Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Langit Jakarta yang tadinya cerah saat mereka makan bakso tiba-tiba berubah gelap gulita. Begitu mobil Maybach melintasi gerbang kediaman Dirgantara, hujan turun bukan lagi sebagai tetesan, melainkan sebagai tirai air raksasa yang menghantam atap mobil dengan suara memekakkan telinga. Petir menyambar, menerangi halaman depan yang kini tergenang air.
Karin menatap jendela yang berembun. Jantungnya tiba-tiba berdegup tidak karuan. Sebuah perasaan dingin yang tidak ada hubungannya dengan AC mobil merayap naik ke tenggorokannya.
Hujan deras. Malam hari. Pulang ke rumah yang sepi dan penuh ketegangan.
Otak transmigration-nya langsung membunyikan alarm tingkat merah. Tunggu. Ini... ini settingan Bab 20! Di novel, tepat di bab dua puluh, hujan badai turun saat Arlan pulang. Vanessa dan keluarga besar berhasil mengumpulkan cukup bukti (yang dipelintir) untuk mendesak Arlan menceraikan Karin. Dan Karin asli diusir ke dalam hujan ini, lalu mati karena pneumonia!
Pintu mobil terbuka. Arlan turun lebih dulu, membuka payung hitam besar, lalu mengulurkan tangan pada Karin. "Ayo, cepat. Hujannya deras."
Karin menggenggam tangan Arlan, berlari kecil menuju teras. Namun, saat mereka melangkah masuk ke ruang tamu yang terang benderang, langkah Karin terhenti.
Di tengah sofa utama, duduk Pak Hendra, pengacara senior keluarga Dirgantara. Di hadapannya, tergeletak sebuah map merah tebal. Wajah pria tua itu tampak tegang.
"Pak Arlan, Anda akhirnya pulang," ucap Pak Hendra, berdiri dan memberi hormat. Matanya melirik Karin dengan tatapan yang campuran antara kasihan dan ketidaksetujuan. "Maaf saya datang malam-malam dalam cuaca buruk. Tapi ini mendesak."
Arlan melepaskan jasnya, memberikannya pada pelayan. Wajahnya kembali ke mode CEO dingin yang tidak bisa dibaca. "Ada apa, Pak Hendra? Kenapa kau membawa map merah?"
Map merah di keluarga Dirgantara hanya berarti satu hal: Dokumen hukum tingkat tinggi yang berkaitan dengan aset atau... pernikahan.
"Ini dari koalisi pemegang saham minoritas dan keluarga Suwono, Pak," jelas Pak Hendra, suaranya berat. "Mereka mengajukan petisi resmi. Mereka menyatakan bahwa Nyonya Karin secara mental tidak stabil, membahayakan reputasi perusahaan, dan tidak kompeten memegang lima persen saham. Mereka... mereka meminta Anda untuk segera menandatangani surat perceraian ini agar hak asuh atas saham tersebut kembali ke keluarga besar, dan Nyonya Karin bisa... dipindahkan ke fasilitas perawatan yang sesuai."
Pak Hendra membuka map itu, mengeluarkan tumpukan kertas tebal berisi draf perjanjian cerai dan pelepasan hak aset. "Jika Anda tidak menandatangani ini malam ini, mereka mengancam akan membawa ini ke rapat direksi darurat besok pagi dan membekukan aset perusahaan."
Ruangan itu terasa kehilangan oksigen.
Karin menatap tumpukan kertas itu. Ini dia. Vonis kematiannya. Bab 20. Jika Arlan tanda tangan, dia akan diusir. Dia akan mati konyol di jalanan.
Arlan menatap kertas itu, lalu menatap Karin. Tatapan pria itu gelap, sulit diartikan. Ia melangkah maju, mengambil pulpen dari meja konsol.
"Kak Arlan..." suara Karin terdengar kecil. Topeng idiotnya hampir retak karena panik yang murni.
Arlan berhenti. Ia menatap istrinya. "Karin, mundur. Ini urusan orang dewasa."
Tidak! Aku tidak mau mati! Aku belum makan bakso lagi! Aku belum melihat Kak Arlan pakai topi kuning! batin Karin berteriak. Logika idiotnya mengambil alih kendali penuh atas tubuhnya.
Sebelum Arlan atau Pak Hendra bisa bereaksi, Karin melompat maju. Ia menyambar tumpukan kertas cerai itu dari tangan Pak Hendra.
"Nyonya! Jangan!" teriak Pak Hendra panik.
Karin tidak mendengarkan. Ia menatap kertas-kertas tebal itu, lalu menatap rambutnya yang basah kuyup karena hujan. "Wah! Kertasnya tebal banget! Dan warnanya putih bersih!"
Tanpa rasa bersalah, Karin mulai menggosokkan tumpukan kertas cerai senilai triliunan rupiah itu ke kepalanya yang basah, menggunakan kertas itu sebagai handuk darurat.
"Kertas ini bagus banget buat ngelap rambut!" seru Karin riang, menggosok-gosokkan kertas itu ke rambutnya hingga berantakan. "Daya serapnya tinggi! Nggak kalah sama handuk microfiber!"
"Nyonya Karin! Hentikan! Itu dokumen hukum! Tintanya luntur!" Pak Hendra hampir menangis, mencoba merebut kembali kertas itu, tapi Karin terlalu lincah.
"Luntur? Wah, berarti tintanya bagus buat bikin motif tie-dye di rambut aku!" balas Karin, terus menggosokkan kertas itu hingga sebagian besar tanda tangan dan stempel basah di halaman pertama hancur lebur, bercampur dengan air hujan dari rambutnya menjadi coretan biru dan hitam yang tidak bisa dibaca lagi.
Arlan berdiri di sana, menyaksikan istrinya yang basah kuyup menggunakan dokumen perceraian yang mengancam nyawanya sebagai handuk rambut.
"Stop, Karin," ucap Arlan akhirnya. Suaranya tenang, tapi memiliki bobot yang membuat Pak Hendra langsung mundur selangkah.
Karin berhenti menggosok. Ia menatap Arlan dengan rambut yang berdiri berantakan, meneteskan air, dan memegang tumpukan kertas yang kini sudah tidak berbentuk lagi. "Kak Arlan? Kertasnya rusak. Maaf ya. Tapi rambutku udah kering. Kertas ini ajaib!"
lanjut kn thor💪