Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Laila
Pagi harinya, setelah selesai sarapan, Kaivalya dan Lucas berangkat ke pasar, dia membeli banyak pakaian bahkan mukena dan juga Al Qur'an yang akan dia sumbangkan pada salah satu pesantren kecil yang ada di kampung itu, pesantren yang masih berdiri meski rumah dukun juga banyak disana.
"Semoga ini bisa jadi ladang ibadah untuk almarhumah" ucap Kaivalya
"Aamiin"
Lucas ke pesantren itu bersama semua orang yang ada di villa, selain untuk bersilaturahmi, mereka juga ingin melihat kondisi bangunan pesantren yang katanya hampir di tutup itu
"Saya dan teman teman saya akan menyumbangkan sejumlah dana ke pesantren ini, jangan di tutup agar para santri yang lulus dari sini bisa ikut mengajar santri baru, buat selebaran juga ke kampung kampung yang tidak ada tempat belajar mengaji disana, agar para orang tua mereka mempercayakan anak anak mereka mengaji dan belajar tentang Islam disini" ungkap Kaivalya ketika dia bertemu dengan pimpinan pondok itu.
"Insya Allah nak, saya dan para santri senior disini akan mempertahankan pesantren ini, apalagi dengan bantuan dari kalian, anak anak akan semakin semangat belajar karena punya Al Qur'an baru dan juga fasilitas kelas yang lebih bagus nantinya" jawab pemimpin pondok yang bernama Kiai Hamdan.
"Boleh saya bertanya, dari mana anda kenal perempuan bernama Laila Farhana Syahlan?" Tanya Hamdan
"Saya hanya kebetulan tahu namanya saja, dan dulu sempat bertemu, sekarang katanya sudah meninggal" jawab Kaivalya
"Kamu tidak pandai berbohong, Laila itu hilang sejak lima puluh tahun yang lalu, dia pergi untuk mencuci pakaian di sungai, tapi tidak kembali pulang, usianya saat itu lebih muda dari saya, itu sebabnya saya tahu" ungkap Hamdan
"Apa tidak di cari orangnya Kiai?" Tanya Aariz
"Dia seperti hilang di telan bumi, kami bahkan sudah menyusuri pinggiran sungai karena takut kalau dia terbawa arus, tapi tidak di temukan juga, jika kamu tahu tolong beritahu dimana kuburannya, saya adalah saudara sepupunya" ucap Hamdan
"Laila itu adalah sosok yang sering meneror warga setiap Maghrib sampai masuk waktu isya" jawab Kaivalya
Hamdan tahu Kaivalya bukan orang biasa dan tahu juga kalau dia tidak berbohong saat mengatakan kalau Laila adalah sosok yang meneror kampung itu selama Lima puluh tahun terakhir.
"Saya mungkin sudah renta, tapi insyaallah saya akan ikut mengunjungi makamnya juga ke hutan itu" ungkapnya dengan air mata yang tidak bisa dia tahan lagi, sepupunya di temukan, tapi orang tuanya bahkan tidak bisa dia beri tahu karena mereka juga sudah tiada.
"Kami juga bisa bantu untuk memindahkan jasadnya, jika Kiai mau, agar Kiai dan para santri bisa berziarah kapan saja kesana" ungkap Lucas yang merasa tidak tega melihat tubuh tua Hamdan yang mungkin sudah masuk usia tujuh puluh tahun.
"Iya, saya minta tolong lagi, anak anak saya akan ikut membantu proses pemakamannya dengan layak, dia pasti merasa kedinginan dan kesaktian selama disana karena menunggu kami menemukan jasadnya, entah karena apa dia bisa ada ditempat itu yang jaraknya lumayan jauh dari sungai" ungkap Hamdan
"Aku di culik, dan di perkosa beberapa orang untuk melayani mereka, aku bahkan di cambuk dan diikat di pohon jati tempatku dikuburkan" ungkap Diandra yang sekarang matanya berubah jadi putih.
"Innalilahi"
"Diandra" panik Altair
"Kak Hamdan, aku sering memanggil banyak orang, tapi suaraku tidak bisa keluar, aku tercekik kak, aku ingin pulang" lirihnya dengan suara seperti bukan Diandra.
"Sekarang kamu tenanglah disana Laila, kakak akan bawa kamu pulang, akan kakak pastikan, tubuh kamu kakak sendiri yang membawanya bersama anak anak kakak" balas Hamdan mengusap kepala Diandra yang masih di rasuki Laila
"Hiks.. hiks.. hiks.." Diandra tiba tiba tak sadarkan diri setelah menangis terisak.
"Bawa ke kamar Aminah, di dekat ruang keluarga, pintu bertuliskan Aminah" ucap Hamdan
"Ayo sekalian kak Fathan periksa Diandra disana" ucap Fathan, dokter yang di panggil Lucas.
Kaivalya segera menggendong Diandra ke kamar yang di maksud, Diandra di turunkan ke atas ranjang dengan hati hati, Aminah putri dari Hamdan juga memberikan minyak kayu putih pada Nayana yang ikut duduk dan khawatir di samping Diandra, karena ini pertama kalinya Diandra mengalami kerasukan.
"Diandra tidak boleh ada di tempat yang ada sosok tersesat Kai, sosok itu bisa masuk ke tubuh Diandra karena Diandra punya anting yang sama dengan kamu" ucap Altair
"Orang orang yang menculik hantu itu juga masih hidup, itu sebabnya hantu itu masih terus datang ke kampung ini" ucapnya lagi
"Untuk sekarang, masalah ini tidak bisa di buktikan karena sudah terjadi begitu lama, cukup kita tahu orangnya saja dan pastikan semua keluarga kalian berhati hati" ungkap Kaivalya
Mereka masih terdiam mendengar penuturan Altair, sosok pembunuh yang di katakan Altair adalah seorang mantan kepala desa dan seorang dukun yang sedang mendalami ilmu hitam, saat ini mereka sudah tua tapi masih sangat berpengaruh di desa itu.
"Akan aku sapa mereka sebelum pulang nanti" gumam Baharuddin pergi dari pesantren itu dan menemui sosok Laila sebelum dia di pindahkan dari hutan.
"Laila!"
"Laila! Keluar kamu! Aku tahu kamu bisa keluar kapanpun dan tidak hanya saat Maghrib saja!" Panggil Baharuddin ketika dia sampai di kuburan yang di sebutkan Kaivalya.
Srak. Srak. Srak.
Suara langkah kaki yang di seret terdengar di belakang Baharuddin, dia langsung berbalik untuk melihatnya dan ternyata itu adalah Laila yang sekarang sudah berpakaian dan terlihat cantik dengan balutan hijab
"Aku ingin pulang" ucapnya
"Kamu akan pulang, tapi katakan apa yang di ambil dukun itu darimu agar kamu bisa istirahat dengan tenang?" Tanya Baharuddin
"Ini" jawabnya menunjuk bagian sensitifnya
"Ilmu penakluk perempuan! Dasar dukun sialan, aku akan beri mereka pelajaran, kamu tunggu saja dan istirahat dengan tenang, akan aku ambil bagian dirimu yang dia ambil dan dia jadikan jimat, dan jangan ganggu Diandra lagi" ungkap Baharuddin segera pergi dari sana
"Tunggu!"
Baharuddin berbalik dan Laila memberikan sebuah batang pohon Bidara ke tangan Baharuddin Laila bahkan kembali mundur ke kuburan tempat dia di makamkan dan berdiri di sana dengan mata penuh Kemarahan.
"Apa ini? Kenapa panas?"
"Kelemahan dukun itu, kakek yang memberikan itu padaku" jawab Laila, dia juga meniupkan sesuatu ke tubuh Baharuddin sampai rasa panas yang di rasakan Haris di tubuhnya jadi hilang.