NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Prolog

Rania hanya ingin mendapatkan kembali HP kesayangannya.

Sore itu, ia mengejar seorang penjambret sampai lupa melihat jalan.

Satu tikungan.

Satu motor yang melaju.

Lalu

BRAK!

Tubuh Rania terpental.

Buku dan earphone terlepas dari tangannya.

Pandangan matanya perlahan kabur.

“HP-ku…”

Setelah itu, semuanya gelap.

Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri.

Namun ketika membuka mata, Rania tidak melihat jalanan, rumah sakit, ataupun wajah orang-orang yang menolongnya.

Yang ia lihat justru langit-langit kamar tinggi dengan lampu kristal.

Tirai lilac menjuntai di sisi jendela.

Kasur empuk.

Bunga segar.

Semuanya terasa seperti kamar seorang putri.

Rania duduk perlahan.

“...Aku di mana?”

Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin.

Wajah yang menatap balik ke arahnya bukan wajahnya.

Rania membeku.

“HAH?!”

Tiba-tiba terdengar suara di kepalanya.

[Ting!]

[Selamat datang, Host.]

Rania menelan ludah.

“Siapa?”

[Sistem dari Langit telah aktif.]

Rania memegang kepalanya.

“Ya Allah…”

Ia baru saja kehilangan HP.

Sekarang kehilangan identitas.

Dan yang paling parah

ke mana latte kesayangannya?

Rania menatap pantulan di cermin wajah asing yang cantik, kulit pucat, rambut hitam panjang tergerai rapi seperti baru disisir dayang. Tangannya sendiri terasa asing saat menyentuh pipi itu.

"Sistem apa maksudmu?! Aku cuma mau HP-ku balik, bukan bukan pindah ke tubuh orang lain!"

[Mohon tenang, Host. Sistem akan menjelaskan situasi Anda.]

[Anda kini berada di tubuh putri wening sashikierana dari Kediaman Adipati Wiraatmaja. Tubuh asli mengalami koma akibat diracuni tiga hari lalu. Host diambil sebagai pengganti kesadaran agar cerita maksud Sistem, kehidupan tetap berjalan.]

Rania terdiam. "...Diracuni?"

[Benar. Status kesehatan tubuh saat ini: lemah, namun stabil. Ancaman: masih ada. Pelaku peracunan: belum diketahui.]

Ia menoleh cepat ke pintu kamar, seolah takut seseorang akan masuk dan menuntaskan pekerjaan yang belum selesai itu.

"Tunggu, tunggu—jadi aku menggantikan orang yang HAMPIR DIBUNUH? Kenapa bukan yang santai-santai saja, yang tinggal makan enak terus healing?!"

[Sistem tidak memilih. Sistem hanya menyesuaikan.]

"Menyesuaikan APAAN"

Rania menutup mulutnya sendiri saat mendengar langkah kaki mendekat dari luar. Ia buru-buru duduk kembali di ranjang, berusaha memasang wajah selemah dan setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang.

Pintu terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan masuk membawa nampan, wajahnya campuran antara khawatir dan waspada.

"Nyonya... sudah sadar rupanya." Nada suaranya hati-hati, seperti sedang menakar sesuatu. "Syukurlah. Tuan Adipati akan senang mendengarnya."

Rania tersenyum kaku. "...Iya. Aku baik-baik saja."

Pelayan itu meletakkan nampan, lalu menatapnya lekat-lekat sebelum akhirnya membungkuk dan keluar lagi—terlalu cepat, terlalu formal, seolah tak ingin berlama-lama di ruangan itu.

Begitu pintu tertutup, Rania menghembuskan napas panjang.

"Sistem," bisiknya, "orang yang barusan masuk itu... apa dia juga bagian dari yang mau bunuh aku?"

[Data tidak cukup. Disarankan: Host bersikap waspada terhadap semua orang hingga identitas pelaku diketahui.]

"Bagus sekali sarannya," gumam Rania sinis. Ia menatap pantulan wajah asing di cermin sekali lagi, lalu ke arah bunga segar dan tirai lilac yang tadi terasa seperti mimpi indah.

Sekarang semuanya terasa seperti kandang yang dihias cantik.

"Oke," katanya pelan, mengepalkan tangan yang bukan miliknya. "HP hilang, boleh. Identitas hilang, boleh. Tapi nyawa?"

Ia menatap tajam ke langit-langit, seolah menantang sistem, takdir, atau siapa pun yang telah membawanya ke sini.

"Nyawa ini nggak akan aku kasih segampang itu."

[Ting! Misi pertama telah dibuat: *Bertahan Hidup*.]

Rania mendesah panjang. Latte-nya jelas sudah tidak bisa diselamatkan. Tapi nyawanya itu urusan lain.

Rania baru saja mau menghela napas lega, sebelum.

[Ting! Informasi tambahan telah dimuat.]

[Tugas utama Host sebagai Tuan Putri Rania Wardhani: menikahi sepupu Host sendiri, Pangeran Mukti Samudera, demi menjaga garis suksesi dan aliansi internal Kerajaan Wiraatmaja. Status: pertunangan sudah diumumkan, pernikahan tinggal menghitung bulan.]

"...Sepupu?" Rania mengulang pelan, seolah salah dengar. "SEPUPU SENDIRI?"

[Benar. Pernikahan sedarah dalam garis kerajaan ini adalah tradisi turun-temurun untuk menjaga kemurnian darah takhta.]

"Ya Allah," Rania memegangi kepalanya yang mendadak pusing entah karena efek habis koma atau efek shock. "Belum move on dari HP hilang, sekarang disuruh nikah sama sepupu?!"

[Ting! Informasi tambahan.]

[Selain itu, Host juga tengah menghadapi lamaran dari Pangeran Ji Aryasatya, Putra Mahkota dari Kerajaan Cahyaduta, kerajaan tetangga yang berbatasan langsung dengan Wiraatmaja. Lamaran tersebut ditolak oleh tubuh asli sebelum insiden peracunan terjadi. Penolakan ini diduga kuat menjadi salah satu motif percobaan pembunuhan.]

Rania membeku.

"Tunggu dulu." Ia mengangkat satu tangan, mencoba menyusun ulang semua informasi yang menghantam kepalanya beruntun seperti tikungan tadi sore. "Jadi aku harus nikah sama sepupu sendiri. Terus ada pangeran dari kerajaan lain yang aku tolak lamarannya. Dan penolakan itu mungkin alasan kenapa aku hampir mati diracun?"

[Kesimpulan Host akurat.]

"BAGUS SEKALI." Rania menjatuhkan diri ke bantal, menatap langit-langit kamar yang tadi terlihat indah, sekarang terasa seperti atap penjara berlapis kristal. "Jadi pilihannya cuma dua: nikah paksa sama sepupu, atau ditolak terus dibunuh sama pangeran tetangga yang sakit hati."

[Sistem mendeteksi ada opsi ketiga.]

Rania langsung bangun. "Apa itu? Kabur?"

[...Bukan. Opsi ketiga: tetap menolak Pangeran Ji Aryasatya, sambil mencari cara membatalkan pertunangan dengan Pangeran Mukti Samudera, sambil mencari pelaku sebenarnya di balik peracunan sebelum keduanya, atau pihak lain, berhasil membunuh Host untuk kedua kalinya.]

H

"...Itu bukan opsi ketiga," gumam Rania lemas. "Itu tiga masalah sekaligus yang digabung jadi satu kalimat panjang."

[Host benar. Sistem meminta maaf atas kesalahan penyusunan kalimat.]

Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan, tertawa kecil—tawa yang lebih mirip isakan frustrasi.

Baru beberapa menit yang lalu, dunianya hanya seputar mengejar penjambret dan menyesali HP yang hilang. Sekarang ia terjebak di tubuh seorang putri yang harus menikahi sepupunya sendiri, sambil menghindari amukan seorang pangeran yang mungkin dendam karena ditolak dan mungkin saja pelaku sebenarnya di balik racun yang mengalir di tubuh ini.

Ia menurunkan tangannya, menatap langit-langit dengan tatapan baru. Tatapan yang tidak lagi bingung, melainkan mulai menghitung.

"Baik," katanya pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. "Kalau begitu aturannya sederhana saja."

Ia bangkit duduk, menyeka sisa air mata dari tawa getirnya tadi.

"Aku nggak akan nikah karena dipaksa tradisi. Aku juga nggak akan minta maaf karena nolak lamaran yang memang bukan pilihanku. Dan siapa pun yang naruh racun ini di tubuhku—"

Matanya menajam, menatap pantulan wajah asing yang perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri.

"—akan aku cari, sebelum dia sempat coba lagi."

[Ting! Misi diperbarui: *Bertahan Hidup di Istana* — Sub-misi: Batalkan Pertunangan Sepihak, Selidiki Dalang Peracunan, Waspadai Pangeran Ji Aryasatya.]

Rania menghela napas panjang, menatap ke arah jendela tempat tirai lilac masih berkibar pelan tertiup angin sore.

Entah kenapa, ia jadi merindukan kemacetan jalan raya dan tukang parkir yang suka teriak-teriak.

Setidaknya di sana, tidak ada yang mau membunuhnya hanya karena menolak lamaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!