NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: DETIK-DETIK DI UJUNG JARUM

BAB 8: DETIK-DETIK DI UJUNG JARUM

Asap putih gas pembius dan racun kimia yang membakar tenggorokan perlahan terdorong keluar melalui jendela ruang kerja yang pecah. Di tengah kepulan asap yang melayang tipis, dr. Sara Maheswari bersujud di samping tubuh dr. Herman Teja kusuma.

Matanya yang merah dan berair akibat iritasi hebat berkedip cepat, namun tangannya yang gemetar dengan cekatan menusukkan tabung penlight ke dalam mulut sang korban untuk membuka jalan napas.

"Napasnya melambat! Respiratory arrest!" teriak dr. Sara dengan suara parau, menoleh ke arah Reno yang masih berusaha bangkit sambil memegangi dadanya yang memar. "Reno! Aku butuh atropin atau alat hisap cerna dari tas medikku! Cepat!"

Reno memaksakan kakinya berdiri, menahan rasa pusing dan nyeri di dadanya akibat hantaman Eksekutor. Dengan pandangan yang samar dan berbayang, ia menyambar tas medik dr. Sara yang tergeletak di dekat pintu kaca yang retak, lalu melemparkannya ke samping tubuh dr. Herman.

dr. Sara menyambar ampul penawar toksin tingkat tinggi, mematahkan leher ampulnya dengan ibu jari hingga kulitnya tergores sedikit, lalu menyuntikkannya langsung ke otot paha dr. Herman.

Detik-detik berlalu bagaikan siksaan neraka. Dada dr. Herman yang tadinya kejang-kejang kaku perlahan mulai menunjukkan hembusan napas teratur, meski kesadarannya hilang sepenuhnya.

"Dia selamat... setidaknya untuk saat ini," bisik dr. Sara, tersengal-sengal sambil menyapu keringat bercampur air mata di wajahnya. Sang dokter forensik bersandar lemas di kaki meja kerja, menatap Reno yang kini bersandar di dinding kaca yang retak.

Reno memejamkan mata rapat-rapat. Rasa bersalah menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan fisik tadi. "Aku gagal menyergapnya, Sara. Dia kabur."

"Kamu tidak gagal, Reno," potong dr. Sara tajam, suaranya bergetar namun dipenuhi ketegasan baru. Ia bangkit berdiri, menghampiri Reno dan menatap tepat ke dalam manik mata sang detektif.

"Kemampuanmu menyelamatkan nyawaku, dan petunjukmu membuat kita sampai di sini sebelum dr. Herman tewas sepenuhnya. Sekarang bukan waktunya menyalahkan dirimu sendiri."

Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi keraguan atau skeptisisme di mata dr. Sara. Penglihatan gaib Reno yang tadinya ia anggap tidak rasional, kini dipahaminya sebagai beban dan kompas utama dalam pertarungan hidup-mati ini.

Pintu ruangan mendadak didobrak kasar dari luar. Bara dan lima personel kepolisian bersenjata lengkap menerobos masuk dengan pistol teracung.

"Bos! Dokter Sara!" teriak Bara panik melihat kondisi ruangan yang berantakan dan dinding kaca yang retak. "Kami mendengar ledakan gas dari luar! Apa yang terjadi?!"

"Eksekutor melarikan diri lewat jendela luar menggunakan jalur zipline ke atap gedung sebelah!" perintah Reno cepat, membuang rasa sakitnya.

"Bara! Amankan dr. Herman dan koordinasikan pengawalan ketat di unit ICU! Jangan biarkan siapa pun mendekatinya tanpa izin dr. Sara!"

"Siap, Bos!" sahut Bara tegas, langsung memberi instruksi pada tim kepolisian.

Reno menyambar ponselnya yang bergetar hebat di dalam saku mantel. Di layar, nama Dion berkedip-kedip.

"Reno!" suara Dion terdengar sangat histeris dari speaker ponsel. "Gue baru saja mendeteksi sinyal peretasan baru di jaringan siaran TV nasional dan papan reklame digital di pusat kota! Si

Eksekutor... dia baru saja mengunggah siaran langsung!"

Reno dan dr. Sara saling pandang dengan raut wajah tegang. "Buka siarannya ke ponselku sekarang, Dion!"

Dalam hitungan detik, layar ponsel Reno menampilkan siaran video siaran langsung berkualitas tinggi dari tempat yang tidak diketahui.

Di dalam siaran tersebut, terlihat sesosok pria paruh baya bertubuh gemuk yang terikat kencang di atas kursi besi di dalam sebuah ruangan beton yang gelap mirip sebuah gudang tua atau bunker bawah tanah.

Pria itu adalah Bramantyo Wardhana, mantan pemilik Pabrik Sentosa sekaligus terdakwa utama skandal racun limbah sepuluh tahun lalu.

Wajah Bramantyo tampak lebam dan basah oleh keringat ketakutan. Mulutnya dilakban hitam tebal.

Di belakang Bramantyo, berdiri sosok Eksekutor dengan mantel hujan hitamnya. Kamera memperbesar tampilan wajahnya, memperlihatkan jaringan parut bekas luka bakar di rahang kirinya yang mengerikan.

Di tangan kanan Eksekutor, terlihat sebuah alat mekanis rumit berbentuk tabung kaca tebal berukuran besar yang dihubungkan dengan pompa dispenser otomatis dan dua buah jarum infus berdiameter besar.

"Selamat malam, para warga yang mendambakan keadilan," suara berat dan pecah dari Eksekutor bergema melalui speaker ponsel, terdengar begitu dingin dan mengintimidasi.

"Orang yang kalian lihat di layar ini adalah Bramantyo Wardhana. Pria yang sepuluh tahun lalu menyuap hakim, mengancam jaksa, dan membeli saksi ahli demi meloloskan dirinya dari hukuman pembunuhan massal puluhan anak-anak di pesisir."

Eksekutor mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya yang tajam seolah menatap menembus layar ponsel Reno.

"Hukum kalian telah gagal. Tapi VPCI dan detektif 'istimewa' mereka, Reno Devano, merasa bahwa hukum formalitas adalah satu-satunya jalan. Jadi, mari kita buat sebuah permainan terbuka."

Eksekutor menunjuk ke arah alat mekanis di samping Brimantyo. Di atas tabung kaca pekat itu, terdapat sebuah penghitung waktu mundur digital (timer) berwarna merah yang menunjukkan angka: 01:00:00 (Satu Jam).

"Alat di samping Bramantyo ini diisi dengan lima ratus mililiter konsentrat cairan raksa dan asam sianida pekat racun yang sama yang ia buang ke aliran air warga sepuluh tahun lalu," lanjut Eksekutor dengan nada datar yang mengerikan.

"Pompa otomatis ini terhubung dengan jaringan siber tertutup. Setiap sepuluh menit, seratus mililiter racun ini akan disuntikkan secara bertahap langsung ke pembuluh darah utamanya."

Eksekutor mendekatkan jemarinya ke kamera, memamerkan sebuah kunci enkripsi USB berbahan kuningan tua yang diukiri simbol mata bersinar.

"Hanya ada satu cara untuk menghentikan pompa ini dan mematikan kode eksekusi: dekripsi langsung menggunakan kunci fisik yang kubawa ini. Dan aku hanya akan menyerahkan kunci ini secara langsung kepada Reno Devano... secara empat mata."

Eksekutor tersenyum gila di balik kain penutup wajahnya. "Reno Devano, aku tahu kamu sedang menonton ini. Lokasiku ada di bekas tapak reruntuhan Pabrik Sentosa di kawasan pesisir industri.

Kamu punya waktu enam puluh menit untuk datang sendiri tanpa polisi. Jika kamu membawa pasukan atau mencoba mematikan sinyal siaran ini dari jauh... aku akan menekan tombol peledak racun ini seketika. Mari kita lihat, apakah penglihatan gaibmu bisa menyelamatkan nyawa terakhir ini, atau apakah kamu akan menonton kematiannya di meja otopsimu sendiri."

Bip!

Siaran langsung itu terputus mendadak, menyisakan layar hitam dan timer merah yang terus berdetak mundur di seluruh papan reklame digital kota.

Suasana di koridor lantai empat RS Medika mendadak hening membeku. dr. Sara menatap layar ponsel Reno dengan napas tertahan.

"Reruntuhan Pabrik Sentosa..." bisik dr. Sara dengan suara bergetar. "Itu kawasan Pesisir Utara. Dari sini butuh waktu setidaknya empat puluh lima menit dalam kondisi hujan deras seperti ini!"

"Dia sengaja menjebakmu, Reno!" tegas Widya yang baru saja menyusul lewat interkom ponsel.

"Ini adalah jebakan eksekusi! Dia ingin membunuh Bramantyo sekaligus mengeksekusimu di lokasi kejadian! Kamu tidak boleh ke sana sendirian!"

Reno berdiri tegap. Rasa pusing di kepalanya mendadak hilang, digantikan oleh gelombang adrenaline yang dingin dan fokus yang amat tajam. Ia mengambil mantel hitamnya yang ternoda sisa asap, lalu menyimpannya di bahu.

"Dia tidak akan mematikan bom racun itu kalau aku tidak datang sendiri, Widya," ujar Reno dingin dan tak tergoyahkan.

"Tapi Reno! Kamu adalah nama kelima di daftar pembunuhan itu!" teriak dr. Sara, memegang lengan mantel Reno dengan kuat, menolak melepaskannya. "Dia tahu kemampuanmu! Dia merencanakan semua ini untuk membuktikan bahwa kemampuannya lebih tinggi daripada hukum dan penglihatanmu! Jika kamu pergi sendirian, kamu berjalan menuju kematianmu sendiri!"

Reno menatap tangan dr. Sara yang mencengkeram lengannya, lalu beralih menatap mata sang dokter forensik. Senyum tipis yang langka terukir di bibir sang detektif.

"Dulu kamu bilang padaku bahwa kamu hanya percaya pada bukti fisik dan sains, Sara," kata Reno pelan namun sarat akan keyakinan yang mendalam.

"Tapi malam ini, kamu melihat sendiri bahwa ada nyawa yang bisa diselamatkan jika kita bergerak bersama. Aku butuh kamu dan tim VPCI menjadi 'mata' dan 'pelindungku' dari luar."

dr. Sara menelan ludah, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Apa rencanamu?"

Reno menyentuh kancing kemeja logam di saku mantelnya kancing barang bukti pertama yang kini menjadi simbol awal pertarungan mereka.

"Dion akan memantau jalur siber dan berpura-pura melacak sinyal agar Eksekutor berpikir kita mengikuti permainannya," instruksi Reno cepat dan tajam. "Bara dan kepolisian akan mengepung perimeter luar Pabrik Sentosa dalam radius dua kilometer tanpa menyalakan sirine. Dan kamu, Sara..."

Reno menatap dr. Sara lurus-lurus. "...kamu akan ikut denganku sampai di batas bangunan pabrik. Jika aku berhasil merebut kunci deskripsi itu dari tangannya, aku butuh tangan medismu untuk menetralkan racun di tubuh Bramantyo sebelum jantungnya berhenti."

dr. Sara mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. "Aku akan menyiapkan semua penawar racun sianida dan raksa yang kita punya di mobil."

Timer digital di layar ponsel Reno kini menunjukkan angka 00:52:14.

Waktu terus bergulir tanpa ampun. Di bawah guyuran hujan badai yang membasahi Jakarta, Reno Devano dan dr. Sara Maheswari melangkah keluar menuju pertempuran terakhir sebuah konfrontasi puncak di mana penglihatan rahasia indra ke-6, kepresisian ilmu medis forensik, dan keadilan hukum akan diuji di batas antara hidup dan mati.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!