Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.
Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.
Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balapan
Malam itu, hawa dingin kaki Gunung Arunika mendadak pecah oleh raungan mesin. Empat mobil sudah berjejer rapi di garis start buatan: biru tua, putih, hitam, dan sebuah Mazda merah menyala yang sengaja digeber berkali-kali hingga memekakkan telinga.
Asap knalpot mengepul tebal, bercampur debu jalanan yang terbang di bawah sorot lampu neon portabel. Di pinggir aspal, kerumunan anak muda sibuk berteriak sambil sesekali mengetik angka taruhan di ponsel mereka.
Di dekat pembatas jalan, Alex menyikut lengan Rehan. "Gimana? Taruhan biasa? Yang kalah bayar makan-makan kita semua yang ada disini."
"Ah kurang menantang," sahut sebuah suara berat dari belakang.
“Itu tuan muda Adrian,” bisik salah satu penonton.
Orang-orang spontan menoleh. Adrian baru saja turun dari mobil merahnya, membiarkan mesin mobilnya tetap meraung halus. Ia malam itu tampil santai hanya jaket kulit hitam yang agak kusam, celana jins, dan sebatang rokok yang menyala di sela jarinya. Rambutnya tampak acak-acakan disapu angin malam.
"Wah panjang umur baru juga diomongin," Rehan langsung merangkul pundak Adrian sambil terkekeh. "Tumben kau mau turun gunung jam segini? Enggak dicariin bokap ?"
Adrian hanya mendengus, menjentikkan abu rokoknya ke aspal. "Daripada kalian gabut di sini jadi main enggak?"
Farhan, yang sejak tadi bersandar di kap mobil hitamnya ikut menimpali. "Ayo langsung start. Alex dari tadi udah kepedean banget tuh."
Alex tertawa, menggeleng-gelengkan kepala. “Aku cuma heran aja. Tumben-tumbenan kau mau ikutan balapan liar gini. Biasanya jam segini kau masih pusing sama urusan proyek Angkasa Langit, atau minimal lagi mager ketemu orang."
Di sudut kerumunan, kehadiran Adrian memang langsung mengubah suasana. Maklum di antara anak-anak motor dan mobil di daerah itu, nama Adrian dan lingkaran pertemanannya sudah seperti kasta atas.
Anak tunggal pengusaha besar, anak jenderal polisi, dan anak pejabat dinas berkumpul di satu tempat. Kehadiran mereka selalu jadi tontonan tersendiri bagi anak-anak nongkrong di sana.
Adrian tidak memedulikan kasak-kusuk di sekitarnya. Pandangannya lurus menatap jalanan gelap yang berkelok tajam menuju puncak gunung. Kepalanya sedang penuh malam ini, dan ia butuh adrenalin untuk melampiaskan stresnya.
"Taruhannya kita ganti," kata Adrian tiba-tiba.
Alex dan Rehan saling pandang, menanti.
Adrian menginjak puntung rokoknya ke aspal sampai benar-benar padam. "Yang kalah harus lari satu putaran keliling jalur bawah. Telanjang dada."
"Sinting kau, Adrian! Dinginnya kayak gini!" Rehan langsung protes sambil merapatkan jaketnya.
"Kenapa? Takut kalah?" Adrian menaikkan sebelah alisnya, lalu berbalik berjalan santai menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban.
Sorakan penonton langsung pecah,
memanaskan suasana malam yang beku. "Ayo Lex! Jangan mau kalah urat sama Adrian!" teriak seseorang dari kerumunan.
Seorang cewek dengan jaket oversized maju ke tengah jalan sambil membawa bendera modifikasi. Adrian, Alex, dan Rehan sudah berada di balik kemudi masing-masing. Kaca mobil diturunkan setengah, saling melempar pandang dan senyum menantang untuk terakhir kali.
Bendera diangkat tinggi-tinggi. Angin gunung berembus makin kencang, menerbangkan daun-daun kering di atas aspal.
"Tiga... dua... Mulai!"
Keempat mobil langsung melesat, meninggalkan jeritan ban yang bergesekan kasar dengan aspal. Suara knalpot mereka menggema hebat membelah kesunyian malam jalur pegunungan tersebut.
Sementara itu, di balik rimbunnya semak-semak lereng Ana merangkak keluar dari kegelapan hutan.
Napasnya tersengal-sengal, pendek dan terasa menyiksa. Seragam putih abu-abunya sudah robek di bagian bahu, sementara noda merah di bagian perutnya terasa makin basah dan melebar. Setiap kali kakinya menapak tanah, rasanya seperti menginjak pecahan kaca.
Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang bergejolak panas. Sebuah kekuatan—atau mungkin potongan ingatan asing milik Dinda—mendadak bersemayam di tubuhnya. Energi itu berputar hebat, tetapi fisik Ana yang lemah dan terluka tidak sanggup menahannya.
"Sialan... badan ini lemah banget," umpatnya lirih. Ia ambruk bersandar pada batang pohon pinus yang kasar untuk mencari pegangan.
Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napas yang kian memburu. Namun indra pendengarannya mendadak menajam secara tidak wajar. Ia bisa mendengar suara lengkingan mesin mobil dari kejauhan. Getarannya merambat halus dari tanah, menembus telapak kakinya yang tanpa alas.
Ada mobil yang melaju gila-gilaan menuju tikungan tempatnya berada.
Ana memfokuskan pendengarannya, mencoba memilah suara di antara gemuruh angin. "Suara mesinnya... ada yang beda."
Membawa sisa tenaga yang nyaris habis, Ana memaksakan diri menyeret langkah menuju tepi jalan aspal. Pandangannya mulai kabur, dipenuhi kunang-kunang hitam.
Tepat saat itu, dari arah kanan, sorot lampu jauh sebuah mobil muncul dengan sangat cepat, membelah kegelapan tikungan.
Tanpa sempat berpikir panjang, Ana melangkah terseok-seok ke tengah jalan dan mengangkat kedua tangannya yang gemetar.