NovelToon NovelToon
Goresan Takdir

Goresan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:46.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Ibu dan Bunda

Setelah selesai makan, Astri pun menepati janjinya. Ia benar-benar menemani Sasa bermain di wahana bermain anak. Sasa tampak sangat senang ketika Astri menemaninya bermain. Gadis kecil itu merasa seperti memiliki tempat untuk berlindung saat ini.

"Aku mau main ini!" Seorang anak tiba-tiba merebut mainan yang sedang dimainkan oleh Sasa. Sementara itu, Sasa hanya pasrah dan sedih saat mainannya di ambil paksa.

Melihat itu, Astri tentu tak diam saja. Ia menahan tangan bocah kecil yang merebut mainan Sasa.

"Kamu ndak boleh merebut mainan yang sedang dimainkan. Mainan ini untuk umum. Kamu harus mengantre jika mau memainkannya." Tegur Astri yang berbicara dengan tegas namun tetap terdengar halus.

Bocah kecil itu pun mengangguk, kemudian mengembalikan mainan yang sedang dimainkan oleh Sasa. Sasa tersenyum senang saat mendapatkan kembali mainan yang baru saja ia mainkan.

"Sasa, dengar Bulik." Ujar Astri yang mengalihkan perhatian Sasa. Gadis kecil itu kemudian menatap ke arah Astri.

"Kalau ada orang yang merebut hak Sasa, Sasa ndak boleh diam saja. Sasa boleh mempertahankan hak Sasa dengan cara yang baik, dengan tutur kata yang baik juga sopan." Ujar Astri sambil menatap manik mata Sasmaya.

"Tapi, Eyang Putri bilang kalau kita harus mengalah." Jawab Sasa.

"Kita ndak harus selalu mengalah, Cah Ayu. Ada watunya kita untuk mengalah, tetapi ada waktunya juga kita harus mempertahanan milik kita. Kita harus mempertahankan milik kita untuk menjaga martabat, supaya ndak selalu direndahkan dan diinjak-injak karena selalu mengalah dan pasrah." Kata Astri yang menjelaskan dengan lembut. Sasmaya pun mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Astri.

Hal itulah yang selalu di ajarkan oleh keluarga Kartawidjaja padanya. Meskipun ia wanita, namun ia boleh melawan jika apa yang ia miliki itu diusik. Namun, ia tak boleh melawan dengan cara yang brutal, ia tetap harus menjaga sopan santun saat sedang melawan.

Dari kejauhan, sepasang netra elang mengawasi dua perempuan berbeda generasi yang sedang bermain bersama itu. Sudah sejak tadi Raden Daksa duduk di bangku tunggu sembari melihat ke arah Sasa dan Astri. Ia bahan meminta Sus Sari dan Supir yang mengantar Sasa untuk pulang lebih dulu.

Raden Daksa terus mengamati setiap interaksi antara Astri dan Sasa. Ia pun tersenyum saat melihat Astri yang membela Sasa hingga memberikan sebuah 'pelajaran' untuk Sasa.

"Ayah!" Seru Sasa sambil menunjuk ke arah Raden Daksa yang sedang duduk sembari memainkan Tabnya.

"Bulik! Itu ada Ayah." Kata Sasa dengan wajah sumringah sambil menunjuk ke arah Raden Daksa.

"Sejak kapan Raden Daksa duduk disana? Kemana juga Sus Sari?" Batin Astri sambil melihat kesana dan kemari untuk mencari keberadaan Sus Sari.

"Ayo kita datangi Ayah." Ajak Astri yang dijawab anggukan oleh Sasa. Astri kemudian menggandeng tangan Sasa dan berjalan menuju tempat Raden Daksa Duduk.

"Ayaaah!" Seru Sasmaya dengan girang sambil berlari ke arah Ayahnya.

Raden Daksa segera meletakkan Tabnya dan menyambut kedatangan Sasa dengan pelukan.

"Ayah kapan datang? Sus kemana?" Tanya Sasa.

"Ayah barusan datang." Jawab Raden Daksa.

"Sus pulang lebih dulu karena ada yang ingin di kerjakan dirumah." Dusta Raden Daksa. Padahal ia yang menyuruh Sus Sari untuk pulang agar ia bisa menghabiskan waktu dengan calon istri dan juga putrinya.

"Terima kasih, Dek Ayu, karena sudah mau menemani Sasa." Ucap Raden Daksa.

"Sami-sami, Raden Mas." Jawab Astri.

"Kenapa hape Raden Mas bisa terjatuh?" Todong Astri.

"Ah itu... Tadi terjatuh karena tanganku yang licin setelah mencuci tangan." Jawab Raden Daksa.

Ia tentu saja berdusta. Ponselnya terjatuh dari genggamannya karena ia gugup saat melihat betapa cantiknya Astri dari foto yang dikirimkan oleh Sus Sari. Sementara itu, Astri hanya mengangguk percaya saja dengan ucapan Calon Suaminya.

"Ayah. Tadi Bulik Astri ajak Sasa main dan suapi Sasa makan." Kata Sasmaya.

"Sasa senang sekali. Sasa mau punya Ibu seperti Bulik Astri." Imbuh Sasmaya yang dijawab senyuman oleh Raden Daksa.

"Sebentar lagi, Bulik Astri memang akan menjadi Ibunya Sasa." Ujar Raden Daksa.

"Beneran, Ayah? Bulik Astri mau jadi ibunya Sasa?" Tanya Sasmaya yang di jawab anggukan oleh Raden Daksa.

"Jadi, Sasa boleh panggil Bulik, Ibu?" Tanya Sasmaya pada Astri dengan tatapan penuh kebahagiaan.

"Iya. Sasa boleh panggil Bunda." Jawab Astri sambil tersenyum senang.

"Kenapa tidak panggil Ibu?" Tanya Sasmaya. Astri tersenyum sambil menatap Sasa yang berada di gendongan Raden Daksa.

"Sasa kan sudah punya Ibu Siwi. Jadi, Sasa panggil Bulik, Bunda saja, ya." Ujar Astri yang tak ingin menggantikan mendiang Ibu Sasmaya.

"Tapi kan, Ibu sudah meninggal." Ujar Sasmaya.

"Ibu tetap bisa lihat Sasa dari atas. Jadi Sasa punya Ibu Siwi dan Bunda." Kata Astri yang di jawab anggukan mengerti oleh Sasmaya.

"Asyiikk! Sasa punya Bunda." Girangnya yang kemudian mengulurkan tangannya pada Astri.

Dengan senang hati, Astri menyambut uluran tangan Sasmaya. Keduanya berpelukan dengan erat dan penuh kebahagiaan.

"Bagaimana Bapak? Semua baik-baik saja, kan?" Tanya Raden Daksa.

"Ya begitulah, Mas. Rasanya masih seperti ada jarak diantara aku dan Bapak." Jawab Astri dengan wajah sedikit sedih.

"Maafkan Mas, ya. Mas usahakan untuk bicara dengan Bapak." Kata Raden Daksa.

"Ndak usah, Mas. Nanti juga suasananya akan kembali mencair. Bapak pasti butuh waktu untuk menerima luka yang aku torehkan." Jawab Astri. Raden Daksa pun mengangguk mengerti.

"Kamu masih kerja, Dek Ayu? Masih diizinkan Bapak untuk keluar rumah?" Tanya Raden Daksa. Mengingat pernikahan mereka yang akan berlangsung dua minggu lagi.

"Minggu ini aku masih boleh bekerja, Raden Mas." Jawab Astri.

"Jangan panggil aku seperti itu. Panggil Mas saja." Pinta Raden Daksa.

"Iya, Mas." Jawab Astri dengan sedikit canggung.

"Setelah ini, masih ada pekerjaan?" Tanya Raden Daksa yang dijawab gelengan kepala oleh Astri.

"Bisa temani aku dan Sasa bermain lagi?" Tanya Raden Daksa. Astri pun mengangguk dan tersenyum. Mereka bertiga kemudian menghabiskan waktu bersama untuk bermain di beberapa tempat permainan yang ada di Mall.

...****************...

"Hai-hati di jalan, Dek Ayu." Ujar Raden Daksa saat mengantarkan Astri ke mobilnya.

"Bunda gak ikut pulang dengan Ayah dan Sasa?" Tanya Sasmaya.

"Bunda harus pulang ke rumah Bunda dulu, Sayang." Jawab Astri sambil mengusap sayang kepala Sasmaya.

"Besok, Sasa boleh main dengan Bunda lagi?" Tanya Sasa dengan wajah penuh harap.

Astri yang tak tega, hanya bisa menatap ke arah Raden Daksa. Ia berharap Raden Daksa akan membantunya menjelaskan pada Sasa. Untungnya, Raden Daksa seolah memiliki pikiran yang sama.

"Bunda harus bekerja. Sasa bisa bermain dengan Bunda lagi, kalau Bunda ada waktu luang." Kata Raden Daksa yang mencoba memberikan pengertian pada Sasa.

"Yaaaa..." Keluh Sasmaya dengan wajah ditekuk.

"Jangan sedih dong, Sayang. Nanti Bunda minta izin ke Ayah untuk ajak Sasa main, kalau Bunda sedang luang, ya." Bujuk Astri yang dijawab anggukan pasrah oleh Sasmaya.

1
Santi Seminar
panas membara
Fisca vis vis
novel ini bnyak adegan mantap2nya 🤣, mngkin karna raden daksa pak duda sndiri di bnding tokoh novel yg lain jdi dibuat beda 🤣🤣🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
novel yang ini lebih byk adetan mantap2nya dr yang sebelum nya. pasangan hp mereka.
Rahmawati
hareudang hareudang
Nyai Aksara 👩‍🦯
Ealah, kenapa gini terus adrgannya
This Is Me
Jadi kepikiran, apakah Yg dikandung istrinya itu anak Dwipa?
🤔🤔
ika
Peh ...
othor kie...🤣😄
Sukarti Wijaya
cuaca sudah panas tambah panas...🤭😄🤣
Intan Nurwulan
Hareudang gini ka othor,,jdi pengen honeymoon lg😂😍
citraalief
fanasss oeyyyy.... fanasss...🤣🤣🤣 maternuwun Kak sampun up seng puanass... puanassss🥰🙏
Reni Setia
hot hot haredang 😄😄
citraalief
😘 Semangat Up Kakk👍🙏💪
Nur Wakidah
pasangan teruwuuuuu😍😍😍😄😄😄
Rahmawati
itulah rasa iri timbul karna ketidakadilan, , tambah lope lope deh sama raden daksa
This Is Me
Astri & Daksa pasti jadi pasangan ortu idaman 🩷🩷
Rahmawati
astri. harus rajin olahraga biar bisa ngimbangi raden Daksa yg sll on fire😂
This Is Me
Terlalu lama puasa nih🤣
Reni Setia
raden Daksa lagi maruk,,, maklum duda lama 😄😄
🟢Rafifah
bsk sblm honeymoon terakhir mantap2 ny di kolam renang nich pasti seru
ika
wadowwww🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!