"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Malam Persembahan di Keraton Kagendra
"Lepaskan kainmu. Tawanan tidak punya hak untuk malu."
Nyai Randhu mengucapkannya tanpa menoleh. Perempuan tua itu sibuk mengaduk gentong air sumur dengan gayung batok, seolah yang berdiri di depannya hanyalah seekor kambing kurban.
Dyah Ayu melepas simpul kainnya sendiri. Ia tidak menunggu tangan orang lain menyentuhnya.
Kain itu jatuh ke lantai batu, masih membawa debu jalan tujuh hari dan bau asap yang menempel sejak Kadipaten Watugaluh terbakar. Dua dayang muda di sudut ruangan berbisik, lalu tertawa pendek. Dyah Ayu mendengar kata jarahan terselip di antara tawa itu.
Guyuran pertama menghantam punggungnya.
Air sumur di Keraton Kagendra ternyata jauh lebih dingin daripada sungai di kampung halamannya. Kulitnya menegang. Rahangnya terkunci rapat supaya giginya tidak bergemeletuk. Ia tidak akan memberi mereka suara itu.
"Kulitnya bagus," gumam salah satu dayang, menggosok lengan Dyah Ayu dengan serabut kelapa sampai memerah. "Sayang, sebentar lagi cuma jadi abu seperti kadipatennya."
Dyah Ayu mengangkat dagu. Ia menatap dayang itu cukup lama, sampai gerakan serabut di lengannya melambat, lalu berhenti.
"Gosok lebih keras," katanya pelan. "Sinuwun pasti tidak suka menyentuh sesuatu yang masih bau darah."
Dayang itu mundur setengah langkah. Nyai Randhu mendengus dan melempar kain kasar ke dada Dyah Ayu.
________________________________
Busana selir ampil ternyata hanya selembar kemben lurik pucat dan jarik tanpa prada emas. Tidak ada gelang. Tidak ada kalung. Serat kainnya menggaruk kulit yang baru digosok hingga perih.
Di Watugaluh, ibunya mengenakan kain semacam ini untuk mengelap meja sesaji.
Dyah Ayu duduk di depan cermin perunggu yang buram. Nyai Randhu menyisir rambutnya dengan sisir tanduk, kasar, menyentak setiap kali menemukan kusut. Kulit kepala Dyah Ayu berdenyut. Ia menghitung napasnya. Empat tarikan masuk. Empat hembusan keluar.
Di balik lipatan setagen yang melilit pinggangnya, sesuatu yang tipis dan dingin menekan kulitnya.
Cundhuk logam. Tidak lebih panjang dari jari telunjuk, setipis lidi aren. Ibunya menempanya sendiri tiga tahun lalu, di dapur belakang kadipaten, dan ujungnya direndam getah upas selama empat puluh malam. Ujung itu kini terbungkus selapis lilin lebah agar racunnya tidak melukai pemiliknya sendiri.
Satu goresan di leher. Tidak perlu dalam. Dalam waktu sepemakan sirih, jantung seorang lelaki dewasa akan berhenti.
"Ambilkan minyak cendana," perintah Nyai Randhu kepada dayang muda. "Yang murahan saja. Jangan buang yang bagus untuk barang rampasan."
Dayang itu berlari ke rak. Nyai Randhu berbalik untuk memeriksa pelita yang berkedip.
Dua tarikan napas. Hanya itu yang Dyah Ayu punya.
Jemarinya menyelinap ke setagen, menarik cundhuk itu keluar tanpa suara. Ia menggulung sanggulnya sendiri dengan satu tangan, gerakan yang ia pelajari sejak umur delapan tahun, lalu menusukkan logam tipis itu ke dalam gulungan rambut. Miring. Ujungnya menghadap ke luar, tepat di bawah tusuk konde kayu murahan yang sudah dipasang Nyai Randhu.
Ketika perempuan tua itu berbalik, Dyah Ayu sedang merapikan anak rambut di pelipisnya.
"Siapa yang menyuruhmu menyentuh sanggulmu?"
"Tadi miring, Nyai." Dyah Ayu tersenyum tipis ke arah cermin. "Aku tidak mau Sinuwun mengira Nyai tidak becus merias."
Nyai Randhu menyipitkan mata. Lalu ia menampar belakang kepala Dyah Ayu, cukup keras untuk membuat telinganya berdenging, dan cukup pelan untuk tidak merusak sanggul.
Cundhuk itu tidak bergeser sedikit pun.
_______________________________________
Bilik peraduan itu berbau dupa kemenyan dan kayu jati yang baru dipelitur.
Kelambu putih menggantung di keempat sisi ranjang. Satu pelita minyak kelapa menyala di atas meja rendah, menyisakan sudut-sudut ruangan dalam gelap. Dari luar jendela berjeruji, suara jangkrik bersahutan dengan langkah prajurit jaga.
Dyah Ayu berlutut di atas tikar pandan, di kaki ranjang. Begitu aturannya. Selir Ampil tidak boleh duduk di atas ranjang sebelum dipanggil.
Lututnya mulai kebas. Ia tidak bergerak.
Lalu langkah prajurit di luar berhenti serempak. Terdengar derit pintu jati. Seluruh bunyi jangkrik seolah menjauh.
Dyah Ayu tidak mendongak. Ia hanya melihat sepasang kaki telanjang melangkah masuk. Kaki yang besar, dengan bekas luka memanjang di punggung kaki kiri. Bau besi, keringat kuda, dan kayu cendana yang mahal memenuhi ruangan.
"Angkat wajahmu."
Suaranya rendah. Tidak keras. Tidak perlu keras.
Dyah Ayu mengangkat wajah.
Prabu Hayam Vira berdiri tanpa mahkota. Rambutnya yang hitam panjang diikat asal di tengkuk. Ia hanya mengenakan kain batik gelap dan selendang di bahu, dada terbuka, memperlihatkan bekas sabetan senjata yang sudah memucat. Ia lebih muda dari yang Dyah Ayu bayangkan. Dan jauh lebih tenang.
Lelaki inilah yang memberi perintah membakar Watugaluh. Dyah Ayu masih ingat bendera merahnya berkibar di atas balai kadipaten ketika atapnya runtuh.
"Jadi kau putri Adipati Watugaluh." Hayam Vira melepas keris dari pinggangnya, lalu meletakkannya di meja. Jauh dari jangkauannya sendiri. "Ayahmu bertahan sebelas hari. Tidak ada kadipaten lain yang bertahan lebih dari tiga."
"Ayahku tidak mengenal kata menyerah, Gusti Prabu."
"Tidak." Ia melangkah mendekat. "Karena itu ia mati."
Kuku Dyah Ayu menancap ke telapak tangannya sendiri di balik lipatan jarik. Wajahnya tidak berubah.
Hayam Vira berhenti tepat di depannya. Ia membungkuk, jemarinya menyentuh dagu Dyah Ayu dan memaksanya mendongak lebih tinggi. Kulit ujung jarinya kasar oleh gagang pedang. Napasnya hangat, berbau tuak kelapa yang samar.
"Kau tidak gemetar," gumamnya. "Selir-selir lain gemetar di malam pertama."
"Mungkin karena selir-selir lain punya sesuatu yang takut mereka hilangkan."
Sudut bibir sang Raja naik sedikit. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Ia menunduk lebih dekat. Bibirnya hanya sejengkal dari pelipis Dyah Ayu. Leher lelaki itu kini terbuka di depan matanya. Dyah Ayu bisa melihat denyut nadinya bergerak di bawah kulit kecokelatan.
Sekarang.
Tangan kanannya melesat ke sanggul. Jari-jarinya menemukan logam dingin itu, menariknya keluar, mengupas lilin di ujungnya dengan ibu jari dalam satu gerakan, lalu mengayunkannya ke leher sang Raja.
Ujung racun itu berhenti sehelai rambut dari kulitnya.
Cengkeraman Hayam Vira mengunci pergelangan tangan Dyah Ayu. Ia bahkan tidak menoleh. Jemarinya menekan tepat di sela tulang pergelangan, dan rasa nyeri menjalar sampai ke siku. Jari-jari Dyah Ayu mengejang terbuka sendiri.
Raja itu memutar tangannya pelan, mengambil cundhuk dari genggamannya semudah memetik bunga kamboja.
Ia mengangkat logam itu ke dekat pelita. Mengendusnya sekali.
"Getah upas." Ia memandang Dyah Ayu dengan ketertarikan yang dingin. "Dan lilin lebah supaya kau tidak meracuni dirimu sendiri. Siapa yang mengajarimu? Ibumu?"
Dyah Ayu tidak menjawab. Pergelangannya masih dalam cengkeraman lelaki itu, berdenyut panas.
Hayam Vira melempar cundhuk itu ke belakang tanpa melihat. Logam itu berdenting keras di atas meja jati, berputar dua kali, lalu diam di samping kerisnya.
Kemudian ia menarik Dyah Ayu berdiri.
Tubuh Dyah Ayu membentur dadanya. Keras, hangat, dan tidak bergeser sedikit pun. Tangan sang Raja yang bebas naik ke tepi atas kemben luriknya. Jari-jari itu mencengkeram kain kasar di sana, lalu menyentaknya.
Kraak.
Tepi kemben robek sepanjang satu jengkal. Udara malam yang dingin langsung menyapu tulang selangka dan bahu Dyah Ayu yang kini terbuka. Kulitnya meremang.
Ia tidak menutupinya. Ia menatap lurus ke mata sang Raja, dan napasnya, yang sejak tadi ia hitung dengan disiplin, akhirnya tersendat satu kali.
Hayam Vira melihatnya. Pandangannya turun ke bahu yang terbuka, lalu naik lagi, perlahan, ke bibir Dyah Ayu. Cengkeramannya di pergelangan tidak mengendur, tetapi ibu jarinya kini bergerak pelan di atas nadinya. Menghitung denyutnya.
"Adikmu," bisiknya. "Arya Sadewa. Dua belas tahun. Ia tidur di penjara bawah Balai Wiyata malam ini, dan ia menangis memanggil namamu sebelum terlelap."
Darah surut dari wajah Dyah Ayu.
"Tiga ratus orang Watugaluh masih berdiri di kandang tawanan alun-alun selatan. Petani. Pandai besi. Perempuan dengan bayi." Bibirnya kini nyaris menyentuh telinga Dyah Ayu. Suaranya serendah desir angin. "Setiap kali kau mengangkat senjata ke arahku, aku akan menghitung satu kepala. Dan kau yang akan memilih kepala siapa."
"Kau iblis," desis Dyah Ayu.
"Aku Raja." Ibu jarinya berhenti tepat di atas nadi yang berlari kencang. "Dan kau, Selirku, gemetar sekarang."
Ia melepaskannya.
Dyah Ayu terhuyung setengah langkah, menangkap tiang ranjang. Pergelangan tangannya memerah dengan bekas empat jari.
Ia menunggu. Menunggu Raja itu mendorongnya ke atas ranjang. Menunggu kehinaan yang sudah ia siapkan hatinya sejak pedati tawanan melewati gerbang ibu kota.
Hayam Vira justru berjalan ke meja. Ia mengenakan kembali kerisnya. Lalu, dengan gerakan yang sengaja dan lambat, ia melepas ikatan rambutnya hingga tergerai berantakan, menarik simpul kainnya hingga longgar, dan membiarkan selendangnya jatuh ke lantai.
"Aku tidak meniduri perempuan yang sedang menghitung di mana letak nadiku," katanya, tanpa menoleh.
"Lalu untuk apa semua ini?"
Raja itu berhenti di ambang pintu. Kali ini ia benar-benar tersenyum, dan senyum itu lebih menakutkan dari cengkeramannya.
"Supaya kau tahu rasanya dibenci oleh seluruh istana. Sama seperti aku."
Ia mendorong pintu jati hingga terbuka lebar.
Di selasar, belasan dayang dan emban yang berjaga sepanjang malam serempak bersujud. Beberapa di antaranya mengangkat wajah sekilas dan membeku melihat rambut sang Raja yang tergerai, dadanya yang terbuka, kainnya yang nyaris lepas.
"Malam pertama kami telah usai!" Suara Hayam Vira bergema sampai ke ujung selasar Keputren. "Siapkan air hangat untuk Selirku. Dia kelelahan."
Hening yang menyusul terasa lebih bising daripada genderang perang.
Dyah Ayu mendengar seseorang di selasar menahan napas. Ia mendengar bisikan yang menjalar cepat dari satu mulut ke mulut lain, sampai ke paviliun-paviliun yang pelitanya mendadak menyala satu per satu di kegelapan.
Dan ia mendengar satu kalimat dari Nyai Randhu, gemetar, nyaris tak bersuara:
"Sinuwun belum pernah menyelesaikan malam di bilik selir mana pun. Bahkan di bilik Gusti Permaisuri."
Dyah Ayu menoleh ke meja jati.
Keris sang Raja sudah tidak ada di sana. Dan cundhuk beracun milik ibunya juga telah lenyap.
Dari ujung selasar yang gelap, terdengar langkah kaki berderap. Berat. Seragam. Diiringi denting belati yang beradu dengan gelang logam.
Prajurit Estri milik Permaisuri sedang menuju biliknya.
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..