Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Pulang Yang Tak Lagi Sama
Kepulangan Naya ke Desa Sukamerta tidak disertai sambutan apa pun. Ia datang saat pagi masih setengah mengantuk, ketika kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari pematang sawah dan suara ayam jantan baru sekali dua kali terdengar. Langkahnya pelan menyusuri jalan kecil desa, seolah ia sedang memastikan bahwa tanah yang diinjaknya masih benar-benar miliknya.
Tas kecil di tangannya terasa ringan, namun hatinya tidak demikian. Isinya hanya pakaian sederhana dan beberapa barang yang ia anggap penting. Tidak ada oleh-oleh, tidak ada rencana besar. Kepulangannya bukan perayaan, melainkan keputusan sunyi yang ia ambil setelah terlalu lama berdamai dengan dirinya sendiri.
Tubuh Naya tampak lebih kurus dari sebelumnya. Pipinya sedikit cekung, wajahnya pucat, tetapi sorot matanya justru berbeda. Tidak lagi gelisah seperti saat ia pergi. Ada ketenangan yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari kelelahan panjang. Ia lelah berlari. Lelah bersembunyi. Dan akhirnya memilih kembali bukan karena luka sembuh, melainkan karena ia tak ingin kehilangan rumahnya sendiri.
Tidak ada yang tahu ia kembali. Bahkan Bu Sulastri sekalipun.
Saat berdiri di depan rumahnya, Naya terdiam cukup lama. Rumah itu masih sama. Dindingnya tetap kusam, atap gentengnya masih sedikit miring di satu sisi. Namun rasanya tidak lagi seperti yang ia ingat. Ada jarak yang tidak kasatmata, seolah rumah itu menyambutnya dengan pertanyaan, bukan kehangatan.
Pintu berderit pelan ketika ia membukanya. Udara di dalam terasa pengap, bercampur aroma kayu dan debu yang lama tak terusik. Naya melangkah masuk, meletakkan tasnya perlahan, lalu duduk di kursi kayu di ruang tengah. Tangannya gemetar saat menyentuh permukaan meja yang dingin.
“Rumah ini tidak berubah,” gumamnya pelan.
“Tapi aku yang berubah.”
Pandangan Naya tertuju ke jendela yang menghadap langsung ke kebun. Ia berdiri, membuka daun jendela, dan napasnya tertahan sesaat. Kebun itu masih ada, tetapi tidak lagi serapi dulu. Beberapa tanaman tampak layu, gulma tumbuh lebih bebas, dan tanahnya terlihat kering di beberapa bagian. Kebun yang selama ini menjadi pelariannya kini justru menjadi pengingat akan waktu yang ia tinggalkan.
Tanpa berpikir panjang, Naya mengambil keranjang dan cangkul kecil. Ia melangkah keluar, membiarkan telapak kakinya menyentuh tanah yang sudah sangat ia kenal. Saat mencabut rumput liar dan merapikan bedengan, pikirannya mulai bekerja lebih jujur daripada sebelumnya.
Ia pergi bukan karena kalah. Ia pergi karena terlalu banyak suara yang menekan dari segala arah. Namun di tempat persembunyiannya, ia belajar satu hal: menjauh tidak selalu berarti tenang. Ada luka yang justru tumbuh dalam kesunyian.
“Aku tidak bisa terus hidup sebagai orang yang melarikan diri,” batinnya.
Saat matahari naik sedikit lebih tinggi, suara langkah terdengar dari arah jalan kecil. Naya mengangkat kepala, jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Ia mengenali langkah itu bahkan sebelum sosoknya terlihat jelas.
Adit berdiri beberapa meter darinya.
Pria itu tampak lebih kurus, wajahnya lelah, dan matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seolah ia sudah terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pasti. Ketika pandangan mereka bertemu, Adit seperti lupa bagaimana caranya bernapas.
“Naya,” ucapnya lirih.
Nama itu terdengar berbeda dari mulut Adit. Ada kelegaan, ada ketakutan, dan ada sisa trauma kehilangan yang belum sembuh. Naya menegakkan tubuhnya, menahan perasaan yang langsung berdesakan di dadanya.
“Mas,” jawabnya singkat.
Tidak ada pelukan. Tidak ada langkah mendekat. Keduanya berdiri dengan jarak yang sengaja dijaga, seolah satu langkah saja bisa membuat salah satu dari mereka runtuh.
“Kamu… kembali,” kata Adit akhirnya, suaranya sedikit serak.
“Iya.”
“Aku kira—” Adit berhenti. Ia menghela napas. “Aku takut kamu tidak akan kembali.”
Naya menunduk. “Aku juga takut,” katanya jujur. “Tapi aku tidak bisa terus pergi.”
Adit menatapnya lama. Ada kebahagiaan yang ingin meledak, tetapi tertahan oleh rasa takut yang sama besarnya. Ia bahagia melihat Naya berdiri di depannya, tetapi bayangan kepergian itu masih terlalu nyata.
Hari itu, mereka tidak berbincang lama. Adit hanya membantu merapikan kebun, bekerja dalam diam. Naya membiarkannya. Ada banyak hal yang belum siap mereka ucapkan.
Menjelang sore, Adit akhirnya membuka suara.
“Naya,” katanya pelan, “aku ingin bicara sesuatu.”
Naya berhenti bekerja. Ia sudah tahu arah pembicaraan itu, tetapi tetap menunggu.
“Aku ingin menikah denganmu.”
Tidak ada nada mendesak. Tidak ada emosi berlebihan. Hanya satu kalimat yang diucapkan dengan keyakinan yang tenang. Justru ketenangan itu yang membuat dada Naya terasa sesak.
“Aku sudah memikirkan semuanya,” lanjut Adit. “Dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”
Naya menggeleng perlahan. “Mas, ini tidak sesederhana itu.”
“Aku tahu,” jawab Adit. “Aku tidak minta kamu menjawab sekarang.”
Namun di balik sikap tenangnya, batin Adit bergolak. Ia tahu betul apa arti keputusannya. Ia tahu, menikahi Naya berarti bersiap kehilangan banyak hal—restu ibunya, kenyamanan hidup di kota, bahkan hubungan dengan keluarganya sendiri. Ketakutan itu nyata, dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah dirinya cukup kuat
.
Naya menatap Adit dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tidak ingin kamu berkorban sejauh itu hanya untuk aku.”
“Aku memilih,” kata Adit lirih. “Bukan berkorban.”
Namun kata-kata itu justru membuat Naya semakin takut. Ia terlalu mengenal luka penolakan. Ia tidak ingin hidup sebagai penyebab seseorang kehilangan dunianya.
“Aku belum bisa,” katanya akhirnya. “Bukan sekarang.”
Adit tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, meski hatinya retak sedikit demi sedikit.
“Baik,” katanya. “Aku akan tetap di sini.”
Sejak hari itu, Adit benar-benar menetap di Desa Sukamerta. Ia tidak lagi bolak-balik ke kota seperti sebelumnya. Pagi-paginya diisi dengan membantu Naya di kebun—menggali tanah, mengangkat karung hasil panen, dan memperbaiki saluran air kecil yang rusak. Tangannya yang dulu terbiasa dengan papan ketik kini penuh dengan kapalan dan sisa tanah yang sulit dibersihkan.
Ia tidak mengeluh. Bahkan ketika tubuhnya pegal dan peluh membasahi punggungnya, Adit memilih diam. Setiap gerakan seolah menjadi bentuk permohonan maaf yang tidak terucap—kepada Naya, kepada dirinya sendiri, dan kepada hidup yang sedang ia pilih dengan sadar.
Namun di balik ketenangan sikapnya, batin Adit tidak pernah benar-benar tenang.
Di malam hari, saat Naya sudah terlelap, Adit sering duduk sendiri di teras rumah. Ia menatap langit desa yang bersih, tanpa lampu kota, tanpa bising kendaraan. Dalam sunyi itu, pikirannya justru semakin riuh. Bayangan ibunya, rumah besar di kota, pekerjaan dengan penghasilan mapan, dan hidup yang sudah tertata rapi—semuanya hadir bersamaan.
“Kalau aku memilih Naya,” batinnya, “apa yang benar-benar harus kulepas?”
Pertanyaan itu tidak pernah sederhana. Ia bukan hanya memilih seorang perempuan. Ia sedang memilih hidup yang sama sekali berbeda dari rencana yang disiapkan orang tuanya sejak lama. Adit tahu, begitu ia melangkah lebih jauh, tidak akan ada jalan pulang yang mudah.
Telepon dari kota mulai berdatangan. Awalnya dari kantor, menanyakan kejelasan kehadirannya. Lalu dari ayahnya, dengan nada datar yang selalu membuat Adit merasa kecil. Dan akhirnya, dari Ratna.
“Adit,” suara ibunya terdengar dingin di ujung telepon, “sampai kapan kamu akan bermain-main dengan hidupmu?”
Adit menutup mata. “Aku tidak bermain-main, Ma.”
“Kamu meninggalkan pekerjaanmu. Kamu menjauh dari keluarga. Demi siapa?” tanya Ratna tajam.
Adit terdiam sesaat. “Demi hidup yang aku pilih sendiri.”
Jawaban itu membuat Ratna tertawa kecil, sinis. “Hidup sederhana di desa? Dengan perempuan yang bahkan tidak selevel denganmu?”
Kata-kata itu menusuk, tapi Adit tidak lagi bereaksi seperti dulu. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia tidak membela Naya dengan emosi, tetapi dengan ketegasan yang tenang.
“Dia lebih jujur daripada hidup yang Mama banggakan,” jawabnya.
Telepon itu berakhir tanpa damai. Setelahnya, Adit duduk lama dalam diam. Tangannya gemetar. Ia sadar, jarak dengan keluarganya kini bukan sekadar emosi—tetapi mulai menjadi nyata.
Beberapa hari kemudian, Adit membuat keputusan yang selama ini hanya ia pikirkan. Ia mengirim surat pengunduran diri dari pekerjaannya di kota. Tidak ada drama. Tidak ada perlawanan. Hanya satu kalimat singkat tentang memilih jalan hidup yang berbeda.
Saat menekan tombol kirim, dadanya terasa sesak. Ada ketakutan yang luar biasa, tetapi juga kelegaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Aku benar-benar melepasnya,” gumamnya pelan.
Naya mengetahui keputusan itu dari Bu Sulastri. Perempuan itu datang dengan wajah khawatir, membawa kabar yang membuat Naya terdiam lama.
“Adit mengundurkan diri dari pekerjaannya,” kata Bu Sulastri hati-hati.
Naya menatap lantai. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia merasa bersalah. Sangat bersalah.
Malam itu, Naya memberanikan diri bicara.
“Mas,” katanya lirih, “aku dengar kamu berhenti kerja.”
Adit mengangguk. “Iya.”
“Kenapa kamu melakukan itu?” suara Naya bergetar. “Aku tidak pernah memintamu.”
“Aku tahu,” jawab Adit. “Aku melakukannya karena aku ingin hidup yang jujur. Aku capek hidup dalam bayangan harapan orang lain.”
“Tapi aku takut,” kata Naya, air matanya jatuh tanpa ia sadari. “Aku takut kamu menyesal suatu hari nanti.”
Adit menatap Naya lama, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya.
“Kalau aku tidak memilihmu sekarang,” katanya pelan, “aku akan menyesal seumur hidup. Kehilangan kenyamanan bisa kupelajari. Tapi kehilangan kamu—aku tidak sanggup.”
Kata-kata itu membuat Naya runtuh. Selama ini, ia menahan diri karena takut menjadi beban. Namun di hadapannya kini berdiri seorang pria yang sadar sepenuhnya akan risikonya, tetapi tetap melangkah.
Malam itu, Naya kembali melaksanakan salat istikharah. Doanya tidak lagi berisi permintaan agar perasaan itu dihilangkan, melainkan agar ia diberi kekuatan untuk menerima takdir yang dipilih dengan sadar.
Dan untuk pertama kalinya, hatinya terasa lebih lapang.
Keesokan harinya, Naya menemui Adit di kebun. Angin berembus pelan, daun-daun bergerak lembut, seolah ikut menjadi saksi.
“Mas,” kata Naya, “kalau kamu benar-benar memilih jalan ini… aku tidak ingin kamu berjalan sendirian.”
Adit menatapnya, napasnya tertahan. “Apa maksudmu?”
Naya menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan mata yang basah namun mantap. “Aku mau kita menikah. Bukan karena aku takut kehilanganmu. Tapi karena aku ingin berjalan bersama.”
Adit tidak langsung menjawab. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak lama, beban di dadanya terasa sedikit terangkat.
“Aku tidak menjanjikan hidup yang mudah,” katanya.
“Aku juga tidak,” jawab Naya. “Tapi aku menjanjikan kejujuran.”
Keputusan itu tidak disambut sorak-sorai. Tidak ada restu besar. Tidak ada kemewahan. Namun ada satu hal yang kuat: kesadaran penuh atas pilihan masing-masing.
Pernikahan mereka dilangsungkan sederhana, sebagaimana yang telah diceritakan orang-orang. Namun bagi Adit, akad itu bukan hanya ikatan dengan Naya—melainkan pernyataan bahwa ia telah resmi melepas dunia lamanya.
Di malam setelah pernikahan, Adit duduk di samping Naya di teras rumah. Ia memandang kebun yang gelap, lalu langit yang bertabur bintang.
“Aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi ke depan,” katanya jujur.
Naya tersenyum kecil. “Aku juga tidak.”
Adit menggenggam tangannya. “Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak takut hidup sederhana.”
Naya menatapnya penuh makna. “Karena kamu tidak sendirian.”
Selamat pagi readers like komen nya ya
Selamat membaca terimakasih