Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETERNAKAN JIWA BAWAH TANAH
Di benua ini, jenjang kekuatan para praktisi terbagi dalam susunan ranah yang ketat: diawali dari
•Qi Condensation sebagai fondasi dasar, berlanjut ke
•Foundation Establishment saat energi murni mulai memadat, membentuk inti kehidupan di ranah
•Core Formation, hingga mencapai tingkat tertinggi seperti
•Nascent Soul dan Soul Formation—
ranah para penguasa yang sanggup menggetarkan bumi dan membelah lautan. Namun, di atas seluruh jenjang formal tersebut, ada wujud kekuatan purba tak terukur yang dibawa oleh Ryu Jin—sebuah kekuatan yang mengabaikan batasan hierarki biasa.
Kapal raksasa Kekaisaran berlabuh pelan di sebuah pesisir terpencil Benua Luar. Di sekeliling pantai batu karang yang sepi itu, aura udara terasa sangat berat.
Ryu Jin melangkah turun ke atas pasir hitam. Matanya yang merah redup menyapu pemandangan di hadapannya. Dari tepi pantai, tebing-tebing batu yang menjulang tinggi, hingga dasar laut di bawah sana, semuanya dipenuhi oleh ukiran pola aksara keemasan dan susunan rantai mantra raksasa yang saling bertaut satu sama lain. Ribuan susunan formasi itu membentuk sebuah jaring raksasa yang tidak hanya menyelimuti pesisir, melainkan merayap hingga ke seluruh penjuru benua.
Insting Ryu Jin langsung memberi tahu bahwa menembus benua ini secara terbuka akan langsung memicu alarm raksasa di seluruh pelosok wilayah.
Ryu Jin memegang gagang Pedang Tulang Hitam di punggungnya. Senjata terlarang ini memancarkan hawa kematian yang teramat pekat hingga tidak ada pusaka ruang atau Cincin Dimensi mana pun di dunia yang sanggup menampungnya—ruang penyimpanan biasa akan langsung hancur menjadi debu begitu tersentuh oleh aura pedang ini.
Ryu Jin memejamkan matanya perlahan. Tangannya yang kaku menekan dada kirinya sendiri.
SSSTTT!
Dengan satu gerakan tanpa ragu sedikit pun, Ryu Jin membelah kulit dan tulang dadanya sendiri menggunakan aura jarinya!
Darah hitam kental mengalir tipis, memperlihatkan ruang pekat berisikan aura iblis murni di balik tulang rusuknya. Tanpa meringis penderitaan, Ryu Jin merogoh Pedang Tulang Hitam dari punggungnya, lalu memasukkan pedang raksasa itu lurus ke dalam rongga dadanya sendiri.
KLIK.
Tulang rusuk dan kulit dadanya menyatu kembali secara instan. Luka belahan itu tertutup rapat, hanya meninggalkan satu garis tipis merah pudar yang dengan cepat melenyap.
Aura kematian yang memancar dari tubuh Ryu Jin mendadak hilang sepenuhnya. Tujuh ukiran mata merah yang menyala kini terlelap di dalam rongga dadanya, menyatu dengan detak jiwanya. Ia menekan gejolak kekuatannya, menyembunyikan tingkat kekuatannya hingga terlihat seperti seorang praktisi biasa di ranah Qi Condensation tingkat menengah yang tidak menarik perhatian.
Jubah kelabu kusamnya diganti dengan kain cokelar pudar khas pengelana bebas. Kini, Sang Pendekar dari Desa Sunyi telah menjelma menjadi seorang pemuda biasa yang berkelana di tanah asing.
Ryu Jin berjalan menyusuri jalanan batu menuju Kota Pelabuhan Lembah Berdarah—kota terdekat yang berdiri langsung di bawah naungan Sekte Iblis Langit Merah.
Namun, begitu melangkah melewati pintu gerbang kota, pemandangan di hadapannya justru membuat alis Ryu Jin berkerut tipis.
Kota ini sama sekali tidak mencerminkan markas iblis yang mengerikan. Tidak ada bau darah membakar, tidak ada tengkorak manusia yang dipajang di dinding, dan tidak ada jeritan rakyat biasa yang disiksa. Sebaliknya, kota ini begitu makmur, ramai, dan damai.
Pasar-pasar tradisional berdiri rapi di sepanjang jalanan berbatu. Anak-anak kecil berlarian dengan riang, para pedagang buah dan kain spiritual saling tawar-menawar dengan ramah, sementara para praktisi tingkat rendah di ranah Qi Condensation dan Foundation Establishment berjalan santai tanpa rasa takut. Kesejahteraan rakyat di wilayah kekuasaan Sekte Iblis ini bahkan jauh lebih tinggi ketimbang kota-kota di Benua Lama yang dulu dikuasai oleh Tiga Sekte Besar.
Ryu Jin mendorong pintu sebuah kedai kayu dua lantai di pusat kota, melangkah masuk ke dalam suasana kedai yang hangat dan riuh oleh tawa para pengunjung.
Ia duduk di sudut sepi di dekat jendela, memesan teko teh hangat dan sepiring daging panggang. Sambil menikmati sajian sederhana itu, Ryu Jin memasang pendengarannya, menyerap seluruh percakapan orang-orang di sekitarnya.
Di meja sebelah, dua orang pedagang paruh baya sedang menikmati anggur sambil tersenyum puas.
"Puji syukur pada Sekte Iblis Langit Merah," kata pedagang bertubuh agak tambun seraya meminum anggurnya. "Tahun ini pajak perdagangan kita diturunkan lagi sepuluh persen. Wilayah ini benar-benar aman dari serangan monster liar!"
"Benar sekali," timpal rekannya yang berjanggut abu-abu. "Sudah belasan tahun aku berjualan di sini, tidak pernah sekali pun ada kerusuhan. Petinggi sekte menjaga kedamaian kota ini dengan sangat baik. Semua praktisi maupun rakyat biasa dijamin keselamatannya selama mematuhi aturan."
Ryu Jin mendengarkan percakapan itu sambil meneguk teh hangatnya perlahan.
Dada Ryu Jin menyimpulkan sebuah janggalan yang sangat besar.
Ia ingat betul bagaimana Tiga Sekte Besar di Benua Lama—Sekte Pedang Suci, Teratai Emas, dan Awan Putih—membantai seluruh isi Desa Sunyi dan secara rahasia menculik jutaan jiwa murni hanya untuk dikorbankan sebagai tumbal. Sekte-sekte tersebut mengaku dipaksa oleh Sekte Iblis Langit Merah untuk menyetor persembahan darah bulanan.
Namun mengapa di wilayah pusat kekuasaan Sekte Iblis Langit Merah sendiri, keadaan justru terbalik? Tidak ada penculikan, tidak ada pengorbanan jiwa secara kasar, dan rakyatnya justru dihidupi dengan sangat sejahtera.
Mengapa mereka membutuhkan tumbal darah dari benua lain jika wilayah mereka sendiri berlimpah kedamaian?
Ryu Jin meletakkan cangkir tehnya ke atas meja secara perlahan. Matanya menyempit tajam.
Dari balik penyamarannya yang tenang, ia mengaktifkan penglihatan batinnya. Cahaya merah tipis berkedip lambat di balik kelopak matanya yang menunduk, menembus lapisan tanah di bawah lantai kedai tempat ia duduk.
Saat itulah, kenyataan yang teramat kelam membentang di hadapannya.
Di bawah tanah Kota Pelabuhan Lembah Berdarah yang makmur ini—beberapa ratus meter di bawah pemukiman warga yang damai—terdapat susunan mantra raksasa berwarna merah gelap yang mengalirkan energi tak kasat mata.
Susunan mantra bawah tanah itu bertaut langsung dengan ribuan aksara keemasan yang dilihat Ryu Jin di pesisir pantai tadi.
Mantra raksasa ini tidak menyedot darah secara kasar atau membunuh manusia seketika. Sebaliknya, formasi ini secara halus menyedot Esensi Jiwa dan Usia Hidup dari seluruh warga kota yang tinggal di atasnya!
Setiap kali warga kota merasa bahagia, sejahtera, dan menikmati hidup mereka yang damai, energi jiwa mereka menjadi sangat murni. Formasi di bawah tanah ini memanen percikan energi murni tersebut secara terus-menerus—sedikit demi sedikit, setiap detik, tanpa ada satu pun warga yang menyadari bahwa umur dan potensi jiwa mereka sedang dipangkas secara perlahan!
Ini bukanlah sekadar sekte iblis biasa. Ini adalah peternakan jiwa raksasa.
Sekte Iblis Langit Merah tidak mengorbankan warga lokal secara kasar karena mereka membutuhkan kota-kota ini sebagai "kandang" untuk memproduksi energi jiwa murni jangka panjang. Sedangkan tumbal darah kasar yang mereka minta dari Tiga Sekte Besar di Benua Lama hanyalah "suplemen instan" untuk mempercepat proses proyek raksasa ini.
Ryu Jin menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu. Senyuman tipis yang dingin terukir di bibirnya.
Perjalanan kali ini terbukti jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Masalah di Benua Luar ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mendatangi markas musuh dan memotong leher para tetuanya secara asal. Formasi bawah tanah yang membentang di seluruh benua ini saling terhubung; jika Ryu Jin membantai pimpinan sekte secara langsung, jaring mantra bawah tanah ini akan meledak serentak sebagai bentuk perlindungan otomatis, menyedot habis seluruh jiwa manusia di benua ini dalam sekejap mata.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan terencana di balik proyek raksasa ini. Sekte Iblis Langit Merah, bersama Du Xuan dan Lian Xue, hanyalah pengelola tingkat luar dari sebuah konspirasi yang dirancang oleh entitas yang lebih tinggi di Benua Luar.
Untuk menghancurkan musuh ini secara mutlak, Ryu Jin tidak hanya harus mencabut jiwa para pimpinannya, melainkan juga harus memotong rantai formasi raksasa ini satu per satu dari dalam jaringan mereka.
Ryu Jin merogoh sekeping batu spiritual dari kantongnya, meletakkannya di atas meja untuk membayar teh dan makanan, lalu berdiri dari kursinya.
Dengan jubah cokelat pudar dan pedang besi berkarat di pinggangnya, Ryu Jin melangkah keluar dari kedai, membaur ke dalam kerumunan warga yang tidak menyadari takdir kota mereka. Perburuan dingin dari Sang Pencabut Nyawa telah memasuki babak penyamaran yang jauh lebih berbahaya!