apa yang bisa Zoey, bantu?" tanya Zoey, mungkin instingnya sebagai anak perempuan lebih peka.
"Iya, Pa. Zayn juga mau bantu," timpal bocah itu.
Darrel tersenyum melihat kepekaan anak-anaknya. "Boleh, tapi lap dulu tangannya pakai tissu basah, ya. Setelah itu kalian bisa memisahkan gelas dan menatanya di sini," kata Darrel dengan sabar sambil menunjuk papan panjang kira-kira setengah meter di depannya.
"Siap, Papa," jawab mereka serempak, lalu mengerjakan apa yang diperintahkan ayahnya.
Selanjutnya Zoey ikut membantu Darrel melayani pembeli, sementara Zayn dengan ramah menawarkan kopi pada orang-orang yang lewat.
"Kopi, Om, Tante? Murah meriah, loh! Es juga ada!" seru Zayn dengan suara riang dan gayanya yang khas.
"Iya, kopi buatan Papa mantap, loh." Zoey menimpali sambil membawa gelas plastik di tangannya.
Orang-orang tersenyum melihat tingkah Zoey dan Zayn yang membantu ayahnya berjualan dan merasa iba. Mereka membeli kopi Darrel bukan hanya karena ingin minum kopi, tapi juga karena ingin membantu Darrel.
"Anaknya ya, Mas?" tanya salah seorang pembeli. "Memangnya ibunya ke mana kok, ikut jualan?"
"Emmm...." Belum sempat Darrel menjawab, Zayn langsung menyeletuk. "Mama kami kerja di luar negeri, Tante."
"Iya kan, Pa?" tanyanya pada Darrel dengan tatapan polos.
"Oooh, mamanya TKW, to?" sahut sang pembeli.
"Aah, iya. Begitulah," jawab Darrel sambil tersenyum kaku.
"Wah, semangat ya, Mas," kata ibu itu sambil memberikan uang lebih. "Semoga lancar rejekinya." Beberapa di antara mereka pun melakukan hal yang sama.
Darrel merasa terharu dengan kebaikan orang-orang. Dia tidak menyangka akan mendapatkan dukungan sebanyak ini.
"Terima kasih banyak, semuanya," ucapnya dengan tulus.
Waktu terus berjalan. Semakin siang, semakin banyak orang yang membeli kopi dan es Darrel. Termos air panasnya sudah hampir kosong, begitu juga dengan es batunya.
"Alhamdulillah," gumam Darrel. "Pagi ini laris manis."
Zayn yang sejak tadi sibuk menawarkan tampak mulai menguap. Anak itu terlihat mengantuk lalu memeluk kaki Darrel erat-erat.
"Papa, Zayn ngantuk," rengeknya.
"Iya, Sayang. Sebentar lagi kita pulang, ya," jawab Darrel lalu menggendong Zayn.
Darrel memutuskan untuk mengakhiri jualannya siang hari itu. Mungkin dia akan kembali nanti setelah istirahat sejenak dan sholat dzuhur.
Darrel membereskan perlengkapan kopinya dengan rapi lalu setelahnya menaikkan Zoey dan Zayn ke atas gerobak di tempat mereka bisa duduk atau tidur dengan nyaman.
"Terima kasih ya, Zoey, Zayn, sudah bantu Papa jualan," kata Darrel sambil tersenyum.
"Sama-sama, Papa!" jawab Zoey dengan riang lalu mencium pipi papanya.
Darrel lantas duduk di jok depan lalu menyalakan mesin motor dan mulai melaju pulang. Dia merasa bahagia dan bersyukur, hari ini adalah hari yang baik. Dia telah berhasil melewati pagi pertamanya dengan banyak menjual kopi dan es.
"Semoga besok lebih lancar lagi, aamiin," gumamnya dalam hati.
Sesampainya di rumah, Darrel memarkirkan motor roda tiganya di depan rumah. Saat akan menurunkan Zayn dan Zoey, Darrel melihat keduanya tertidur pulas. Dia tersenyum menatap wajah mereka yang begitu damai.
Hatinya terasa menghangat, dia sangat bahagia anak-anaknya tidak rewel dan sangat pengertian. Dia bertekad akan terus berjuang demi mereka. Kemudian dengan perlahan Darrel menggendong Zoey lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di tempat tidur. Setelahnya dia keluar lagi dan menggendong Zayn lalu membaringkannya di samping Zoey.
Darrel keluar dari kamar lalu membersihkan diri. Ketika terdengar adzan dzuhur berkumandang merdu dari masjid, dia segera menunaikan kewajibannya. Setelah itu pergi ke dapur guna menyiapkan makan siang untuknya dan anak-anak. Hanya menu sederhana yang dimasaknya. Ayam goreng untuk Zayn dan Zoey, sementara dirinya membuat omelet.
Sambil makan Darrel memikirkan tentang hari ini. Dirinya merasa bersyukur hari pertama jualannya berjalan lancar. Dia juga merasa terharu dengan kebaikan orang-orang yang telah membeli kopinya.
"Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini," gumamnya dalam hati.
"Aku harus bekerja lebih keras dan tetap bersemangat," katanya dengan penuh tekad. "Aku tidak boleh menyerah."
Selesai makan Darrel mencuci bekas masak dan makannya lalu masuk ke dalam kamar anak-anak. Dia duduk di tepian tempat tidur sambil memandangi wajah damai Zayn dan Zoey. Wajah Zayn adalah perpaduan dirinya dan Nancy, sedangkan Zoey, sembilan puluh persen dirinya. Darrel tersenyum getir mengingat apa yang telah terjadi pada hidupnya.
Wajah Darrel seketika berubah dingin kala teringat sang mantan istri. "Kamu yang meyakinkan aku bahwa cinta mampu membuat kita bahagia, saling menguatkan dalam hal apapun, tapi nyatanya kamu hancurkan semuanya dan pergi meninggalkan aku dan anak-anak demi ambisimu!" Darrel meraup wajahnya dengan kasar, berusaha mengenyahkan bayangan sang istri dari pikirannya.
Kemudian dia berbaring di samping kedua anaknya dan memeluk mereka erat-erat. "Kalian adalah harta papa yang paling berharga. Papa sayang kalian dan akan melakukan apa saja untuk kalian," bisiknya lirih.
Zoey menggeliat sesaat lalu membuka matanya. "Papa... makan, Zoey laper..." rengeknya manja sambil memeluk Darrel.
"Ya sudah, bangun, yuk." Darren lantas beranjak dari tempat tidur. Merasakan adanya pergerakan Zayn pun akhirnya bangun juga sambil mengucek matanya.
Setelah mencuci muka dan tangan, Darrel mengajak mereka ke meja makan.
"Waahh...ayam goreng!" seru Zayn dengan mata berbinar begitu melihat ayam goreng tersaji di atas meja makan.
"Yeaaa... Zoey suka, Zoey suka!" sambut Zoey sambil bertepuk tangan gembira. Keduanya lalu duduk manis sambil menunggu sang ayah menyiapkan mereka makan.
"Baca doa dulu, baru makan, oke!" kata Darrel seraya meletakkan dua piring nasi mentega plus paha ayam goreng.
"Terima kasih, Papa," sahut mereka serentak sambil tersenyum manis.
Setelahnya Zayn memimpin doa, kemudian keduanya makan dengan lahap. Darrel merasa terharu sembari memperhatikan mereka makan. Hatinya berdenyut nyeri mengingat kenyataan bahwa anak-anaknya tak akan lagi mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu seutuhnya.
"Papa janji, Nak. Papa akan memberikan seluruh kasih sayang papa pada kalian, hingga kalian lupa bagaimana rasanya menangis, yang ada hanya tangis bahagia bersama papa."
Akhirnya sore itu Darrel memutuskan untuk tidak kembali berjualan. Hari ini cukup setengah hari sebagai perkenalan. Dia akan berjualan lagi esok harinya.