NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Tiga Kendaraan Baru Tiba

Sementara itu, Yuda yang lagi dibicarakan oleh mereka berdua sedang memacu motor beatnya menuju kawasan BSD city.

Dalam perjalanan, dia menjadi pusat perhatian.

Pas di lampu merah, di jalan, banyak orang memperhatikannya.

Alasannya adalah kombinasi unik dari pakaian jas rapi yang dikenakannya dan terlihat mewah di mata mereka, malah mengendarai motor beat.

Kontras yang sangat unik bagi mereka.

Yuda tidak terlalu memperhatikan atau memikirkan jadi pusat perhatian disekitar.

Pertemuan dengan Hendra dan Lisa tadi berjalan jauh lebih lancar dari dugaannya.

Bagian terbaiknya, ia tidak perlu mengurus apa pun.

Cukup duduk manis menunggu uang mengalir.

Namun pikirannya sudah tidak ada di sana lagi.

Pikirannya sekarang adalah menantikan kendaraan barunya yang masih dalam perjalanan.

Ia melirik jam Patek Philippe di pergelangan tangannya. 13:42.

Estimasi tiba pesanan kendaraannya sisa 30 menit lagi.

...----------------...

Gerbang utama BSD City.

Satpam yang bertugas sedang berdiri tegap di luar pos, ketika sebuah Honda Beat berhenti tepat di depannya.

Pria di atas motor itu membuka kaca helmnya.

Satpam itu menatapnya beberapa detik. "Lho... Pak Yuda?"

Satpam itu memperhatikan wajahnya lebih saksama.

Entah kenapa, Yuda yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat berbeda dari kemarin.

Setelan jasnya rapi, sikapnya tenang, dan wajahnya terlihat lebih tegas.

Kalau bukan karena Beat itu, ia pasti mengira pria di depannya adalah pengusaha muda dari kota besar.

"Ada yang bisa dibantu, Pak?"

"Sebentar lagi akan ada pengiriman atas nama saya," kata Yuda. "Sekitar 2 siang akan ada truk pengangkut kendaraan besar dari ekspedisi Kilat Kuning. Tolong izinkan masuk ya, mereka mau mengantar pesanan kendaraan saya ke Unit No. 1."

Satpam itu cepat-cepat mengambil pulpen dan mencatat.

Kemudian Satpam itu mengangguk paham. "Baik, Pak Yuda. Untuk kendaraan besar atau truk towing, sesuai prosedur standar, kami akan melakukan pemeriksaan."

"Selanjutnya kami akan mengawal langsung sampai ke depan unit Bapak agar tidak mengganggu jalur penghuni lain."

"Baguslah kalau begitu. Terima kasih ya, Pak."

"Sama-sama, Pak Yuda."

Yuda tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya menuju vilanya.

Ekspedisi Kilat Kuning sendiri merupakan nama perusahaan logistik khusus yang secara resmi terdaftar, namun di balik layar dibuat secara tertutup oleh sistem.

Tepat pukul 14:08, sebuah truk car carrier tertutup besar berwarna kuning cerah dengan aksen garis hitam tebal perlahan memasuki gerbang utama NavaPark.

Di sisi baknya, terpampang logo bertuliskan "KILAT KUNING" dengan font tebal dan modern, disertai simbol petir berwarna hitam.

Ketika satpam itu melihat logo Kilat Kuning di box truk, ia mengingat kembali arahan Yuda bakal ada truk pengangkut kendaraan tertutup.

Segera ia berjalan ke sisi pengemudi truk.

"Selamat siang pak, ada keperluan apa?"

Meskipun dia sudah tahu jawabannya, tapi sesuai prosedur SOP, harus bertanya.

Pengemudi truk itu menurunkan jendelanya.

Tampak pria paruh baya mengenakan setelan jas hitam di dalam kemudi, "Selamat siang juga. Ada pengiriman ke Botanic Villa No. 1, atas nama Bapak Yuda Kusuma."

Satpam itu mengangguk sedikit, ia melirik rekannya untuk melanjutkan pemeriksaan dan verifikasi dokumen.

Setelah pemeriksaan verifikasi dokumen dan tidak ditemukan sesuatu yang salah.

Rekan Satpam itu yang sedang memegang pad kembali meminta pengemudi membukakan box truk itu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pengemudi truk menekan tombol di samping bodi kontainer.

Suara hisapan udara hidraulis berdesis nyaring ketika pintu samping terangkat.

Petugas satpam menyalakan lampu senter dan mengintip ke dalam celah terpal tebal yang menutupi kendaraan.

Seketika, napas satpam itu tertahan di tenggorokan.

Cahaya senternya menimpa kilauan serat karbon murni, logo mahkota Rolls-Royce yang berdiri anggun di atas gril krom.

Jantung satpam itu berdegup kencang secara mendadak.

Lalu lanjut ke 2 kendaraan lain yang tertutup terpal, kembali tertegun sejenak melihat logo BMW di Motor.

Saat membuka sedikit terpal kendaraan terakhir, tangannya yang memegang papan catat bergetar halus. 'I-ini... Mobil Sport.'

Ia buru-buru melepaskan terpal itu perlahan, takut merusaknya.

Ia menyapu keringat dingin di dahinya sebelum menatap rekannya dengan mata membelalak.

"S-semua aman! Buka palang!" serunya dengan suara yang sedikit bergetar.

Setelah palang terbuka, raut wajah keduanya berubah serius.

Lalu keduanya naik sepeda motor patroli langsung mengambil posisi di depan truk untuk mengawal sang raksasa di jalan kawasan NavaPark menuju Botanic Villa.

Niat awalnya adalah untuk mengawal truk itu agar tidak mengganggu lalu lintas jalan NavaPark.

Tapi setelah melihat isi truk itu, mereka berdua langsung berubah sikap.

Sembari mengendarai motornya didepan truk, matanya tak lepas menyapu sekeliling.

Ketika ada sebuah sedan hitam yang melaju perlahan di belakang truk, satpam yang di belakang langsung memberi isyarat agar sedan itu menjaga jarak.

'Kalau sampai ada yang menyerempet truk ini...'

Satpam yang di depan menelan ludah.

Ia tidak berani membayangkan berapa nilai kendaraan di dalam truk itu.

Rolls-Royce. BMW. Dan satu lagi yang bentuknya rendah dan agresif—mobil sport yang jelas bukan sembarangan.

Memikirkan hal itu, bulu kuduknya merinding.

Sikap keduanya seperti mengawal konvoi kenegaraan.

Beberapa penghuni di kawasan NavaPark yang melihat pemandangan itu hanya bisa bengong.

Truk kuning besar.

Dua satpam mengawal dengan motor patroli.

Dan wajah kedua satpam itu tegang luar biasa.

"Ada apa sih?" bisik seorang ibu yang sedang menyiram tanaman.

"Entahlah. Tapi kayaknya isi truk itu bukan barang sembarangan."

"Lha iya. Lihat saja ekspresi tegang satpam itu sampai segitunya."

Sesampainya di kawasan Botanic Villa, kedua satpam itu sedikit menghela nafas lega.

Karena dikawasan ini lalu lintas lebih sepi.

Namun mereka berdua tetap tidak mengendurkan kewaspadaan nya.

Sementara itu, di depan vilanya, Yuda berdiri santai di area carport.

Pakaiannya sekarang berganti mengenakan kasual biasa.

Matanya menatap ujung jalan, menunggu truk pengangkut kendaraan itu muncul.

Tak lama kemudian, ia melihat truk kuning besar itu melaju perlahan, dikawal 4 satpam yang tampak seperti sedang mengawal presiden.

Yuda mengangkat alis.

"Kenapa dikawal begitu?" gumamnya pelan.

Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

Mungkin itu memang prosedur standar untuk pengiriman kendaraan mewah di BSD city.

Truk itu akhirnya berhenti tepat di depan halaman vilanya.

Pintu kabin terbuka.

Pengemudi pria paruh baya bersetelan jas hitam itu turun dengan gerakan tenang.

Ia membungkuk sopan ke arah Yuda.

"Selamat siang, Bapak Yuda Kusuma. Saya Rudi, perwakilan dari Kilat Kuning Logistik. Kami membawa tiga unit kendaraan sesuai pesanan Bapak."

Yuda mengangguk. "Siang. Silakan."

Rudi kemudian memberi instruksi kepada dua rekannya yang turun dari sisi lain truk.

Keduanya mengenakan seragam kuning-hitam dengan logo petir di dada.

Gerakan mereka efisien. Terlatih.

Sementara itu, dua satpam yang mengawal tadi turun dari motor patroli mereka.

Keduanya berdiri agak jauh, tapi mata mereka tetap waspada.

Rudi menekan tombol hidraulis.

Pintu samping kontainer terangkat perlahan.

Unit pertama yang diturunkan adalah sebuah motor sport berwarna hitam.

Motor itu dikeluarkan dengan hati-hati menggunakan rel khusus.

Yuda melangkah mendekat.

Motor sport berwarna hitam pekat itu berdiri gagah di hadapannya.

Garis bodinya tajam.

Fairing aerodinamisnya mengkilap di bawah sinar matahari sore.

Logo BMW di sisi tangki terlihat jelas.

Yuda mengelilinginya sekali mengamati tampilan motornya.

"Ini keren," gumamnya.

Rudi tersenyum tipis. "BMW M 1000 RR, warna hitam, sesuai pesanan. Sudah termasuk paket performa standar pabrik. Surat-surat lengkap."

Yuda mengangguk puas.

Unit kedua.

Petugas Kilat Kuning kembali bekerja. Kali ini mereka menggunakan jalur rel yang lebih lebar.

Sebuah Rolls-Royce Cullinan Black Badge Series II hitam pekat perlahan turun dari kontainer.

Bodinya besar. Berwibawa.

Seluruh permukaannya dibalut hitam mengkilap—dari gril, emblem, hingga velg.

Bahkan logo mahkota Rolls-Royce di atas gril itu pun berwarna hitam.

Ketika rodanya menyentuh aspal, salah satu satpam yang mengawal tadi tanpa sadar menelan ludah.

"M-mobil itu..." bisiknya ke rekannya.

Rekannya hanya bisa mengangguk.

Meskipun mereka berdua sudah menebaknya tadi pas pemeriksaan, meski hanya sekilas, tapi melihatnya secara langsung tampilan mobil itu, masih membuat keduanya sangat terkejut.

Yuda berjalan mendekat.

Ia membuka pintu pengemudi.

Interiornya benar-benar mewah.

Kulit lembut di seluruh permukaan.

Aksen kayu gelap.

Dan aroma khas mobil baru—campuran kulit, kayu, dan sesuatu yang mahal.

"Black Badge..." Yuda mengusap setirnya pelan. "Ini yang paling nyaman."

Rudi yang berdiri di sampingnya berkata, "Unit ini merupakan salah satu dari sedikit unit Black Badge Series II yang diproduksi. Spesifikasi lengkap. Bapak bisa cek dokumennya nanti."

Yuda menutup pintu dengan hati-hati. Suaranya nyaris tidak terdengar.

Unit terakhir.

Petugas Kilat Kuning tampak lebih berhati-hati kali ini.

Bahkan Rudi sendiri ikut mengawasi langsung proses penurunannya.

Ketika cover terpal dibuka, dua satpam yang berdiri di kejauhan itu serentak menahan napas.

Sebuah hypercar putih salju perlahan turun dari kontainer.

Bodinya sangat rendah.

Bahkan untuk ukuran mobil sport sekalipun, Koenigsegg Jesko Attack ini terlihat seperti kendaraan yang tidak seharusnya ada di jalan biasa.

Garis bodinya ekstrem.

Aerodinamisnya agresif.

Dan ketika keempat rodanya menyentuh aspal, seolah seluruh carport itu menjadi panggung untuknya.

Yuda terdiam.

Ia sudah melihat Koenigsegg di internet. Di video. Di foto.

Tapi melihatnya langsung—menyentuh bodinya, melihat pantulan cahaya di permukaan putihnya—itu pengalaman yang sama sekali berbeda.

"Koenigsegg Jesko Attack," kata Rudi. "Warna putih. Edisi khusus dengan badge Privileged Investor di konsol tengah dan sasis. Ini salah satu unit paling eksklusif yang pernah keluar dari pabrik Ängelholm."

Yuda melangkah mendekat. Tangannya menyentuh bodi mobil itu. Dingin. Halus. Sempurna.

"Ini... luar biasa," gumamnya.

Rudi menyerahkan beberapa dokumen. "Surat-surat lengkap, Bapak. BPKB, STNK, asuransi, dan sertifikat keaslian dari Koenigsegg Automotive AB. Semuanya sudah diurus. Pelat nomor menggunakan plat khusus dengan kode unik."

Yuda menerima dokumen itu dan memeriksanya sekilas. Rapi. Profesional. Tidak ada satu pun yang terlewat.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!